Ayu Yang Malang

Ayu Yang Malang
Part 138


__ADS_3

Tidak terasa mobil mereka sampai di rumah almarhum pak Rahmat, tangis Ayu pecah melihat rumah almarhum kakeknya kenangan masa kecilnya di rumah itu berputar di pikiran Ayu.


"Sudah jangan nangis, kasihan anak anak melihat mamanya nangis pasti mereka bingung," kata Paujan sambil mengelus bahu Ayu.


"Mama kenapa?" tanya Leo karena melihat mamanya menangis.


"Mama kelilipan," jawab Ayu.


Sedangkan orang yang di dalam rumah merasa heran kenapa ada mobil tidak di kenal berhenti di depan rumah mereka.


"Mobil siapa itu ya? Kenapa berhenti di depan rumah kita, tapi orangnya tidak kelihatan?" kata Ria sambil memperhatikan dari dalam rumah, saat ini rumah mereka ramai semua berkumpul mulai dari anak Ria bersama cucunya sampai Rio bersama anak dan juga cucunya berkumpul melihat pak Pajar yang sedang sakit.


"Mungkin mobil saudara tetangga mama," jawab anak Ria.


"Mungkin juga," ujar Ria.


"Assalamualaikum," terdengar suara orang dari luar.


"Bukan tamu tetangga itu tamu Mama," kata anak Ria.


"Iya, coba aku lihat kedepan, wa, allaikumsalam," jawab Ria. Lalu ia pergi kedepan.


Ria terkejut melihat siapa yang datang.


"Apa kabar bule," kata Ayu sambil menyalami tangan Ria.


"Baik, kemana saja kamu selama ini Yu?" tanya Ria sambil memeluk Ayu.


Eheem!


Paujan berdehem karena di cuekin. Ria baru melihat Paujan ia merasa heran melihat ada pria bersama Ayu. Melihat budenya bingung Ayu berkata.


"Kenalkan suami Ayu bude," kata Ayu. lalu Paujan menjabat tangan Ria.


"Paujan senang berkenalan dengan bude," kata Paujan ramah.


"Saya Ria budenya Ayu, senang berkenalan dengan mu," jawab Ria.


"Kenalkan mereka anak anak Ayu bude," ujar Ayu. Lalu Ria melihat tiga anak kecil yang lucu lucu Ria senang melihat mereka.


Leo dan kedua adiknya menyalami Ria.


"Kalian anak anak yang lucu Leo sudah besar ya Oma sampai tigak mengenalimu," kata Ria.


Leo tertawa mendengar perkataan omanya.


"Sepertinya kita pernah bertemu tapi dimana ya?" kata Ria sambil mengingat-ingat.

__ADS_1


"Di pesta adik saya kira sudah pernah kenalan bude," jawab Paujan.


"Adikmu siapa?" tanya Ria penaran.


"Vania istri Parel," jawab Paujan.


"Ya ampun pantesan wajahmu seperti tidak asing," kata Ria baru ia ingat setelah Paujan menjelaskan.


Sementara itu di dalam rumah mereka sudah menunggu tapi tamunya tidak masuk masuk.


"Kenapa tamunya belum masuk ya? Kata Rio penasaran.


"Mungkin tamu tetangga sebelah menitipkan mobilnya," ujar pak Pajar dengan suara lemahnya.


"Mungkin juga," jawab Rio.


Sedangkan diluar Ria asik bercerita bersama Ayu dan Paujan.


"Ya sudah kita masuk yuk, papa pasti senang melihat kalian datang," kata Ria.


"Tunggu bude kami keluarkan barang dulu," jawab Ayu.


"Ya sudah kita saja masuk nanti mamamu menyusul," kata Ria kepada anak anak Ayu. Lalu Ria membawa anak anak Ayu kedalam rumah sedangkan Ayu dan Paujan mengeluarkan barang mereka.


Semua orang yang di dalam terkejut melihat Ria membawa anak anak yang tidak di kenal mereka.


"Siapa mereka kak?" tanya Rio penasaran.


"Ditanya balik nanya tinggal jawab saja apa susahnya sih," kata Rio protes.


