
"Sudah Ma, tahan emosi Mama kita bisa bicara baik-baik tidak perlu marah-marah nanti Mama sakit lagi," kata pak Fatur menasehati istri dia.
"Mama bicara apa aku tidak mengerti?" tanya Paujan merasa heran.
"Mari kita keruangan tamu membicarakan masalah ini," ujar pak Fatur kepada mereka semua, setelah mengatakan itu pak Fatur pergi keruangan tamu diikuti bu Sania dan Parel juga Vania, sedangkan Leo berada di gendongan Parel dari tadi ia memeluk leher Parel menyembunyikan wajah dia di dada Parel karena takut melihat bu Sania.
Setelah mereka berkumpul, pak Fatur bertanya,
"Ada yang mau kamu jelaskan tentang Leo?" tanya pak Fatur kepada Parel.
Parel baru mengerti kalau mereka salah paham tentang hubungan dia dengan Leo, lalu Parel menceritakan kenapa Leo bisa memanggil dia Papa, semua orang terkejut mendengar cerita Parel, termasuk Vania, Vania merasa malu sekalian lega karena ia salah menduga.
"Maafkan aku ya bang," kata Vania sambil mencium tangan suami dia.
"Kenapa kamu minta maaf?" tanya Parel karena tidak mengerti.
"Karena aku salah menduga, dan aku yang membuat Mama marah sama abang," ujar Vania menjelaskan.
"Iya," jawab Parel, baru Parel mengerti kalau istri yang mengadu membuat Mama mertua dia marah-marah.
Sedangkan bu Sania merasa kecewa karena ia gagal lagi mengusir Parel dari kehidupan anak dia.
**
Malam harinya Paujan keluar dari kamar bersama Ayu juga bersama Adnan dan Adela, mereka mendatangi pak Fatur yang lagi duduk diruangan tamu merasa bu Sania dan Leo.
Bu Sania langsung memasang muka masam melihat Ayu datang dan bergabung bersama mereka.
"Ma, Papa Parel ternyata suami tante Vania," kata Leo mengadu.
Sontak Ayu terkejut mendengar perkataan Leo, lain halnya dengan Paujan, ia heran mengapa Leo memangil Parel Papa.
"Apa Parel mantan suami Ayu ya," kata Paujan didalam hati dia bertanya-tanya.
"Apa kamar Yu," kata Parel yang tiba-tiba datang bersama Vania.
"Baik bang," jawab Ayu gugup, ia tidak menyangka akan bertemu dengan orang-orang masa lalu dia.
Lalu Ayu menceritakan semua masa lalu dia, tidak ada lagi yang ditutup-tutupi, dengan berurai air mata Ayu menceritakannya.
__ADS_1
Melihat istri dia begitu sedih menceritakan masa lalu dia Paujan mengelus bahu Ayu, agar Ayu lebih tenang.
"Jadi Rido mantan suami kamu?" tanya bu Sania ingin tau.
"Iya Ma," jawab Ayu jujur.
"Dunia memang sempit ya," kata pak Fatur sambil tertawa merasa lucu.
"Papa mu saat ini sedang sakit Yu, ibu ikut menjenguk kesana bersama Rido dan Ika juga om Rio juga tante Rini," kata Parel memberitahu.
Ayu terkejut mendengar kabar Papa dia sakit, ia menangis mengingat Papa angkatnya itu.
"Tenang kamu jangan banyak pikiran, nanti anak kita yang ada dikandungan mu ikut sedih melihat Mama dia sedih, kalau mau kita besok kesana menjenguk Papa mu, mumpung kita masih disini," ujar Paujan memberi saran.
"Iya Yu, mungkin kalau kamu datang Papa mu akan sembuh," kata Parel menimpali perkataan Paujan.
"Ya sudah kalau Mas, tidak keberatan kita kesana," kata Ayu setuju.
Bu Sania mencibir, ia tidak senang mendengar anak dia akan pergi berkunjung kerumah keluarga Ayu.
"Kamu kan belum sembuh betul, nanti kamu bertambah parah setelah pulang dari sana, biarkan Ayu saja yang pergi kesana," ucap bu Sania menghalangi anak dia yang mau pergi.
