
Sedangkan bu Sania sudah gelisah karena yang menjemput tidak kunjung datang padahal sudah hampir terang.
"Kak, kok mereka lama sampainya ya?" tanya Ani.
"Kakak juga tidak tau kenapa mereka lama sekali," jawab bu Sania.
"Kita pinjam ponsel pemilik kedai ini saja untuk menghubungi mereka dimana sekarang," kata Ani memberi ide.
"Ya sudah kakak kesana dulu," kata bu Sania. lalu bu Sania mendatangi pemilik kedai.
"Permisi, boleh pinjem ponselnya sebentar mbak," kata bu Sania.
Lalu pemilik kedai itu memberikan ponselnya lalu bu Sania menghubungi suaminya tapi tidak aktif lalu ia menghubungi Paujan juga tidak aktif lalu bu Sania menghubungi Vania baru tersambung.
Vania masih asik bercerita dengan Ayu sampai pagi sambil menunggu orang tuanya kembali sedangkan ponselnya berada di kamar.
Bu Sania sudah mencoba berulang kali menghubungi tapi tidak di angkat akhirnya ia menyerah.
"Bagaimana kak?" tanya Ani penasaran.
"Tidak di angkat," jawab bu Sania.
"Sini ponselnya biar aku menghubungi mas Mirza," kata Ani meminta ponsel pemilik kedai. Bu Sania menyerahkan ponsel itu. lalu Ani menghubungi suaminya.
"Halo, ini dengan siapa ya?" tanya Mirza karena nomor tidak di kenal.
"Ini aku Mas, jemput kami di desa xxxx aku dan kak Sania bla bla bla!" kata Ani menceritakan kejadian nya.
"Ya sudah kalian tunggu di situ Mas segera kesana," jawab Mirza.
"Iya, Mas," ujar Ani. Lalu telepon terputus.
"Bagaiman?" tanya bu Sania.
"Ini Mas Mirza jalan menjemput kita," jawab Ani.
"Kok kakak merasa jantung kakak berdebar dari tadi ya? Apa ada masalah di rumah?" tanya bu Sania.
"Sudah kakak tidak usah memikirkan apa apa, mungkin kakak kelelahan jadi pikiran kakak kemana mana," jawab Ani.
"Mungkin juga," ujar bu Sania.
Sedangkan Radit dan Mirza saat ini dalam perjalanan menuju desa xxxx, saat mereka di tengah jalan ada kemacetan panjang di jalan yang mereka lewati.
"Kok antri panjang ya? tanya Mirza.
__ADS_1
"Mungkin ada kecelakaan di depan," jawab Radit.
"Mungkin juga karena ada banyak mobil polisi," kata Mirza membenarkan. Mereka lama menunggu macet panjang.
**
Sedangkan di rumah pak Fatur saat ini Ayu dan Vania gelisah karena tidak ada kabar dari orang tua mereka, apalagi nomor ponsel pak Fatur dan Paujan tidak bisa di hubungi.
"Kok nomor Abangmu belum juga aktif juga ya?" tanya Ayu dengan rasa cemasnya.
"Mungkin tempat mereka sekarang susah jaringan, karena papa juga tidak bisa di hubungi," jawab Vania mencoba berpikir positif.
Tapi ayu tetap gelisah apalagi semalam pikiran dia tidak enak melepas suaminya pergi.
"Ya Allah jaga suamiku jangan sampai hal buruk terjadi padanya," gumam Ayu berdoa.
**
Sementara itu bu Sania dan Ani sudah gelisah karena yang menjemput tidak kunjung datang.
"Kok mereka belum datang juga ya?" tanya bu Sania.
"Aku juga tidak tau kak," jawab Ani.
"Kakak coba pinjam lagi ponsel pemilik kedai ini," kata Ani.
"Kakak segan, kamu saja yang pinjem kakak kan tadi sudah pinjem," kata bu Sania, terpaksa Ani meminjam ponsel pemilik kedai.
"Mbak, boleh pinjem ponselnya lagi, soalnya yang menjemput kami belum juga datang, nanti kalau mereka sudah datang, aku ganti rugi pulsa mbak," kata Ani.
Lalu pemilik kedai itu memberikan ponselnya kembali, Ani menerimanya lalu menghubungi suaminya.
"Halo," jawab Mirza.
