APA SALAHKU MAMA

APA SALAHKU MAMA
Episode 52.Sadar


__ADS_3

"Sayang bangun," kamu tidak boleh seperti ini, Edo nampak histeris karena Bertha diam dengan darah yang mengalir di tubuhnya.


Saat semua masih dalam keadaan panik dokter datang dan langsung mengambil alih, untuk mengobati Bertha.


Setelah semua darah di bersihkan, luka sudah di jahit dokter menyuruh agar pakaian Bertha segera digantikan.


"Cepatlah ganti pakaian Bertha,"agar dia tidak masuk angin, perintah dokter pada karyawan wanita Edo.


Saat semua sudah tenang Edo baru sadar bahwa dokter itu adalah dokter keluarga mereka.


"Dokter kok bisa di sini? nggak mungkin dalam beberapa menit dokter sampai di sini."


"Aku sudah berada di sini sejak satu minggu lalu, aku bertemu sama asistensmu tadi saat dia menjemput kalian."


"Aku dan keluarga ada di kampung sebelah untuk berlibur jelas dokter Pain,"karena tahu kebingungan Edo.


"Terus bagaimana dengan keadaan Bertha dokter? apa perlu dibawa kerumah sakit? aku tidak mau sampai terjadi sesuatu dengan dia."


Hmmm....dokter Pain menarik nafas kasar lalu membuangnya.


"Aku tahu ini sangat berat untuk mu, tapi tenang saja tidak ada luka cukup serius, jadi tidak terlalu kwatir."


Dari pada kita membopong Bertha begitu jauh, lebih baik alatnya saja yang kita bawa kesini.


"Terserah dokter saja," lanjut Edo pasrah.


Dokter Pain adalah anak teman kakek Edo,dia penganti papanya jadi dokter keluar Edo, dari segi tindakan, asal demi kebaikan dia bebas bertindak misalnya dengan mendatangkan peralatan dari kota dengan halikopter dan sangat menggunakan biaya yang cukup banyak.


Semua biaya itu akan ditanggung keluarganya Edo.


"Jadi dokter tinggal di kampung seberang?"tanya Edo yang masih penasaran.


"Iya rencananya kami akan balik hari, tapi harus ditunda."


"Trimakasih dokter," ucap Edo tulus.


"Sama -sama, oya sebaiknya kamu hubungi keluarga,agar mereka tahu keadaan kalian di sini."


Setelah percakapan Edo dengan dokter tadi dia kembali masuk ke kamar untuk melihat kondisi Bertha.


"Sayang bangun..." kamu jangan main seperti ini aku tidak kuat melihatmu seperti ini sayang.


Kamu kok betah tidur terus sayang, jangan hukum aku sayang.


Edo mengeluarkan seluruh isi hatinya, ia teringat perkataan Bertha tadi pagi, membuat dia semakin sedih.


Kamu main -mainkan bilang begitu tadi pagi, celoteh Edo tidak pernah henti.


Karena lelah akhirnya Edo memejamkan matanya dan ikut terbuai oleh mimpi indahnya.


Saat Edo tidur semua alat,sudah berada di kamarnya.


Pak Wo dan yang lain memperbaiki tidurnya Edo, entah karena sangat lelah dia tidak merasakan bahwa dia sudah diangkat.


Alat sudah terpasang di tubuh Bertha,walaupun tidak ada yang serius tapi ada beberapa alat tubuh Bertha terluka yang mengakibatkan dia tidak bisa sadar dengan cepat.


Saat Edo terbangun dia melihat seluruh tubuhnya Bertha sudah di pasangkan alat.


"Sayang pulau ini aku buat untuk kenangan indah kita, tapi kenapa jadi kenangan seperti ini."


Wajah pucat itulah yang menemani Bertha beberapa hari ini, sudah tiga hari Bertha hanya diam tanpa kata membuat Edo semakin takut.

__ADS_1


"Dokter jika tidak ada yang serius tapi kenapa sampai sekarang dia tidak bangun?"


Mungkin karena pengaruh bius yang ada pada Bertha, jelas dokter yang juga ikut kwatir.


"Sebenarnya saat kamu tidur, kami melakukan operasi pada paha Bertha karena ada dahan kayu yang tertancap di tulang pahanya."


Tapi seharusnya dia sudah bangun ucap dokter itu pada akhirnya.


Edo yang hanya diam mendengar ucapan dokter, dia tidak tahu harus bicara apa, merasa bahwa dirinya bukanlah suami yang baik, untuk Bertha.


"Kita sebaiknya banyak berdoa agar dia segera sadar."


Saat tengah malam Edo tidak bisa memejamkan matanya sama sekali, dia duduk menemani istrinya.


Perlahan tangan Bertha bergerak, Edo yang merasa tangan Bertha bergerak langsung ke melihat Bertha.


"Sayang.. "


ucapnya dengan suara gemetar, dia lihat Bertha sudah membuka matanya.


Setelah mencium seluruh wajah Bertha, barulah Edo bangkit berlari untuk nemanggil dokter.


Karena mendengar teriakan Edo, seluruh keluarganya terbangun.


Iya.. setelah Edo mengabari seluruh keluarganya, kemarin mereka sudah tiba dengan selamat dan raut wajah cemas.


"Ada apa nak?" tanya papa Aldo yang duluan sampai.


"Bertha sadar pa," aku mau dokter cepat melihat Bertha.


Semua yang mendengar perkataan Edo langsung bersyukur.


