
Sesampainya mobil Radit di rumah pak Fatur, rumah itu sudah sepi, Ani dan Radit saling pandang, sedangkan bu Sania segera turun dari mobil dan terus berlari masuk kerumahnya sesampainya di dalam ia melihat banyak kerabat mereka masih bertahan di rumahnya.
"Dimana suamiku?" tanya bu Sania. Sontak semua orang terkejut melihat bu Sania datang, mereka tidak berani bicara.
"Sudah kak, tenang dulu semua bisa kita bicarakan baik-baik," kata Ani yang datang menyusul bu Sania.
Tapi bu Sania tidak menghiraukan perkataan Ani, ia terus berjalan menuju kamarnya, sesampainya di dalam kamar ia memangil manggil suaminya.
"Pa, Pa, Pa!" kata bu Sania mencari kesan kemari sampai kekamar mandi ia cari namun tidak ada, semua orang yang melihat bu Sania seperti menangis.
"Kakak, jangan seperti ini istighfar kak," kata Ani menasehati bu Sania.
Kaki bu Sania melemah ia terduduk dilantai dan kembali menangis meraung.
"Sudah, biarkan saja dia menangis," kata salah satu keluarganya menghentikan Ani yang ingin kembali menasehati kakaknya.
"Iya, kita keluar biarkan dia menenangkan diri," kata salah satu kerabat mereka. Akhirnya Ani menurut mereka keluar dari kamar bu Sania, sedangkan bu Sania memandang semua ruangan itu, ia melihat foto dirinya dan suami tersenyum menghadap dirinya, ia bangun dari duduknya lalu mendekat ia sapu wajah pak Fatur yang di foto itu, kembali air mata bu Sania mengalir mengingat kebersamaan mereka selama bertahun tahun, suka duka sudah banyak mereka lewati bersama.
**
Sedangkan di rumah sakit saat ini semua keluarga Ayu menunggu Ayu yang belum sadar juga, hati pak Pajar sangat sedih melihat anaknya harus berpisah dengan suaminya saat Ayu hamil.
"Malang sekali nasibmu Nak, setiap kamu hamil ayah dari anakmu tidak ada yang mendampingimu saat melahirkan seperti orang lain, semoga setelah kamu sadar kamu kuat menjalani semua cobaan ini," kata pak Pajar sambil menggenggam tangan Ayu.
"Iya Mas, kenapa ya cobaan selalu ada saja yang datang menghampiri Ayu," kata Rio menimpali.
"Karena Allah tau Ayu kuat menghadapi semua ujian yang ia berikan, Allah sayang dengan Ayu karena itu ia selalu menguji Ayu," jawab Ria.
"Iya juga ya," kata Rio.
__ADS_1
"Anak anak Ayu bagaimana? Dimana mereka sekarang?" tanya pak Pajar karena ia baru ingat dengan anak Ayu.
"Mereka di rumahku, karena dirumah almarhum pak Fatur tidak ada yang mengurus mereka, semua orang masih berduka jadi aku bawa kerumah Rini yang menjaga mereka," jawab Rio.
Pak Pajar tidak lagi bicara ia terdiam memikirkan bagaimana kehidupan Ayu kedepannya.
"Apa Ayu aku bawa saja kembali tinggal bersamaku lagi ya, aku tidak bisa tenang kalau Ayu hidup diluar mencari nafkah sendiri untuk anak anaknya, ya aku harus membawa Ayu tinggal bersamaku lagi," kata pak Pajar dalam hati. Sementara Ria cemas melihat suaminya melamun karena dokter sudah mewanti-wanti agar pak Pajar tidak boleh banyak pikiran.
"Papa memikirkan apa sih? kok melamun terus," tanya Ria penasaran.
"Kalau Ayu papa ajak tinggal bersama kita, apa mama setuju?" tanya pak Pajar.
"Mama setuju dengan ide papa," jawab Ria.
"Ya sudah kalau Ayu sudah sadar kita bicarakan padanya apa ia mau ikut dengan kita," kata pak Pajar.
"Iya, Pa," jawab Ria.
**
"Ma," kata Ayu menyapa dengan suara lemahnya, bu Sania terkejut mendengar suara Ayu lalu ia melihat kearah Ayu ia melihat Ayu sudah membuka matanya bu Sania membuka mukenanya tadinya sehabis sholat ia mengaji.
