
Davin menerima nya dengan menangis tanpa suara. Ia duduk di ranjang tempat dulu Abah dan Umi nya tidur dengan memeluk album foto tersebut.
Begitu Pak lek Rohim keluar kamar, ia tidak bisa membendung tangisannya. Ia menangis tersedu-sedu sambil memeluk album foto orang tua kandung nya.
Ia tidak perduli jika di katakan laki-laki cengeng atau sebagai nya. Rasanya benar-benar sakit seperti di tusuk belati hingga berdarah-darah. Mungkin inilah yang selama ini di katakan orang sakit tapi tidak berdarah.
Pak lek Rohim memang sengaja memberikan Davin ruang dan waktu untuk mengenal sosok orang tua nya. Terlebih lagi apa yang ia katakan memang benar adanya.
Sepeninggalan Pak lek nya, Davin masih menangis sejadi-jadinya di dalam kamar Abah dan Umi nya. Hampir satu jam lebih ia menangis hingga air matanya kering dan memerah serta bengkak dan sembab.
Ia membuka album foto tersebut dan tersenyum dengan melihat foto bahagia orang tuanya dari pernikahan mereka dan saat Umi nya hamil.
"Umi cantik banget waktu hamil aku! Wajah Umi bahagia banget di foto ini! Walaupun kita tidak pernah bertemu bertatap muka, Davin sangat menyayangi Umi! Abah juga terlihat begitu mencintai Umi! Davin bahagia lahir dari orang tua seperti kalian! " ucap Davin dengan mengusap pelan foto Abah dan Umi nya.
Ia juga mengusap air mata yang meleleh di pipinya melihat foto-foto lain orang tuanya dan foto-foto bersama Amay mulai dari bayi hingga terakhir foto mereka menghadiri wisuda Amay dua tahun sebelum kecelakaan terjadi.
Ia mengambil sebuah foto yang menurutnya sangat bagus karena di foto tersebut kedua orang tuanya berpelukan berangkulan berdua dengan tersenyum manis menatap kamera.
Ia menciumi foto tersebut sambil menangis terisak dan memeluk foto itu dengan meletakkannya di dalam dadanya.
Davin berbaring seraya memeluk foto tersebut dan akhirnya ketiduran dengan sendirinya.
Bulek terhenyak dengan pengakuan Aulia saat Davin hampir menabrak dirinya karena frustasi dan kecewa yang ia alami.
"Ya Allah... Kasihan sekali Davin.. ! Pasti sangat berat melalui semua ini, terlebih lagi Kang Eman dan Mbak Izah juga sudah meninggal dunia! Pasti ia merasa jika dunianya runtuh seketika dan hancur berkeping-keping! " ucap Bulek Saroh dengan wajah prihatin.
__ADS_1
"Iya Bulek... Apa yang Bulek katakan memang benar! Walau bagaimana pun juga Mas Davin hanya manusia biasa yang juga punya rasa sakit dan kecewa! Aulia saja tidak sanggup jika berada di posisi Mas Davin! " sahut Aulia juga dengan sangat bersimpati.
Percakapan mereka terhenti dengan suara salam dari depan oleh Haura dan Haikal yang baru pulang sekolah.
"Loh, ada Kak Aulia?? Kapan kakak datang?? Itu di depan mobil kakak ya?? " ucap Haura kaget dan terlihat sangat senang.
"Baru beberapa jam yang lalu! Itu bukan mobil kakak, tapi mobilnya Mas Davin! " jawab Aulia dengan tersenyum kecil.
"Mas Davin?? Maksudnya kakak, Mas Davin anak Pakde Eman dan Bude Izah gitu?? " tanya Haikal angkat bicara.
"Iya... Emangnya kenapa??? " jawab Aulia dengan mengangguk dan bertanya balik.
"Gak kenapa-napa! Terus Mas Davin nya di mana? Ikal pengen ketemu! " jawabnya santai.
"Di rumah Pakde kalian sono! " sahut Umi nya.
πΎπΎπΎ
Hari berlalu setiap harinya hingga sudah menjadi satu minggu. Selama itu pulalah Davin tinggal di rumah mendiang orang tuanya. Ia mengisi hari-harinya belajar ilmu agama, memperbaiki ibadahnya karena ingin mendoakan kedua orang tuanya. Ia masih belum siap untuk berziarah ke makam kedua orang tuanya karena masih belum kuat jika bertemu langsung nisan nama orang tuanya.
Sedangkan Aulia sudah pulang ke Jakarta dua hari yang lalu dengan di jemput sopir suruhan Amay.
Davin belajar ilmu agama dengan Pak lek nya langsung dan dengan Ustadz Farhan yang menjadi saksi saat Amay dan Izam menikah di Pondok pesantren ini.
Semua Ustadz dan Ustadzah sudah mengetahui siapa Davin dan mereka memberikan support dan semangat agar selalu kuat dan ikhlas menerima takdir yang Allah tetapkan untuk nya.
__ADS_1
Ia juga akrab dengan adik sepupu nya Haikal dan Haura meskipun mereka sering bertemu dulu waktu sebelum resepsi nya Amay dan Izam.
"Mas, ayo buruan! Nanti kita ketinggalan sholat berjamaah nya! " teriak Haikal dari pintu depan.
"Iya sebentar! Lagi pakai baju ini! " jawab Davin setengah jengkel di desak cepat-cepat oleh adiknya itu.
"Makanya Mas, tidur itu gak usah larut malam! Jadinya kan telat bangun subuh! " ucap Haikal sok menasehati kakak sepupunya.
"Dih, sok alim! Kamu yang bangun telat! Mas telat kan gara-gara kamu yang kelamaan nongkrong di kamar mandi! " omel Davin dengan menoyor pelan kepala adiknya itu.
"He.. He.. He.. ! Abisnya perut Ikal mules banget! Semalam kebanyakan makan sambel goreng yang di bikin Mbak Lastri! " jawab Haikal cengengesan.
"Dah yuk buruan ke masjid! Nanti kita beneran telat lagi! " ucap Davin dengan menutup pintu rumah.
Haikal tinggal di rumah ini bersama Davin karena Davin tidak ingin tinggal sendirian saja. Alhasil mereka tidur di kamar yang berbeda karena Haikal memutuskan untuk tidur di kamar yang satunya di sebelah kamar Amay.
Mereka berjalan menuju masjid dengan saling bercanda dan saling mengejek satu sama lain sambil kejar kejaran.
Setelah selesai sholat subuh di masjid, ia langsung masuk ke kamar Abah dan Umi nya dengan menyapa foto Abah dan Umi nya yang sengaja ia bingkai dan di letakkan di atas meja.
"Assalamualaikum Abah dan Umi... ! Maaf jika Davin belum siap berziarah ke makam Abah dan Umi! Davin sangat menyayangi kalian berdua! Semoga kita semua berkumpul bersama di surga nya Allah... Aamiin.. ! " ucapnya di depan foto orang tuanya.
Bersambung...
Selamat membaca dan selamat beraktivitas readers ku semuanya...
__ADS_1
Semoga hari kalian menyenangkan ππ..
Jangan lupa untuk jaga kesehatan ya...