
Besok harinya setelah selesai acara resepsi pernikahan Vania dan Parel, Paujan izin pulang ketempat dimana dia tugas, tapi bu Sania melarang dia pulang, karena ada yang mau dibicarakan bu Sania ke dia, dengan hati bertanya-tanya Paujan menurut permintaan Mama dia, sedangkan Ayu sudah tidak lagi kuatir sebab Paujan sudah mengabari dia kalau dia saat ini baik-baik saja.
Sedangkan Parel dan Vania saat ini sedang berkemas, mereka mau pergi bukan madu, tiba-tiba bu Sania menelepon mengatakan kepada mereka kau sudah pulang bukan madu mereka harus pindah, hal itu membuat Vania tersinggung kepada Mama dia, ia tidak jadi berkemas lantaran sedih dengan perlakuan Mama dia, Parel berusaha membujuk agar Vania tidak sedih lagi, tapi usaha Parel sia-sia terpaksa Parel menghungi Paujan agar membujuk Vania agar mau pergi berangkat bukan madu.
Paujan datang ke hotel tempat Parel dan Vania menginap sesampainya Paujan Vania segera memeluk Paujan ia menumpahkan kesedihan dia, ia juga mengadu kepada Paujan sikap Mama mereka yang begitu cepat menyuruh mereka pindah.
"Bang sepertinya Nama belum bisa menerima pernikahan kami, sikap Mama bikin aku sedih," ucap Vania mengadu kepada abang dia, Vania juga menceritakan kenapa ia sampai sedih dibuat Mama mereka, Paujan mencoba membujuk Adik dia, sikap Vania memang masih terlihat kekanak-kanakan maklum ia selalu dimanja oleh kedua orang tua dia selama ini.
Vania juga menurun sikat Mama dia, berbeda dengan Paujan yang meniru sipat kak Fatur, Paujan lebih dewasa kalau menghadapi masalah ia juga selalu mengalah kepada adik dia mulai dari kecil sampai mereka dewasa, Paujan juga orang nya penyayang, itu yang membuat Vania sangat dekat dengan abangnya.
"Sudah kamu tidak usah bersedih lagi, kasihan suamimu dari cemas melihatmu nangis terus, kamu tau sendiri bagai mana sipat Mama seharusnya kamu tidak ambil pusing dengan ucapan Mama, kamu bersiaplah bentar lagi kalian berangkat," kata Paujan menasehati Adik dia agar mengerti, karena masalah adik dia bukan masalah besar yang harus dipusingkan.
Vania akhirnya berkemas, Parel menggelengkan kepala dia melihat tingkah istri dia, dari tadi ia sudah capek membujuk istrinya, namun Vania tidak berhenti menangis malah semangkin mau membatalkan keberangkatan mereka bukan madu, tapi saat Paujan yang membujuk Vania mau menurut itu yang membuat Parel heran.
Setelah selesai berkemas Vania dan Parel akhirnya pergi bulan madu, keluarga pak Fatur dan bu Sania juga sudah pulang, kini rumah pak Fatur sudah sunyi, saat malam harinya dirumah pak Fatur mereka sedang berkumpul diruang tamu tiba-tiba bu Sania berkata,
"Jan besok kita ada undangan makan malam dirumah teman Mama yang kemarin datang kerumah kita," kata bu Sania.
"Mama sama Papanya yang kesana besok aku pulang, sudah embat hari aku disini kerjaan ku pasti sudah menumpuk," jawab Paujan menolak secara halus.
__ADS_1
"Tidak bisa begitu Jan, Mama tidak enak sama mereka kalau kamu tidak ikut, kamu lihat sendiri mereka juga membawa Anak mereka kemari agar bisa akrab dengan anak Mama dan bisa berteman seperti Mama yang berteman sama Lidia," ujar bu Sania.
"Kenapa Paujan harus ikut, biarkan saja dia pulang kerjaan dia disana terbengkalai karena sudah embat hari dia tinggalkan," jawab pak Fatur membela Paujan karena juga sama sepemikiran dengan Paujan merasa aneh kalau Paujan harus ikut.
"Tidak bisa, Paujan harus ikut karena Mama mau menjodohkan kamu sama anak Lidia," kata bu Sania sontak Paujan terkejut mendengar apa yang dikatakan Mama dia, begitu juga dengan pak Fatur ia juga terkejut.
