
Akhirnya Ayu pindah kerumah Paujan, Leo sangat senang karena mereka sudah pindah kerumah yang lebih bagus dari rumah mereka, Leo juga sudah tau kalau Mama dia dan dokter Paujan sudah menikah, Leo tidak marah sebab Paujan yang menjelaskan kenapa Mama dia bisa menikah dengannya.
Tapi Ayu malah merasa semakin minder setelah pindah kerumah Paujan, ia merasa tidak pantas mendampingi dokter Paujan.
Paujan sangat baik kepada Ayu juga Anak-anak Ayu, ia membelikan semua keperluan Anak-anak Ayu, walau Ayu menolak Dokter Paujan tetap membelikan keperluan Anak-anak Ayu, karena ia melihat semua barang yang digunakan Anak Ayu tidak layak lagi dipakai, ia membelikan semua keperluan Anak Ayu dan menyuruh membuang semua barang lama.
**
Saat ini Rini sudah tau kalau Rio sudah ditinggalkan istri mudanya, Rini merasa senang mendengar kabar itu, ia berharap ia dan Rio bisa kembali bersama, tapi ia tidak pernah menunjukan kalau dia masih ada perasaan kepada Rio, setiap Rio ingin berbicara kepada dia, Rini menghindar ia berpikir ia harus jual mahal dulu, alias gengsi.
Rio sangat tersiksa dengan sikap Rini yang selalu menghindar dari dia, ia mengira kalau Rini belum memaafkan perbuatan dia dahulu, ia sudah lelah mencoba berbicara kepada Rini namun Rini terus memalingkan muka setiap mereka berpapasan.
Saat makan malam dirumah Rido, Rio berkata,
"Do, besok Papa pulang kampung saja, Papa akan kembali masuk kerja ditempat pekerjaan Papa dulu, tadi Papa sudah ditelepon lusa Papa sudah bisa masuk kerja," ucap Rio.
"Apa Papa tidak betah tinggal dirumah Rido, kalau Papa tidak betah dirumah Rido, Rido akan cari kontrakan buat Papa, Papa tidak usah bekerja lagi, Papa susah tua biar Rido yang membiayai semua keperluan Papa," jawab Rido, ia tidak suka kalau Papa dia harus bekerja diusia Papa dia yang sudah tua.
__ADS_1
"Papa tidak mau merepotkan kamu lagi, Papa sudah terlalu banyak merepotkan kamu selama ini," ujar Rio .
"Siapa yang merepotkan, aku tidak pernah merasa direpotkan, aku ini Anak Papa sudah sepantasnya aku membiayai hidup Papa disaat Papa sudah tua tidak bisa bekerja lagi, ijinkan Rido berbakti buat Papa dan juga Mama," jawab Rido ia merasa tidak rela kalau Papa dia harus bekerja kembali.
"Papa merasa tidak enak sama Mama, Mama selalu menghindar setiap berpapasan dengan Papa, Papa tidak mau kalau kehadiran Papa membuat Mama tidak nyaman, kalau lihat setiap kita makan seperti ini Mama tidak mau ikut makan karena ada Papa," ujar Rio akhirnya ia mengatakan alasan dia mengapa ingin pergi dari rumah Rido.
"Ya sudah kalau Papa merasa tidak enak sama Mama, aku cari kontrakan buat Papa agar Papa bisa tenang, kalau Papa ingin pulang kampung Rido tidak setuju, mau tinggal dimana Papa sedangkan rumah kita sudah tidak ada lagi, aku juga tidak bisa sering lihat Papa kalau Papa dikampung, Papa tau sendiri bagai mana sibuknya pekerjaan ku setiap hari," kata Rido agar Papa dia mengurungkan niat dia yang ingin pulang kampung.
"Ya sudah kamu carikan Papa kontrakan, biar Papa mengontrak saja," jawab Rio, mendengar jawaban Papa dia, Rido merasa lega.
