
Pak Pajar sampai keruangan dokter.
"Silahkan duduk pak," kata Dokter lalu pak Pajar duduk di kursi didepan dokter berantakan meja.
''Begini ada yang saya mau jelaskan kepada bapak mengenai kondisi istri bapak, saat ini luka yang di rahim istri bapak sangat parah hal itu akan membuat ia sudah hamil lagi, istri bapak harus pakai pengobatan terapi kalau sudah sembuh, agar ia cepat bisa hamil kembali, itu disebabkan benturan yang ia alami sangat keras," kata Dokter menjelaskan, lalu pak Pajar bertanya.
"Jadi istri saya tidak bisa hamil lagi Dok?" ujar pak Pajar dengan penuh rasa kecewa dihati dia, kenapa ia harus kehilangan anak dia, itu yang membuat pak Pajar kecewa.
"Bapak tidak perlu putus asa, terus berusaha dan berdoa, agar istri bapak cepat hamil," kata Dokter menyemangati agar pak Pajar tidak putus asa.
Mendengar kata dokter pak Pajar jadi sedih, ia tidak bisa mengulang waktu apa yang sudah terjadi, ia harus ikhlas menerimanya.
"Bagai mana ke adaan istri saya dok?'' ujar pak Pajar, ia kuatir dengan kondisi istri dia takut kalau Mawar kenapa-kenapa.
''Kondisi istri bapak saat ini tidak terlalu mengkuatirkan sebentar lagi ia akan sadar, kalau istri bapak sadar jangan dibuat sedih dulu ya pak bapak tau kan maksud saya," jawab dokter sekalian memberi saran.
"Alhamdulillah kalau istri saya tidak mengkuatirkan saya paham penjelasan Dokter terimakasih atas penjelasannya Dok, kalau tidak ada yang mau dijelaskan saya bisa keluar?" ujar pak Pajar dengan penuh kelegaan dihati dia mengingat kondisi istri dia sebentar lagi siuman.
"Iya sudah cukup penjelasan saya, semoga istri bapak cepat pulih dan cepat hamil kali," jawab Dokter.
"Amin terimakasih Dok, atas doanya kalau begitu saya permisi," kata pak Pajar setelah itu ia keluar dari ruangan Dokter.
__ADS_1
Setelah dari ruangan dokter pak Pajar pergi ke ruangan istri dia, sesampainya ia di sana ia melihat Mawar masih belum sadar.
Ia berjalan mendekat ke ranjang istri dia, ia duduk di kursi yang ada di dekat pembaringan istri dia, pak Pajar memandang wajah Mawar yang masih pucat.
Pak Pajar merenungi nasib dia mulai ia menikah dengan almarhum istri pertama sampai menikah dengan Mawar, begitu sulit ia mempunyai Anak, setelah ia punya Anak ia harus kehilangan Anak dia lagi ia merasa Tuhan tidak adil kepada dia.
''Ya Allah apa salah ku sehingga kalau mengambil buah hatiku untuk kedua kalinya, apa aku tidak pantas untuk kau beri Anak, apa aku orang jahat," ucap pak Pajar didalam hati, ia berkata dengan nada putus asa, ia tidak tau harus kemana lagi bersandar untuk mengurangi rasa kecewa dia.
Lalu pak Pajar menggenggam tangan istri dia dan menciumnya lalu berkata,
''Maafkan Papa Ma, karena keegoisan Papa Anak kita kehilangan Anak kita untuk kedua kalinya, aku suami yang tidak becus dan ayah yang tidak baik, mungkin karena itu Tuhan mengambil Anak kita kembali," kata pak Pajar menyesali perbuatan dia, tidak terasa air mata dia menetes di pipi dia, ia tidak menyadari kalau dia sudah menangis merenungi nasib dia.
Pak Pajar saat ini sedang berjalan di tempat yang sangat indah, ia heran melihat tempat dia saat ini, karena dia tidak mengenali tempat itu, sekuat apapun ia mengingat tempat ia saat ini tetap saja ia tidak mengenali tempat dia saat ini, ia bingung mengapa ia bisa berasa di tempat dia saat ini, ia terus berkeliling menyusuri tempat itu agar ia bisa pergi dari tempat itu.
Karena kelelahan ia melihat ada kursi disitu lalu ia mendekati kursi itu lalu duduk dikursi itu, ia beristirahat dikursi yang itu, pandangan pak Pajar mengamati tempat itu, tidak sengaja pandangan dia melihat almarhum bu Lia berjalan ke arah dia, bu Lia tidak sendiri ia bersama Ayu mereka bergandeng tangan manuju dirinya, berapa senangnya hati pak Pajar melihat almarhum bu Lia, ia sudah sangat merindukan bu Lia, senyum pak Pajar mengembang menyambut dua orang yang ia cintai datang.
Sesampainya bu Lia di hadapan pak Pajar, bu Lia melepaskan gandengan tangan dia dari tangan Ayu, lalu bu Lia menggandengkan tangan Ayu ke tangan pak Pajar, setelah itu bu Lia pergi meninggalkan mereka tanpa berkata, melihat almarhum bu Lia pergi pak Pajar melepaskan genggaman tangan dia dan Ayu, pak Pajar berlari mengejar bu Lia.
Tapi bu Lia sudah tidak ada lagi, pak Pajar tidak putus ada ia terus mencari kesana kemari sambil menyebut nama bu Lia, namun bu Lia tidak ia ketemukan, ia terus memanggil karena ia sudah merindukan almarhum bu Lia, namun bu Lia seperti ditelan bumi tidak kelihatan, pak Pajar terus berlari mencari bu Lia, dalam hati pak Pajar berkata, "Aku tidak boleh kehilangan jejak Lia, aku sudah sangat merindukan dia," gumam pak Pajar ia terus berlari sambil memangil nama bu Lia.
''Pa! pa!" kata Mawar, ia sudah sadar melihat pak Pajar memanggil nama almarhum bu Lia di dalam tidurnya, Mawar mengerti kalau suami dia sedang bermimpi bertemu istri pertama dia, seketika pak Pajar terbangun dari tidur dia ia masih linglung, mata dia menyapu ruangan itu.
__ADS_1
''Papa tadi mimpi apa? kok manggil manggil almarhum kak Lia," kata Mawar dengan nada marah dan cemburu, baru pak Pajar mengerti bahwa ia tadi hanya mimpi, pak Pajar jadi murung harapan dia ingin berjumpa dengan almarhum bu Lia pupus sudah.
''Papa tadi mimpi almarhum Lia," ucap pak Pajar jujur, percuma bohong pikir dia.
''Apa Papa merindukan almarhum kak Lia sehingga Papa memikirkan sampai terbawa mimpi?" ujar Mawar dengan nada menyelidik.
''Papa tidak mikirin dia," jawab pak Pajar jujur.
''Alah mana ada maling ngaku kalau maling ngaku penuh penjara," ucap Mawar dengan emosi.
''Bagai mana keadaan Mama? apa masih ada yang sakit," tanya pak Pajar mengalihkan pembicaraan, agar Mawar tidak lagi membahas itu yang membuat mereka bertengkar nantinya.ia terus bertanya ke pak Pajar.
Seketika Mawar ingat Anak dia yang dalam kandungan, ia meraba perut dia, ia heran kenapa perut dia sudah rata lalu ia melihat ke perut dia
πππππππππ
Hai pembaca setia, jangan lupa ya, ikuti terus
cerita AYU YG MALANG dukung terus dengan
cara beri like dan komen dibawah iniππ
__ADS_1