"Iya Mas, kita tidak usah kesana dulu lain waktu saja," kata Ayu menolak.
"Tidak apa-apa, aku sudah sembuh lagian kita pergi bawa sopir biar Mas tidak kecapean dijalan," kata Paujan tetap ingin pergi.
**
Esok harinya Paujan dan Ayu bersama anak-anak dia pergi ke kampung almarhum pak Rahmat, sepanjang perjalanan Ayu termenung, ia teringan bagai mana kehidupan dia saat dikampung itu, memori saat ia bersama Radit dan Rido berputar dipikiran dia, dua pria yang sudah masuk kedalam kehidupan dia dan memberikan dia anak seakan hadir dipikiran dia saat melewati jalan dimana mereka pernah lewati.
Melihat istri dia diam saja Paujan bersuara.
"Kenapa sayang apa yang kamu pikirkan?" tanya Paujan ingin tau.
"Aku teringat masa-masa saat aku melewati jalan ini Mas," jawab Ayu dengan hati sedih.
"Kamu teringan mantan ya?" tebak Paujan sambil tertawa.
"Bukan Mas," jawab Ayu mengelak.
__ADS_1
"Iya gak papa Lo," kata Paujan menggoda Ayu.
Ayu memalingkan muka dia karena malu.
"Kok Mas Paujan tau ya, aku memikirkan bang Radit sama bang Rido," ucap Ayu dalam hati.
"Wajar sih masih teringat mantan, sedangkan tempat jatuh saja masih kita ingat apa lagi mantan yang sudah memberikan kita anak," kata Paujan sambil tertawa kembali.
"Apaan sih Mas," jawab Ayu sambil mencubit perut Paujan.
"Aduh sakit sayang," kata Paujan meringis menahan sakit akibat cubitan Ayu.
"Rasain dari tadi Mas bikin Ayu kesal," kata Ayu sambil menjulurkan lidah dia.
"Mama sama Papa bertengkar?" tanya Leo sambil memperhatikan Mama dan Papa dia bergantian.
"Tidak Nak, Papa sama Mama cuma bercanda," jawab Ayu.
"Mama jahat Mama cubit Papa," adu Paujan kepada Leo.
Sontak Ayu terkejut mendengar perkataan suami dia, Ayu melototi Paujan, tapi Paujan tidak menghiraukan, Paujan malah pura-pura kesakitan membuat Leo khawatir.
"Mana yang sakit Pa?" tanya Leo, ia jadi pindah ke dekat Paujan.
"Ini Nak, dicubit Mama," adu Paujan menunjukkan perut dia yang bekas di cubit Ayu.
Leo mengelus-elus bekas cubitan Mama dia, membuat Ayu semakin cemberut karena ulah suami dia, sementara Paujan tersenyum melihat istri dia cemberut.
"Dasar manja," ucap Ayu.
"Tidak boleh gitu Ma, lihat ini perut Papa jadi sakit gara-gara Mama cubit, Mama jangan buat Papa kesakitan lagi ya, nanti Papa pergi gak ada lagi yang jadi Papa kami," kata Leo menasehati Mama dia.
Sontak Ayu terkejut mendengar perkataan anak dia, seketika air mata Ayu mengalir tanpa bisa ia tahan.
Paujan juga merasa sedih mendengar perkataan anak sambung dia.
"Begitu takutnya kau Nak tidak punya Papa, apa selama kau tidak punya Papa, kau merasa kesepian dan merindukan kasih sayang Papamu, maafkan Mama Nak karena kesalahan Mama kamu tidak pernah merasakan kasih sayang Papa kandung mu," ucap Ayu didalam hati dia, buru-buru Ayu menghapus air mata dia agar tidak dilihat semua orang yang ada di mobil itu.
"Kasihan sekali kamu Nak, mungkin selama kamu belum punya Papa kamu merasa kesepian begitu takutnya kamu Papa tinggalkan, Papa janji tidak akan meninggalkan kalian, kita akan hidup bersama sampai kalian dewasa, Papa juga janji akan menjadi Papa yang baik untuk kalian," kata Paujan didalam hati dia.
__ADS_1