"Ya sudah besok Rido akan cari kontrakan buat Papa," ujar Rido.
Pagi harinya Rido mendatangi Mama dia untuk membicarakan kepindahan Papa dia, karena Rido sudah dapat kontrakan untuk Papa dia, semalam selepas pembicaraan dia dengan Papa dia, Rido langsung menelepon orang yang pernah kontrakan dia ia sewa, kebetulan ada kontrakan dia yang masih kosong jadi Rido langsung mengontrak untuk Papa dia, hari ini dia akan melihat kontrakan itu, kalau sudah cocok dia segera membersihkan agar Papa dia bisa segera pindah, mumpung hari ini hari Minggu jadi ia libur.
"Ma, hari ini Rido mau pergi melihat kontrakan yang akan ditinggali Papa, Papa mau pindah karena merasa segan sama Mama," ujar Rido sambil melihat wajah Mama dia, sebenarnya Rido tau kalau Mama dia masih sayang sama Papa dia, tapi Rido mengira sakit hati Mama dia masih mengalahkan rasa sayang Mama dia kepada Papa dia, karena itu Rido tidak pernah menyuruh Mama dia memaafkan Papa dia.
"Kalau Papa pindah siapa yang mengurus Papa, bagai mana makan Papa siapa yang mengurus," jawab Rini dengan penuh kekuatiran, Rido heran kenapa Mama dia memikirkan siapa yang mengurus Papa dia, sedangkan dulu Mama dia tidak pernah memikirkan itu," Apa Mama masih cinta sama Papa sehingga Mama menguatirkan Papa," ucap Rido dalam hati.
__ADS_1
"Ya Papa sendiri yang mengurus dia, Rido akan sering datang melihat Papa," jawab Rido.
"Tidak bisa seperti itu Do, Papamu sudah tua kalau dia sakit tiba-tiba tengah malam siapa yang melihat dia, sementara dia tinggal sendiri," ujar Rini menyampaikan kekuatiran dia.
"Iya juga ya, apa aku harus cari pembantu untuk Papa, tapi kalau pembantu berduaan dengan Papa, tidak pantas dilihat orang, Papa juga nanti takutnya khilaf," jawab Rido memancing reaksi Mama dia.
"Tidak usah cari pembantu kalau pembantunya perempuan, cari pembantu laki-laki saja," kata Rini tidak suka, Rido tersenyum tipis mendengar perkataan Mama dia yang kelihatan cemburu, tapi Rini tidak melihat senyum Anak dia karena ia sedang mode cemburu.
"Mencari pembantu kali-kali susah Ma, bagai mana kalau Rido tidak dapat pembantu kali-kali terpaksa Rido mencari pembantu perempuan," jawab Rido, Rini emosi mendengar perkataan Anak dia.
"Ya kalau tidak ada dapat pembantu kali-kali Papamu tidak usah pindah sekalian," ucap Rini dengan dana marah.
Rido tidak bisa menahan tawa dia mendengar perkataan Mama dia, ia tertawa lepas melihat Anak dia menertawakan dia, Rini jadi malu ia pergi meninggalkan Anak dia, melihat Mama dia pergi Rido memanggil karena ia belum selesai bicara, tapi Rini tidak menghiraukannya.
Rido geleng-geleng kepala melihat tingkah Mama dia," Kalau suka jangan gengsi, seperti Anak remaja saja," ucap Rido bicara sendiri.
"Siapa yang seperti Anak remaja?" Rudi terkejut mendengar suara orang yang bertanya lalu ia membalikkan badan dia melihat siapa yang bertanya ke dia.
__ADS_1
Sementara Rini saat ini sedang mengutuk dirinya, ia malu kepergok masih cemburu kepada mantan suami dia," Kenapa aku bicara seperti itu tadi, pasti Rido tau aku cemburu," ucap Rini dalam hati menyesali apa yang ia katakan tadi.