Ayu Yang Malang

Ayu Yang Malang
Part 134


__ADS_3

Paujan terdiam mendengar ucapan Papa dia, ia mencoba mencerna dengan baik setiap apa yang disampaikan Papa dia, setelah lama berpikir akhirnya Paujan berkata,


"Iya Pa, aku akan ikut bersama Papa pulang, tapi istriku harus ikut juga," jawab Paujan.


"Terserah kalau kamu mau membawa istri mu, tapi jangan salahkan Papa jika Mama berbuat sesuatu kepada istrimu," ujar pak Fatur.


"Kenapa Papa bicara seperti itu, perkataan Papa seolah tidak setuju kalau aku membawa istriku," kata Paujan protes.


"Papa bukan tidak setuju kamu bawa istrimu, tapi Papa takut istrimu tersinggung kalau Mama mu belum bisa menerima istrimu, Papa takut Mama akan mengatakan sesuatu kepada istrimu yang membuat istrimu tersinggung," kata pak Fatur menjelaskan agar Anak dia tidak salah paham.


"Tapi mau sampaikan Mama tidak bisa menerima istriku Pa?" tanya Paujan, ia begitu frustasi karena Mama dia.


"Sampai Mama bisa menerima istrimu," jawab pak Fatur, ia juga tidak tau sampai kapan istri dia bisa menerima menantunya.


Paujan terdiam saat ini ia sedang berpikir apakah ia harus pergi kerumah orang dua dia sendiri atau nekat membawa istri dia, kalau ia nekat membawa istri dia, ia takut kalau Mama dia kembali bicara kasar kepada istri dia, tapi kalau dia pergi sendiri, ia tidak enak hati meninggalkan istri dia.


Tiba-tiba Ayu datang membawa secangkir teh untuk pak Fatur.


"Ini Pa diminum tehnya," kata Ayu sambil meletakkan secangkir teh dimeja yang ada dikamar itu untuk pak Fatur.


"Terimakasih," ucap pak Fatur, Ayu menganggukkan kepala dia.


Pak Fatur akhirnya menginap dirumah Paujan karena ia merasa lelah tidak sanggup pulang, pak Fatur merasa senang dirumah Paujan kebahagian dia bersama Anak-anak Ayu membuat dia betah tinggal dirumah Paujan.


"Opa tidur sama aku aja ya," pinta Leo memohon agar pak Fatur mau tidur dikamar dia.


"Iya Opa tidur bersamamu, tapi jangan ngompol ya," jawab pak Fatur bercanda.


"Aku sudah besar Opa, aku tidak ngompol lagi," kata Lao protes.


Melihat Leo cemberut pak Fatur gemes, pak Fatur tertawa karena berhasil membuat Leo marah.


"Jangan marah Opa cuma bercanda," bujuk pak Fatur karena Leo ngambek.

__ADS_1


"Opa sih ngeselin," ujar Leo.


"Iya Opa minta maaf sudah bikin Leo marah," kata pak Fatur, baru Leo tersenyum ia juga menganggukkan kepala.


Pak Fatur bermain bersama Leo juga Adnan juga Adela pak Fatur baru merasakan kebahagiaan yang tidak pernah ia rasakan sebahagia itu.


Paujan memperhatikan Papa dia dari jauh, ia tersenyum melihat Papa dia bisa langsung sedekat itu kepada Anak sambung dia, ia bersyukur karena Papa dia bisa menerima istri dia, tidak seperti Mama dia belum bisa menerima istri dia, ia berdoa agar Mama dia segera bisa menerima Ayu sebagai menantu dia.


**


Sementara itu Bu Sania sudah gelisah menunggu pak Fatur dari tadi, ia bertanya-tanya kemana suami pergi, ia mencoba menghubungi suami dia, tapi ponsel pak Fatur diluar jangkauan hal itu membuat bu Sania frustasi.


Karena sudah tidak tahan menunggu suami dia, bu Sania pergi kekamar Vania, sesampainya didepan pintu kamar Vania, bu Sania menggedor pintu kamar Vania, ia tidak perduli mereka sedang apa didalam, ia terus menggedor pintu kamar Vania walau Vania sudah menjawab dari dalam.


