
Ya begitulah kehidupan mereka saat masih sekolah hingga sudah menikah, tetapi karena sesuatu hal yang dialami oleh Aldo.
Mereka adalah empat sekawan yang akhirnya menjadi dua sekawan karena mereka menjadi dua pasang.
Jadi tidak heran jika mereka begitu dekat dan saling mengejek.m
Persahabatan yang dimulai dari SD hanya mereka semakin dekat setelah SMU.
Kalau orang melihat mereka pasti akan merasa iri, baik dari penampilan, Ekonomi, dan juga termasuk orang yang sangat disegani di sekolah sebab mereka itu termasuk orang yang jenius.
Dan tanpa terasa ternyata anak mereka mengikuti langkah mereka itulah yang membuat mereka sangat senang.
Walaupun Bertha bukan anak kandung dari Aldo tetapi itu tidak jadi masalah yang paling penting anak itu berahlak baik.
Mereka sebagai orang tua sangat mendukung anaknya maka untuk menghindari hal buruk terjadi pada anak mereka, pernikahan itulah yang terbaik, ya itulah menurut mereka.
Malam ini ketiga sahabat itu kembali membicarakan tentang hubungan anak mereka.
"Bagaimana pendapat mu Do,"kemarin itu kami sempat merencanakan akan menikahkan Edo dan Bertha,berhubung mereka tinggal satu rumah disini,ya walaupun memang bukan hanya mereka tetapi keresahan selalu ada apa lagi kami tidak selalu tinggal di sini.
"Tapi sekarang Bertha sudah bersama kamu jadi keputusan ada sama kamu, ujar papa Edo."
"Ya kita tanya saja pada mereka, mereka melanjutkan atau kuliah dulu."
Usul Aldo pada sahabatnya, karena dia tidak mau terburu -buru mengambil keputusan apa lagi soal pernikahan.
"Iya sudah,"biar aku panggil ucap mama Edo.
Saat wanita itu mendekati kamar anaknya ternyata mereka sedang bekerja di ruang kerja Edo.
Akhirnya wanita itu mengetok pintu ruangan anaknya.
Mendengar pintu diketuk, Edo segera menjawab.
"Ya masuk saja ma tidak dikunci juga,"ucapnya sambil terkekeh.
"Sayang itu dipanggil sama papa dan om Aldo,ada yang mau dibicarakan."
Mereka segara bergegas turun untuk menjumpai orang tua mereka.
Setelah sampai di ruang keluarga dan sudah mengambil tempat duduk, mereka segara berbicara serius.
"Bagaimana nak rencana pernikahan kalian? "apa tetap di lanjut Atau mau ditunda? tanya papanya Edo.
"Tunda saja dulu pa, biar kami kuliah dulu,"ujar Edo jujur .
"Apa iya tha?"tanya Aldo,
"ya pa,"lagian papa belum sehat ,nanti kalau papa sudah benar,sehat baru kita pikirkan lagi, ucap Bertha pada papanya.
"Baiklah kalau begitu,"jadi besok kami mau pulang, kamu tinggal disini dulu sambil berobat.
"Tidak usah sungkan,lagian biar ada yang jaga mereka, andai saja kami ada waktu banyak, dengan senang hati kami akan menemanimu untuk terapi."
"Ya santai bro tidak usah merasa bersalah"aku mengerti akan kesibukan kalian, kita bisa jumpa saja aku sangat beryukur kata Aldo menghibur sahabatnya.
"Kau memang selalu mengerti keadaan kami Do," semoga kamu cepat pulih, jangan sungkan bila ada yang harus kami bantu.
"Baiklah jangan cemas bukannya sudah ada pangeranmu yang selalu ada waktu untuk aku."
kalau begitu Edo,kamu jangan sampai lupa untuk tetap memperhatikan om Aldo. Papa wakilkan sama kamu yang seharusnya tugas papa sebagai sahabat,ucap papanya penuh harap.
"Tenang pa akan selalu kuingat, kata Edo untuk meyakinkan papanya."
Ya sudah sudah malam sebaiknya kita istirahat, ayo Aldo kali ini aku yang antar kamu ke kamar, ujar papanya Edo.
__ADS_1
Akhirnya mereka semua masuk ke dalam kamar masing -masing untuk beristirahat.
