Ayu Yang Malang

Ayu Yang Malang
Part 141


__ADS_3

Paujan menunggu momen yang pas untuk membicarakan masalah ayah Leo, ia berpikir saat ini bukan waktu yang tepat karena mereka masih di rumah orang.


Sementara Radit sudah gelisah menunggu kabar dari Paujan.


"Bang Paujan sudah ngabarin apa belum?" tanya Radit.


"Belum bang," jawab Wulan. Wajah Radit terlihat murung setelah mendengar jawaban istrinya. Sedangkan Wulan merasa tidak enak hati melihat suaminya murung.


Sementara itu di kampung saat ini Paujan dan Ayu pamit pulang, begitu juga dengan Rio dan Rido hari ini mereka sama sama pulang ke kota.


Pak Pajar sangat sedih karena ia belum puas bermain dengan anak anak Ayu juga masih belum puas dengan kebersamaannya dengan Ayu meraka sudah mau pulang.


"Jangan sedih Pa, Ayu janji akan sering ke sini mengunjungi papa," kata Ayu.


"Janji ya," ujar pak Pajar.


"Iya, Pa, aku janji," jawab Ayu. Setelah semua berpamitan mereka pulang, pak Pajar memandang mobil mereka sampai tidak terlihat lagi.


Sesampainya mobil Paujan di rumah orang tuanya pak Fatur mengembangkan senyumnya melihat mereka datang. Leo berlari masuk kedalam rumah.


"Opa, aku rindu," kata Leo sambil naik kepangkuan pak Fatur.


"Opa juga Rindu," jawab pak Fatur sambil mencium pipi Leo.


"Adnan juga Adela berlari ikut berebut ke pangkuan pak Fatur. Melihat adik adiknya ingin duduk di pangkuan Opanya Leo turun dari pangkuan pak Fatur.


"Wah cucu cucu Opa semua sudah pada rindu ya," kata pak Fatur sambil mencium pipi mereka bergantian. Adnan dan Adela menganggukkan kepala mereka.


"Mana mama Pa? Kok kelihatan sepi," kata Paujan sambil memperhatikan semua ruangan.


"Mamamu pergi bersama bude Ani, katanya ada keperluan bude Ani mama di suruh temani," jawab pak Fatur apa adanya.


"Oh, pantesan sepi," jawab Paujan.


"Kapan kalian pulang ke desa?" tanya pak Fatur ingin tau.


"Besok Pa, kalau tidak ada halangan," jawab Paujan.


"Cepat sekali, apa tidak bisa di tunda satu minggu lagi?" tanya pak Fatur.


"Pekerjaanku banyak Pa, lain kali kamu ke sini lagi," kata Paujan.


"Ya sudah kamu nanti malam pergi kerumah bude Ani bawa istrimu biar kenal sama keluarga kita yang ada di kota ini," kata pak. Fatur.

__ADS_1


"Iya Pa, aku istirahat dulu badanku rasanya remuk habis perjalanan jauh," jawab Paujan sekalian pamit.


"Iya," kata pak Fatur. Lalu Paujan pergi ke kamar mereka.


**


Sedangkan bu Sania dan adiknya Ani saat ini di temani Sofi teman Ani pergi kesebuah desa menemui para normal, ada penyesalan di hati bu Sania mengapa ia mau di ajak ke tempat para normal begitu jauh, mereka sudah tiga jam dalam perjalanan namun mereka belum juga sampai.


"Apa masih jauh rumah para normalnya?" tanya bu Sania penasaran.


"Tunggu sebentar lagi sampai kok," jawab Sofi teman Ani.


Karena merasa lelah bu Sania dan Ani ketiduran. Sementara di rumah pak Fatur saat ini semua gelisah menunggu bu Sania tidak pulang pulang, begitu juga di rumah Ani suami dan anak anaknya sudah menunggu dari tadi.


"Kamu hubungi pakde Fatur, mana tau mamamu di sana," kata pak Nazril kepada Wulan.


Lalu Wulan mengambil ponselnya dan menghubungi pak Fatur.


"Assalamualaikum," kata pak Fatur setelah mengangkat telepon dari Wulan.


"Wa, allaikumsalam salam pakde," jawab Wulan.


"Ada apa kamu hubungi Pakde?" tanya pak Fatur merasa heran.


