APA SALAHKU MAMA

APA SALAHKU MAMA
Episode 118.Mobil baru


__ADS_3

Senin pagi Dia bangun dan bergegas menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.


Setelah selesai urusan kamar mandi Dia langsung bersiap dengan pakaian putih abu-abunya.


Menyisir rambutnya serta mengikat satu lalu mengambil tas dan segera turun.


Di meja makan masih ada papi dan maminya sementara kedua abangnya belum turun untuk sarapan.


Dengan wajah yang ceria Dia mengeser kursi percis di depan maminya.


Tidak berapa lama Andre turun, sedikit heran karena adiknya mengambil tempat dia duduk biasa.


"Mi aku mau lauk ayam goreng dong,"ujar Dia sambil menunjukkan makanan yang ia mau.


Dio turun piring Dia sudah siap untuk di santap.


"Wah ada yang kelaparan nampaknya belum apa-apa sudah penuh saja itu piring."


Dia tidak menyahuti abangnya, malah langsung makan, hingga membuat semua heran.


"Adek berdoa dulu,"suara mami lembut memperingati anak gadisnya.


Papi hanya mengeleng agar tidak memperpanjang, takutnya putrinya semakin marah.


Mereka sarapan dalam diam, hingga sampai selesai sarapan.


Gilbert sudah menunggu mereka di mobil, Dia tersenyum menyapa om kesayangannya itu.


"pagi om."


"pagi sayang, ceria bangat pagi ini."


"Jelas dong om, kita harus menyambut sinar sang mentari dengan ceria."


"Ha... ini baru keponakan om."


"Ah.. om nggak seru jadi kalau aku loyo bukan keponakan om, jahat tahu."


"Iya tetap semangat keponakan om hanya saja tidak om suka."


"Ayo masuk nanti sore kita akan melihat mobil baru untuk princesnya om."


"Ok om."


Tidak berapa lama papi dan maminya datang begitu juga dengan abangnya Dio.


Mereka segera berangkat, Dia tetap dengan mode diamnya hingga mobil sudah sampai di depan sekolah.


"Dia turun ya pi, mi, om."


"Ok sayangku," jawab kedua orang tuanya.


Gilbert juga tidak tinggal diam sapaan biasanya juga ia lobtarkan.


"Ok princes, sampai jumpa nanti siang."


Dia segera berjalan setelah mobil kedua orang tuanya pergi, Dio segera mengejar adiknya.


"Dia tunggu sebentar, abang mau bicara."


Dia berhenti tetapi masih tetap diam.


"Kamu kenapa?"


"nggak kenapa."


Setelan bicara itu Dia segera berlalu membuat Dio harus mengejarnya.


"Kamu ngomong sama abang apa salahnya abang?"


"kalian egois."


"egois kenapa? abang nggak ngerti."


"Nggak ngerti abang bilang? abang pergi dengan wanita itu dan tinggalkan aku sampai aku harus naik taksi, aku bilang sama bang Andre juga katanya sibuk,tapi apa dia sibuk dengan ceweknya."


Dio tidak bisa berkata apa-apa, dia terbengong mendengarkan perkataan adiknya.


"Aku malas sama kalian."


Setelah berkata seperti itu, Dia langsung pergi begitu saja.

__ADS_1


Sementara itu Dio merasa bersalah karena sudah membuat adiknya terluka hanya demi seorang wanita hanya diam di tempat.


Setelah beberapa saat kemudian, Dio baru berlari mengejar adiknya,tapi sayangnya Dia sudah duluan menghilang.


Tidak mau membuat adiknya lebih terluka lagi, Dio membiarkan Dia pergi.


Saat jam pelajaran sudah mulai Dia tidak merespon Dio yang hanya bengong.


Saat jam istirahat Dia tidak keluar sama sekali, Dio yang melihat itu akhirnya membawa makanan untuk adiknya.


Sampai di kelas Dio langsung memberikan makanannya enak pada adiknya.


"Nih... makan dulu."


"Aku nggak lapar, buat abang saja kalau tidak kasih sama cewek mu saja."


"Abang minta maaf dek, jangan marah dong."


Dio akhirnya luluh sama saudara kembarnya ia tidak tega melihat abangnya melas seperti itu.


"Sudah jangan terlalu lama marahnya ini makan."


Dio membuka kotak nasi goreng yang dia beli dari kantin.


Senyum terukir di bibir adiknya, ia tahu bahwa Dia tidak bisa marah lama-lama.


"Nic minumnya nanti keselek loh."


Dia menerima dan langsung menegukknya hingga kandas.


Pelajaran sekolah pun sudah usai, Dio berjalan bersama Dia, sebenarnya Dio sudah janji untuk mengantar Revi kekasihnya.


Tapi demi adiknya dan tidak mau mencari masalah lagi Dio terpaksa membatalkan janjinya.


Supir sudah datang menjemput mereka,tanpa banyak bicara Dio menarik tangan adiknya agar segera masuk ke dalam mobil.


"Kenapa nggak jadi ngantar cewekmu? bukannya tadi dia minta di antar?"


