
Ayu menjalani hari-hari dia kebanyakan di dalam kamar saja, membuat Mawar jarang bertemu dengan Ayu, makan saja Ayu di dalam kamar, pak Pajar memang yang melarang Ayu keluar dari kamar, karena pak Pajar tidak mau kalau istri dia menyakiti Ayu dengan kata-kata kasar, nanti membuat Ayu stress dan mempengaruhi konsentrasi belajar Ayu sebab Ayu saat ini lagi ujian apa lagi kandungan Ayu lemah sebab itu pak Pajar melarang Ayu keluar dari kamar dia.
Ayu mengelus perut dia, ia sangat sedih membayangkan anak dia nantinya jadi ejekan semua orang karena karena tidak punya ayah.
"Maafkan Mama ya Nak, karena kesalahan Mama kamu juga akan menanggung malu nantinya saat kamu sudah lahir, bang Radit kamu kok tega membiarkan aku menanggung beban ini sendirian, apa aku tidak ada artinya dimana mu mana janji-janji manis mu, apa memang abang sengaja menjebak ku dan membiarkan aku menderita sendirian, apa salah ku bang, hiks..hiks.. hiks," kata Ayu bicara sendiri dikamar dia.
Sementara itu Mawar sedang memikirkan bagai mana caranya ia menyingkirkan Ayu, ia sudah tidak tahan lagi, pikiran dia selalu menghantui tentang perselingkuhan suami dia dengan Ayu.
Setiap malam dan sepulang bekerja pak Pajar masuk ke kamar Ayu, walau pintunya terbuka tetap saja Mawar curiga, pernah beberapa lali Mawar mengintip pak Pajar masuk ke kamar Ayu, ia melihat pak Pajar memberikan perhatian lebih kepada Ayu seperti menanyakan sudah makan apa belum dan yang lainnya, bagi Mawar itu tidak wajar apa lagi Ayu sekarang sudah berubah menjadi gadis cantik bukan anak-anak lagi seperti dulu.
Mawar mempunyai ide, ia mencari dukungan dari ibu mertua dia, lalu ia pergi ke kamar ibu mertuanya.
"Bu, lagi apa?" tanya Mawar basa-basi memulai pembicaraan dia.
''Ibu tidak ngapa-ngapain lagi santai saja memang ada apa kau mencari ibu?" tanya bu Parida karena bukan hal yang wajar Mawar masuk kamar dia, bisa dihitung jari Mawar datang ke kamar dia.
''Bu aku mau bicara sama ibu," ucap Mawar sambil mengurut tangan ibu mertua dia mengambil hati.
"Dari tadi kau sudah bicara," jawab bu Parida merasa curiga kalau Mawar pasti mau mengadu, pikir bu Parida.
"Aku serius bu," kata Mawar, merasa tidak senang dengan perkataan bu Parida.
"Kamu mau bicara apa," tanya bu Parida ingin tau.
__ADS_1
"Ini tentang mas Pajar bu," ujar Mawar, dahi bu Parida mengerut mendengar perkataan Mawar, selama ini Mawar tidak pernah membicarakan anak dia kepada dia.
"Ada apa dengan Pajar?" tanya bu Parida penasaran.
"Kurasa mas Pajar selingkuh sama Ayu," kata Mawar, dengan mimik sedih diwajahnya.
Bu Parida terkejut mendengar perkataan Mawar, ia tidak percaya kalau Anak dia selingkuh, karena ia tau betul kalau Anak dia laki-laki setia, tidak pernah terdengar Anak dia menggoda atau bercanda kepada perempuan diluar sana.
''Tidak mungkin, Pajar orangnya setia ibu lebih tau, itu hanya pemikiran mu saja," ujar bu Parida tidak setuju dengan ucapan Mawar.
''Bu Mawar bicara bukan tanpa sebab, coba ibu perhatikan tingkah mas Pajar selama Ayu disini," kata Mawar.
''Memangnya Pajar seperti apa, Mama lihat Pajar biasa-biasa saja, tidak ada tingkah dia yang mencurigakan," ucap bu Parida.
