Ayu Yang Malang

Ayu Yang Malang
Part 130


__ADS_3

"Kamu siapa? Kenapa ponsel Paujan ada sama kamu, apa kamu mencuri ponsel Paujan ya," kata bu Sania membentak Leo, Leo terdiam ia bertanya-tanya siapa orang yang menghubungi, lalu Leo berkata.


"Tidak mana mungkin aku mencuri ponsel Papaku sendiri," jawab Leo, bu Sania shock mendengar apa yang dikatakan Leo, bu Sania sampai susah manarik napas dia setelah tau Paujan sudah punya Anak.


"Kamu siapa? berapa usiamu," tanya bu Sania karena penasaran.


"Namaku Leo, aku delapan tahun," jawab Leo dengan polosnya.


Bu Sania segera mematikan ponsel dia karena lutut dia sudah lemas, ia tidak menyangka anak yang dia bangga-banggakan selama ini ternyata sudah membohongi dia.


"Kamu tega bohongi Mama Jan, apa Paujan menikah sama orang kampung tempat dia bekerja ya, tapi tidak mungkin karena anak itu mengatakan usia dia sudah lapan tahun, sedangkan Paujan disana baru empat tahun, apa Paujan menghamili teman kuliah dia lalu menikah sama teman kuliah dia, dia sengaja menyembunyikannya takut kalau kami marah," kata bu Sania bicara sendiri menduga-duga.


Sementara itu Leo heran kenapa orang itu mematikan telepon dia tanpa permisi, lalu Leo pergi kekamar orang tuanya untuk memberitahukan, tapi setelah ia masuk kekamar orang tua dia, ia melihat Papa dan Mama dia sudah tidur, karena tidak mau mengganggu Leo meletakkan ponsel Papa dia dimeja yang ada dikamar itu, lalu ia keluar dari kamar orang tua dia, dan pergi kekamar dia sendiri iapun tidur.


Sementara bu Sania tidak bisa tidur memikirkan Paujan yang ia kira sudah punya Anak. Rasa kecewa dia sangat mendalam kepada Anak-anak dia, ia tidak mau memberitahu kepada suami dia, percuma memberitahu pada akhirnya suami dia akan membela Anak-anak mereka, pikir bu Sania.


**


Pagi harinya Leo sudah lupa memberitahu kalau ada yang menghubungi ponsel Papa dia semalam, sedangkan bu Sania pamit kepada suami dia mau pergi ketempat Paujan, sedangkan Paujan berangkat kepuskesmas sambil mengantar Leo kesekolah, setelah mengantar Leo kesekolah Paujan pergi kepuskesmas, sesampainya dia diruangan dia, ia membuka ponsel dia, ia melihat ada panggilan dari Mama dia, ia melihat waktu panggilan itu sama waktu Leo yang memakai ponsel dia.


Paujan jadi gelisah ia takut kalau Mama dia sudah bicara kepada Leo, lalu Leo menceritakan semuanya, Paujan jadi gusar, lalu ia menghubungi Mama dia untuk memastikan pemikiran dia, tapi ponsel Mama dia tidak aktif, ia bisa bernapas lega, ia pikir Mama dia belum tau, Paujan bisa tenang bekerja seperti biasa setelah ia pikir Mama dia belum mengetahui rahasia dia.


"Kalau Leo sudah menceritakan semuanya, Mama pasti menghubungiku dan marah-marah," ucap Paujan meyakinkan dirinya sendiri.

__ADS_1


Sedangkan bu Sania mematikan ponsel dia, karena saat ini dia dalam perjalanan, sepanjang perjalanan bu Sania terus berdoa agar apa yang ia pikirkan tidak terjadi.


**


Sementara itu Rini dan Rio saat ini sedang kedatangan tamu, Rini sangat marah melihat tamu yang datang kerumah mereka, yang datang apalah Weni mantan istri Rio, ia sengaja datang untuk meminta nafkah Anak dia kepada Rio, ia meminta bukan sedikit ia meminta uang banyak untuk biaya Anak dia, tentu saja Rini meradang dibuat ulah Weni.