"Mana Vania?" tanya bu Sania sambil melirik kedalam kamar Vania, karena yang membuka kamar adalah Parel.


"Ada didalam," jawab Parel dengan gugup, karena mereka tadi sedang bercinta, tapi bu Sania mengganggu mereka.


"Panggil dia, aku tidak butuh kamu," kata bu Sania dengan nada jutek.


"Iya Ma tunggu sebentar," jawab Parel.


"Jangan lama-lama, Mama tunggu diluar," kata bu Sania lalu pergi keruang televisi, ia menghidupkan televisi sambil menunggu Vania datang.


Sementara itu Parel dibuat pusing karena hajat dia tidak tersampaikan karena ulah Mama mertua dia yang datang mengganggu.


"Aku kekamar mandi dulu," kata Vania lalu beranjak dari tempat tidur, tapi Parel menahan agar Vania tidak pergi.


"Tunggu dulu, kita selesaikan yang tadi," kata Parel memelas.


"Nanti saya setelah aku menemui Mama, nanti Mama bisa marah kalau dia lama menunggu, Abang tau sendiri gimana Mamaku," jawab Vania.


Parel terpaksa mengiyakan perkataan istri dia, lalu Vania membersihkan badan dia dikamar mandi.

__ADS_1


Sedangkan bu Sania berdecak kesal melihat menantunya tadi, ia tau kalau mereka pasti habis bercinta, bu Sania memang selalu kesal setiap melihat menantunya itu.


"Pasti mereka habis bercinta, mereka enak-enak aku disini gelisah menunggu suamiku, kemana sih Papa pergi," kata bu Sania bicara sendiri.


"Ada apa Ma,?" tanya Vania setelah ia mendatangi Mama dia.


"Katakan sejujurnya kemana sebenarnya Papamu?" tanya bu Sania.


Vania terdiam, ia bingung harus mengatakan atau tidak keberadaan Papa dia.


"Kenapa diam, Mama bertanya ayo jawab," desak bu Sania.


Karena terus didesak Mama dia, Vania akhirnya mengatakan dimana Papa dia saat ini, Vania juga menceritakan kalau Paujan saat ini sedang sakit.


Mendengar anak kesayangan dia sakit, bu Sania jadi khawatir dengan keadaan anak dia.


"Ya sudah Mama kekamar dulu," kata bu Sania pergi tanpa berkomentar apapun, Vania melihat kepergian Mama dia sampai tidak terlihat lagi, ia jadi kepikiran dengan Mama dia, ia takut Mama dia kembali sakit karena kepikiran Abang dia.


Sesampainya dikamar bu Sania mengambil ponsel dia lalu mencari kontak Paujan, setelah menemukan kontak Paujan ia segera menghubungi.


Ayu mendengar suara ponsel suami dia, lalu melihatnya, ia melihat nama Mama mertua dia yang menghubungi, ia tidak berani mengangkat ia mencari keberadaan suami dia.


"Mas, Mama telepon," ucap Ayu setelah melihat suami dia, lalu Ayu menyerahkan ponsel itu kepada Paujan.


Paujan yang lagi asik bercerita bersama Papa dia seketika menoleh.


"Kenapa tidak diangkat?" tanya Paujan karena ponsel dia sudah mati, mungkin karena lama tidak dijawab.


Ayu diam saja tidak menjawab, seketika Paujan tau kalau istri dia masih takut, lalu Paujan menghubungi Mama dia kembali.


"Halo assalamualaikum, bagai mana keadaan mu, apa kamu sudah berobat, kamu sakit apa Nak?" kata bu Sania memberondong semua pertanyaan.


"Aku hanya demam biasa Ma, tidak ada yang perlu dikhawatirkan," jawab Paujan agar Mama dia tidak lagi cemas memikirkan dia, Paujan juga senang karena Mama dia sudah mau bicara kepada dia.

__ADS_1


"Kamu jangan sepele, kamu ikut Papamu pulang, biar kita berobat disini," ucap Bu Sania.


"Iya Ma, tapi aku bawa istriku ya, kalau istriku tidak dibolehkan ikut aku tidak jadi pulang," kata Paujan.


__ADS_2