Ayu Yang Malang

Ayu Yang Malang
Part 131


__ADS_3

Bu Sania merasa dunia dia hancur, padahal ia ingin menjodohkan Paujan dengan Anak teman dia Lidia, ia merasa Anak Lidia pantas bersanding dengan Paujan, ia malu dan bingung harus menyampaikan kepada teman dia untuk membatalkan perjodohan anak mereka, karena ia yang lebih dulu menawarkan perjodohan itu.


"Bu, kenapa diam saja," kata tetangga Paujan karena melihat bu Sania termenung, kesadaran bu Sania kembali saat tetangga Paujan bersuara, lalu bu Sania bertanya,


"Sejak kapan Paujan membawa istri dia kerumah ini, waktu saya datang kemari tidak ada istri Paujan dirumah ini?" tanya bu Sania dengan penuh tanda tanya dihati dia.


"Semenjak Dokter Paujan menikah dengan Ayu, Dokter Paujan langsung membawa Ayu kerumah ini, apa ibu tidak tau kepindahan Ayu kemari?" jawab tetangga Paujan sekalian bertanya.


Bu Sania semakin bingung dengan jawaban tentang Paujan, tidak mau mati penasaran bu Sania kembali bertanya,


"Sejak kapan mereka menikah, jangankan tau istri Paujan pindah kemari, saya tidak tau kapan anak saya menikah," ujar bu Sania berkata jujur.


Tetangga Paujan terkejut, mendengar perkataan Mama Paujan ia tidak menyangka kalau Paujan merahasiakan pernikahan dia kepada keluarga dia, tetangga Paujan merasa tidak enak hati karena ia yang memberitahu kalau Paujan sudah menikah, tidak mau terlibat masalah tetangga Paujan buru-buru pamit.


"Maaf bu saya buru-buru saya permisi," ucap tetangga Paujan, bu Sania memanggil berusaha mencegah tetangga Paujan pergi, tapi tetangga Paujan tidak menghiraukan perkataan bu Sania walau bu Sania berteriak memanggil dia ia tetap pergi.


Salah satu tetangga Paujan lainnya mendengar suara bu Sania yang memanggil tetangga yang ditanya dia tadi, lalu menghampiri dan bertanya.


"Ada apa ya Bu, ibu manggil siapa?" tanya tetangga Paujan satunya lagi.


"Saya ingin bertanya kapan Paujan menikah?" tanya bu Sania tanpa basa-basi karena dia sudah penasaran dan emosi.


"Sekitar empat bulan lalu bu, emang ibu tidak tau anak ibu menikah?" tanya tetangga Paujan heran tetangga Paujan sudah mengenali bu Sania adalah ibunya Paujan karena bu Sania pernah datang selama satu bulan dikampung mereka.


Mendengar jawaban tetangga Paujan bu Sania semakin geram lalu ia bertanya kembali.


"Istri Paujan orang kampung sini ya," kata bu Sania menebak-nebak.

__ADS_1


"Bukan Bu, Ayu pendatang dikampung ini, kami juga tidak tau Ayu berasal dari mana, saat dia datang kemari dia sudah punya anak satu dan dia sedang hamil," jawab tetangga Paujan.


Emosi bu Sania semakin memuncak saat ia tau kalau anak dia menikah dengan perempuan tidak jelas asal-usulnya ditambah lagi sudah punya anak, hal itu tidak bisa bu Sania terima.


"Jadi anak istri Paujan sekarang ada dua ya," tanya bu Sania memastikan.


"Bukan bu, Anak Ayu tiga, karena Anak kedua dia kembar," jawab tetangga Paujan.


Tangan bu Sania terkepal erat menahan emosi dia yang sudah meluap.


"Ya sudah saya permisi," ucap Bu Sania," Iya Bu," jawab tetangga Paujan, lalu bu Sania pergi kerumah Paujan.


Sesampainya dia dipintu rumah Paujan bu Sania segera menggedor pintu rumah Paujan, Bibi buru-buru membuka pintu karena mendengar pintu digedor dari luar.


