Ayu Yang Malang

Ayu Yang Malang
Part 142


__ADS_3

Bu Sania terus berjalan mengikuti kakinya walau ia tidak melihat jalanya karena gelap, begitu juga dengan adiknya Ani, ia sudah bangun dari tidurnya mereka sengaja di beri pil tidur agar mereka tertidur setelah mereka tidur mereka di letakkan jauh dari jalan, setelah itu Sofi pergi membawa mobil dan juga barang berharga mereka berdua.


Bu Sania sudah lama berjalan tapi tidak ada sedikitpun cahaya rasa lapar juga haus ia tahan dari tadi.


"Dimana aku, kenapa aku sampa di tinggalkan di sini," gumam bu Sania.


Saat bu Sania sudah putus asa ia terduduk di tanah karena kelelahan, tiba tiba ia melihat ada cahaya seperti motor lumayan jauh darinya, bu Sania kembali bangun dari duduknya dan berlari mengejar sepeda motor itu.


"Tolong, Hay tolong aku!" kata bu Sania berteriak.


Pemilik sepeda motor samar samar mendengar suara orang lalu ia mematikan seperti motornya, suara itu semakin jelas terdengar setelah ia mematikan seperti motornya, ia kembali menghidupkan sepeda motornya dan mendatangi asal suara itu.


"Tolong saya," kata bu Sania dengan suara seraknya karena sudah dari tadi berteriak.


"Kenapa ibu bisa sampai ke sini? Ibu orang mana?" tanya pemuda yang bernama sidik.


"Saya, bla bla bla," kata bu Sania menceritakan semuanya.


"Kasihan sekali ibu, ya sudah ayo aku bawa ibu ke kampung tidak jauh dari sini," kata Sidik menawarkan.


Bu Sania menurut, ia naik ke sepeda motor Sidik, lalu sidik melajukan sepeda motornya, sesampainya di perkampungan ada kedai nasi, Sidik memberhentikan seperti motornya.


"Ibu makan dulu," kata Sidik menawarkan.


"Terimakasih Nak, kalau tidak ada kamu entah bagaimana nasib itu," kata bu Sania. Sidik hanya tersenyum menanggapi perkataan bu Sania.


Bu Sania makan sangat lahap ia sudah sangat kelaparan, setelah selesai makan baru bu Sania bisa berpikir jernih.


"Ibu bisa pinjam ponselmu Nak, ibu mau menghubungi keluarga ibu," kata bu Sania. Lalu Sidik memberikan ponselnya. Bu Sania menghubungi suaminya.


Pak Fatur yang belum bisa tidur, mendengar suara ponselnya berbunyi ia segera mengangkatnya.


"Halo, Pa, ini aku mamah, tolong aku Pak, jemput aku di desa xxxx, aku bla bla bla," kata bu Sania menjelaskan, tapi ia tidak memberitahu kalau ia pergi mau ketempat para normal.

__ADS_1


"Iya Ma, papa segera menjemput mama, mama tidak apa-apa kan?" tanya pak Fatur dengan penuh khawatiran.


"Tidak Pa," jawab bu Sania.


"Ya sudah Mama tunggu saja papa akan segera kesana," kata pak Fatur.


"Iya, Pa," jawab bu Sania. Telepon terputus, lalu pak Fatur buru buru keluar dari kamarnya menuju garasi sesampainya di sana ia menghidupkan mobilnya, Paujan yang belum bisa tidur memikirkan mamanya terkejut mendengar suara mobil, lalu ia bangun dari tidurnya dan pergi ke garasi melihat.


"Papa mau pergi kemana?" tanya Paujan penasaran.


"Papa mau menjemput mama di desa xxxx," jawab pak Fatur.


"Itu tempatnya jauh Pa, ya sudah aku temani papa, tunggu aku pamit dulu sama istriku," kata Paujan.


"Ya sudah papa tunggu," jawab pak Fatur. Lalu Paujan kembali ke kamar.


"Sayang, Mas pergi ke desa xxxx, temani papa jemput mama," kata Paujan.


"Besok saja Mas, ini sudah lewat tengah malam," ujar Ayu melarang.


"Tapi hatiku tidak enak Mas, aku takut Mas kenapa-kenapa di jalan," kata Ayu tetap tidak rela melepas kepergian suaminya.