Sedangkan pak Pajar memperhatikan anak anak Ayu. Ia capek mengingat ingat di mana pernah bertemu dengan anak anak yang sedang bersama istrinya tapi ia tidak ingat sama sekali. Leo memperhatikan semua orang yang berada di ruangan itu, ia heran kenapa tidak ada yang menyapanya. Lalu pandangan Leo ke pak Pajar Leo segera berlari menuju pak Pajar.


"Opa," kata Leo. Sontak semua orang di ruangan itu terkejut mendengar Leo memanggil pak Pajar dengan sebutan opa.


Sedangkan pak Pajar semakin bingung melihat Leo menyalaminya sementara ia tidak mengenal Leo, karena wajah Leo banyak merubah setelah besar di tambah badannya semakin kurus dan tinggi itu yang membuat pak Pajar tidak mengenal Leo.


Leo sedih karena pak Pajar tidak merespon dirinya.


"Kenapa Opa sombong," ujar Leo.


"Pa, itu Leo," kata Ria agar pak Pajar tidak diam saja.


Semua orang yang di dalam terkejut apa lagi Rido ia hampir kehilangan kesadarannya mendengar nama anak sambungnya. Begitu juga dengan pak Pajar ia sampai meneteskan air mata dan segera memeluk Leo.


"Cucuku, maafkan opa tidak mengenalimu, Opa sangat merindukanmu dimana mamamu?" tanya pak Pajar.


"Masih diluar sana papa keluarin barang," jawab Leo. Hati Rido sakit mendengar kata papa keluar dari mulut Leo.

__ADS_1


"Itu adikku Opa, dik sini salam Opa," kata Leo. Pak Pajar melihat anak kecil kembar dua datang menghampiri, dari tadi mereka tidak bisa melihat wajah anak kecil dua itu karena bersembunyi di balik badan Ria.


Rido terkejut melihat dua anak itu, karena ia hapal betul wajah dua anak itu yang memanggil papa di mimpinya.


"Kenapa dua anak itu bisa dalam mimpiku padahal mereka anak Ayu bersama suaminya," gumam Rido.


Sedangkan Adnan dan Adela menyalami pak Pajar, pak Pajar sangat senang melihat anak Ayu sangat sopan.


"Nama kalian siapa?" tanya pak Pajar.


"Aku Adnan ini adikku Adela," jawab Adnan.


Sedangkan Leo menyalami semua orang yang berada di ruangan itu. Saat Leo menyalami Rio, Rio berkata.


"Wah kamu sudah besar ya, opa sampai tidak kenal lagi," kata Rio.


"Iya dong, namanya di kasih makan," jawab Leo.


Rio terkekeh mendengar jawaban Leo, Leo ikut tertawa.


Saat Leo menyalami Rido, Rido segera memeluk Leo.


"Kamu tega ninggalin papa, apa kamu tidak rindu kepada papa Nak," kata Rido.


"Rindu Pa," jawab Leo.


Sedangkan Ika memasang muka cemberut melihat suaminya masih memanggil anak kepada Leo, tapi Ika bersyukur karena Ayu datang sudah punya suami jadi posisinya aman.


"Cucu Nenek kenapa pergi tidak bilang Nenek, Leo tau Nenek sangat rindu Leo," kata bu Ati saat Leo menyalami bu Ati.


"Assalamualaikum," terdengar suara dari luar.


"Wa, allaikumsalam," jawab mereka dari dalam.


Semua orang melihat ke pintu depan, dada Rido semakin sesak saat melihat Ayu bersama pria lain, mereka juga terkejut melihat suami Ayu Abang ipar Parel.


"Papa," kata Ayu sambil berlari menghampiri pak Pajar pak Pajar segera memeluk Ayu.


"Darimana saja kamu Nak, papa sangat merindukanmu, setiap saat papa berdoa agar kamu kembali, sampai papa merasa putus asa baru kamu kembali," kata pak Pajar.


"Aku juga merindukan papa, tapi baru hari ini bisa datang," jawab Ayu. Semua orang yang berada diruangan itu ikut terharu.


Paujan menyalami pak Pajar. Pak Pajar menyambut uluran tangan Paujan.


"Saya Paujan suami Ayu," kata Paujan.


"Kamu abang ipar Parel kan?" tanya Rio.

__ADS_1


"Iya Pak," jawab Paujan.


"Tapi kemarin kamu bilang kamu masih lajang," kata Rio kembali, sontak semua orang terkejut mendengarnya.


__ADS_2