APA SALAHKU MAMA

APA SALAHKU MAMA
Episode 32.Sarapan


__ADS_3

Setelah keluar dari kamar rawat Bertha, papa Aldo menuju warung kopi yang ada di depan rumah sakit.


Melihat ada yang bisa dimakan, papa Aldo memesan nasi goreng untuk sarapannya.


"Bu, nasi goreng satu sama kopi ya bu."Ucap papa Aldo


"Baik pak, tunggu sebentar ya pak,"jawab yang punya warung kopi.


Beberapa menit kemudian, pesanan papa Aldo segera diantar.


Papa Aldo tampak menikmati sarapannya, sudah satu minggu, papa Aldo sudah tidak makan teratur.


Baru pagi ini ,papa Aldo merasa tenang setelah mendengar penjelasan perawat.


Setelah selesai sarapan papa Aldo segera menuju ruangannya Bertha.


Setelah sampai di ruang rawat Bertha, papa Aldo melihat Bertha sedang tidur pulas.


Setelah Bertha makan, dan minum obat, Bertha langsung terlelap.


Melihat putrinya tertidur, papa Aldo tersenyum bahagia.


"Sayang, kamu harus cepat sembuh ya, biar kita bisa jalan-jalan sama."


Papa Aldo berbicara seolah -olah dia berbicara kepada orang yang bisa menanggapi perkataannya.


Saat dia tersadar bahwa dia bicara sendiri,air matanya mulai mengalir.


"Sampai kapan semua ini akan berakhir," ucapnya lirih.


Saat papa Aldo menangis ternyata Edo sudah datang untuk gantian jaga Bertha.


"Om sapa Edo lembut," dia tahu apa yang dirasakan oleh papa Aldo.


Segera papa Aldo menghapus air matanya,dan kemudian berpaling menghadap Edo.


"Kamu sudah sampai nak,"ucapnya dengan suara yang serak.


"Iya om, sebaiknya om pulang untuk istirahat, om harus jaga kesehatan om sendiri."


"Baik nak, om titip Bertha ya," ucapnya sambil membeli rambut putrinya.


Papa Aldo meninggalkan ruang perawatan Bertha,dan segera menuju parkiran,karena supirnya sudah datang untuk menjemput setelah mengantar Joni kesekolah.


"Ayo kita langsung berangkat pak," ucap papa Aldo dengan suara sendu.


Sang supir yang sudah mengerti keadaan majikannya, langsung melajukan mobilnya.


Beberapa menit kemudian mereka sudah sampai di rumah.


Papa Aldo langsung masuk ke dalam kamar untuk segera membersihkan diri.


Hari ini dia harus berjumpa dengan para staf di kantor, kakak iparnya tidak bisa menggantikannya, karena mengurus anaknya yang sedang demam.


Edo duduk disamping Bertha dan Edo selalu berdoa untuk pemulihan Bertha.


Saat dokter masuk untuk memeriksa kondisi Bertha, Edo perlahan berdiri agar memberi tempat untuk dokter dan perawat.


"Kondisi Bertha sudah benar membaik, besok sudah bisa pulang,"jelas dokter.


"Baiklah dokter, Trimakasih atas semuanya sehingga keadaan Bertha semakin membaik."


Sama -sama mas, kami juga senang jika pasien bisa membaik.


"Iya sudah mas," kami permisi ucap dokter dan kemudian meninggalkan ruangannya rawat Bertha.


Sayang aku sangat menyayangi kamu Tha, Trimakasih Kamu sudah berjuang untuk dapat menunjang sembuh.


Pagi ini Bertha sudah boleh pulang sesuai perkataan dokter, setelah selesai mengurus semua administrasi dan menebus obat, akhirnya mereka pulang menuju rumah papa Aldo.


"Pa, aku langsung ke kamar ya, ucap Bertha lembut dan berjalan menuju kamarnya yang diantar oleh Edo."


"Sayang kamu istirahat dulu ya,"aku mau langsung pulang, nanti ada kuliah satu jam lagi.


Nanti selesai kuliah aku langsung ke sini ya.


"Iya sudah sana pergi ntar terlambat tidak bisa ikut mata kuliah pak Hio."


Edo mencium kening Bertha dan barulah Edo keluar dari kamar Bertha.


Setelah Edo meninggalkan kamar Bertha, dia segara merebahkan tubuhnya diranjang empuknya.


