
Hari ini adalah hari bahagia Rio dan Rini, mereka kembali rujuk, terlihat rona bahagia dari wajah keduanya, semua orang juga yang hadir ikut bahagia mereka membuat acara syukuran sederhana hanya keluarga saja yang mereka undang, pak Pajar juga Ria ikut hadir di acara itu, saat ini Rini dan Rio sudah kembali sah menjadi sepasang suami istri.
Semua orang mengucapkan selamat kepada mereka, tiba-tiba datang seorang perempuan muda ia adalah mantan istri Rio, ia datang dengan gaya angkuh ia juga membawa anak bayi.
"Selamat ya Mas, kamu akhirnya kembali bersama mbak Rini aku senang melihat Mas sudah kembali bersama mbak Rini, oh iya aku sampai lupa mengucapkan selamat kepadamu mbak, selamat ya mbak semoga pernikahan langgeng sampai ajal menjemput," ucap mantan istri Rio, Rini sangat geram melihat kedatangan mantan istri suami dia, apa lagi melihat sikap mantan istri Rio seakan mengejek mereka.
Sementara itu Rio tidak bisa berkata-kata melihat mantan dia datang apa lagi melihat mantan istri dia datang membawa Anak bayi ia menduga-duga kalau Anak yang dibawa mantan istri dia adalah Anak dia.
"Oh ya Mas, ini Anak kita namanya Queen," ucap mantan istri Rio sambil memberikan Queen kepada Rio, tangan Rio terulur menyambut Queen, melihat suami dia seperti itu Rini pergi dari hadapan mereka.
Melihat istri dia pergi, Rio mengembalikan Queen kepada Weni mantan istri dia, lalu pergi menyusul Rini, acara itu jadi kacau Ria sudah tidak tahan melihat sikap Weni lalu Ria menarik tangan Weni dan membawa wena kuar dari rumah Rido.
"Mau kamu apa sih, kamu belum puas menyakiti adik saya," ucap Ria sambil menarik Weni dari rumah Rido.
"Aku hanya memberitahu kalau aku punya anak dari Mas Rio sekalian mengucapkan selamat kepada Mas Rio dan mbak Rini," jawab Weni beralasan padahal niat dia jelas ingin membuat keributan di acara mereka.
"Kamu tidak usah banyak alasan aku tau tujuan mu datang kemari, kurang puas kamu mengambil semua harta adikku, atau kamu mau meminta uang iya kan," tebak Ria, ia tau betul Weni mata duitan.
"Ya ampun pemikiran mbak Ria terlalu jauh, aku datang kesini dengan niat baik, malah dituduh yang enggak-enggak," jawab Weni berkilah, Ria mual melihat sikap Weni, lalu ia berkata.
"Aku tidak perduli dengan mu, kamu harus menjauh dari kehidupan adik saya, kamu lihat sendiri dia sudah menikah," ujar Ria mewanti-wanti Weni agar tidak membuat masalah lagi kehidupan adik dia.
__ADS_1
"Mana bisa aku menjauh dari Mas Rio, kami punya anak yang harus kamu besarkan bersama apa mbak tidak kasihan melihat keponakan mbak tidak dapat kasih sayang dari Papa dia," jawab Weni tidak mau kalah, mendengar apa yang dikatakan Weni Ria semangkin emosi, lalu ia berkata,
"Aku tidak percaya kalau Anak yang kamu gendong adalah anak Rio," ujar Ria menolak.
"Terserah mbak percaya apa tidak, aku juga tidak butuh pengakuan mbak, yang penting Mas Ria yang mengakui kalau Queen anak dia," jawab Weni.
Ria sudah tidak tau lagi harus berkata apa lalu ia pergi kedalam rumah Rido meninggalkan Weni, ia pusing melihat Weni yang muka tembok.
Sementara itu, Rio sudah lelah membujuk Rini tapi Rini tetap menangis, Rini sedih dan malu dihari bahagia dia, ia harus malu karena kelakuan mantan istri suami dia, apa lagi melihat Rio yang kelihatan terpesona melihat Weni datang dengan penampilan menawan, hati Rini juga sakit melihat suami dia menggendong anak dari mantan istri dia.
Rido tidak tau harus bersikap bagai mana, di satu sisi kasihan melihat Mama dia sedih dihari bahagianya, tapi disisi lain ia juga kasihan melihat adik dia, biar bagai manapun ia harus menerima adik dia walau dari lain Mama, Rido melamun dikamar dia, ia tidak lagi keluar dari kamar karena malu.
Hanya Ika yang menyambut tamu, untung ada Ria membantu menyalami tamu yang datang, jadi Ika tidak kerepotan menyalami tamu, walau Ika susah menjawab saat tamu bertanya dimana pengantin dan Rido ia berusaha menjawab seadanya saja.
**
Ika juga menyuruh pak Pajar menasehati Rido, karna Rido tidak mau bicara setelah kejadian tadi siang.
"Kamu kenapa diam saja dikamar Do, kasihan Ika dia kerepotan mengurus pesta tadi, ditambah sikapmu seperti ini membuat dia tertekan, kalau ada masalah kita bicarakan dengan hati dingin, pakde tau apa yang kamu rasakan saat ini, tapi kamu harus bijak menyikapinya," nasehat pak Pajar agar Rido tidak bersikap seperti itu.
"Aku malu Pakde, kenapa ya keluarga ku selalu ada masalah," jawab Rido sekalian bertanya.
__ADS_1
"Semua orang pasti ada masalah, tergantung kita bagai mana menyikapinya agar masalah itu menjadi ringan," kata pak Pajar mencoba bijak, Rido dan pak Pajar berbincang-bincang cukup lama, setelah dapat nasehat dari pakde Pajar nya Rido lumayan tenang, ia tidak terlalu murung lagi.
**
Pagi harinya Rio dan Rini kuar bersama dari kamar mereka, Ika melihat mertua dia keluar bersama ia tau kalau mertua dia sudah baikan ia jadi kesal melihat mereka pasalnya ia dan suami dia sampai tidak bisa tidur memikirkan mereka, sedangkan yang mereka pikirkan sedang asing memadu kasih terlihat dari rambut Rio yang masih basah.
Sedangkan Ria merasa senang melihat adik dia sudah baikan dengan Rini ia jadi bisa tenang pulang meninggalkan mereka, begitu juga dengan Rido ia bisa bernapas lega melihat orang tua dia sudah baikan.
Saat dimeja makan Rini mengambilkan makan Rio, melihat itu Ika kembali mencibir.
"Setelah selesai sarapan kami pulang," ucap pak Pajar kepada mereka.
"Kok cepat mas, tunggu kami pindah saja baru kakak sama Mas pulang," ucap Rio tidak setuju.
"Loh apa Papa jadi pindah?" kata Rido merasa heran.
"Iya Do, kami akan pindah ke kontrakan yang kamu sewa itu," jawab Rini.
"Apa Mama sama Papa tidak betah tinggal di rumahku?" ujar Rido merasa tidak suka orang tua dia pindah.
"Kami mau mandiri Do," jawab Rio.
__ADS_1
"Sudah biarkan saja Do, toh mereka bisa tiap hari ke rumahmu, mungkin Mama sama Papamu mau buat adik untukmu karna itu mereka tidak mau diganggu," ujar Ria berseloroh, Rio dan Rini tersipu malu mendengar perkataan Ria, Rido terbatuk mendengar perkataan bude dia, semua orang tertawa melihat Rido yang kelihatan terkejut sampai batuk.