Karena terus cekcok tidak ada habisnya Rio menghubungi Rido ia memberitahu kepada Rido permasalahan dia saat ini, Rio bukan tidak mau memberikan uang untuk Anak dia, tapi yang diminta Weni sangat banyak itu yang membuat dia tidak sanggup, sementara ia baru bekerja gaji dia juga hanya cukup makan mereka sehari-hari.


Setelah ditelepon Papa dia, Rido datang, melihat Anak mantan suami dia datang, senyum Weni mengembang ia pikir apa yang ia minta akan ia dapatkan.


"Untuk apa anda datang kemari, belum cukup anda membuat keluarga kamu hancur," ucap Rido dengan dana membentak sudah habis kesabaran dia melihat mantan istri Papanya itu.


"Aku datang kesini dengan niat baik, ibumu yang menyambut tidak baik," jawab Weni tidak mau kalah, melihat sikat Weni yang tidak tau malu Rido sangat muak, entah kenapa Papa dia bisa kecantol sama perempuan seperti Weni, pikir Rido.


"Aku datang kesini hanya meminta nafkah untuk adik mu, tapi Papamu tidak mau memberikannya," jawab Weni.


"Itu karena kamu meminta uang yang tidak sanggup aku kasih," jawab Rio.


"Kamu datang kemari hanya untuk meminta nafkah untuk Anakmu, baik aku akan memberikannya, tapi pulangkan semua harta kami yang kau ambil secara licik, kalau tidak aku kembalikan akan menuntut mu, karena harta itu bukan harta Papa saja harta itu masih ada hak Mama ku juga hakku karena pengadilan sudah membaginya, tapi kami belum mengambil dari Papa agar Papa bisa hidup berkecukupan," kata Rido panjang lebar agar Weni paham.


Rio merasa tertampar mendengar apa yang disampaikan Rido, selama ini Rio tidak membagi harta mereka karena Rido yang tidak mau menerima, ia baru tahu alasan anak dia tidak mau menerima harta itu saat ia bagi, dulu dia beranggapan kalau Rido tidak mau menerima juga Rini, sebab mereka marah.


Sementara Weni takut saat Rido mengancam dia, ia tidak lagi arogan seperti tadi, Rido memberi uang nafkah untuk adik dia, Weni menerimanya lalu pergi, setelah Weni pergi, Rio memeluk Rido ia meminta maaf atas kesalahan dia.

__ADS_1


"Maafkan Papa Nak, karena ulah Papa kamu sama Mama tidak dapat harta gono-gini, semua habis dijual Weni, Papa tidak menyangka kalau Weni mengambil secara curang," ucap Rio menyesali perbuatan dia.


"Sudah Pa, tidak usah meminta maaf, sekarang yang Rido minta Papa harus membahagiakan Mama, jangan ada lagi perpisahan diantara Papa dan Mama," pinta Rido memohon.


"Iya Nak, Papa janji akan membahagiakan Mamamu," jawab Rio.


**


Sementara itu bu Sania sudah sampai dikampung tempat Paujan tugas, lalu ia pergi kerumah Paujan, saat didekat rumah Paujan ia bertemu dengan tetangga Paujan lalu ia bertanya,


"Permisi, maaf mengganggu boleh saya bertanya?" kata bu Sania.


"Boleh Bu, Ibu Mamanya Dokter Paujan ya?" tanya tetangga Paujan karena ia pernah melihat bu Sania datang kerumah Paujan sebelumnya.


"Iya saya Mamanya Paujan, saya mau tanya Anak saya dimana ya?" tanya bu Sania biasa-biasa memulai pembicaraan dia.


"Dokter Paujan ada dipuskemas," jawab tetangga Paujan.


"Jadi tidak ada orang dirumah," kata bu Sania ingin tau.


"Istri Dokter Paujan ada dirumah dia tidak pernah kemana-kemana," jawab tetangga Paujan.


Jawaban tetangga Paujan membuat bu Sania emosi, apa yang ditakutkan dia menjadi kenyataan.

__ADS_1


__ADS_2