
Mirza gelisah mondar mandir di ruangan tunggu rumah sakit, ia bingung harus mengabari istri Paujan apa tidak karena belum ada penjelasan dari polisi.
Sedangkan Radit saat ini sudah sampai di kedai nasi senyum bu Sania dan Ani mengembang saat melihat mobil yang mereka kenal datang.
"Loh mana papa? Kenapa tidak turun? tanya Ani.
"Papa masih di rumah sakit xxxx Ma," jawab Radit apa adanya Ani langsung paham tidak lagi bertanya sedangkan bu Sania bingung kenapa adik iparnya di rumah sakit itu.
"Apa Mirza mendadak sakit? tanya bu Sania penasaran.
"Sudah kak, ayo kita pulang," kata Ani memotong pembicaraan kakaknya karena ia punya firasat buruk.
Akhirnya bu Sania masuk ke mobil di ikuti Ani juga Radit, lalu Radit menjalankan mobilnya bu Sania heran kenapa mobil mereka berhenti di rumah sakit.
"Apa Mirza berobat di rumah sakit ini?" tanya bu Sania tapi tidak ada yang menjawab Ani dan Radit sama sama diam dan keluar dari mobil, terpaksa bu Sania ikut keluar dari mobil walau ia bingung melihat sikap Radit dan Ani.
Sedangkan Mirza sudah mengetahui kalau mobil pak Fatur yang kecelakaan itu karena polisi sudah men Identifikasi mayat mereka walau sudah tidak di kenali, Mirza menghubungi Wulan dan memberitahu kabar duka itu Mirza juga menyuruh Wulan pergi kerumah pak Fatur mengabari orang yang tinggal dirumah itu juga menyuruh Wulan menyiapkan pemakaman.
Dengan hati sedih Wulan pergi kerumah pakdenya sesampainya di sana melihat Vania juga Ayu dan anak anak Ayu air mata Wulan tidak bisa terbendung ia nangis sesenggukan sambil memeluk sepupunya itu.
"Hai, ada apa kamu menangis? Apa kamu bertengkar dengan Radit?" tanya Vania merasa bingung melihat sepupunya datang tiba-tiba menangis.
Wulan tidak bisa berucap ia semakin mengencangkan tangisnya, Ayu juga mendekat melihat ada orang asing datang menangis memeluk Vania.
"Siapa dia Van?" tanya Ayu penasaran.
"Adik sepupu," jawab Vania.
Wulan memandang mereka satu persatu, lalu ia menarik nafas panjang sebelum berucap.
__ADS_1
"Pakde dan bang Paujan sudah meninggal," kata Wulan ada akhirnya.
"Kamu pasti bercanda ya kan?" tanya Vania minta penjelasan.
"Tidak kak," jawab Wulan, sedangkan Ayu langsung pingsan. melihat kakak iparnya pingsan Vania dan Wulan panik, Vania tidak tau harus bagaimana ia sangat sedih mendengar kabar itu kakinya lemas namun air matanya tidak bisa keluar.
Melihat kakaknya masih syok Wulan segera memangil pembantu untuk menolong Ayu agar di angkat ke kemar, setelah itu Wulan menghubungi Parel.
"Halo, apa kabar Wulan," kata Parel setelah menerima telepon dari Wulan.
"Bang, cepat pulang bla bal bla," kata Wulan menceritakan semuanya. Parel sangat terkejut mendengar kabar itu.
"Ya sudah kalau begitu aku pulang, kamu jaga kakak ya," ujar Parel.
"Iya, kak," jawab Wulan lalu sambungan telepon terputus. Parel buru buru pulang di tengah perjalanan Parel menghubungi keluarganya termasuk pak Pajar.
Pak Pajar sangat sedih mendengar kabar itu, ia mengajak istrinya buru-buru pergi ke kota, ia tau betul anaknya pasti sangat terpukul dengan kepergian suaminya.
"Sudah Mas, nanti Mas sakit kalau terus dipikirkan kita doakan saja agar Ayu kuat menghadapi cobaan ini," kata Ria menasehati. Pak Pajar tidak menjawab ia diam sepanjang perjalanan.