"Tidak boleh ngomong seperti itu," kata Paujan menasehati.


"Ya sudah kalau Mas tetap mau pergi," kata Ayu.


"Gitu dong, ya sudah Mas pergi dulu kamu lanjut tidurnya," kata Paujan.


"Iya Mas," jawab Ayu. Lalu Paujan mencium seluruh wajah Ayu dan mengusap perutnya.


"Kamu jangan nakal ya Nak kalau papa pergi, jaga Mama baik baik ya," kata Paujan sambil mencium perut Ayu yang mulai membuncit.


Saat mereka masih bicara suara klakson mobil pak Fatur terdengar.

__ADS_1


Tin! Tin! Tin!


Mendengar suara klakson mobil papanya Paujan buru-buru keluar dari kamar dan mendatangi papanya.


"Maaf Pa terlambat," kata Paujan merasa tidak enak hati. pak Fatur menganggukkan kepalanya. Lalu mereka pergi.


"Kamu tidur saja, nanti kalau papa sudah lelah kamu yang nyetir kita bergantian!" kata pak Fatur.


"Iya, Pa," jawab Paujan lalu Paujan memejamkan matanya karena sudah mengantuk belum tidur sama sekali Paujan langsung tertidur pulas.


Sedangkan pak Fatur sudah mulai lelah matanya juga sudah pedas karena ia juga belum ada tidur, tapi ia melihat anaknya begitu pulas tidurnya ia tidak sampai hati membangunkannya.


Sementara bu Sania saat ini sudah bertemu dengan adiknya di kedai nasi tempat ia makan, kebetulan ada juga yang menolong Ani karena Ani lapar orang itu membawa Abi ke kedai nasi itu.


"Kok kamu bisa berteman dengan Sofi? Aku pastikan Sofi harus masuk penjara!" kata bu Sania dengan nada marah.


"Aku juga tidak menyangka dia seperti itu, aku mengenalnya temanku yang mengenalkannya sebelum kita pergi beberapa hari yang lalu," jawab Abi.


"Kamu baru mengenalnya beberapa hari sudah percaya kepadanya, kalau kakak tau kamu baru beberapa hari berteman dengannya kakak tidak akan mau di bawa ke sini," kata bu Sania.


"Aku juga kalau tau seperti ini jadinya aku tidak akan mau pergi kak," jawab Ani. Mereka menunggu jemputan di kedai nasi itu, untuknya kedai nasinya buka dua puluh empat jam jadi mereka tidak khawatir menunggu di situ.


Pak Fatur mulai merasa pusing menahan rasa ngantuk terpaksa ia membangunkan Paujan.


"Jan, Jan," kata pak Fatur. Namun Paujan tetap tidak menyahut ia masih pulas, lalu pak Fatur menepuk-nepuk bahu Paujan saat pak Fatur melihat ke arah Paujan ada mobil tiba-tiba melaju kencang dari depan, pak Fatur segera menepikan mobilnya agar tidak tertabrak, tapi karena pak Fatur tidak terlalu memperhatikan jalannya mobil mereka terlalu menepi sehingga mobil mereka masuk jurang. Jalan yang mereka tempuh memang kebanyakan jurang yang mereka lewati. Mobil mereka terjun kebawah jurang dan sampainya dibawah mobil mereka meledak.


**


Sedangkan Ayu di rumah tidak bisa lagi tidur, entah kenapa pikirannya saat ini tidak tenang, ada rasa cemas dari tadi menyelimuti hatinya mengingat suaminya.


"Kenapa hatiku gelisah, semoga suamiku tidak kenapa-kenapa," gumam Ayu. Karena tidak bisa tidur Ayu bagun dari tidurnya lalu sholat tahajud. Setelah selesai ia keluar dari kamar dan duduk di ruangan televisi ia menghidupkan televisi dan menonton berita.


Vania terbangun mendengar suara televisi, lalu ia keluar dari kamar melihat siapa yang menonton televisi.

__ADS_1


"Tumben kakak sendiri, biasanya mulai kakak sampai ke sini di mana ada kakak di situ ada bang Paujan," kata Vania, sambil berjalan mendekati Ayu, setelah dekat ia duduk disebelah Ayu.


__ADS_2