APA SALAHKU MAMA

APA SALAHKU MAMA
Episode 127.Indah pada Waktunya


__ADS_3

Hidup memang tidak selalu bahagia, tidak selalu menguntungkan, tidak selalu berjalan sesuai yang kita harapkan.


Terkadang hidup itu sangat menyakitkan bahkan terkadang tidak mampu kita untuk melewati.


Bertha wanita tangguh sudah merasakan bagaimana pahitnya hidup, sebdiri tanpa ada keluarga.


Berjuang melawan sakit dari mama yang tidak pernah mengharapkannya, tanpa ada salahnya seolah Bertha yang menginginkan untuk lahir kedunia ini.


Tapi semua itu tidak dia balas dengan dendam melainkan berusaha untuk memaafkan dan menerima.


Hasilnya ia bisa tersenyum untuk sampai saat ini, melihat keluarga besarnya bisa berkumpul bersama saat merayakan ulang tahun anaknya.


Jika dia membalas sakit hatinya mungkin dia tidak akan pernah bersama keluarga saat ini.


Kenangan masa lalu membuat dia meneteskan air matanya.


Edo yang saat ini ada di sampingnya merasa heran melihat perubahan sikap istrinya yang terlihat sedih.


"Sayang ada apa? kok menangis?"


"Tidak apa-apa pi aku sangat bahagia dengan semua ini, aku tidak pernah bermimpi hingga sampai di titik ini."


"Sayang buat apa kamu mengingat itu semua yang sudah berlalu, biarlah semua itu tinggal di belakang dan maknanya, menjadi pelajaran yang sangat berharga di dalam hidup kita."


"Iya pi, aku tahu, semua itu hanya pelajaran di dalam hidup kita."


"Sudahlah lihat semua tertawa masa kamu malah sedih."


"Iya pi aku tidak akan sedih lagi."


"Itu baru wanita yang kuat, dan wanita teristimewa untuk aku dan anak-anakku."


"Papi yang membuat aku menjadi istimewa, trimakasih ya pi."


Semua masih asyik dengan kegiatan masing-masing, tidak ada yang memperhatikan pasangan yang satu ini.


Tapi tidak dengan Andre walau dia sibuk dengan adik-adiknya tapi dia melihat air mata di pipi maminya.


Perlahan dia meninggalkan kegiatan mereka, tapi saat dia sudah dekat maminya sudah tertawa dengan sang papi membuat dia mengurungkan langkahnya.


Andre kembali untuk bermain bersama yang lain.


"Kok nggak jadi pergi?"


Andra yang merasa heran akhirnya bertanya.


"Tidak apa-apa Ndra, ayo main lagi."


Mereka bermain kembali, permainan yang seharusnya di lakukan anak kecil tapi sungguh membuat mereka tertawa bahagia.


Permainan mereka adalah permainan lempar bola, siapa yang kena dia yang menghabiskan makanan yang telah disediakan.


Dia sudah dua kali kalah, dan ia sudah sangat kenyang, ia minta tolong pada Dio agar membantunya menghabiskan makanan untuk ketiga kalinya.


Dio yang merasa kasihan akhirnya rela membantu walau ia harus menghabiskan dua kotak makanan sekaligus atas hukuman karena sudah membantu Dia.


"Abang Andra jahat banget sama aku, rengek Dia yang sudah kesal."


"Ih... jangan manja dong, masa kalah minta bantu."


"Habis aku nggak kuat untuk menghabiskan bang."


"Makanya jangan kalah melulu."


"Ye.... siapa juga yang mau kalah, abang aneh deh."


"Sudah ayo ulang lagi,"ajak Andra.

__ADS_1


"Aku nggak ikutan lagi ya, perut aku benar sudah sangat sakit."


"Kita ganti permainan saja bagaimana?"


"boleh deh, yang kalah harus menghibur kita, terserah mau nyanyi atau joget."


"Permainan apa lagi bang?"


"Permainan lempar dadu, jika dadunya satu berarti hanya sekali, tapi jika enam ya enam kali."


"Ok kami setuju."


Semua setuju atas usulan Andre.


Sebagai yang pertama Andre yang memulai.


Saat Andre melempar dadu ternyata mata dadu yang keatas berjumlah empat.


"Aku pilih nyanyi sambil joget deh."


Lagu pertama yang Andre bawa adalah Potong bebek angsa dengan o di ganti i.


"Piting bibik ingsi misik di kiili, nini minti dingsi dingsi impit kili, siring kikiri, siring kikinin lili -lili...."


Semua tertawa terbahak karena Andre sekalian berjoget.


Hari berlalu tanpa terasa ternyata sudah sangat larut malam, semua kembali keperaduannya untuk bergulat di dalam mimpi.


Bagi Dia dan Dio ini adalah ulang tahun yang sangat menyenangkan, ulang tahun yang tidak mudah di lupakan.


Tujuh belas tahun, ulang tahun spesial.


Seluruh keluarganya ikut merasakan kebahagiaan mereka, sama seperti ketika mereka baru lahir, semua merasa bahagia.


Secara umum mereka adalah remaja yang patuh, belum ada perbuatan yang melanggar adat dan hukum.