Setelah lama masuk dalam kamar dan berusaha untuk memejamkan matanya, Edo tetap tidak bisa tidur. Diapun bangkit menuju kamarnya Bertha.
Perlahan Edo mengetuk pintu tetapi tidak ada suara dari dalam, kemudian dia memutar gagang pintu, tetapi dia melihat bahwa Bertha sudah tidur terlelap.
"Ya elah pantas saja tidak ada sahutan,"rupanya sudah molor saja ini anak.
Melihat Bertha sudah terlelap Edopun menutup kembali pintu kamar Bertha dan pergi kebalkon kamarnya.
Edo menatap pemandangan dari balkon kamarnya, bersama keresahan hatinya tentang perkataan orang tua mereka tadi.
Bagaimana ini aku sebenarnya ingin menikahi Bertha ,aku takut nantinya dia akan meninggalkan aku.
Aku tahu disana banyak yang lebih baik dari aku dan yang lebih bisa perhatikan Bertha, apa aku sanggup melepaskan dia jika itu terjadi.
Ah... tiba -tiba Edo menepis pikiran itu jauh, aku tidak bisa berpikir terlalu jauh, Bertha bukan orang seperti itu, dia orang setia.
Edo kembali kekamarnya dan berusaha untuk tidur. Berulang kali membolak balikkan badannya hingga akhirnya dia benar terlelap.
Pagi hari
Semua penghuni rumah mewah itu sudah bangun dan sekarang sedang sarapan bersama.
Keakraban diantara mereka benar membuat orang merasa iri, bagaimana tidak, mereka bercanda dan tertawa lepas, seolah mereka tidak memiliki beban hidup yang hanya dihampiri kebahagiaan.
Selesai sarapan kedua orang tua Edo benar -benar sudah bersiap untuk pulang .
Edo dan Betthapun sudah bersiap untuk mengantarkan mereka ke bandara.
Saat ini mereka sudah sampai di bandara, kedua orangtua Edo berpamitan pada anaknya.
"Sayang jaga dirimu dengan baik,"dan jaga Bertha untuk papa dan mama. Pesan mamanya sebelum berangkat.
"Baiklah ma jangan kwatir,"aku akan selalu menjaganya bukan hanya untuk mama tapi karena memang aku juga sangat mencintainya,ucap Edo pada mamanya.
Sesampai di kantor tampak Edo bekerja tidak pokus, Beberapa kali Bertha melihatnya tapi mencoba menutupi perasaan penasarannya, hingga akhirnya Bertha berjalan mendekati Edo.
"Ada apa sih kok mulai tadi sepertinya ada yang kamu pikirkan?"tanya Bertha pada akhirnya .
Edo yang tak mau membuang waktu langsung mengutarakan keindahan hatinya.
"Tha apa tidak sebaiknya kita menikah saja sesuai apa yang direncanakan papa sama mama?"
Bertha bingung atas ucapan Edo hingga dia hanya diam.
Setelah sekian lama akhirnya diapun bertanya pada Edo.
"Kenapa sih,"bukannya kemarin kita sudah membahasnya? kok sekarang kamu tanya itu lagi.
"Sayang aku takut kamu meninggalkan aku, setelah kita kuliah pasti banyak yang lebih dari aku, dan bagaimana jika mereka mengiginkanmu?"
"Ya biarpun mereka mengiginkan aku tapi jika aku tidak mau bagaimana?"
"Ya bagus dong,"ucap Edo semangat.
"Terus apa yang kamu takutkan?"
"Aku takut kehilangan kamu Tha, aku sangat mencinta kamu."
"Jika kamu mencintai aku berarti kamu harus percaya sama aku dong."
Edo menarik tangan Bertha dan menciumnya," iya Tha kamu benar ,aku akan berusaha untuk selalu mempercayai dan menjaga kamu selalu."
"Ya sudah yo selesaikan dulu pekerjaan ini, "aku sudah lapar ucap Bertha untuk mengalihkan perhatian Edo yang kurang mempercayai Bertha.
__ADS_1
Bagi Bertha jika harus menikah di usia muda, itu terlalu berlebihan hanya karena takut berpaling.