''Mas Pajar sangat perhatian kepada Ayu, dia kelihatan sangat menyayangi Ayu," tutur Mawar.
''Yang ini beda bu, Mas Pajar itu, menyayangi Ayu seperti menyayangi orang yang mencintai lawan jenis, bahkan Ayu tidak dikasih keluar dari kamar sekolah saja Ayu dirumah tidak dikasih pergi ke sekolah alasannya takut Ayu kecapean pokoknya Ayu tidak dikasih beraktifitas seperti orang pada umumnya." Adu Mawar ke ibu mertuanya.
"Masak sih, ibu tidak terlalu memperhatikannya," ujar bu Parida.
''Ibu sih, dikamar terus sama sama seperti si Ayu, jadi Ibu gak lihat bagai mana Mas Pajar memperlakukan Ayu," ujar Mawar.
''Ya udah nanti ibu selidiki, kalau memang yang kamu ke atakan itu benar ibu yang akan bertindak." Kata bu Parida.
__ADS_1
''Emang ibu lakukan apa? kalau memang mereka ada hubungan, ibu sudah tidak berani lagi sama mas Pajar semenjak anak kamu meninggal mas Pajar tidak bisa dibantah," tanya Mawar.
''Bukan Pajar yang ibu tegur, tapi Ayunya yang ibu usir, bikin malu saja kalau memang mereka punya hubungan mau ditaruh mana muka ibu," jawab bu Parida dengan nada marah.
Mendengar itu Mawar Akhirnya senang, tidak sia-sia ia mengadu ke ibu mertua dia.
"Alhamdulillah aku punya pendukung, rasain kamu Ayu, kenapa sih Ayu kembali membuat aku susah saja," ucap Mawar didalam hati.
**
Semenjak pembicaraan mawar dan ibu parida itu, bu Parida sering memperhatikan gerak-gerik Anak dia juga Ayu, setelah ia memperhatikan ia juga ikut curiga dengan kelakuan Ayu dan pak Pajar.
"Awas saja kamu Ayu, kalau sampai kamu punya hubungan dengan Anakku aku akan buat perhitungan dengan mu," kata bu Parida bicara didalam hati dia.
Sampai di suatu hari bu Parida sudah tidak tahan lagi ia memberanikan diri masuk kekanar Ayu ia melihat tidak ada siapa-siapa,''ke mana dia pikir bu Parida." Ia mendengar suara air dikamar mandi,''Anak itu sedang mandi." Kata bu Parida dalam hati, ia memanfaatkan kesempatan itu untuk memeriksa kamar Ayu, ia berharap menemukan sesuatu petunjuk.
Tanpa sengaja mata bu Parida menangkap sesuatu yang terletak di atas meja ia mendekat dan melihat barang yang terletak di atas meja hias barang yang tidak wajar dimiliki Ayu, buku ibu hamil dan susu ibu hamil melihat itu bu Parida terkejut ia sampai susah menarik napas dia, ia penasaran anak siapa yang dikandung Ayu.
"Apa yang dikandung Ayu adalah cucuku, kalau memang yang dikandung Ayu cucuku, bagai mana ini, di satu sisi aku sangat menginginkan cucu, tapi disisi lain aku maku kalau orang lain tau Ayu hamil anak Papa angkat dia, bisa-bisa keluarga ku akan jadi ejekan semua orang didunia ini, pikir bu Parida.
Buk Parida mendengar air di kamar mandi sudah berhenti ia segera keluar dari kamar Ayu, ia bisa lega setelah keluar dari kamar Ayu, tapi pikiran dia menjadi gelisah memikirkan Anak siapa yang ada dikamdungan Ayu, ia tidak mungkin bertanya kepada Paujan, karena kalau ia bertanya tidak mungkin Paujan mengaku, pikir bu Parida.
💟💟💟💟💟💟💟💟💟
__ADS_1
Hai pembaca setia AYU YG MALANG.dukung
terus ya dengan cara like dan komen. dibawah ini, 👃👃