
Pagi harinya ada kecanggungan di antara mereka karena masalah semalam, sedangkan Rido mencoba mendekat kepada Adnan juga Adela, tapi mereka seolah memberi jarak kepadanya hal itu membuat Rido semakin sedih.
Sedangkan Ika selalu memantau pergerakan suaminya takut kalau Rido mendekati Ayu, atau Ayu mendekati Rido.
Ayu sungguh tidak nyaman dengan situasi saat ini, ia jadi serba salah.
"Pa, aku mau pergi ke makam almarhum kakek dan almarhum Nenek," kata Ayu pamit.
"Iya, makam Nenek bersebelahan dengan makan kakek," ujar pak Pajar memberitahu karena ia tau Ayu belum pernah ke makam almarhum bu Aini.
"Iya, Pa," jawab Ayu. Lalu Ayu pergi ke makam almarhum pak Rahmat dan bu Aini.
Sesampainya di sana Ayu kembali menangis mengingat saat bersama kakeknya.
"Kek, Ayu datang, maafkan Ayu baru bisa datang sekarang," ujar Ayu sambil meraba batu nisan yang bertuliskan nama kakeknya.
"Sudah sayang, jangan nangis lagi, lebih baik kita doakan saja almarhum kakek," kata Paujan menasehati Ayu. Ayu menganggukkan kepalanya.
Sedangkan anak anak Ayu tinggal di rumah bersama pak Pajar.
Rido mengajak Adnan dan Adela bermain tapi mereka tidak mau, lalu Rido bertanya.
"Kenapa kalian tidak mau main bersama papa?" tanya Rido penasaran.
"Nanti anak papa marah," jawab Adnan polos. hati Rido sakit mendengarnya padahal mereka anak kandungnya.
**
Sedangkan bu Sania saat ini pergi kerumah adiknya, ia menceritakan Paujan sudah menikahi janda beranak tiga, tentu saja adiknya terkejut mendengar kabar itu.
"Kok Paujan mau nikah sana janda anak tiga, takutnya Paujan di pelet sama perempuan itu," ujar Ani mertua Radit.
"Iya aku juga kepikiran seperti itu, tapi aku tidak tau harus bagaimana memisahkan mereka," kata bu Sania mengeluh.
"Kita cari para normal saja kak," kata Ani memberi ide.
"Apa ada kenalan mu normal?" tanya bu Sania.
"Tidak sih, nanti aku tanya temanku mana tau mereka tau di mana ada para normal," jawab Ani.
__ADS_1
"Aku tunggu kabar darimu," ujar bu Sania.
"Iya, kalau aku sudah dapat, aku akan segera memberitahu kakak," kata Ani.
"Ya sudah kalau begitu kakak pulang dulu," kata bu Sania pamit.
"Iya, kak," jawab Ani. Bu Sania pulang kerumahnya sedangkan Ani menghubungi temanya menanyakan dimana ada para normal.
Radit mendengar semua cerita mertuanya ia jadi kepikiran apa yang dikatakan mereka Ayu ibu anaknya atau orang lain.
"Ya Allah kalau memang Ayu yang dikatakan mereka adalah ibu dari anakku, aku bahagia akhirnya Ayu menemukan laki-laki yang baik untuknya, aku yakin bang Paujan orangnya baik, aku juga berharap bisa bertemu dengan anakku kalau memang Ayu istri bang Paujan," gumam Radit.
"Mas kenapa melamun dari tadi?" tanya Wulan.
"Aku kepikiran cerita bude Sania," jawab Radit.
"Emang bude cerita apa?" tanya Wulan merasa penasaran.
"Bukan cerita ke Mas, tapi cerita ke ibu, bang Paujan sudah menikah dengan janda anak tiga, namanya Ayu, anaknya juga sama seperti nama anak Mas Leo, Mas kepikiran kalau mereka orang yang sama dengan Ayu masa lalu Mas," jawab Radit jujur.
"Kalau Mas, ingin tau biar aku hubungi bang Paujan," ujar Wulan.
"Tidak Mas, kalau memang betul Ayu adalah masa lalu Mas, aku akan ikhlas menerimanya, asalkan Mas berjanji tidak akan berusaha merebut Ayu dari bang Paujan dan Mas harus janji melupakan Ayu dari hati Mas," jawab Wulan panjang lebar.