"Halo, Mas, ini aku, mas sudah dimana sekarang? Kok mas lama sampainya?" tanya Ani penasaran.
"Kami masih di jalan, ada kemacetan panjang di jalan xxxx, katanya ada kecelakaan mobilnya masuk jurang, karena itu antri panjang," jawab Mirza.
"Ya sudah kalau begitu, tadinya aku pikir Mas tidak jadi datang seperti mas Fatur di suruh jemput sampai sekarang belum datang," kata Ani.
"Loh, Mas Fatur juga jemput kalian?" tanya Mirza.
"Iya, Mas, malah Mas Fatur lebih dulu di kabari tapi sampai sekarang Mas Fatur belum datang padahal katanya ia langsung pergi," kata Ani bercerita.
"Jangan jangan yang kecelakaan di depan mobil Mas Fatur," kata Mirza menebak. Ani terkejut mendengar perkataan suaminya, tadinya ia tidak sampai kepikiran kalau suami kakaknya terlambat datang karena kecelakaan.
__ADS_1
"Coba Mas cek kedepan," kata Ani.
"Ya sudah aku cek dulu," jawab Mirza lalu memutuskan sambungan teleponnya.
"Bagaimana, dimana Mirza sekarang?" tanya bu Sania.
"Mas Mirza masih di jalan xxxx, di sana macet karena ada kecelakaan," jawab Ani.
"Ya ampun kok banyak sekali cobaan kita mulai dari semalam," kata bu Sania. Ani tidak lagi menjawab ia pergi mengembalikan ponsel pemilik kedai. Setelah itu Ani duduk di dekat kakaknya. Ada kegelisahan di hati Ani mengingat perkataan suaminya tadi.
"Mudah mudahan bukan Mas Fatur yang kecelakaan," kata Ani di dalam hati.
Sementara itu Radit melihat kedepan, sedangkan Mirza menghubungi Paujan, tapi tidak di angkat lalu ia menghubungi Vania.
"Assalamualaikum Pakde," kata Vania setelah mengangkat teleponnya.
"Wa, allaikumsalam, jam berapa papa pergi menjemput mama?" tanya Mirza.
"Aku juga kurang tau pastinya jam berapa Pakde, tapi taksiran sekitar jam dua pagi, memangnya ada apa Pakde?" tanya Vania.
"Tidak ada cuma tanya saja, papa pergi dengan siapa?" tanya Mirza kembali.
"Papa pergi ditemani bang Paujan," jawab Vania.
"Ya sudah pakde tutup dulu assalamualaikum," kata Mirza.
"Wa, allaikumsalam," jawab Vania telepon terputus.
"Kok Pakde aneh ya?" kata Vania bicara sendiri.
Sedangkan Mirza sudah menebak kalau yang kecelakaan itu adalah pak Fatur dan Paujan. Mirza keluar dari mobilnya dan pergi kedepan sesampainya di depan tepat mobil yang masuk ke jurang baru bisa di naikan ke atas, lalu Mirza mendekat, polisi menghalangi Mirza mendekat.
"Maaf Pak, bapak tidak boleh mendekat," kata polisi.
"Saya cuma mau memastikan mobil yang kecelakaan ini mobil saudara saya apa bukan," jawab Mirza.
"Kalau bapak ingin tau tunggu hasil dari rumah sakit, saat ini korban akan dibawa kerumah sakit untuk di visum," kata polisi. Akhirnya Mirza mengalah.
"Kenapa papa begitu ingin tau siapa yang kecelakaan?" tanya Radit.
"Pakde Fatur dan Paujan sudah lebih dulu pergi menjemput mama tapi mereka belum juga sampai, papa takut yang kecelakaan itu adalah Mas Fatur," jawab Mirza. Radit terkejut mendengarnya.
"Lalu apa yang harus kita lakukan, apa kita tidak jadi menjemput mama?" tanya Radit.
"Kamu antar papa kerumah sakit tempat orang yang kecelakaan itu, setelahnya kamu yang pergi jemput mama, papa menunggu di rumah sakit!" kata Mirza. Radit menganggukkan kepalanya, setelah mayat orang yang kecelakan di bawa kerumah sakit, jalan tidak macet lagi, lalu Radit membawa mertuanya kerumah sakit, setelahnya ia pergi ke desa tempat di mana ibu mertuanya saat ini.
__ADS_1