Ayu Yang Malang

Ayu Yang Malang
Part 132


__ADS_3

"Sayang tidak baik bicara seperti itu, kita sudah menikah dan sekarang ada anak kita didalam sini, percaya sama Mas kita pasti bisa hadapi semua permasalahan kalau kita sama-sama berjuang bantu Mas agar bisa mendapat restu Mama," kata Paujan meyakinkan Ayu agar tidak berputus asa.


"Gimana caranya aku bantu Mas, sedangkan melihat Ayu saya Mama tidak senang?" tanya Ayu tidak mengerti maksud suami dia.


"Sayang tetap berada disini Mas ya, walau apapun yang nantinya terjadi, itu sudah cukup membantu Mas menghadapi semua rintangan nantinya saat meminta restu dari Mama,"jawab Paujan, lalu Paujan membawa Ayu masuk kerumah dia, didalam rumah bu Sania sudah menunggu mereka.


"Ada yang mau kau jelaskan kepada Mama?" tanya bu Sania dengan nada tidak bersahabat.


"Maafkan aku Ma, aku tidak jujur sama Mama kalau aku sudah menikah dengan Ayu," jawab Paujan merasa bersalah.


"Kenapa kamu harus menikah dengan janda beranak tiga, apa tidak ada lagi perempuan dimuka bumi ini sehingga kamu menikah dengan dia, kamu bilang kau akan mencari jodoh kau sendiri apa itu pilihanmu atau kamu terjebak dan tidak bisa mengelak harus menikah dengan dia, semua orang tua memungkinkan yang terbaik untuk jodoh anaknya termasuk Mama, karena itu Mama tidak setuju kamu meneruskan pernikahan kamu dengan dia," ucap Bu Sania sambil menunjuk Ayu.


"Ma, tidak baik bicara seperti itu, aku dan Ayu sudah menikah, dan sekarang Ayu sudah mengandung anakku aku mohon restui pernikahan kami," kata Paujan berusaha membujuk Mama dia.


"Tidak Mama tetap pada pendirian Mama mau ditaruh mana muka Mama punya menantu janda seperti dia," kata Bu Sania tetap pada pendirian dia.


"Aku mohon Ma, jangan sampai aku menjadi anak durhaka karena Mama yang memulai," kata Paujan.


"Oh kamu ngancam Mama, terserah kamu Mama tidak perduli, kamu pilih Mama atau dia, kalau kamu pilih dia lupakan Mama jangan pernah anggap Mama sebagai Mama kamu, tapi kalau kamu pilih Mama, kamu ceraikan dia," ucap bu Sania dengan dana marah.

__ADS_1


"Jangan suruh aku memilih antara Mama dan istri ku, kalian tidak bisa aku pilih, aku minta maaf sudah buat Mama kecewa tapi Paujan tidak akan menceraikan istri Paujan," kata Paujan dengan nada tegas tidak mau menceraikan istri dia.


"Baik kalau itu pilihan mu, berarti kamu memilih perempuan itu, jangan pernah datang kerumah Mama, mulai sekarang kau bukan anakku lagi," kata bu Sania dengan nada sedih karena keputusan anak dia.


Ayu menggelengkan kepala dia tanda tidak setuju dengan keputusan suami dia, tapi Paujan mengusap tangan istri dia tanda tidak apa-apa.


"Puas kamu sudah memisahkan aku dan anakku," ucap Bu Sania sambil berlalu dari rumah Paujan membawa rasa kecewa dia karena perlakuan anak dia, air mata bu Sania mengalir saat keluar dari rumah anak dia, sementara Paujan memandang Mama dia sampai tidak kelihatan dada dia sesak melihat Mama dia pergi, ia juga sedih melihat kepergian Mama dia, ia berdoa agar Mama dia bisa menerima istri dia suatu saat nanti.


"Mas, sana susul Mama tidak baik membuat orang tua kita sedih," kata Ayu merasa tidak enak hati.