"Terimakasih kamu sudah mengijinkan Mas bertemu dengan anak Mas, Mas janji tidak akan mencintai Ayu lagi, bantu Mas agar bisa melupakan Ayu," kata Radit sungguh sungguh.
"Iya Mas, aku akan berusaha membantu Mas melupakan Ayu dari hati Mas," jawab Wulan mencoba bijak.
"Tapi kenapa setiap aku bertemu dengan Diba kamu selalu keberatan? tanya Radit.
"Beda Mas, aku tidak pernah keberatan Mas bertemu dengan Diba, aku hanya tidak suka melihat ibunya Diba, Mas tau sendiri bagaimana kelakuan ibunya Diba, tidak pernah ibunya Diba menghargai aku Mas Ika seolah anak orang paling terkaya di dunia ini padahal ia orang kampung yang hidup pas pasan kalau tidak karena bang Rido menikahinya tidak mungkin dia semewah itu, sekarang Ika begitu belagu," kata Wulan dengan nada marah mengingat bagaimana kelakuan Ika terhadapnya.
"Sudah tidak usah dibahas lagi, nanti kamu tambah sebel kepadanya," ujar Radit mencoba menasehati istrinya.
"Kenapa sih Mas selalu membelanya," kata Wulan protes.
"Mas tidak membelanya, ya sudah kamu hubungi bang Paujan," kata Radit mengalihkan pembicaraan mereka agar tidak ada perdebatan.
"Iya," jawab Wulan. Lalu Wulan menghubungi Paujan.
__ADS_1
"Assalamualaikum," kata Paujan setelah mengangkat telepon dari Wulan.
"Wa, allaikumsalam, bagaimana kabarnya bang?" jawab Wulan sekalian bertanya basa.
"Baik, kalian kabarnya baik juga kan?" jawab Paujan sekalian bertanya balik.
"Iya, bang, kata bude Abang sudah menikah, kok abang tidak ngundang kami waktu nikahan?" tanya Wulan lagi.
"Pernikahan Abang mendadak jadi tidak sempat ngundang kamu," jawab Paujan dari sebrang sana.
Dengan ragu ragu akhirnya Wulan bertanya.
"Bang, tadi bude cerita kalau istri abang janda anak tiga, aku boleh tanya gak?" ujar Wulan.
"Kamu mau tanya apa saja boleh gak usah sungkan Abang ini bukan orang lain," jawab Paujan.
"Begini bang, nama istrinya Abang dan nama anak tiri Abang sama dengan masa lalu bang Radit, apa Abang bisa kirim foto istri abang biar bisa bang Radit lihat," kata Wulan. Setelah mengatakan itu Wulan bisa bernafas lega karena dari tadi ia seakan sudah bernafas saat ingin bertanya.
Sontak Paujan terkejut mendengar perkataan Wulan selama ini ia tidak pernah bertanya siapa ayah dari anak anak Ayu, ia baru tau kalau Leo anak Radit kalau Adela dan Adnan Ayu cerita siapa ayahnya tapi kalau Leo Ayu tidak pernah cerita siapa ayahnya ia juga tidak pernah tanya karena sungkan.
"Nanti saja Abang tanya langsung kepada istri abang, nanti abang kabari secepatnya kalau Abang sudah tanya isteri Abang," ujar Paujan.
"Ya sudah kalau begitu aku tutup dulu teleponnya Assalamualaikum," ujar Wulan.
"Wa, allaikumsalam," jawab Paujan dari sebrang sana.
"Bagaimana mana?" tanya Radit penasaran.
"Kata bang Paujan nanti saja di kabari, tunggu ia tanya dulu istrinya," jawab Wulan apa adanya.
Radit terdiam ia merasa kecewa karena ia ingin tau secepatnya tapi ia tidak mungkin mengatakan kekecewaannya kepada istrinya takut Wulan salah paham.
"Kenapa Mas diam? Apa Mas kecewa karena belum tau pasti istri bang Paujan masa lalu Mas atau tidak," kata Wulan menebak.
"Bukan, Mas cuma kepikiran apa Leo mau menerima Mas sebagai papanya kalau sudah tau aku papanya," jawab Radit beralasan.
"Mas tidak usah terlalu memikirkannya, kita doakan saja, semoga anak Mas mau menerima Mas sebagai papa kandungnya," kata Wulan.
"Iya juga," jawab Radit.
__ADS_1