Ayu Yang Malang

Ayu Yang Malang
Part 122


__ADS_3

Saat ini Rido dan Ika sudah dalam perjalan pulang, sepanjang jalan Rido tidak bersuara, Ika merasa takut dengan sikap Rido, Ika baru menyadari kesalahan membuat malu keluarga dia, sementara itu Parel juga diam saja setelah adik dia bikin malu, bu Ati cemas melihat Anak dia diam saja, ingin rasanya bu Ati berbicara tapi ia tidak berani.


**


Sementara keluarga Fatur Rahman saat ini sedang berdebat, dari awal Sania Mirza tidak setuju kalau Vania menikah dengan Parel, karena Parel tidak selevel dengan mereka, tapi karena Vania selalu meyakinkan orang tuanya kalau Parel adalah pria baik-baik, dan Vania tidak mau menikah dengan pria lain selain Parel terpaksa kap Fatur dan bu Sania merestui, tapi melihat kelakuan adik Parel saat pesta pertunangan Parel dan Vania bu Sania meradang, ia malu didepan teman dia.


"Sudah Mama katakan kamu harus pikir dulu sebelum mengambil keputusan, kamu lihat sendiri bagai mana kelakuan adik Parel di pesta tadi," ucap bu Sania memarahi anak dia.


"Itu bukan kesalahan bang Parel, kita tidak tau apa permasalahannya Ma, mertua kak Wulan juga orang nya kelewatan sudah tua kok suka bertengkar didepan umum," jawab Vania membela keluarga calon suami dia.


"Kamu itu buta ya, kau lihat sendiri bagai mana kelakuan adik Parel, seharusnya dia mengalah karena dia lebih muda, apa lagi ini acara abang dia tidak sepantasnya dia membuat onar," ujar bu Sania ia tidak suka melihat anak dia masih membela adik Parel.


"Sudahlah tidak usah berdebat semua sudah terjadi tidak usah saling menyalahkan," jawab pak Fatur bijak.


"Apa Papa tidak malu? Mama malu Pa, didepan teman-teman Mama, ini semua gara-gara Papa selalu saja membela Vania dan menuruti keinginan dia, anak kita belum nikah saja kelakuan keluarga Parel sudah seperti itu, bagai mana kalau anak kita menikah nanti," kata bu Sania menakut nakuti Vania, agar Vania membatalkan pertunangan dia dan Parel.


"Mama gak boleh melarang aku menikah dengan bang Parel, Vania gak mau menikah kalau tidak sama bang Parel," jawab Vania.


"Kamu tidak boleh bicara seperti itu, kamu pikir sekali lagi, masih banyak laki-laki lebih baik dari Parel di luar sana, Parel juga belum tentu baik, dia baik sekarang karena ada maunya belum tentu dia baik setelah kalian menikah," nasehat bu Sania.


"Sudah lah bu, biar saja Vania menikah dengan Parel, mereka sama-sama saling mencintai, kalau untuk kedepannya kita doakan saja agar mereka rukun tidak ada masalah," ucap pak Fatur membela Vania.


"Papa selalu seperti itu, pokoknya Mama tidak setuju kalau Vania menikah dengan Parel," ujar bu Sania, setelah mengatakan itu, bu Sania pergi dari hadapan suami dan anak dia.


"Pa, gimana ini Mama tidak setuju kalau aku menikah dengan bang Parel," tanya Vania dengan nada kuatir, ia takut kalau dia tidak jadi menikah dengan Parel.


"Kamu tidak usah kuatir biar Papa yang membujuk Mama," jawab pak Fatur menenangkan anak dia.

__ADS_1


"Iya Pak," ujar Vania merasa agak tenang mendengar perkataan Papa dia.


**


"Mama membuat malu, apa Mama tidak bisa menahan diri untuk tidak tidak membuat keributan didepan umum, aku malu sama keluarga Wulan apa lagi mertuaku tadi kelihatan marah mau ditaruh mana mukaku," kata Radit menyampaikan kekesalan dia.