Jika memang itu tujuannya sesudah menikah juga bisa terjadi malah mungkin semakin menyakitkan.Pernikahan bukan tolak ukur untuk seseorang untuk tetap setia.
Dan juga dia masih mempunyai mimpi yang harus diujutkannya, agar kedua orangtuanya tidak memandang rendah.
Bertha sudah membuat tekat bahwa dia harus sukses.
"Aku akan tunjukkan bahwa seorang anak yang tidak memiliki sedikit tempat dalam hati mereka bisa sukses."
Rasa sakit di lubuk hatinya yang paling dalam, telah memberikan semangat pada diri sendiri untuk tetap berjuang.
Aku tahu bahwa Tuhan sudah memiliki rencana yang indah pada waktunya, sekalipun saat ini terasa sangat sakit.
Setelah selesai pekerjaan mereka, segera mereka bersiap untuk pulang dan makan siang bersama orang yang bisa menerimanya apa adanya.
"Tha apa kamu marah dengan kata -kataku tadi? tanya Edo hati -hati dia takut sampai membuat Bertha marah."
"Ya enggaklah do,"Ngapain marah. Aku malah bersyukur bahwa kamu sangat mencintai aku, menerima aku dan segala kekurangan aku.
Tanpa terasa mereka sudah sampai di depan rumah.
Merekapun segera turun dan berjalan menuju rumah dan sekarang ini mereka sudah duduk
di meja makan.
"Kenapa cepat pulang nak tanya Aldo pada mereka."
"Sengaja om biar om tidak makan sendiri, lagian sudah tidak ada pekerjaan yang penting."
"Sebaiknya om istirahat dulu," nanti kita langsung berangkat jam empat untuk terapinya.
"Baik nak, kalian juga istirahat ya, om tidak mau jalau nantinya kekelahan karena mengurus om."
"Tidaklah om kami ini masih tenaga baja, jadi om tidak usah kwatir hal itu."
Aldo yang mendengar ucapan Edo terkekeh dan kemudian memutar arah kursi rodanya menuju ke kamar.
Perasaan senang dan bahagia yang menyelimuti hatinya beberapa hari ini ternyata sangat memengaruhi kesehatannya.
Perlahan kakinya sedikit mulai bisa bergerak. Rasa penyesalan sedikit terlintas dibenaknya.Andai saja sejak kejadian itu aku langsung terapi mungkin aku bisa menemani putriku bukan malah sebaliknya aku yang harus dirawat.
Aku seorang ayah yang tidak berguna membiarkan anaknya dalam penderitaan tanpa ada usaha.
Banyak kata yang dia datangkannya untuk mengutuki dirinya yang merasa bodoh atas apa yang terjadi pada dirinya dan juga putri penyemangat hidupnya.
Pada saat dia mengutuki dirinya Bertha masuk, ia terkejut melihat papanya seperti orang yang stres, dengan cepat mendekati papanya dan memeluknya.
"Apa papa tidak suka tinggal di sini? kalau papa tidak betah aku mau Pa tinggal dirubah mama, ucapnya tulus."
Aldo yang mendengar ucapan putrinya malah tambah merasa bersalah, iapun ikut memeluk putrinya itu.
"Maafkan papa sayang,"bukan itu alasannya, jika hanya tempat papa tidak masalah lagian papanya Edo sudah seperti saudara bagi papa.
"Terus apa yang papa pikirkan?"sambung Bertha.
Papa hanya merasa tidak berguna sayang, mungkin kalau waktu itu papa langsung ikut terapi kamu tidak akan serepot ini untuk mengurus papa.
"Papa hanya merasa bodoh membiarkanmu dalam penderitaan bersama orang tuamu."
"Sudahlah pa untuk apa mengungkit kenangan itu kembali,bagi aku hidup bersama papa itulah kebahagian yang tidak pernah terlupakandan tergantikan."
"Ya maafkan mereka nak,"papa tahu kamu menderita, papa juga merasa menderita atas kekerasan hatian mereka.
Sebagai adik dari papamu aku merasa tidak berguna tidak bisa membawa mereka pada kebenarannya.
__ADS_1
Ya Aldo adalah adik dari papa kandung Bertha, tetapi mereka saudara yang tidak pernah akur, karena perbedaan pendapat yang sangat mencolok .
Bersambung