"Ada apa," kata Bibi belum sempat Bibi meneruskan perkataan dia bu Sania sudah masuk lebih dulu, Bibi baru ingat kalau yang datang itu adalah Mama majikan dia.


Melihat Ayu yang tertidur, bu Sania mencibir.


"Enaknya hidupmu setelah menjerat anakku kau hidup enak-enakkan dirumah, sedangkan anakku harus bekerja keras agar bisa menafkahi anakmu," ucap bu Sania mengomel sambil memperhatikan Ayu mulai dari ujung kepala sampai ujung kaki.


Ayu terbangun mendengar suara orang marah-marah dikamar dia, setelah ia membuka mata dia, ia melihat ibu Sania ia heran siapa bu Sania ini, pikir Ayu bertanya-tanya dalam hati.


"Maaf ibu siapa ya?" tanya Ayu karena penasaran.


"Kamu keluar dari rumah anak saya dan keluar dari kehidupan anak saya, apa kamu tidak malu bersanding dengan anakku yang masih lajang sementara kamu sudah punya anak tiga," kata bu Sania sambil menunjuk wajah Ayu.


Mendengar perkataan bu Sania, Ayu paham kalau yang didepan dia sekarang adalah ibu mentua dia, Ayu sangat sedih mendengar perkataan mertua dia, apa yang ditakutkan Ayu selama ini terjadi kembali untuk yang kedua kali tidak diterima keluarga suami dia.

__ADS_1


Ayu mengambil tangan bu Sania lalu menciumnya, tapi bu Sania segera menepis tangan Ayu, bu Sania merasa jijik bersentuhan dengan Ayu.


Sementara itu Bibi hanya mengintai dari luar ia tidak berani mendekat karena melihat bu Sania terus memarahi Ayu, Bibi menghubungi Paujan.


"Assalamualaikum ada apa Bi?" tanya Paujan karena tidak biasanya Bibi menghubungi dia, ia takut kalau Ayu Kenapa-napa.


"Pak segera pulang ada Mama bapak disini, Mama bapak marah-marah sama ibu, ibu diusir dari rumah," ujar Bibi mengadu, Paujan terkejut mendengar kabar itu.


"Iya Bi, saya akan segera pulang, tolong kamu jaga istri saya jangan sampai Mama berbuat yang bisa membahayakan istri dan anak saya yang ada dikandungan istri saya," kata Paujan lalu mematikan sambungan telepon.


Paujan melajukan mobilnya secepat mungkin, sesampainya dia dirumah ia melihat istri dia diluar menangis baju istri dia dan barang-barang istri dan barang anak dia sudah berserakan dihalaman, para tetangga sudah ramai jadi penonton diluar rumah, melihat tangis istri dia sangat menyedihkan, hari Paujan sangat sedih, ia segera mendekat.


Paujan menghapus air mata Ayu lalu memeluknya.


"Kamu tenang ya sayang semua akan baik-baik saja," kata Paujan sambil mengelus kepala Ayu.


Ayu menganggukkan kepala dia, lalu Paujan memperhatikan semua orang yang berada dihalaman rumah dia, ia pun berkata.


"Maaf sudah bikin ibu-ibu tidak nyaman dengan kejadian ini, saya mohon ibu-ibu kembali kerumah masing-masing, masalah ini biar saya selesaikan sendiri," ucap Paujan mengusir para ibu-ibu secara halus.


Para tetangga mulai bubar mereka pulang kerumah masing-masing, lalu Paujan bertanya,


"Dimana Anak-anak?" tanya Paujan karena ia tidak melihat Anak-anak mereka.


"Anak-anak dibawa Bibi kerumah dia," jawab Ayu dengan nada lesu.


"Mas minta maaf ya, atas perlakuan Mama,"kata Paujan dengan penuh sesal.

__ADS_1


"Tidak apa-apa Mas, mungkin kata Mama memang benar aku tidak pantas bersanding dengan Mas," kata Ayu merasa sedih.


__ADS_2