
Setelah acara goda menggoda akhirnya Edo segera minum obat.
Karena sudah habis tenaga bolak balik ke kamar mandi, Edo langsung tidur selepas minum obatnya.
Mami Andre sedang sibuk mengurus dedek kembar, sementara Andre hanya melihat apa yang sedang di lakukan oleh maminya.
Kedua adiknya sudah tidur, lalu Andre mengajak sang mami untuk segera tidur, Andre sengaja menunggu maminya karena dia mau bobok sama sang mami.
"Mi... bobok yo abang sudah ngantuk."
"Mau di kamar abang atau disini?"
"Di sini boleh mi?"
"Boleh dong, iya sudah abang baring di samping papi iya."
Setelah membersihkan diri lalu Bertha menyusul putranya untuk berbaring.
Andre memeluk maminya erat, saat ini tidak ada cerita di antara mereka, karena Andre benar sudah sangat mengantuk.
Sekitar sepuluh menit nafas Andre sudah terdengar teratur yang menandakan dia sudah tidur pulas.
Karena semua sudah tidur perlahan dia juga memejamkan matanya.
Di pagi hari Edo terbangun dengan wajah lebih cerah, tidak seperti tadi malam, obat yang di berikan dokter sangat manjur.
"Selamat pagi papi... "sapa Andre dengan seimut mungkin.
"Selamat pagi juga jagoan papi, tapi jangan buat seperti itu dong nggak cocok untuk seorang jagoan."
"Ok deh papiku."
"Abang mandi dulu ya pi."
Andre pergi menuju kamarnya demikian juga dengan Edo menuju kamar mandi.
Bertha bangun dan ternyata semua telah selesai mandi bahkan sudah sangat rapi.
Bahkan sikembar juga sudah cantik dan tampan.
"Aduh... mami kesiangan ya, semua pada wangi."
"Makanya mi cepatan mandi biar wangi seperti kita,"ucap Andre sedikit sombong.
"Iya... iya mami minta maaf ya."
"Tidak masalah mi, yang penting mami sehat."
Maminya pergi Andre kembali ke kamar untuk mengambil tas dan sepatunya.
Setelah selesai mereka segera menuju meja makan untuk segera sarapan.
Bertha mengisi piring kedua pria yang ada bersamanya,lalu mengisi nasinya sendiri ke dalam piringnya.
"Ayo sayang banyak makan biar kuat, asal jangan kekenyangan nanti malah ngantuk di sekolah."
"Iya... mami, tenang saja abang pasti tidak ngantuk."
Kebiasaan keluarga Edo memang berbeda dengan keluarga mapan pada umumnya, mereka terbiasa sarapan pakai nasi sejak dari kakeknya Edo.
Walaupun demikian tetap tersedia roti tawar beserta selainya.
Tapi satu yang tidak bisa lupa yaitu minum susu.
Setelah selesai sarapan Edo berangkat beserta Andre.
"Mami abang berangkat ya, dada mami."
"Iya sayang, baik -baik belajar iya."
"Kami berangkat ya sayang," ucap Edo sambil mencium kening istrinya.
Semua sudah berangkat, sikembar sudah aman karena mereka sudah tidur, sekarang Bertha memulai merancang gaun untuk semua keluarganya.
Sementara itu di kantor, Joni sudah sampai dan memulai pekerjaannya.
__ADS_1
Merasa penasaran dengan gadis yang menjadi asisten kakaknya.
Tapi sejak pagi dan sekarang sudah siang tidak ada menemui seseorang yang cocok sebagai pengawal.
Waktu makan siang seperti biasa mereka berada di kantin kantor.
Ingin rasanya dia bertanya pada papa atau kak Pino tapi rasa malu masih lebih besar.
Setelah selesai makan siang akhirnya mereka kembali ke ruangan masing-masing.
Andre datang menjumpai Pino karena akan ada meeting sekitar satu jam lagi dan itu diadakan sedikit jauh dari kantor, maka mereka harus segera berangkat.
Pino dan Andre segera berangkat, dua orang anak buah mengiring mereka hingga sampai di sebuah cafe modern.
Dua orang pria sudah menunggu kedatangan mereka.
Setelah basa-basi sejenak rapatpun segera di mulai, tidak ada perdebatan di sana karena mereka sudah sejak lama bekerja sama, bahkan saling melengkapi.
Kontrak baru sudah di sepakati bahkan sudah di tanda tangani.
Pino segera kembali ke kantor, karena mereka akan mengadakan rapat dengan divisi keuangan.
"Silahkan pak," ujar Andre setelah sampai di lobi kantor.
"Trimakasih Andre."
Sampai di ruangan, Pino melihat masih ada waktu setengah jam lagi, dia memanggil Joni dan Andre untuk membahas masalah yang akan di bawa dalam meeting.
Saat ini mereka sudah berada di ruangan Pino, pembicaraan mereka sedikit santai maka mereka bicara di temani segelas kopi.
