Ayu Yang Malang

Ayu Yang Malang
Part 123


__ADS_3

"Mana mungkin abang tidak sayang sama adik abang yang paling cantik sedunia," ucap Paujan mencoba membujuk adik dia yang lagi sedih, ia juga sedih tidak bisa hadir dihari bahagia adik kesayangan dia.


"Buktinya Abang tidak datang dihari pertunangan ku," ujar Vania.


"Abang banyak kerjaan tidak bisa ditinggal," jawab Paujan agar adik dia tidak marah.


"Bang! Aku mau curhat sama abang," kata Vania dengan nada manja.


"Mau curhat apa lagi, kamu sudah tunangan dengan pria yang kamu cintai," ujar Paujan merasa heran, karena kemarin Vania menghubungi dia, mengatakan kalau ia sangat bahagia karna Mama mereka sudah merestui hubungan dia sama Parel.


"Mama tidak setuju lagi," jawab Vania dia juga mengatakan semua permasalahan dia, mulai Mama mereka tidak merestui, dengan usaha keras dia Mama dia akhirnya merestui dan kembali tidak merestui semuanya Vania ceritakan, mendengar perkataan adik dia, nyali Paujan menciut, tadinya ia akan mengenalkan Ayu ke keluarga dia sebelum hari pernikahan adik dia agar ia bisa membawa Ayu dihari pernikahan adik dia.


"Bang kenapa diam saja?" ucap Vania merasa heran karena tidak ada suara lagi dari sebrang sana, mendengar suara adik dia Paujan tersadar dari lamunan dia, lalu berkata,


"Kamu harus sabar membujuk Mama pelan-pelan, abang yakin Mama pasti akan luluh," ujar Paujan menyemangati adik dia agar tidak putus asa.


"Abang bantu Vania bicara sama Mama ya," kata Vania agar Paujan membantu dia.


"Iya nanti abang coba bicara sama Mama," jawab Paujan, mendengar perkataan abang dia, Vania lega setidaknya masih ada pendukung dia.


"Ya sudah dulu bang, Vania tutup Assalamualaikum," Ucap Vania lalu mematikan telepon dia setelah abang dia menjawab.


Paujan mendesah ia bimbang apa ia akan mengenalkan Ayu sebelum adik dia menikah atau merahasiakannya untuk sementara.


"Sampai kapan aku merahasiakan pernikahanku dari orang tua ku, aku tidak mau Ayu sampai tau kalau orang tuaku belum tau, aku takut kalau Ayu tau dia malah merasa bersalah," ucap Paujan didalam hati.


**

__ADS_1


Sementara itu Rio menghubungi kakak dia yaitu Ria, ia curhat masalah ia yang akan kembali rujuk dengan Rini, mendengar perkataan adik dia, Ria senang karena dia berharap kalau Ria dan Rini kembali bersatu.


**


Setelah Rido pulang bekerja Rio bicara tentang niat dia yang ingin rujuk dengan Rini, Rido senang mendengar kabar itu, Malam harinya mereka musyawarah kapan hari pernikahan Rio dan Rini dilaksanakan setelah mereka musyawarah akhirnya pernikahan Rio dan Rini akan dilaksanakan satu minggu lagi, tak lupa Rio menyampaikan kabar itu ke Ria agar Ria bisa datang dihari pernikahan dia.


**


Bu Ati mencoba bicara kepada Parel, ia kasihan melihat anak dia setelah menelepon tunangan dia, terlihat wajah Parel murung.


"Kamu baik-baik saja?" kata bu Ati merasa kuatir melihat Parel.


"Vania baru saja menghubungi kata dia Mama dia kembali tidak merestui hubungan kami lagi, karna ulah Ika," jawab Parel dengan wajah lesunya, ia ingat betul bagai mana perjuangan dia mendapat restu dari orang tua Vania, tapi Ika menghancurkan semuanya.


"Kamu tidak boleh putus asa, kalau Tuhan menakdirkannya kamu dan Vania berjodoh kalian pasti akan menikah tapi kalau kalian tidak berjodoh kamu harus ikhlas menerimanya," nasehat bu Ati agar Parel tidak terlalu kepikiran.


