Ayu Yang Malang

Ayu Yang Malang
Part 86


__ADS_3

Pak Pajar heran dengan tingkah Rio, karena merasa penasaran pak Pajar menyusul Rio, sesampainya pak Pajar didepan ia melihat orang-orang berkerumun ia mendatangi orang-orang yang berkerumun itu, ia melihat Rio memukuli Radit, pak Adi dan Parel berusaha memisahkan mereka, ia pun mendekat.


''Ada apa Yo, kenapa kau memukul Radit?'' tanya pak Pajar sambil menahan Rio yang ingin memukul Radit lagi.


''Lepaskan aku, aku mau membunuh sialan ini,'' ucap Rio ia sudah orang kesurupan melihat Radit.


''Iya, apa salah menantu ku sehingga bapak memukul menantuku, kalau ada masalah bisa dibicarakan tidak perlu main tangan seperti ini?" tanya pak Adi.


Radit diam saja ia tidak melawan dipukuli Rio, karena ia merasa bersalah Rio pandas marah ke dia pikir Radit.


''Kamu tau mas, orang ini yang sudah menghancurkan masa depan Ayu, dia yang telah menodai Ayu, setelah ia menodai Ayu ia kabur bersama orang tuanya meninggalkan Ayu terpuruk sendirian,'' Rio berkata dengan nada emosi.


Mendengar perkataan Rio, semua orang yang terkejut.


Ika menangis ia tidak menyangka yang Radit ceritakan waktu itu adalah kakak angkat dia, lain pula pak Pajar ia maju ingin menghajar Radit kembali ia tidak perduli walau Radit sudah babak-belur karena dipukul Rio.

__ADS_1


''Jadi ayah Leo kamu, ya ampun dunia ini terlalu sempit,'' kata Parel.


''Sudah pak, tidak baik dilihat orang kita bisa membicarakannya dengan kepala dingin tidak ada gunanya kalian berkelahi tidak akan menyelesaikan masalah," ujar pak Adi sambil menahan pak Pajar yang ingin menghajar Radit.


''Mas, ayo kita pergi supir ambulance sudah dari tadi menunggu kalian malah bertengkar disini, lain kali saja ngurus dia, sekarang kita urus almarhum ibu, kasihan terlalu lama tidak dikubur,'' tutur Ria ia datang karena suami dan adiknya tidak kembali.


Pak Pajar tersadar ia baru ingat kalau mereka mau pulang, akhirnya mereka kembali ke ketempat almarhum bu Aini.


Sementara pak Adi membawa keluarganya pulang, diperjalanan Radit diam saja begitu juga dengan Ika juga dengan pak Adi dan istrinya juga Parel, mereka larut dalam pikiran mereka masing-masing.


Parel juga memikirkan nasib adik dia, apa lagi orang tua Radit tidak merestui pernikahan adiknya dengan Radit, juga calon Radit memang sudah ada orangnya juga cantik, memikirkan itu Parel jadi susah, ia sangat menyayangi Adiknya ia tidak mau kalau Adik dia sampai terluka dibuat suaminya.


**


Saat ini pak Pajar dan Rio juga Ria dalam perjalanan menuju kampung, mereka membawa almarhum bu Aini, terlihat dari wajah pak Pajar dengan Rio masih memendam kemarahan mereka.

__ADS_1


''Aku belum puas menghajar si bajingan itu, sudah ku katakan aku seperti mengenal Radit tapi aku lupa, kalau aku tau dari kemarin-kemarin tidak mau mendampingi dia pernikahannya," ucap Rio ia sangat kesal.


''Kau masih mending bisa memukul dia, mas tidak bisa karena dihalangi pak Adi, kalau sempat aku memukul dia, habis si Radit ditangan mas do,'' pak Pajar geram mengingat wajah Radit.


''Kalian sibuk membahas si Radit, kita ini lagi berduka tidak perlu memikirkan si Radit, ikhlaskan saja semuanya tidak perlu membalas perbuatan dia, kalian harus menghargai pak Adi, bagai mana pun pak Adi sudah berjasa mengurus Ayu selama ini,'' tutur Ria sok bijak, padahal dia tidak suka melihat suami dan adiknya harus repot membuang tenaga membela Ayu.


''Kami masih sakit hati dengan perbuatan dia, mas tidak bisa melupakan bagai mana penderita Ayu setelah dinodai si Radit,''jawab pak Pajar.


''Kita tidak bisa menyalahkan Radit saja, Ayu juga disitu bersalah kenapa dia membawa laki-laki datang kerumah malam-malam sewaktu tidak ada orang dirumah, Ayu juga membohongi kita dia pacaran sama Radit diam-diam, kalau saja dia tidak pacaran sama Radit ini semua tidak akan terjadi,'' Ujar Ria.


''Ia juga sih,'' jawab Rio.


Pak Pajar diam saja ia tidak setuju dengan perkataan istrinya karena mungkin saja Radit yang mencuci pikiran Ayu, ia tau betul sipat anaknya Ayu tidak pernah bohong selama ini, karena mengenal Radit ia jadi sering bohong, tapi pak Pajar tidak mau berdebat dengan istrinya suasana tidak memungkinkan.


Ambulance yang membara jenazah bu Aini akhirnya sampai mereka disambut para saudara mereka Isak tangis terdengar dari para tetangga juga saudara mereka, semua persiapan pemakaman sudah dipersiapkan tinggal mengantar jenazah bu Aini ke kuburan.

__ADS_1


__ADS_2