Ayu Yang Malang

Ayu Yang Malang
Part 133


__ADS_3

"Saya istri Dokter Paujan, maaf Pa, saya lanjang bertanya, sebelum melihat namanya, apa kabar Pa gimana kabar Mama," kata Ayu, ia baru saja melihat nama siapa yang menghubungi, setelah dia tau ia segera minta maaf karena ia tau yang menghubungi adalah Papa mertua dia.


"Buruk, Mama sekarang lagi sakit setelah pulang dari rumah kalian, dimana Paujan?" tanya pak Fatur, ia tidak mau lama-lama bicara dengan menantu dia.


"Mas Paujan tidur, mungkin karena habis minum obat," jawab Ayu.


"Kenapa Paujan minum obat, apa dia sakit?" tanya pak Fatur dengan penuh khawatiran dengan keadaan anak dia.


"Iya Pa, setelah Mama pulang dari besoknya Mas Paujan sakit, mungkin dia kepikiran sama Mama," jawab Ayu sejujurnya.


Pak Fatur terkejut mendengar Anak dia sakit, ia salah menilai anak dia, ia pikir Anak dia tidak mau menghubungi karena tidak perduli lagi dengan mereka, ternyata Anak dia sakit karena itu tidak bisa menghubungi dan tidak menanyakan kabar.


Sudah dibawa berobat?" tanya pak Fatur.


"Belum Pa, Mas Paujan tidak mau dibawa ke Dokter,"jawab Ayu.


"Kalau tidak dibawa ke dokter sakit dia nanti semangkin parah, kamu bujuk dia agar mau dibawa ke dokter," kata pak Fatur.


"Aku sudah capek membujuk Mas Paujan tapi dia tetap tidak mau dibawa ke dokter," jawab Ayu.


"Ya sudah Papa tutup dulu teleponnya, kamu jaga dia baik-baik, Mama juga sedang sakit disini, assalamualaikum," ujar pak Fatur,


Setelah telepon terputus pak Fatur jadi khawatir takut kalau Paujan punya sakit yang serius, ia tau kalau dikampung peralatan medis tidak lengkap, karena itu pak Fatur berinisiatif menjemput Paujan, lalu ia menghubungi Vania agar menjaga Mamanya, sebab ia mau menjemput Paujan.


"Assalamualaikum ada apa Pa, apa Mama masih sakit?" tanya Vania ia takut Mama dia semakin parah.

__ADS_1


"Iya Mama belum sembuh, Papa minta tolong kamu jaga Mama, Papa mau menjemput abang mu dikampung, Abang mu juga saat ini sakit," kata pak Fatur memberitahu.


"Abang sakit apa Pa?" tanya Vania ia jadi khawatir dengan keadaan abang dia.


"Papa kurang tau abang mu sakit apa,"jawab pak Fatur, pak Fatur juga menceritakan dia menghubungi Paujan dan menceritakan semuanya.


"Iya Pa, aku segera kesana," jawab Vania, setelah telepon terputus Vania menghubungi suami dia dan memberitahu, setelah itu ia pergi kerumah orang tua dia, setelah Vania sampai pak Fatur segera pergi ke kampung tempat Anak dia tinggal.


Sore harinya bu Sania heran kenapa suami dia tidak kelihatan, sudah dari siang hari ia tidak melihat suami dia, tapi dia pikir mungkin suami dia pergi kerja, tapi setelah sampai sore tidak pulang juga ia mulai curiga.


"Papa mu kemana sih, sudah sore belum pulang?" tanya bu Sania kepada Vania.


"Mama tidak usah mikir Papa kemana, Mana fokus untuk kesehatan Mama saja," jawab Vania ia tidak menceritakan kemana Papa dia pergi, ia takut Mama dia semakin kepikiran kalau tau Abang dia sakit.


"Papa pergi kerumah teman dia, pesan Papa Mama tidak usah tunggu Papa," kata Vania berbohong.


Bu Sania diam saja mendengar perkataan Anak dia, ia merasa ada yang disembunyikan Anak dia, tapi ia tidak mau bertanya lagi percuma pikir dia, karena tidak mau ambil pusing bu Sania kembali berbaring ketempat tidur dia.


