Ayu Yang Malang

Ayu Yang Malang
Part 135


__ADS_3

"Terserah dirimu, ya sudah mana Papa Mama mau bicara kepada Papamu," kata bu Sania, ia akhirnya menyerah kasih sayang dia kepada Paujan mengalahkan ego dia agar Paujan mau kembali pulang kerumah dia, tapi ia tetap tidak suka dan belum menerima Ayu sebagai menantu dia.


Paujan menyerahkan ponsel dia kepada Papa dia.


"Mama mau bicara sama Papa," kata Paujan, pak Fatur menerima ponsel Paujan.


"Assalamualaikum Ma, ada apa Ma? apa Mama sudah baikan," tanya pak Fatur mengkhawatirkan keadaan istri dia, karena saat ia pergi bu Sania masih sakit.


"Sudah mendingan Pa, kapan Papa pulang?" tanya bu Sania ingin tau.


"Besok Ma, kenapa?" tanya pak Fatur penasaran.


"Tidak ada cuma mau bilang, Papa bawa Paujan ikut pulang, Mama khawatir dengan keadaan dia, kalau disana pasti susah berobat, biar Paujan berobat disini saja," ujar bu Sania.


"Iya Ma, Papa akan coba bicara kepada Paujan, tadi Papa sudah mengajak dia, kata dia dia mau ikut pulang kalau tidak berubah pikiran," jawab pak Fatur.


"Iya sudah Mama tutup dulu teleponnya ini Mama sudah ngantuk assalamualaikum," ucap bu Sania.


"Wa, allaikumsalam salam," jawab pak Fatur.


Telepon terputus, lalu pak Fatur menyerahkan ponsel Paujan ke dia, karena penasaran Paujan bertanya,


"Mama bilang apa Pa?" kata Paujan ingin tau.


"Mama berpesan kamu harus ikut pulang sama Papa kerumah," jawab pak Fatur jujur.


"Mama tadi sudah mengatakannya," ujar Paujan.


"Mama mu sangat menyayangimu, dia khawatir dengan keadaan mu, karena itu dia belum bisa menerima Ayu sebagai menantu dia, Mama berpikir kamu tidak akan bahagia menikah dengan Ayu, karena itu kamu pandai-pandai mengambil hati Mamamu," nasehat pak Fatur.


"Iya Pa," jawab Paujan singkat.


"Ya sudah kita tidur ini sudah tengah malam, kamu juga belum sembuh betul," ujar pak Fatur, setelah mengatakan itu, pak Fatur beranjak pergi kekanar Leo, sedangkan Paujan pergi kekamar dia, sesampainya dikamar Ayu belum tidur, lalu Paujan bertanya,


"Kok belum tidur?" tanya Paujan sambil naik ketempat tidur.


"Nunggu Mas," jawab Ayu sambil meletakkan kepala dia di dada Paujan, Paujan mengelus kepala Ayu.


"Apa ada yang Ayu pikirkan," tanya Paujan menebak-nebak.

__ADS_1


"Tidak ada Mas, aku cuma nunggu Mas saja," jawab Ayu.


"Iya sudah kita tidur, biar gak kesiangan perginya,," ujar Paujan kepada Ayu.


"Pergi kemana?" tanya Ayu karena tidak tau.


"Kita besok ikut Papa pulang kerumah Papa," jawab Paujan, Ayu terkejut mendengarnya, pasalnya ia tau kalau suami dia tidak mau pulang.


Ayu terdiam ia merasa takut kalau harus ikut bersama suami dia, tapi ia juga segan menolak jika suami dia mengajak ia harus ikut.


"Mas pergi sendiri?" tanya Ayu memperjelas.


"Tidak, kita pergi bersama anak-anak," jawab Paujan dengan hati gembira ingin membawa mereka.


"Tapi Leo sekolah Mas," ujar Ayu beralasan.


"Leo ijin libur saja untuk beberapa hari kedepan," jawab Paujan.


"Ya sudah aku ngikut saja,"jawab Ayu pasrah, mereka pun tidur.


Besok paginya Paujan menghubungi guru Leo, mempermisikan Leo, sedangkan Ayu sibuk mengemasi barang-barang mereka, pak Fatur sudah siap bersama Anak-anak mereka menunggu diruang tamu, setelah semua selesai merekapun berangkat, para tetangga yang melihat mereka pergi, kembali bergosip menduga-duga untuk apa mereka pergi.