Siang hari Bertha baru bangun tidur setelah nenek pengasuh dia sewaktu kecil, mengantar makanan ke kamarnya.


"Siang nak, kamu sudah bangun? ini nenek bawa makanan, biar nenek yang suapin."


Bertha mengangguk pasrah atas permintaan nenek.

__ADS_1


Dengan sabar wanita itu menyuapi Bertha hingga makanannya habis.


Setelah habis makanan Bertha, neneknya mengambil obat yang harus di makan oleh Bertha.


"Istirahat aja lagi ya nak, biar cepat sembuh ya."


"Trimakasih ya nek,aku mau tidur ditemani oleh nenek, untuk nanti malam."


"Baik nak," nanti malam nenek akan menemanimu,sekarang nenek tinggal dulu.


Bertha berjalan mendekati jendela kamarnya, setelah dia tinggal sendiri.


Dengan pandangan jauh menerawang, dia menatap kebun bunga mawar merah, putih yang nampak segar.


Hatinya terluka karena perbuatan ibu yang melahirkannya.


Bertha sebenarnya merasa bersalah membiarkan mama dan kakaknya terus dalam tahanan, tapi Bertha sangat takut untuk melepasnya.


Bertha takut mereka akan melukainya, walaupun untuk sekarang, sudah ada pengawal yang akan menjaganya, tapi trauma itu masih melekat dalam hati Bertha.


Apa ya yang harus aku lakukan agar mereka tidak terus menyakiti aku, gumamnya dalam hati.


Lelah dengan hati dan pikirannya Bertha kembali merebahkan tubuhnya diranjang empuknya, agar semua beban dalam hidup Bertha segera berakhir.


Ah mending aku tidur biar bisa cepat sembuh, gumam Bertha pada diri sendiri.


Mencoba untuk memejamkan mata kembali berharap semua beban pikirannya menghilang dari pada dirinya.


Bertha akhirnya terpejam, sampai menjelang sore barulah Bertha terbangun, itupun yang sudah dibanguni oleh Edo.


"Sayang bangun sudah sore loh, "kita kebawah yo, ajak Edo agar Bertha bangun, dan benar saja, akhirnya Bertha membuka matanya.


Bertha tersenyum, dan berusaha untuk bangkit, melihat Bertha kesusahan,akhirnya membantu untuk Bertha duduk.


"Aku ke kamar mandi dulu ya, ucap Bertha berusaha untuk berdiri, tapi karena kepalanya pusing banget dia hampir terjatuh."


Kamu tidak apa-apa?biar kubantu ya, Edo memapah Bertha menuju kamar mandi.


Setelah masuk di kamar mandi, Edo meninggalkan Bertha sendiri, baru setelah selesai, Edo masuk kembali.


"Sayang kamu makan disini saja ya,kamu masih pusing kan?biar aku ambil ya."


Bertha mengangguk pasrah, rencana mau makan bersama, malah belum bisa.


Bertha segera turun untuk menemui papanya Aldo yang sudah menunggu di meja makan.


"Om Berthanya masih pusing, biar makan di kamar saja ya?"biar aku bawakan.


Edo langsung mengambil piring dan mengisi dengan nasi dan lauk untuk Bertha.


"Aku ke atas dulu ya om," pamit Edo yang langsung berlalu menuju kamar Bertha.


Sampai di kamar Bertha Edo meletakkan nampan di atas meja, dan mengambil piring yang berisi makanan.


Edo duduk di samping Bertha, lalu menyuapi Bertha dengan senyum.


"Aku bisa sendiri Edo,"meneleponnya protes Bertha yang selalu diperlukan seperti anak kecil.


"Sayang diamlah," dan nikmati aja makanannya.


"Kamu selalu memperlakukan aku seperti anak kecil yang tidak bisa apa -apa."


Edo malah terkekeh mendengar perkataan Bertha.


"Anggap saja begitu saja kok sewot, aku saja tidak masalah kalau harus menyuapi kamu yang."


"Kamu tu, gerutu Bertha."


"Kenapa? semakin ganteng ya?"Edo malah dengan senangnya menggoda Bertha.


"Iya, makanya aku makin sayang sama kamu,"goda Bertha balik.


"Sudah pandai ya sekarang,"aku makin bangga sama kamu sayang.


Karena perdebatan kecil mereka, maka tidak terasa nasi yang dipiring Bertha sudah habis berpindah ke perut Bertha.


"Mau tambah lagi?"tanya Edo sambil memberikan suapan terakhir.


