Ayu Yang Malang

Ayu Yang Malang
Part 129


__ADS_3

Pagi ini saat Ayu bangun ia merasa kepala dia pusing, tapi ia tetap memaksa bangun dan membuat sarapan untuk suami dan juga Anak-anak dia.


"Kok badanku terasa lemas ya, kepalaku juga pusing, apa karena kecapean akibat ulah Mas Paujan tadi malam ya," gumam Ayu, tapi ia tetap meneruskan pekerjaan dia, tapi kepala dia semakin pusing ia juga merasa mual, ia berlari kekamar mandi sesampainya dikamar mandi dia muntah-muntah sampai ia lemas.


Saat Leo bangun, ia mendengar Mama dia muntah-muntah lalu ia menghampiri, ia melihat Mama dia sudah bersandar di dinding kamar mandi, wajah Mama dia juga pucat matanya juga sudah terpejam, Leo kuatir melihat Mama dia seperti itu, lalu ia mendekat.


"Ma,ma,"kata Leo memanggil Mama dia sambil menepuk pipi Mama dia, tapi Ayu tidak menyahut, Leo semangkin khawatir dengan keadaan Mama dia, lalu ia pergi kekamar orang tuanya membangunkan Paujan.


"Pa! tolong Mama, Mama pingsan dikamar mandi," ucap Leo sambil mengguncang badan Paujan agar bangun, Paujan spontan terbangun ia melihat Leo sudah ada didepan dia dan menangis, lalu ia bertanya,


"Kenapa kamu nangis," kata Paujan merasa heran.


"Mama, Pa," ucap Leo sambil menarik tangan Paujan kekamar mandi, setelah sampai dikamar mandi, Paujan terkejut melihat istri dia sudah pingsan buru-,buru ia mengangkat Ayu membawanya ketempat tidur setelah itu ia memeriksa keadaan istri dia, setelah ia memeriksa Paujan tersenyum, sedangkan Leo heran melihat Papa dia tersenyum padahal Mama dia belum sadar.


"Pa, kenapa tersenyum," kata Leo karena ia begitu kuatir dengan keadaan Mama dia, sementara Papanya kelihatan bahagia.


"Kamu berkemas biar Papa antar sekolah, Mama tidak apa-apa Mama hanya butuh istirahat saja," kata Paujan, tapi Leo tidak mau pergi ia masih kuatir dengan keadaan Mama dia.


"Aku bolos saja Pa, aku mau jaga Mama," jawab Leo menolak.


"Papa saja yang jaga Mama, kamu sekolah saja, Mama tidak kenapa-kenapa bentar lagi juga Mamamu sadar," ujar Paujan meyakinkan Leo, akhirnya Leo pergi kekamar dia dan berkemas.


Sedangkan Paujan memandang wajah istri dia, lalu ia menggenggam tangan Ayu, lalu menciumnya ia juga mencium kening istri dia dengan penuh kasih sayang.


"Terimakasih sayang kamu sudah mau menerimaku sebagai suamimu, sekarang benih cinta kita sudah ada didalam sini," ucap Paujan sambil mengelus perut Ayu, lalu ia menghubungi tukang bersih-bersih rumah dia agar cepat datang, karena ia akan pergi mengantar Leo ke sekolah, biasanya Bibi tukang bersih-bersih datang agak siangan selama mereka sudah menikah karena Ayu yang menyiapkan keperluan dia setelah mereka menikah.

__ADS_1


Setelah mengantar Leo kesekolah Paujan kembali kerumah ia hari ini tidak masuk kerja, karena menemani istri dia, saat ia pulang Ayu sudah sadar, senyum Paujan mengembang saat masuk kekamar, karena tidak mau menggangu Bibi keluar dari kamar setelah Paujan masuk,


"Apa masih ada yang sakit," tanya Paujan sambil mengelus pipi Ayu.


"Sedikit pusing," jawab Ayu seadanya.


"Sini Mas urut," kata Paujan lalu ia naik ketempat tidur ia meletakkan kepala Ayu dipangkuan dia, lalu ia mengurut kepala Ayu pelan pelan.


"Mas, aku kenapa ya, bangun tadi kepala ku pusing perutku juga mual, kata Bibi aku pingsan, apa betul Mas," tanya Ayu sambil memandang suaminya.