"Belum, pakde ini lagi menunggu mereka," jawab pak Fatur dari sebrang sana.


"Ya sudah pakde kalau pakde sudah ada kabar hubungi aku," kata Wulan.


"Iya," jawab pak Fatur.


"Kalau begitu aku tutup dulu Pakde, Assalamualaikum," kata Wulan.


"Wa, allaikumsalam," jawab pak Fatur.


"Bagaimana apa kata Pakde?" tanya Nazril penasaran.


"Mama sama bude belum pulang, saat ini pakde juga sedang menunggu seperti kita Pa," jawab Wulan.


"Kemana sih mereka?" tanya Nazril.


"Aku tidak tau Pa," jawab Wulan.


"Apa Mama tidak ada pesan atau pamit sama kamu?" tanya Nazril.

__ADS_1


"Tidak Pa," jawab Wulan. Nazril mendesah mendengar jawaban anaknya ia takut istrinya kenapa-kenapa diluar sana.


**


Begitu juga dirumah pak Fatur mereka gelisah menunggu bu Sania, Vania juga Parel ikut menunggu karena mereka juga di kabari kalau mamanya tidak pulang dari tadi pagi.


"Aku takut terjadi hal buruk dengan mama," kata Vania.


"Kamu jangan buat orang semakin cemas, kita doakan saja agar mama tidak kenapa-kenapa," kata Paujan.


"Abang harus usaha cari mama, kalau kita hanya menunggu di rumah takutnya mama sudah kenapa-kenapa bang," kata Vania.


"Abang mau cari kemana, teman Mama saja Abang tidak tau, kamu tau sendiri kalau Abang jarang ada di kota ini," jawab Paujan.


"Bagaimana kalau kita lapor ke polisi?" tanya Vania.


"Mana bisa kalau belum dua puluh embat jam, sedangkan mama pergi baru sekitar dua bekas jam," jawab Paujan kembali.


"Jadi bagaimana dong, di hubungi juga ponsel Mama tidak aktif?" tanya Vania.


"Kita tunggu sampai besok, kalau Mama tidak pulang sampai besok, baru kita cari mama," kata Paujan.


"Iya, Papa setuju, kalau begitu kita istirahat ini sudah tengah malam, semoga besok mama sudah pulang," kata pak Fatur. lalu ia pergi kekamarnya mereka juga ikut bangun dari tempat duduknya dan pergi kekamar mereka masing-masing.


Pak Fatur tidak bisa tidur memikirkan istrinya, sudah dari tadi ia membolak balikkan badanya mencari tempat aman untuk tidur, tetap tidak bisa tidur akhirnya pak Fatur bangun, ia duduk sambil melihat ponselnya apa ada bu Sania menghubungi apa tidak. Ternyata tidak ada chat dari bu Sania.


"Kemana sih kamu Ma? Papa tidak bisa tidur memikirkan mama, mama cepat pulang ya jangan buat papa gelisah menunggu mama," gumam pak Fatur sambil memandang foto istrinya di ponselnya.


**


Bu Sania terbangun dari tidurnya, ia merasa heran melihat tempatnya saat ini sangat gelap, ia melihat kesana kesini mencari cahaya, tapi tidak ada cahaya sedikitpun.


"Apa mati lampunya?" gumam bu Sania. Ia merasa ada angin menghembus tubuhnya ketakutan bu Sania datang setelah tidak ada orang dilihatnya. Bu Sania memangil manggil suaminya tapi tidak ada sahutan. Ingatan bu Sania tiba tiba kembali saat ia mau tidur.


"Tadi aku kan pergi dengan Ani ke desa xxxx, apa kami sudah sampai ya, atau jangan-jangan aku di tahan hantu penunggu disini," gumam bu Sania. Bu Sania semakin ketakutan saat ia tau kalau dia bukan di rumahnya.


"Tolong siapapun yang mendengar tolong aku,' jeritan bu Sania sekuatnya. Tapi tidak ada jawaban lalu ia memangil adiknya Ani.


"Ani di mana kamu?" kata bu Sania berteriak. Namun tidak ada juga jawaban.


"Ya Allah tolong aku," gumam bu Sania. Laku ia mencari ponselnya tapi tidak ada ia juga mencari tasnya tetap tidak ada.


"Kemana tasku ya?" kata bu Sania sambil mencari tasnya di sekitarnya.

__ADS_1


__ADS_2