Pagi hari yang cerah setelah mereka merasakan indahnya malam, kini mereka sudah berada di halaman villa untuk lari pagi.


Dia dan Dio sudah duluan mengelilingi perumahan yang ada di lingkungan villa tersebut.


"Kamu nggak capek dek? mau istirahat dulu atau mau lanjut?"


"Istirahat ya bang itu ada jualan bubur nampaknya enak deh, lihat tuh banyak yang beli."


"Boleh ayo, abang juga penasaran rasanya."


Saat mereka sampai di dekat penjual bubur, Dio segera memesan dua mangkuk.


"Pak dua, makan di sini."


"Baik den tunggu sebentar ya."


Bapak penjual bubur segara memberikan pesanan Dio.


"Silahkan den, non semoga suka dengan bubur kami."


"Trimakasih banyak pak."


"Enak ya bang tidak kalah dengan rasa bubur di kota."


"Iya sudah yo kita jalan lagi, abang masih penasaran dengan daerah sebelah timur."


"Ok lanjut bos."


Dio langsung membayar bubur mereka lalu melanjutkan perjalanan untuk mengelilingi daerah tersebut.


Sedangkan Andre sudah pusing mencari keberadaannya mereka, sebab mereka tidak ada yang bawa poncelnya untuk

__ADS_1


"Mi... nggak ada, bagaimana ini."


"Abang coba cari lagi deh, nggak mungkinkan pergi jauh tanapa kasih kabar."


Saat itu juga Pino dan yang lain sudah sampai tapi mereka tidak ada yang ketemu dengan Dio dan Dia.


"Bagaimana pi,"ujar Bertha setelah melihat suaminya tiba.


"Nggak ada jumpa mi."


Rombongan Joni juga sudah tiba tapi juga tidak ada jumpa.


"Bagaimana ini, tinggal Andra yang belum tiba semoga mereka ketemu."


Dio dan Dia sudah berada di pesawahan para warga, mereka sangat bahagia bermain di sungai dekat sawah.


"Dek ayo pulang kita sudah lama disini, lihat sudah jam sepuluh pagi, pasti papi dan mami sudah kwatir, mana kita tidak bawa Poncel lagi."


"Iya ayo bang, sudah panas wajah aku nih."


Mereka akhirnya meninggalkan sungai dan mulai melanjutkan perjalanan.


Saat di perempatan jalan, mereka bingung harus melewati jalan yang mana, sehingga Dio bertanya pada seorang bapak.


"Pak jalan menuju puncak manaya?"


"Yang kiri deh mau kesana? ayo ikut bapak, soalnya bapak juga mau kesana."


Bapak tersebut mulai mengangkat barangnya, Dio tidak tega melihat akhirnya meminta agar dia yang membawa.


Setengah jam kemudian akhirnya mereka sudah sampai, di simpang villa mereka berpisah, sang bapak masih harus berjalan beberapa meter lagi agar sampai di rumahnya.


"Wah... ternyata hidup di sini susah ya bang nggak ada kendaraan jadi harus berjalan dan memikul hasil kebunnya."


"Itulah hidup dek, tapi akhirnya akan indah pada waktunya."


"Iya lihat orang yang banyak berhasil adalah orang yang hidup dari susah, buktinya saja mami, akhirnya indahkan?"


"Iya sih bang aku salut pada kakek tadi."


"Itu pelajaran untuk kita dek, bahwa bukan karena harta hidup kita akan bahagia melainkan karena ke Ikhlaskan kita."


Mereka sampai dengan heran sebab wajah yang ada di hadapannya kurang beruntung sahabat.


"Sayang kalian dari mana? kami semua kwatir sama kalian berdua, bahkan sudah mencari keberadaan kalian di sekitar kampung ini."


"Maaf mi, kami pergi tanpa permisi, tadi kami mengelilingi perumahan dan pesawahan yang ada di sebelah timur."


"Iya sudah mandi sana jangan di ulangi lagi, tidak permisi, bawa Poncel juga tidak."


"Iya mi sekali lagi kami minta maaf untuk semua."


"Iya sudah sana, biar sarapan, kalian tahu om Pino sudah masak pesanan kalian eh malah kabur tanpa kabar."


Andre merasa sangat bahagia melihat walaupun sempat jengkel melihat keduanya, tapi dia sangat bersyukur bahwa adiknya baik-baik saja.


"Papi maaf... "Dia memeluk papinya yang sejak tadi hanya diam.


"Iya sudah mandi sana sayang, kamu itu bau sawah."


Sebenarnya Edo emosi tapi tidak mungkin dia marah di depan semunya, nanti saat ada waktu baru dia akan memperingati kedua anaknya.


Dia dan Dio menaiki anak tangga agar segera membersihkan diri, karena mereka tidak mau membuat yang lain menunggu.


Akhirnya mereka segera membersihkan diri dan dua puluh menit kemudian mereka sudah berada bersama yang lain untuk makan, entahlah itu masih sarapan atau makan siang, soalnya sudah jam dua belas.


Bersambung

__ADS_1


Like dong......


__ADS_2