Rita dan suaminya juga sudah bangun, Rita sengaja mengajak suaminya agar bisa ikut merawat Bertha.


"Baiklah sayang kamu yang tenang ya."


Bertha segera di periksa, dua dokter kemudian dengan senyuman indah mereka.


"Dia sudah tidak apa-apa," kita tinggal nunggu pemulihannya,sebaiknya kita kembali istirahat biar dia istirahat dulu.


Harapan orang ketika mengalami kesulitan adalah keluar dari kesulitan itu,dan ketika harapan mereka terkabul maka hanya ucapan syukur yang akan mereka ucapkan.


Edo dan seluruh keluarga besarnya, hari ini mereka mengalami apa yang di namakan sangat bersyukur, karena Bertha sudah sadar dan keadaannya tidak ada yang perlu di kwatirkan.


Setelah melihat keadaan Bertha semakin membaik, anggota keluarga perlahan pulang untuk melanjutkan pekerjaan mereka yang sudah tertunda.


"Sayang... papa harus pulang dulu, karena tidak ada yang mengurus perusahaan, kakak kamu kagi mengurus proyek di luar kota dan minggu depan baru bisa pulang."


"Iya pa, maaf sudah membuat papa kwatir," ucap Bertha tulus sambil memeluk erat papanya.


"Iya... sayang tapi sekarang papa sudah lega kamu sudah lebih baik."


Setelah papa Aldo meninggalkan ruangannya Bertha, kak Rita,suaminya serta papanya datang pamitan.


"Kami pulang dek,"cepat sembuh ya ucap Rita dan suaminya.


"Apa papa ikut pulang juga? tinggal bersama kami disini Pa, Kita pulang sama ya."


Sedikit rasa haru ada dalam hati pria itu, tapi kemudian ada keraguan disana yang membuat dia sulit mengambil keputusan.


"Tinggallah di sini pa,"pinta Edo tulus.

__ADS_1


"Baiklah papa akan tinggal bersama kalian,"ucapnya menyerah karena tidak tega melihat mata Bertha yang memohon.


Hari ini adalah hari spesial bagi Bertha, karena hari ini dia memiliki banyak waktu bersama ayah kandungnya.


Minum bersama, ngobrol bersama dan yang penting dia bisa merasakan kehangatan seorang ayah kandung.


"Sayang nampaknya kamu sangat bahagia hari ini?"


"iya sayang, masalahnya baru kali aku merasa sangat dicintai seseorang ayah."


Edo yang sangat mengerti akan istrinya lalu membawanya ke dalam pelukannya.


"Aku bahagia jika melihat kamu bahagia sayang."


Satu minggu Bertha berada bersama ayah kandungnya membuat dia sangat bahagia, hingga mempercepat kesembuhannya.


"Sayang papa senang akhirnya kamu bisa berjalan kembali walaupun masih tertatih-tatih."


"Apa papa membutuhkan sesuatu?"tanya Bertha pada papanya.


"Tidak sayang, disini semua kebutuhan papa sudah terpenuhi, tidak ada yang kurang."


"Trimakasih ya pa, sudah mau menemani Bertha di sini."


"Papa yang seharusnya berterimakasih sayang, karena kamu masih mau menerima papa setelan semua yang terjadi."


"Aku menyanyangi papa jadi tidak ada alasan untuk tidak menerima papa karena papa adalah hidup Bertha."


Edo yang hendak masuk mendengar perkataan istri dan mertuanya ikut meneteskan air mata.


Bertha berhambur dalam pelukan papanya.


Pagi hari yang cerah seperti hati wanita yang saat ini sedang merasa bahagia.


Hari ini mereka segera menuju kota, karena mereka akan pulang setelah satu bulan berada di pulau kecil dengan beribu kenangan.


Kesehatan Bertha benar sudah pulih,orang-orang tidak ada yang tahu bahwa Bertha sakit, semua menganggap bahwa mereka sedang berlibur.


Edo sangat bahagia setelah satu bulan yang lalu jiwanya hampir ikut melayang, setelah melihat keadaan Bertha yang tidak mau bangun.


Saat sampai di rumah Edo langsung mengangkat tubuh Bertha menuju kamar mereka.


"Sayang selamat datang di kamar kita, ini baru resmi jadi kamar kamu, jika dulu kamu hanya sebagai tamu aku, kalau sekarang kamu adalah permaisuriku selamanya."


"Trimakasih sayang."


Bagaikan air yang mengalir begitulah kehidupan ini harus berjalan dengan mengalir.


Baik itu suka, maupun duka kita harus selalu tetap menjalaninya.


Air dapat menghanyutkan begitu juga dengan kehidupan ini, kehidupan juga bisa menghanyutkan orang yang menjalaninya jika kita tidak pandai menjalaninya.


Semua berjalan dengan baik, hari ini Edo membawa Bertha kekantornya untuk menyelesaikan pekerjaannya yang tertunda sejak satu bulan yang lalu.


"Sayang jika kamu lelah , tidur aja di dalam aku masih lama."


"Iya aku ngantuk nih."


Edo tidak pernah berniat mengambil perusahaan Bertha, dia menyerahkan semuanya kepada kak Pino dan papa Aldo.


Warisan kakeknya sudah lebih dari cukup untuk hidupnya, dan keturunannya kelak.

__ADS_1


Bersambung


Jangan lupa like, komentar dan vote ya.


__ADS_2