"Leo senang pergi kerumah Opa?" tanya pak Fatur.


"Senang Opa, Leo sudah tidak sabar mau cepat sampai kerumah Opa,"jawab Leo dengan hati gembira.


"Tenang sebentar lagi kita sampai kok," ujar pak Fatur memberitahu.


"Ya Opa," jawab Leo.


Sementara itu jantung Ayu semakin berdebar ia takut bagai mata reaksi ibu mertua dia saat menyambut mereka nantinya, Ayu berdoa agar mereka bisa diterima, ia tidak bisa membayangkan kesedihan anak dia kalau bu Sania kembali marah seperti saat bu Sania datang kerumah mereka.


"Kenapa sayang?" tanya Paujan karena melihat Ayu seperti sedang memikirkan sesuatu.


"Aku takut Mas, bagai mana kalau Mama tidak menerima kami?" tanya Ayu dengan hati cemas.


"Percaya sama Mas semua akan baik-baik saja," kata Paujan meyakinkan Ayu.


Ayu menganggukkan kepala dia, walau pikiran dia masih cemas, Ayu berusaha menepis semua kemungkinan buruk yang akan terjadi.

__ADS_1


**


Sementara itu dirumah pak Fatur saat ini sedang sibuk memasak menu makanan kesukaan Paujan, bu Sania sengaja memasak kesukaan Paujan karena Paujan mau datang, Vania juga sudah tidak sabar menunggu kedatangan Abang dia, tepatnya tidak sabar ingin melihat kakak ipar dia seperti apa, Vania menghubungi suami dia memberitahu agar suami dia cepat pulang menyambut kedatangan kakak ipar mereka.


Tidak terasa akhirnya mobil pak Fatur sampai dirumah dia.


"Kita sudah sampai yuk turun," kata pak Fatur mengajak mereka.


"Kita sudah sampai Opa?" tanya Leo memastikan.


"Iya ini rumah Opa yuk turun," ajak pak Fatur, Leo pun turun dari mobil, Leo berdecak kagum melihat rumah pak Fatur karena rumah pak Fatur tiga kali lipat lebih besar dari rumah mereka.


"Wah rumah Opa besarnya," kata Leo melihat rumah pak Fatur.


Sementara itu Vania sudah menunggu didepan pintu menyambut mereka.


"Akhirnya Abangku sampai membawa kakak ipar, salam kenal kak, aku adik bang Paujan satu-satunya sayang paling cantik sedunia,"kata Vania menyalami Ayu, ia menyambut Ayu dengan ramah, setelah itu ia memeluk Paujan.


"Abang masih sakit?" tanya Vania.


"Sudah mulai agak mendingan," jawab Paujan, Paujan mencari Mama dia tapi tidak ada.


Vania menyapa Anak-anak Ayu.


"Hai, ini tante kalian yang paling cantik sedunia," ujar Vania menyalami Anak-anak Ayu.


Dengan senang hati Leo menyambut Vania, begitu juga dengan kedua adik dia, Vania gemes melihat Adnan dan Adela Vania mencium pipi mereka satu persatu.


Setelah itu mereka semua masuk kerumah.


"Wah Papa dicuekin dari tadi," kata pak Fatur protes karena tidak ada yang menyapa dia.


"Oh iya hampir Vania lupa kalau ada Papa," jawab Vania berseloroh, lalu memeluk Papa dia, pak Fatur menyambut Vania dan membawanya ke pelukan dia.


"Tante seperti anak kecil manja," kata Leo mengejek.


"Biarin iri bilang bos," jawab Vania tidak perduli.


Sementara itu, ibu Sania tadi sebenarnya ikut kedepan menyambut mereka, tapi ia melihat Ayu ikut dan anak-anaknya ia mengurungkan niat dia menyambut mereka, ia pergi ketaman belakang, ia tidak menyangka Paujan berani membawa istri dia, walau ia semalam sudah memberitahu, tapi ia berpikir kalau itu hanya gertakan Paujan saja, tapi Paujan memang membawa istri dia.

__ADS_1


__ADS_2