"Nggak ah sudah cukup, aku sudah kenyang."


"Ini minum, biar minum obat ya," Edo mengambil obat dan memberikanya kepada Bertha.


Bertha mengambil obat yang diberikan oleh Edo, lalu memakannya.


"Sekarang kamu mau tidur langsung atau masih mau menonton tv?"biar aku antar piring kebawah ya.


"Hidupkan tv dulu," ucap Bertha manja.

__ADS_1


Edo menghidupkan tv dan mencari chanel yang Bertha suka.


"Aku kebawah dulu ya yang."


Edo segera mengantar piring kosong dan meletakkan di atas meja.


Edo melihat tidak ada lagi om Aldo,maka iapun naik kembali ke kamar Bertha.


"Sayang aku pulang ya," ucap Edo setelah membuka pintu, dan ternyata di dalam ada papanya.


"Om," sapa Edo setelah masuk ke kamar Bertha.


"Sini Edo, om mau keruang kerja dulu, nanti bentar lagi pulangnya ya, setelah Bertha sudah mau tidur, om ada pekerjaan penting."


"Baik om."


"Om tinggal dulu ya," ucap papa Aldo, yang kemudian meninggalkan kamar putrinya.


Sebenarnya papa Aldo hanya pura -pura punya pekerjaan, ia melihat wajah Bertha yang kecewa saat Edo permisi pulang tadi.


Edo menemani Bertha menonton dan duduk di samping Bertha di lantai bersandar pada ranjang Bertha.


"Tontonanmu seperti anak kecil aja yang,"ucap Edo karena sudah merasa bosan.


"Kamu nggak suka ya?"tanya Bertha langsung memeluk Edo dengan erat.


"Jangan menggoda imanku sayang, nanti aku khilaf gimana?"apa lagi suasananya mendukung banget sih.


"Kamu tuh, pikirannya mesum melulu."


"Wajarlah sayang, karena aku masih normal, masak dapat pelukan hangat dari wanita cantik seperti kamu,hanya diam saja, itu mati namanya."


"Terserah deh," tapi aku mau seperti ini.


Edo membalas pelukan hangatnya Bertha dengan menahan sesuatu yang sudah ribut di bawah sana.


"Sayang,"ucap Edo lirih setelah mereka melepaskan pelukannya.


Napa?


Edo yang sudah terbakar gairah melihat bibir Bertha yang terbuka langsung mendaratkan b*b*rnya dengan b*b*r Bertha.


Takut berbuat dosa, Edo meninggalkan Bertha menuju kamar mandi.


Setelah Edo keluar dari kamar mandi, Bertha malah cengengesan.


"Kenapa yang? "sepertinya kamu senang nyiksa aku.


"Nggaklah, hanya lucu aja liatnya."


Edo duduk kembali di samping Bertha,dan berkata.


"Oya sayang besok ada kuis loh, sayang kamu belum bisa ikutan.


"Iya sih,atau aku ikut saja apa, materinya soal apa?"aku juga sudah bosan tidur terus.


"Tapi kamu masih pusing sayang, aku tidak mau sampai terjadi sesuatu lagi."


"Aku sudah tidak apa-apa, sekarang ayo kita belajar!"supaya besok aku tidak ketinggalan.


Edo mengambil buku Bertha yang ada di rak buku Bertha.


Mereka mulai belajar dan memulai dengan dites satu lawan satu.


Satu setengah jam berlalu, akhirnya Edo permisi pulang.


"Sayang aku permisi pulang ya, besok aku jemput ok."


Edo dengan semangat menuruni anak tangga, dia melihat papa Aldo duduk di ruang keluarga sambil nonton televisi.


"Om aku permisi pulang, pamit Edo,lalu mencium punggung tangannya papa Aldo."


"Hati -hati ya nak."


"Ia om."


Setelah Edo pergi, papa Aldo menuju kamar Bertha.


"Sayang belum tidur? "ini sudah malam lo.


"Iya pa, ini tinggal baca sedikit lagi, sisa yang kami baca sama Edo."


"Iya sudah sini papa letakkan bukunya di meja."


"Pa besok aku kuliah ya, soalnya ada kuis, sayang jika di lewatkan."


"Apa kamu suda sanggup?" kalau sudah sanggup, papa tidak apa sih, asal jangan jauh -jauh dari Edo.

__ADS_1


Bersambung


Jangan lupa komentarnya dab vote serta like.


__ADS_2