"Ibu selalu berdoa agar kamu mendapat jodoh yang terbaik," jawab Bu Ati bijak.


**


Paujan menghubungi Mama dia, setelah sambungan telepon diangkat bu Sania bertanya,


"Halo Assalamualaikum, ada apa kamu menghungi Mama, apa kamu mau bicara masalah Vania," tebak bu Sania ia menduga Paujan menghungi dia karena disuruh Vania.


"Kok Mama bisa tau ya aku menghungi dia karena mau membicarakan masalah Vania," ucap Paujan dalam hati.


"Halo kamu masih disitu?" kata bu Sania karena Paujan diam saja.

__ADS_1


"Iya Ma, aku masih disini aku menghungi Mama karena ingin bertanya bagai mana pertunangan Vania," bohong Paujan ia tidak mau Mama dia tau kalau ia mau membicarakan masalah Vania.


"Berantakan, keluarga calon Vania membuat onar, Mama pikir kamu sudah tau kalau masalah Vania, apa Vania tidak menghubungimu, biasanya dia selalu curhat kepada mu, kalau dia ada masalah," selidik bu Sania.


"Tidak Ma, mungkin dia marah sama aku karna aku tidak datang dihari pertunangan dia," jawab Paujan.


"Oh, kamu jangan seperti Vania kamu harus cari jodoh yang sederajat dengan kita, sudah cukup Vania membuat Mama malu jangan sampai kamu juga membuat malu keluarga," kata bu Sania mewanti-wanti anak dia agar tidak sembarangan memilih jodoh.


Paujan tertegun mendengar perkataan Mama dia, selama ini dia tidak pernah melawan selalu menuruti keinginan Mama dia dan tidak pernah mengecewakan, tapi sekarang dia sudah menikah dengan wanita beranak tiga tanpa sepengetahuan Mama dia.


"Ma, jangan memandang orang dari segi materi, semua orang tidak ada yang menginginkan hidup susah, tapi nasib mereka ditakdirkan seperti itu, kita sebagai sesama manusia tidak baik membeda-bedakan, di mata Allah kita semua sama," jawab Paujan bijak.


"Mama tetap tidak setuju kalau Vania menikah dengan Parel, bukan hanya masalah materi saja membuat Mama tidak suka, tapi kelakuan adik dia itu yang membuat Mama tidak setuju," ucap bu Sania beralasan padahal dia tidak setuju karena Parel tidak selevel dengan keluarga mereka, bu Sania tidak bisa membanggakan menantu dia didepan teman-teman dia, seperti teman-teman dia yang selalu membanggakan menantu mereka karena itu bu Sania tidak setuju kalau Vania menikah dengan Parel.


"Kita tidak bisa melawan takdir Ma, kita doakan saja apa yang terbaik untuk Vania, kalau Allah menakdirkan mereka menikah kita tidak bisa mencegah nya kita harus ikhlas menerimanya," ucap Paujan menasehati Mama dia agar mengerti.


"Kamu sudah seperti Papamu, pokoknya Mama tidak setuju titik," ujar bu Sania setelah mengatakan itu bu Sania mematikan telepon dia tanpa mendengar jawaban anak dia, Paujan mendesah melihat sikap Mama dia.


**


Paujan pulang kerumah dia karena hari sudah sore, Leo menyambut Paujan dan kedua adik dia.


"Papa bawa apa?" kata Leo karena Paujan membawa sesuatu ditangan dia.


"Ini martabak sana kasih Mama," jawab Paujan sambil menyerahkan yang ia bawa, Leo menerima apa yang dibawa Papa dia lalu pergi mendapati Mama dia.


"Ma, Papa sudah pulang Papa bawa martabak ini," kata Leo sambil menyerahkan martabak ke Ayu, Ayu mendesah ia begitu segan karena tiap hari Paujan selalu bawa makanan untuk mereka, padahal Ayu sudah mengatakan tidak usah bawa makanan kalau pulang kerja.

__ADS_1


__ADS_2