"ia tapi aku tidak mau membuat kesalahan sampai dua kali."


"Kenapa?"


"tidak apa-apa, yang penting kamu yang paling penting, maafkan abang yang kemarin sampai membuat kamu kecewa sama aku."


"Iya kalau soal itu aku tidak akan mengganggunya toh papi dan mami sudah setuju."


"Itu semua gara-gara kalian."


"Iya deh sekali lagi abang minta maaf."


Sampai di rumah Dia langsung memasuki kamarnya, setelah berganti pakaian dia lansung merebahkan tubuhnya diranjang tanpa makan siang dulu.


Dio yang sedang duduk di sofa ruang tamu lansung bangkit ketika melihat abangnya Andre.


"Bang tunggu sebentar," ujar Dio.


"Ada apa?"


"Bang apa Dia beberapa hari yang lalu ada menghubungi abang?"


"iya kenapa?"


"terus apa ia tahu kalau abang pergi kemana?"


"sepertinya tidak, memang kenapa?"


"ternyata Dia diam beberapa hari ini karena marah pada kita berdua dan sepertinya Dia juga tahu abang kemana."


"Soalnya tadi Dia bilang kita egois membiarkan ia sendiri demi cewek yang baru kita kenal."


"O... gitu."


"Abang tahu nggak sampai Dia minta sekolah ke luar negeri?"


"apa?" kaget Andre yang baru tahu kenyataannya bahwa adiknya begitu kecewa padanya.


"Iya bang tapi papi tidak kasih ijin jadi Dia akan naik mobil sendiri, walaupun masih tetap di supirin om Gilbert."


"Iya sudah nanti abang bicara pada Dia sekalian minta maaf."


"Baik bang."

__ADS_1


Andre merasa bersalah lansung menuju kamar adiknya.


Tiga kali mengetuk pintu tidak ada jawaban,akhinya Andre kembali ke kamarnya.


Sampai di kamar,Andre memikirkan perkataan adiknya, Andre sangat merasakan sesak di dadanya sudah dua kali ia menyakiti hati adiknya.


Setelah berganti pakaian, Andre turun untuk makan siang karena tadi dia belum sempat makan.


Di ruang makan ternyata Dio juga sedang makan siang sendiri.


"Sudah bang?"


"belum lagi, soalnya abang ketuk pintunya tidak terbuka."


"Mungkin Dia sedang tidur."


"Iya tidak apa-apa nanti saja sekarang kita makan saja dulu."


Akhirnya mereka berdua ini makan siang dengan lahap.


Setelah selesai makan mereka berdua bersantai di balkon kamar mereka.


"Abang tidak tahu jika masalahnya akan seperti ini, abang jadi merasa bersalah karena sudah dua kali membuat Dia terluka."


Andre menceritakan kebenarannya pada hari itu.


"Pantas saja dia marah ya bang,Dia merasa tersingkirkan karena kita."


"Iya sekali lagi kita harus lebih perhatian pada Dia, jangan sampai wanita lain kita perhatikan padahal adik kita sendiri kita abaikan."


"Iya bang, aku juga menyesal."


Saat mereka masih asyik ngobrol tiba-tiba Dia keluar dari kamarnya.


Dia... panggil Andre, tapi seperti biasa jika adiknya marah maka akan tidak ada balasan.


Dia terus berlalu menuju ruang makan karena dia sungguh sangat lapar.


Sampai di meja makan Dia lansung mengambil makanan tanpa peduli dengan sekelilingnya.


Andre yang melihat hal itu hanya bisa menarik nafas dalam.


"Kamu benar sangat lapar dek,"ujar Andre untuk mencairkan suasana.


Hemmmmm jawab singkat Dia.


Andre mengisi air mineral di dalam gelas lalu memberikan kepada adiknya.


Dia menerima karena dia tersedak.


Selesai makan Dia hendak pergi namun di tahan oleh abangnya.


"Tunggu sebentar dek," ujar Andre.


"Ada apa bang,memang tidak lagi sibuk."


"Dek... maafkan abang untuk kedua kalinya menyakiti hatimu."


"Tidak apa-apa mungkin aku yang salah karena terus tergantung pada kalian."


"Tidak seperti itu dek."


"Sudahlah bang lupakan aku sudah tidak apa-apa kok."


"Itu namanya kamu masih marah sama abang dek."


"Nggak kok aku tidak marah hanya kecewa."


Dia keluar menuju taman di rumah mereka.


Di taman ia duduk sambil menikmati udara sore dan menikmati keindahan bunga mawar milik maminya.


Dia mendekati pak Adi yang sedang menyiram tanaman tersebut.


"Biar saya pak,"ujarnya sambil mengambil alih selang dari pak Adi.


Saat Dia masih menyiram tanaman sebuah mobil memasuki pekarangan rumah mereka.


Dia berlari menuju mobilnya melihat yang ada di sana papi dan maminya serta om Gilbert.


Di belakangnya kemudian menyusul mobil papinya bersama seorang supir.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2