"Kamu tidak apa-apa sayang itu hanya bawaan Anak kita," jawab Paujan menjelaskan agar istri dia tidak kuatir, Ayu mengerutkan dahi dia mendengar jawaban suami dia.


"Aku gak ngerti maksud Mas," kata Ayu merasa bingung dengan jawaban suami dia.


"Maksudnya aku hamil," ucap Ayu memperjelas pendengaran dia.


"Iya sayang Anak kita ada didalam sini," jawab Paujan dengan penuh rasa bahagia dia.


"Alhamdulillah semoga anak kita sehat sampai dia lahir ya Mas," doa Ayu.


"Amiin," jawab Paujan merekapun sangat bahagia setelah mengetahui mereka akan punya Anak kali.


Setelah Ayu hamil Paujan semangkin perhatian kepada Ayu terkadang Ayu merasa perhatian Paujan berlebihan membuat Ayu sudah untuk beraktivitas selalu dibatasi Paujan.


**

__ADS_1


Sedangkan dirumah pak Fatur saat ini sedang kedatangan tamu siapa lagi kalau bukan teman bu Sania ya itu bu Lidia, Lidia tidak datang sendiri ia bersama suami dan juga Anak gadis mereka, mereka datang ingin membahas masalah perjodohan anak mereka.


"Bagai mana perjodohan Anak kita, kami butuh kepastian kalau memang Paujan mau menikah dengan Anak kami, kalian segera melamar anak kami tapi kalau Paujan tidak mau setuju katakan saja, biar kami tau mencari jodoh anak kami," kata bu Lidia.


"Anak kami belum memberikan jawaban dia, dua hari lagi aku memberikan jawabannya," jawab Bu Sania memberikan harapan lagi kepada teman dia, padahal sudah jelas kalau Paujan tidak mau dijodohkan, pak Fatur diam saja sebagai pendengar, ia tidak setuju dengan jawaban istri dia, tapi ia tidak mungkin menegur istri dia didepan tamu mereka.


"Iya sudah kalau begitu kami akan menunggu kamar dari kamu," ujar bu Lidia.


Setelah bu Lidia pulang, pak Fatur menegur istri dia.


"Kenapa Mama masih memberikan mereka harapan, seharusnya Mama bicara yang sebenarnya kepada mereka, agar mereka tidak mengharap lagi, Mama kan tau kalau Paujan tidak mau dijodohkan," kata pak Fatur protes.


"Mama akan membujuk Paujan dia pasti mau, selama ini Paujan tidak pernah membantah perkataan Mama, Mama yakin kalau kita bicara kepada Paujan secara baik-baik dia pasti setuju menikah dengan Anak Lidia," jawab bu Sania tidak Meu dibantah.


"Kenapa sih Mama begitu ngotot menjodohkan Paujan dengan Anak Lidia," tanya pak Fatur merasa heran.


"Karena Anak Lidia itu pantas jadi menantu kita, aku takut kalau Paujan yang memilih jodoh dia sendiri, dia akan menikah dengan perempuan kampung, Papa tau sendiri sekarang Paujan sekang tinggal dikampung, Mama takut dia tergoda rayuan perempuan kampungan disana, cukup Vania yang menikah dengan orang kere aku tidak mau kalau sampai Paujan juga seperti Vania menikah dengan orang kere


"Ya ampun Ma, kenapa Mama selalu memandang manusia dari segi materi, istighfar Ma tidak baik seperti itu," nasehat pak Fatur agar bu Sania sadar.


Bu Sania tidak menanggapi perkataan suami dia, ia pergi kekamar dia, sesampainya dikamar bu Sania mengambil ponsel dia lalu mencari kontak Paujan, setelah ia dapat ia menghubungi Paujan.


Sedangkan Paujan saat ini sedang bermain bersama Adnan dan Adela juga bersama Ayu mereka ada dikamar, sedangkan ponsel Paujan ada bersama Leo, Leo bermain game online di ponsel Papa dia mendengar ada yang menghubungi Leo segera mengangkat.


"Assalamualaikum ini dengan siapa ya?" tanya Leo sopan, sontak bu Sania terkejut mendengar suara anak kecil yang mengangkat telepon dia.

__ADS_1


__ADS_2