Ayu Yang Malang

Ayu Yang Malang
Part 97


__ADS_3

Saat Paujan sampai di ruangan tempat Ayu bersalin, ia terkejut melihat Ayu, ia mengira kalau ibu anak yang akan ia adzanin sudah dewasa atau sudah ibu-ibu pada umumnya, tapi ia melihat Ayu begitu muda sudah punya anak 3, dalam hati dia sangat penasaran dengan kisah hidup Ayu.


"Dokter saya minta tolong adzanin anak pasien saya ini, suami dia pergi merantau jadi tidak ada yang adzanin anak dia," kata bu Lily dengan penuh harap, Paujan tersadar dari lamunan dia setelah mendengar suara bu Lily.


"Iya,"jawab Paujan singkat karena dia kikuk ketahuan memperhatikan Ayu semenjak ia masuk, lalu Paujan wudhu dan setelah itu, baru ia adzanin, Ayu sedih melihat anak dia harus orang lain yang adzanin sama seperti saat Leo lahir, tapi kali ini sangat berbeda ia tidak punya siapa-siapa mendampingi dia, ada bu Wati yang mendampingin dia, Ayu termenung mengingat perjalanan hidup dia, sampai ia tidak menyadari anak dia sudah selesai di adzanin.


"Bu, anak ibu sudah selesai di adzanin," kata Linda menyadarkan lamunan Ayu.


"Iya, terimakasih dok, sudah mau adzanin anak saya," ucap Ayu.


"Iya," jawab Paujan singkat, ia memang irit bicara setelah itu Paujan pergi dari kamar Ayu, sebelum pergi Linda berkata.


"Terimakasih dok," ujar Linda cari perhatian dokter Paujan.


"Iya," jawab Paujan singkat juga, lalu Paujan keluar dari kamar Ayu menuju ruangan dia, ia terus saja kepikiran Ayu.

__ADS_1


"Usia berapa dia menikah, kelihatannya dia masih sangat muda, tapi kelihatan dia banyak pikiran, apa dia bermasalah dengan suami dia, atau dia perempuan gak bener nikah sama suami orang terus ketahuan sama istri suami dia dan dia ditinggalkan, wah kok aku jadi kepo urusan orang lain," kata dokter Paujan bicara sendiri, ia menggeleng-gelengkan kepala dia karena berpikir negatif pada Ayu, padahal selama ini dia tidak pernah mau mengurus urusan orang lain.


Sore harinya bidan Lily kembali minta tolong ke Paujan untuk mengantar Ayu pulang kerumah dia, bersama dia dan juga Linda, mereka mengantar Ayu kerumah dia, karena bu Lily kasihan melihat Ayu, ia sengaja menyuruh Paujan membawa mereka mengantar Ayu pakai mobil Paujan.


Leo sangat bahagia sepanjang perjalanan menuju rumah mereka, ia terus tersenyum ia juga selalu bertanya apa saya ke dokter Paujan, hal itu membuat dokter Paujan gemes melihat Leo.


**


Malam harinya rumah Ayu ramai didatangi para tetangga, mereka melihat anak Ayu, mereka datang membawa berbagai macam ada yang membawa beras ada juga membawa uang dan lainnya, karena mereka kasihan melihat hidup Ayu, apa lagi Ayu tidak mungkin bekerja untuk jangkau panjang, karena itu mereka memberikan apa yang dibutuhkan Ayu.


Ayu membaringkan badan dia, ia coba memejamkan mata dia, saat baru tertidur anak bayi dia yang laki-laki menangis ia kembali bangun lalu memeriksa karena tidak ada yang basah ia menyusui mungkin haus pikir dia.


Saat Ayu menyusui anak dia, anak dia memandang dia sambil menyusui, Ayu memperhatikan wajah anak dia, ia baru tersadar anak dia yang laki-laki sangat mirip dengan Rido.


"Kamu sangat mirip dengan papa sayang, apa papamu baik-baik saja setelah kita tinggalkan, apa dia sudah sembuh, semoga abang baik-baik saja, maafkan Ayu bang pergi tanpa pamit hiks.. hiks.. hiks," Ayu menangis saat mengingat Rido saat ia tinggalkan belum sadar, ia merasa jahat meninggalkan suami dia saat suami dia lagi sakit.

__ADS_1


Saat Ayu melihat anak dia, anak dia sudah kembali tertidur, lalu ia meletakkan anak dia disebelah dia lalu ia juga merebahkan badan dia lalu ia pun tertidur karena merasa kelelahan.


**


Saat Rido berjalan di ditempat asing ada dua anak kecil berlari mengejar dia satu anak perempuan satu anak laki-laki.


"Papa," ucap ketua anak itu, Rido heran kenapa anak itu memanggilnya papa, saat anak itu sampai mereka minta digendong dia.


"Gendong pa," ucap kedua anak itu sambil merentangkan tangan mereka berdua, tentu saja Rido bingung lalu ia berkata ke dua anak itu.


"Kalian salah orang, aku bukan papa kalian," ujar Rido, kedua anak itu menangis mendengar Rido bicara seperti itu, Rido jadi panik melihat anak-anak itu, ia mencoba mendiamkan anak-anak itu, tapi mereka tidak mau diam.


"Cup cup cup, kalian jangan nangis lagi, dimana orang tua kalian biar om antar kalian kesana," kata Rido.


Anak-anak semangkin nangis kencang, Rido kewalahan menghadapi anak-anak itu.

__ADS_1


__ADS_2