"Akhirnya kamu sadar, apa yang kamu rasakan sekarang Nak," kata bu Sania lembut, Ayu terkejut mendengar pertanyaan ibu mertuanya apa lagi sikap ibu mertuanya begitu lembut kepadanya.
"Aku dimana Ma? Dimana Mas Paujan?" tanya Ayu sambil melihat sekelilingnya tapi yang ia cari tidak ada. Bu Sania terdiam mendengar pertanyaan Ayu.
Ayu bingung melihat ibu mertuanya diam saja, lalu ia teringat anaknya dan teringat saat terakhir sebelum ia pingsan. Ayu menangis sejadi-jadinya saat mengingat semuanya Bu Sania berusaha mendiamkan Ayu.
"Kamu harus ikhlas Nak, jangan seperti ini kasihan anak yang ada dikandunganmu," kata bu Sania menasehati Ayu.
__ADS_1
"Antaran kerumah sakit tempat Mas Paujan Ma, aku ingin melihatnya untuk terakhir kalinya," kata Ayu. Bu Sania tidak bisa membendung air matanya mendengar perkataan menantunya pasalnya Ayu sudah empat hari pingsan sedangkan Paujan sudah di kubur empat hari yang lalu.
"Tunggu kamu pulih dulu baru kita kesana," jawab bu Sania.
"Aku sudah pulih Ma, aku sudah kuat mama tidak usah khawatir," kata Ayu tetap ingin pergi.
"Almarhum Paujan sudah dikubur empat hari yang lalu," kata bu Sania akhirnya menjelaskan, Ayu terkejut.
"Kenapa mama tidak membangunkan aku padahal aku ingin melihat mas Paujan untuk terakhir kalinya, kenapa kalian begitu kejam hiks..hiks..hiks," kata Ayu sambil menangis pilu.
"Kamu pingsan sudah empat hari, baru ini kamu sadar, bagaimana mama memberitahumu sedangkan mama juga tidak melihat pemakaman mereka hiks.. Hiks..hiks," kata bu Sania sambil ikut menangis.
Setelah beberapa hari Ayu sudah di perbolehkan pulang, sedangkan pak Pajar sudah pulang ke kampung karena kondisinya yang kurang sehat membuat ia pulang.
Saat ini Ayu dalam perjalanan menuju makam suami dan juga papa mertuanya, sesampainya Ayu di pemakaman tangis Ayu kembali pecah ia tidak kuasa melihat batu nisan yang bertuliskan nama suaminya.
"Mas, Ayu datang, maafkan Ayu baru bisa mengunjungimu, aku rindu padamu Mas, bagaimana aku harus bertemu denganmu Mas, kemana rindu ini ku sampaikan bahkan didalam mimpiku pun Mas tidak mau datang, hiks..hiks..hiks," kata Ayu sambil menangis pilu.
Vania dan bu Sania juga ikut menangis mendengar perkataan Ayu.
"Sudah Nak, ayo kita pulang, nanti kamu sakit nangis terus," kata bu Sania.
Akhirnya mereka pulang setelah selesai berziarah ke makam almarhum Paujan dan almarhum pak Fatur.
Bu Sania tidak mengijinkan Ayu pergi dari rumahnya walau pak Pajar yang meminta, bu Sania juga sudah berubah yang dulunya ia sangat membenci Ayu sekarang ia menyayangi Ayu.
Radit juga sangat bahagia karena ia sekarang sudah bertemu dengan Leo anak pertamanya, Leo juga sudah menerima Radit sebagai papanya.
Hari hari telah berlalu tidak terasa hari ini Ayu melahirkan anak laki-laki yang di beri Rizki Nopandri
__ADS_1
Bu Sania sangat bahagia karena wajah Rizki sama persis seperti papanya rasa rindu bu Sania terobati saat melihat Rizki, bu Sania kembali semangat menjalani kehidupannya setelah Rizki lahir tadinya ia sempat putus asa saat kehilangan anak laki lakinya juga suaminya, begitu juga dengan Ayu ia merasa bisa melihat Paujan saat melihat Rizki.
TAMAT