Lain halnya dengan Ika, ia merasa terancam mendengar kabar kematian suami Ayu, apa lagi melihat suaminya yang ada perubahan semenjak ia bertemu Ayu di rumah pak Pajar kemarin Rido semakin dingin kepadanya.
"Aku harus mengawasi bang Rido mulai sekarang, aku tidak mau suamiku sampai meninggalkan aku dan kembali kepada Ayu," kata Ika dalam hati.
Sedangkan bu Sania pingsan saat mengetahui suami dan anaknya sudah meninggal, terpaksa Ani dan Radit bertahan di rumah sakit itu menunggu bu Sania sadar, sedangkan Mirza ikut mobil ambulance membawa jenazah pak Fatur dan Paujan.
Sedangkan Ayu belum juga sadar dari pingsannya ia di bawa kerumah sakit, karena Ayu tidak sadar sadar, rumah pak Fatur sudah ramai orang, kesedihan menyelimuti semua orang yang mengenal pak Fatur juga Paujan mereka terkenal orang baik di sekeliling mereka.
Vania sudah lelah menangis sampai matanya bengkak, Parel setia menemani isterinya.
__ADS_1
"Sudah sayang, kamu jangan nangis terus kasihan anak kita," kata Parel menasehati istrinya sambil mengelus perut istrinya.
"Aku belum siap kehilangan papa juga bang Paujan, hiks.. Hiks..Hiks," kata Vania sambil menangis.
"Iya, Abang juga tau, tapi coba untuk mengikhlaskan mereka agar mereka juga tenang di sana," kata Parel.
Tapi tetap saja air mata Vania tidak henti-hentinya mengalir. Melihat istrinya seperti itu Parel mengelus kepala istrinya.
Saat mobil ambulance sudah sampai semua orang semakin sedih Vania berlari mendatangi mobil ambulance Parel mengikuti dari belakang juga Wulan mereka takut Vania pingsan kembali saat mereka melihat jenazah pak Fatur dan Paujan sudah tidak bisa di kenali Vania nabis kencang ia begitu sedih melihat jenazah bangnya dan papanya Parel memeluk Vania agar berhenti nangis semua orang melihat Vania seperti itu ikut sedih.
"Kakak harus ikhlas, tidak boleh seperti itu," kata Wulan menasehati. Tapi Vania tetap menangis.
Sedangkan bu Sania saat ini sudah sadar, ia memperhatikan tempatnya saat ini.
"Dimana aku, kenapa tempat ini terasa asing ya?" kata bu Sania sambil memperhatikan tempatnya saat ini, Ani mendekat setelah kakaknya sadar.
"Alhamdulillah akhirnya kakak sadar juga," kata Ani sambil menggenggam tangan kakaknya.
"Kenapa aku bisa ada di sini?" tanya bu Sania, tapi seketika ingatannya kembali. Bu Sania nangis kencang.
"Dimana mereka, aku mau kesana melihat suami dan anakku," kata bu Sania turun dari tempat tidurnya.
"Jenazah Mas Fatur dan Paujan sudah di bawa pulang," ujar Ani menjelaskan.
"Kenapa kamu bilang seperti itu, suami dan anakku belum mati, itu pasti mayat orang lain," kata bu Sania tidak terima.
"Kakak harus tenang, tidak baik seperti itu, ayo kita pulang," kata Ani menasehati kakaknya. Akhirnya bu Sania dan Ani pulang di bawa Radit. Sepanjang perjalanan bu Sania melamun terus, rasa sesalnya menyelimuti hatinya mengingat semuanya.
"Kenapa aku harus pergi kemarin ya, apa ini hukuman Tuhan karena aku ingin memisahkan anak dan menantuku, ya Allah ampuni dosa dosaku, aku mohon kembalikan suami juga anakku, aku belum siap kehilangan mereka," kata bu Sania dalam hati, tidak terasa air matanya mengalir.
__ADS_1
Melihat kakaknya bersedih Ani mencoba menenangkan kakaknya.
"Sudah kak, kakak harus ikhlas menerimanya," kata Ani. Tapi bu Sania tidak menanggapinya ia terus melamun sepanjang perjalanan.