"Biarkan saja Mama pergi, percuma bicara untuk saat ini kepada Mama, karena Mama masih emosi kalau sudah emosi Mama mereda aku yakin Mama bisa berpikir jernih," kata Paujan.


"Kamu bicara apa sih, tidak ada kata cerai diantara kita," kata Paujan merasa tidak senang dengan perkataan istrinya.


Bu Sania menangis selama dalam perjalanan niat dia menakuti anak dia agar meninggalkan Ayu, tapi dia tidak menyangka kalau Anak dia memilih Ayu.


Sementara tetangga Paujan mulai bergosip karena melihat kejadian dirumah Paujan mereka juga melihat bu Sania keluar dari rumah Paujan sambil menangis, mereka sibuk menduga-duga apa yang terjadi didalam rumah Paujan tadi saat Paujan masuk kerumah, mereka menduga kalau Paujan memarahi Mama dia dan mengusir Mamanya karena membuat Ayu keluar dari rumah dia, itu pemikiran tetangga Paujan.


Sesampainya bu Sania dirumah pak Fatur sudah pulang dari kantor, ia heran melihat istri dia begitu cepat pulang dari tempat Anak mereka, padahal kampung tempat Paujan tugas lumayan jauh dari rumah mereka apa lagi melihat mata istri dia bengkang seperti habis menangis karena khawatir kalau istri dia tadi dijalan Kenapa-napa pak Fatur segera menghampiri.

__ADS_1


"Kok mama cepat pulang, apa pikir Mama menginap dirumah Paujan," kata pak Fatur, melihat suami dia bu Sania bukan menjawab ia segera memeluk pak Fatur dan menangis sejadi-jadinya menumpahkan rasa sedih dia, pak Fatur semakin heran dengan sikap istri dia tapi dia membiarkan istri dia menyelesaikan tangis dia.


"Pa, anak kita sudah menikah," ucap Bu Sania mengadu, sontak pak Fatur terkejut mendengar perkataan istri dia.


"Maksud Mama Paujan?" tanya pak Fatur memperjelas, bu Sania menganggukkan kepala dia.


"Dia menikah sama janda beranak tiga, Mana sangat kecewa dan sedih setelah mengetahuinya," kata bu Sania.


"Sudah Mama tenang dulu baru bicara," kata pak Fatur.


Setelah tenang bu Sania menceritakan apa yang terjadi dirumah Paujan saat dia ada disana, pak Fatur juga kecewa mendengar anak dia menikah dengan seorang janda, tapi ia mencoba menerima dengan ikhlas mungkin itu yang terbaik, pikir pak Fatur.


Tapi tidak dengan bu Sania, ia tidak bisa menerima kalau anak yang sering dia banggakan sudah menikah dengan seorang janda beranak tiga.


Setelah kejadian itu bu Sania banyak melamun ia juga sering menangis sendiri, pak Fatur sudah sering menasehati bu Sania agar tidak memikirkan Paujan lagi, tapi bu Sania tidak mendengarkan ia terus saja kepikiran dengan Paujan, ia berharap Paujan menghubungi dia dan meminta maaf, tapi harapan dia tidak tercapai Paujan tidak ada menghubungi.


Karena itu bu Sania sakit, pak Fatur terpaksa menghubungi Paujan walau sebenarnya ia malas menghubungi Paujan ia menganggap Paujan tidak lagi menghargai dia sebagai seorang ayah, karena Paujan tidak menghubungi dia dan memberitahu kalau dia sudah menikah, atau menghubungi menanyakan bagai mana keadaan Mama dia sekarang apa sudah sampai apa tidak, biasanya Paujan selalu perhatian kepada keluarga terutama Mama dia, tapi sekarang berubah mungkin karena istri dia mempengaruhi, pikir pak Fatur.


"Assalamualaikum dengan siapa ini ya," kata Ayu dari sebrang sana setelah mengangkat telepon.

__ADS_1


"Wa,allaikumsalam ini dengan siapa ya?" tanya pak Fatur bukanya menjawab malah bertanya kembali sambil menduga-duga kalau yang menerima telepon dia adalah istri Paujan.


__ADS_2