"Alhamdulillah Mama tidak lagi bertanya, aku jadi merasa berdosa berbohong sama Mama, tapi demi kesehatan Mama biar saja aku berdosa, Tuhan tau kok aku berbohong demi kebaikan semuanya," kata Vania bicara dalam hati.


"Assalamualaikum," terdengar suara Parel dari luar rumah, ia baru saja pulang bekerja.


"Wa, allaikumsalam," jawab Vania dari dalam, setelah Parel masuk, Vania segera menyelam tangan suami dia lalu menciumnya, Parel mengusap kepala Vania dengan penuh kasih sayang lalu mencium kening istri dia.


Bu Sania melihat pemandangan itu berdecak kesal, ia sangat geram melihat suami Vania.

__ADS_1


"Cih, sok romantis, kenapa sih aku punya menantu tidak ada yang sesuai seleraku, semua menantuku bikin aku malu didepan teman-teman ku, tidak seperti teman-teman ku punya menantu bisa membanggakan mereka, apa lagi istri Paujan bikin malu saja kalau temanku tau Paujan menikah dengan seorang janda," kata bu Sania berkata sendiri.


"Jam berapa Papa pulang?" tanya Parel sebenarnya ia tidak pernah nyaman kalau berkunjung kerumah mertua dia karena sikap bu Sania yang selalu merendahkan dia.


"Belum tau Mas, kita tidur disini saja, kemukiman Papa agak malaman sampainya atau mungkin Papa nginap dirumah Abang," jawab Vania.


**


Sesampainya pak Fatur dirumah Paujan para tetangga Paujan kembali bergosip mereka kembali menebak-nebak untuk apa Papanya Paujan datang.


Sedangkan Ayu segera menyambut Papa mertua dia setelah melihat pak Fatur datang, sedangkan pak Fatur terkejut melihat Ayu, ia mengira kalau istri Paujan sudah berumur, ternyata masih sangat muda dan cantik.


"Pantas saja Paujan mau menikahi dia," kata pak Paujan bicara dalam hati, sambil memperhatikan menantunya, ia juga terharu melihat Ayu begitu santun kepada dia, ia disambut hangat oleh menantunya.


Ayu membawa pak Fatur kekamar mereka, sebenarnya Ayu terkejut melihat Papa mertua dia datang, dalam hati Ayu bertanya-tanya untuk apa Papa mertua dia datang, ketakutan Ayu berkecamuk dipikirkan dia, ia takut kalau Papa mertua dia seperti Mama mertua dia kemarin tidak merestui pernikahan mereka, tapi Ayu mencoba menepis segala apa yang ada dipikiran dia.


"Bagai mana keadaan mu, apa yang kau rasakan sekarang Nak," ujar pak Fatur dengan penuh perhatian.


"Aku tidak apa-apa Pa, kenapa tidak ngabari kalau Papa kemari?" tanya Paujan, Paujan heran kenapa Papa dia datang.


"Papa tadi menghubungi mu, yang mengangkat istri mu, istri mu yang memberitahu kalau kamu sakit, Papa kepikiran dengan keadaan mu jadi Papa datang, kita pulang kerumah ya, agar kau bisa berobat disana," kata pak Fatur menjelaskan.


"Aku tidak apa-apa Pa, aku hanya butuh istirahat saja," jawab Paujan menolak ajakan Papa dia.


"Papa mengajak kamu pulang sekalian memperbaiki hubungan mu dengan Mama, kamu jangan keras kepala, Mama juga sakit kepikiran dengan mu, kamu sebagai Anak harus mengalah agar dapat restu dari Mama, kalau kamu tetap keras kepala Mama juga sama, mau sampai kapan kalian seperti ini, Papa berkata seperti ini bukan membela Mamamu, tapi Papa melihat dari dua sisi, mungkin Mama masih kecewa karena kau menikah dengan janda, kamu tau sendiri bagai mana sipat Mamamu Papa harap kamu mengerti apa yang Papa katakan, semua orang tau menginginkan yang terbaik untuk anaknya, begitu juga dengan Mamamu, wajar sebagai orang tua kecewa dengan pilihan anak dia yang tidak sesuai harapan dia, suatu hari nanti kamu juga akan jadi orang tua, disitu baru kamu mengerti bagai mana rasanya jadi orang tua," ujar pak Fatur menasehati Anak dia.

__ADS_1


__ADS_2