APA SALAHKU MAMA

APA SALAHKU MAMA
Episode 68.Tertatih


__ADS_3

Hari ini mama Edo telah sampai di rumah mereka, ada rasa bahagia dan ada pula rasa sedih.


Ia sedih karena meninggalkan anak dan menantunya yang masih belum pulih betul.


Sementara itu mereka harus mengurus baby Andre yang memang butuh perhatian.


Ia bahagia bisa berjumpa dengan suaminya serta anaknya.


Saat ini dia duduk di balkon kamarnya, setelah berjumpa anak dan suaminya.


Ia membayangkan wajah cucunya, resah rasanya jika mengingat itu, menantunya sampai di tinggalkan belum juga bisa berjalan, bagaimana mungkin bisa merawat baby.


Saat wanita paruh baya yang masih terlihat cantik itu melamun suaminya datang dan memeluk dari belakang.


"Sayang kamu mikirin apa sih mulai tadi melamun terus?"


"pa aku kepikir cucu kita terus, bagaimana keadaan jika hanya bibi yang ngasuh."


"Maaf sayang aku juga sebenarnya tidak tega tapi ini juga penting, demi masa depan kita serta anak kita yang lain."


"Dulu saja bibi masih sehat dan muda masih kualahan mengasuh Edo, padahal kita masih bantu loh pa."


"Maaf sayang jadi buat kamu jadi seperti ini, aku janji akan berusaha agar pekerjaanku bisa cepat selesai."


"Janji ya pa, aku tidak tenang pa andai saja menantu kita dalam keadaan sehat, aku tidak akan secemas ini, ya ini Edo saja masih kwalahan hanya mengurus istrinya."


"Iya sayang, iya sudah yo kita ke kamar, mainanmu sudah karatan nic lama tidak di sentuh."


"Baiklah papa mesum, aku juga sudah kangen untuk main."


"He... he.. bilang papa yang mesum, sendirinya juga mesum."


Pasangan mantan pacar itu akhirnya memulai aksinya, dengan saling berpautan bibir lalu turun ke sumber air kehidupan anak mereka.


Deru nafas menandakan bahwa mereka saling membutuhkan dan merindukan setelah beberapa minggu cuti.


Pa... ah... teriakan terakhir mereka, menandakan bahwa pertempuran mereka telah selesai.


"Trimakasih sayangku mimpi indah ya."


"Sama -sama pa."


Akhirnya kegelisahan yang tadi mereka alami perlahan hilang karena pertempuran yang memabukkan.


Pagi hari setelah sarapan bersama, papa Edo berangkat ke luar kota untuk beberapa hari.


Kedua adiknya Edo juga pamit untuk berangkat sekolah dan kuliah.


Setelah kuliah Evan langsung pulang, dia tidak suka keluyuran, apa lagi di saat ujian.


"Siang ma,"sapanya saat sudah sampai di rumah.


"Siang sayangku, sana simpan tasmu sekalian panggilkan adikmu untuk makan siang."


"Ok mamaku yang cantik dan terhebat di dunia."


Evan berlari menaiki anak tangga menuju ke kamarnya.


Cia... ucapnya sesudah berada di depan kamarnya Gracia.


Tiga kali tidak mendapat Jawaban, akhirnya Evan membuka pintu kamarnya adik bawelnya .


"Iya ngorok lagi, ih... anak gadis ngorok, untuk adik sendiri kalau cewek lain malas dekat dia."


"Hei Cia ...bangun, ayo kita makan."


Hei... bangun..

__ADS_1


Hei... bangun Cia.


Tiga kali di goncang oleh Evan tapi tidak bangun juga, akhirnya Evan menjerit.


Gempa... gempa...... gempa...


mendengar jeritan Evan Cia langsung melompat dan berlari menuju lantai bawah.


Gracia berlari sambil berteriak histeris gempa.... gempa...


Mamanya yang lagi menyiapkan makanan di meja, bingung melihat putrinya yang berteriak.


"Hei mau kemana? sini kamu itu, ngigau kok sampai seperti itu."


Evan datang dengan tawa bahagia karena sudah berhasil membuat adiknya itu lari terbirit -birit.


"Ih... kakak ngerjain aku ya," Gracia mengejar Evan yang mengelilingi meja makan.


"Sudah ayo makan, kalian ini seperti anak kecil, nggak mungkin kan Andre yang lebih dewasa dari kalian?"


"sebel tahu ma."


Gracia masih terlihat jengkel melihat kakak yang belum dia balaskan perbuatannya.


"Makanya kalau tidur jangan seperti kerbau, tiga kali di goncang tidak dengar, ya terpaksa kakak kerjain."


"Tau.. ah."


"Maaf ya dek, jangan marah dong, biar makanannya bervitamin."


Mereka akhirnya makan dengan diam.


Sementara itu Edo dan Bertha sedang sibuk untuk menggantikan popoknya baby Andre,ibu yang di harapkan membantu mengasuh harus pergi ke luar kota untuk mengurus putrinya yang sedang sakit.