"Bagaimana menurut kalian siapa yang akan kita utus untuk berangkat ke kantor cabang?"
Iya salah satu dari karyawan dari divisi keuangan akan di kirim, karena masih banyak hal yang harus di kerjakan terutama bagian pembukuan.
"Bagaimana jika Nora?"ujar Andre.
"Apa dia mampu?"tanya Pino.
"Saya rasa dia mampu pak, soalnya jika Ratih yang pergi bagaimana dengan di sini?"
"Iya sudah sekarang kita menuju ruang rapat."
Dalam rapat yang sudah berlangsung selama setengah jam, sekarang semua karyawan telihat tegang setelah Pino mengumumkan bahwa di antara mereka harus ada yang berangkat ke kantor cabang selama tiga bulan.
"Nora kamu siap -siap karena kamu yang akan pergi, dan tidak perlu kwatir semua Andre yang akan menyiapkan termasuk transportasi dan tempat tinggal kamu selama di sana."
Rasayna Nora akan melompat saja, karena beban ini sangat berat, belum lagi mamanya tidak ada yang menemani.
Nora hanya memiliki seorang ibu, dan jika dia pergi lalu siapa yang Jaga ibunya.
Tapi akhirnya Nora menyerah dengan berucap pasrah."
"Baik pak."
Selesai dengan rapat Joni kembali ruangannya.
Joni menyelesaikan pekerjaannya lalu bersiap untuk pulang.
Sampai di rumah dia melihat papanya sedang duduk santai.
Hari ini sebgaja papanya tidak masuk kantor.
"Sore pa,"sapa Joni sambil mencium punggung tangan papanya.
Joni segera membersihkan dirinya lalu menyusul papanya di ruang keluarga.
Hari -hari yang di lalui Joni sudah sampai satu minggu, tapi dia belum juga berjumpa dengan asisten kakaknya.
Dia saat ini menuju ke rumah Bertha, karena sesuai janjinya dengan Andre dia akan datang jika akhir pekan.
Saat sampai Joni terpesona dengan seorang gadis cantik.
Dia duduk santai bersama dengan kakaknya.
"Pagi kak," sapanya pada Bertha.
__ADS_1
"Pagi juga dek, sini kenalkan asisten kakak."
Joni.. ucap Joni sambil mengulurkan tangannya.
Angel..
sapa wanita cantik tersebut.
"Oya... kamu kesini mau ngajak Andre iya?"
"iya kak."
"Jel.. kamu boleh ikut mereka iya.. soalnya aku juga mau ikut sama sikembar."
"Oh... iya bu."
"Adik kamu boleh deh ajak sekalian, kasihan dia tidak ada teman."
"Apa tidak merepotkan bu?"
"tidaklah adik kamu sudah besar kok merepotkan."
Maksudnya..belum selesai Bertha sudah memotong ucapannya.
"Telepon sekarang."
"Baiklah bu," ucapnya pasrah.
Saat ini mereka sudah berada di mobil, Angel dan Vero adiknya satu mobil dengan pengawal lain, sementara Joni membantu Bertha menggendong si kembar.
Mereka hanya berlibur singkat dan itupun hanya ke danau tempat Bertha dan Edo biasa berkunjung.
Tikar sudah terlentang lalu di lapis dengan ambal yang berbulu halus.
Sikembar di letakkan sambil di awasi oleh Bertha dan Vero.
Saat ini Joni sedang mencari makanan yang di inginkan oleh Andre.
Beberapa jam kemudian Edo datang menghampiri Bertha dan si kembar.
Vero akhirnya ikut berjalan sekitar taman dan danau bersama ketiga orang yang sedang makan bakso bakar.
"Sayang kamu tidak mau makan sesuatu?"
"Boleh deh pi, bakso jumbo iya."
"Ok tuan putriku."
Edo segera menuju kantin untuk memesan bakso untuk mereka berdua dan juga para pengawal.
Setengah jam barulah pesanan Edo sampai lengkap dengan minuman jus mangga kesukaan istrinya.
Sini kita makan bersama, ucapnya kepada para pengawal.
Empat orang pengawal langsung ikut bergabung tanpa banyak protes.
Mereka sudah faham sifat bosnya, maka sudah tidak ada yang harus di ucapkan selain segera bergabung.
Selesai makan bakso mereka kembali berjaga, mungkin orang tidak tahu jika mereka pengawal karena mereka berpakaian santai.
Karena sudah sore akhirnya mereka segera pulang, Joni merasa dia dan Angel sangat cocok.
Joni yang mengira bahwa angel berbodi tomboi malah sebaliknya dia sangat anggun, malah jika di lihat secara dia bukan seoran yang bisa bela diri.
"Trimakasih banyak ya, atas hari ini," ujar Joni tulus.
"Seharusnya kami yang berterimakasih pak," ucap Angel sopan.
"Jangan panggil bapak dong, kita tidak lagi kerja."
"Eh... iya maaf kak, aku lupa."
"Menarik,"ucap Joni.
Bersambung.
__ADS_1