"Apa-apaan sih Mama, ini bukan jaman Siti Nurbaya yang harus ada perjodohan, aku bisa cari jodohku sendiri Ma," ujar Paujan menolak perjodohan dirinya dengan anak teman Mama dia.
"Kalau kamu mau menikah sama anaknya Lidia, Mama yakin kamu pasti bahagia karena Anak Lidia cantik dan berpendidikan mereka juga sederajat dengan kita, apa lagi yang kurang coba," kata bu Sania.
"Sudah Ma, kalau anak kita tidak mau jangan dipaksa, biar dia memilih jodoh dia sendiri," tutur pak Fatur agar tidak ada keributan lagi dengan mereka.
"Mama menjodohkan kamu dengan Anak teman Mama, demi kebahagiaan kamu sendiri, bukan kebahagiaan Mama, apa Mama salah memilih jodoh yang terbaik untuk Anak Mama sendiri," ujar bu Sania merasa geram dengan penolakan anak dan suami dia.
"Ya sudah kamu bawa segera calon istri yang baik menurutmu biar Mama lihat bagai mana perempuan pilihanmu," ujar bu Sania, Paujan menelan ludahnya mendengar perkataan Mama dia, apa ini saatnya pikir Paujan.
"Sudah tidak usah ribut masalah jodoh, kita istirahat saja ini sudah larut, Papa capek yuk kita tidur," kata pak Fatur lalu bangun dari duduk dia, Paujan juga ikut bangun dari duduk dia lalu pergi kekamar dia, sesampainya dikamar ia segera menghubungi istrinya karena ia sudah rindu.
"Assalamualaikum Mas," ujar Ayu setelah mengangkat telepon dari Paujan.
__ADS_1
"Wa, allaikumsalam, Anak-anak mana?" kata Paujan karena tidak melihat Anak-anaknya biasanya kalau dia menelepon Anak-anak pasti ikut duduk didekat Ayu.
"Sudah tidur Ma," jawab Ayu singkat, Paujan manggut-manggut mendengar jawaban istri dia.
"Yu, Mas rindu," kata Paujan mendengar perkataan suami dia, Ayu tersipu malu, wajah dia langsung memerah.
"Apaan sih Ma," jawab Ayu merasa gugup digoda suaminya.
"Bener sayang Mas rindu, insyaallah besok Mas sudah pulang, ya sudah kita tidur assalamualaikum," kata Paujan mengakhiri pembicaraan.
"Wa, allaikumsalam," jawab Ayu, setelah selesai mematikan telepon dia, Ayu senyum-senyum sendiri membayangkan suami dia akan pulang besok, ia juga sudah rindu kepada suami dia, tapi dia malu mengatakannya.
**
Hari ini Paujan pulang, walau bu Sania melarang dia pulang hari ini, Paujan tetap pulang karena dia sudah rindu kepada istri juga Anak-anak dia, bu Sania sangat marah sebab niat dia ingin menjodohkan Paujan dengan Anak teman dia jadi gagal.
Paujan mampir membeli oleh-oleh untuk istri juga Anak-anak dia, setelah selesai ia melanjutkan perjalanan dia, sepanjang perjalanan Paujan senyum-senyum sendiri membayangkan akan bertemu dengan istri juga Anak-anak dia, sudah lima hari ia tidak bertemu dengan mereka.
**
__ADS_1
Dari kejauhan Leo melihat mobil Papa dia pulang, ia segera berlari menyambut Papanya.
Para tetangga Paujan sangat iri melihat Paujan begitu perduli sama Anak-anak Ayu padahal mereka bukan Anak kandung Paujan, mereka menganggap Ayu memelet Paujan sehingga mau sama Ayu, kalau dipandang dari segi wajah Ayu dan Paujan serasi Ayu cantik Paujan tampan tapi dari seratus sangat jauh perbedaan mereka, Ayu janda punya Anak tiga sedangkan Paujan masih lajang, padahal para tetangga Paujan sering menjodohkan Anak mereka kepada Paujan, tapi Paijan tidak menanggapinya tapi malah menikah dengan Ayu janda anak tiga.