Tidak mungkin pak Wo yang pergi karena mengurus perusahaan.


"Sayang bagaimana cara gantinya," ujar Edo yang sudah mencoba beberapa kali.


Akhirnya Bertha berhasil menggantikan popok bayi Andre,setelah mencoba beberapa kali.


Maklum mami muda, dan sejak Andre lahir dia belum pernah mengganti popok Andre karena belum sehat.


"Wah ternyata mami kita pandai dek."


Edo membuat susu sesuai arahan dari kotak susu dan ibu pengasuhnya sebelum tadi berangkat.


Setelah minum susu baby Andre sudah mulai memejamkan matanya dan beberapa menit kemudian sudah terlelap.


"Sayang kamu tidur sana lagi dedek Andre tidur, biar cepat sembuh, kalau tidak terasa sakit lagi baru kita jalan."


Bertha yang sudah merasa mengantuk, langsung mencari tempat yang nyaman dan belum lama Bertha benar sudah terlelap.


Edo tahu bahwa istrinya sangat lelah, dia juga sebenarnya lelah, tapi mau bagaimana lagi.


Mereka yang tidak mau menambah pengasuh mau tidak mau harus melakukan dengan cinta.


Pagi hari yang cerah Bertha dan Edo memulai latihan berjalan, Andre sudah ada yang jaga yaitu mama Edo dan kedua adiknya sudah sampai tadi pagi.


"Sayang semangat ya, biar cepat jalan,"sementara dari dalam rumah, kedua sahabat itu meneteskan air mata melihat anak dan menantunya menahan sakit.


Papa Aldo dan mama Edo lagi melihat Bertha latihan berjalan dengan tertatih-tatih.


"Rasanya aku tidak tega melihatnya menderita terus,terkadang aku berpikir kenapa hidup anakku begitu."


"Do kita harus kuat agar mereka bisa kuat, memang kamu pikir hati aku tidak sakit, berminggu aku menahan rasa sakit itu."


"Apa lagi melihat Andre yang menangis, aku kadang bingung harus bagaimana."

__ADS_1


Evan dan Gracia yang tadinya mau keluar, akhirnya hanya diam di tempat, melihat mama dan mertua kakaknya menangis bersama.


Mereka yang belum tahu hubungan mama dan yang mereka tahu hanya mertua Edo, merasa aneh apa lagi tadi mamanya memeluk papa Aldo.


"Jil.. aku titip anakku iya, aku pulang dulu, aku tidak tega melihat dia seperti itu."


"Baiklah.. aku akan selalu mejaga dia,


aku sudah menganggap Bertha sebagai anakku sendiri."


Akhirnya papa Aldo pulang, sebelum melihat Bertha secara dekat.


"Mama ngapain sama papanya kak Bertha, kok sampai pelukan, jangan bilang jika mama selingkuh ya," ucap Gerecia dengan emosi.


"Kamu ngomong apa sih Cia."


"Iya mama aneh pelukan sama besan sendiri, awas aku kasih tahu papa saja ya."


"Mama itu tidak selingkuh sayang, dia itu pangeran mama sejak masih kecil."


"Pangeran?"Cia yang belum tahu apa-apa semakin bingung dengan penjelasan mamanya.


Cia mengambil handhpon hendak menghubungi papanya, tapi ternyata papanya sudah nongol sendiri.


"Pa.. untung papa datang, Oya pa, papanya kak Bertha itu pangeran mama?"


"iya kenapa emang?"


"tahu ah.. pusing."


"Ada apa sayang kok bawaannya ada bara api gitu."


"Itu putrimu,nuduh aku selingkuh sama Aldo."


"Putri kita sayang."


"Iya putri kita nuduh aku selingkuh sama Aldo."


"Memang kenapa kamu ngomong gitu nak?"


"habisnya mama pelukan pa."


"Ha... ha... pantas dong sayang anak kita berpikir kesana, mereka tidak tahu ceritanya bagaimana."


"Ih... anak sama bapak sama saja, nggak jelas."


"Kalian sini deh, biar papa ceritakan siapa om Aldo itu."


Setelah duduk di sampingnya papa Edo menceritakan kebenarannya agar kedua anaknya tidak pra sangka buruk.


"Terus papa tidak cemburu sama om Aldo dan mama?"


"nggak sayang, karena papa sudah tahu kenyataannya bagaimana."


"Jadi mama gitu ya dulu."


"Iya, mama senang kok, karena om itu memang manusia baik."


"Iya maaf ya ma,kita sudah ngomong yang tidak -tidak tadi, habisnya papa dan mama tidak pernah cerita."


"Iya mama juga minta maaf, sudah buah kalian berpikir negatif tentang mama."


"Tapi aku salut sama papa," bisa menerima itu kini Evan yang angkat bicara.


"Iya gimana papa mau marah jika,mama kalian saja hidup harus dengan om Aldo."


"Iya juga sih pa, iya sudah pa sabar saja punya ratu seperti itu, sudah nasib pa."

__ADS_1


Dasar...


Bersambung.


__ADS_2