"Bukan Mama yang memulai dit, kamu lihat sendiri bagai mana kelakuan mantan istrimu itu," jawab bu Risma tidak terima disalahkan.


"Seharusnya Mama tidak usah meladeni perkataan Ika, biar bagai manapun Ika ibu dari anakku, aku tidak mau hubunganku dengan dia renggang karena ulah Mama," ujar Radit.


"Apa abang masih cinta sama Ika, sampai abang membela dia, jelas-jelas Ika yang salah," kata Wulan merasa tidak suka suami dia membela Ika.


"Bukan seperti itu, adik jangan salah paham, aku tidak mau hubunganku renggang karena takut kalau Ika menjauhkan aku dari Diba," jawab Radit menjelaskan agar Wulan tidak salah paham.


"Kalau Ika tidak mengijinkan kamu menemui anak kamu, kita ambil saja Diba dari Ika, biar kita yang mengurus Diba," saran bu Risma.


"Kamu itu selalu seperti itu, sikap kamu yang selalu mengalah membuat Ika semangkin menjadi-jadi," ujar bu Risma.


"Sudahlah bu, ini sudah larut malam lebih baik kita istirahat," saran Radit agar tidak ada lagi pembahasan, akhirnya mereka beristirahat.


**


Pagi harinya Ika mencoba bicara kepada suami dia, karna mulai pulang dari pesta tunangan abang dia semalam, Rido tidak mau bicara kepada dia.


"Bang aku minta maaf, karena membuat malu Abang semalam di pesta," kata Ika memulai pembicaraan.


Tapi Rido diam saja, malas untuk menjawab perkataan istri dia.

__ADS_1


Melihat suami dia diam saja, Ika berkata lagi,


"Abang kenapa diam saja, kalau Ika buat kesalahan Ika minta maaf, tapi jangan diam saja," ucap Ika protes.


"Kamu renungi kesalahanmu, agar kamu tau apa salahmu, abang lihat kamu belum menyadari apa kesalahanmu," kata Rido, baru ia bersuara.


"Iya Ika tau Ika itu salah, tapi jangan diami Ika, Ika sudah minta maaf sama abang, tapi abang yang tidak mau maafin Ika hiks..hiks..hiks," jawab Ika sambil menangis agar Rido luluh.


"Kamu jangan minta maaf sama abang, seharusnya kamu minta maaf keluargamu terutama abang mu, karena ulahmu acara pertunangan abang mu jadi berantakan," kata Rido agar Ika sadar kalau perbuatan dia sudah membuat banyak orang kecewa dan malu.


"Iya bang, Ika nanti pergi kerumah ibu, aku minta maaf ke mereka," jawab Ika.


"Ya sudah aku berangkat," ujar Rido lalu pergi dari hadapan Ika.


"Aku belum berani kerumah Ibu, kalau aku kesana pasti Ibu marah-marah sama aku, sudahlah lusa saja aku kerumah ibu, biar abang sama ibu sudah tidak marah lagi," ujar Ika bicara sendiri.


**


Sementara itu Vania menghubungi abang dia, minta pendapat masalah dia.


"Assalamualaikum adik abang yang paling cantik," kata Paujan setelah mengangkat telepon dari Vania.


"Wa, allaikumsalam, bang! kenapa abang tidak datang hari tunanganku, aku sedih abang tidak datang," kata Vania merasa sedih.


Mendengar perkataan adik dia, Paujan jadi sedih ia sebenarnya ingin melihat adik dia bertunangan, tapi kondisi dia saat ini masih belum memungkinkan untuk datang.


"Abang banyak kerjaan disini, jadi abang tidak bisa datang, insyallah dihari pernikahanmu Abang datang," jawab Paujan berbohong.

__ADS_1


"Apa abang tidak sayang lagi sama aku hiks..hiks.. hiks," kata Vania sambil menangis merasa sedih, ia sedih bukan hanya karena abang dia yang tidak datang, tapi ia juga sedih karena Mama dia tidak setuju kalau dia menikah dengan Parel.


__ADS_2