Bidadari Surga Untuk Penjual Kebab Yang Tajir

Bidadari Surga Untuk Penjual Kebab Yang Tajir
Kisah masa lalu


__ADS_3

Setelah berkata-kata dengan kata-kata yang pedas dan menyakitkan, Bude Maryam pergi dari hadapan mereka begitu saja tanpa meminta maaf ataupun mengucapkan salam.


"Astaghfirullah hal adzim ya Allah... Kok ada ya orang yang seperti itu! " ucap Amay beristighfar sambil mengusap dadanya.


"Ayo sayang kita masuk! " ajak Izam yang langsung menarik tangan Amay masuk ke dalam rumah.


"Loh, belanjaan kita mana, Bang? " tanya Amay dengan wajah agak panik.


"Udah Abang bawa masuk waktu kamu ngobrol dengan ibu-ibu yang di depan tadi! " jawab Izam dengan enteng nya.


"Emang nya abang gak kenal dengan ibu-ibu tadi? " tanya Amay agak curiga.


"Nggak? "


"Tau gak kalau ibu-ibu tadi namanya Bude Maryam? "


"Nggak tau juga! "


"Beneran??? "


"Wallahi, Tallahi, Billahi... Nggak sama sekali! " jawab Izam dengan tegas.


"Amay percaya Abang! " jawab Amay dengan tersenyum lega.


"Ayok kita masuk! " ucap Amay dengan menggandeng lengan suaminya.


Mereka masuk ke dalam rumah dengan bergandengan tangan. Dan Amay langsung ke dapur dan menata barang belanjaan mereka di kulkas dan karena sudah hampir menjelang siang, Amay memutuskan untuk memasak makan siang.


"Sayang, kamu mau masak makan siang sekarang? " tanya Izam yang melihat Amay memilah sayuran dan bumbu-bumbu nya.


"Iya Bang! Lihat udah hampir jam 11, mendingan Amay langsung masak aja biar pas selesai sholat dzuhur bisa langsung makan. Emang nya abang suka makan yang baru matang ya? "tanya Amay balik.


"Suka lah, apalagi masak mie rebus mantap makannya panas-panas. Lagian abang ngeri kalau makan mie rebus nunggu dingin, mie nya gede-gede hampir menyerupai besarnya cacing! Iihh geli... " jawab Izam dengan bergidik jijik.


"Dih Abang?? Maksud Amay itu bukan masak mie Abang??? Makanan kayak lauk pauk dan sayuran gitu!! " ucap Amay dengan sebel kepada suaminya.


"Ha... Ha... Ha.. Lucu sih lihat kamu marah-marah kayak gitu! Pipi nya makin menggembung dan kening berkerut-kerut! " jawab Izam dengan terkekeh-kekeh.


"Dasar Abang nyebelin! " ucap Amay kesal.


"Iya, iya... Jangan ngambek gitu, bikin gemes aja Abang liatnya! Abang kurang suka makan dengan lauk dan nasi semuanya panas. Jika nasinya panas lauk dan sayurnya harus tidak panas biar seimbang, jadi gak perlu kipas-kipas lagi atau di tiup. Begitu pula sebaliknya, jika lauk pauk dan sayurnya panas, nasinya harus dingin. Begitu??? Paham, sayang?? " sahut Izam lagi dengan serius.


"Oh gitu, paham Bang! "jawab Amay dengan tersenyum kecil.


Amay pun melanjutkan memasak nya dengan di temani Izam yang duduk sambil mengajaknya ngobrol, kadang mereka tertawa dan terkadang ngambekan karena Izam senang sekali mengusili istrinya itu.


Tiga puluh menit waktu yang di perlukan Amay berjibaku dengan peralatan masak. Goreng ikan gurame dengan saos padang, cah kangkung ikan teri medan, tempe mendoan ala Amay dan buah potong yang di potong Izam sambil menemani Amay memasak.


"Abang mau langsung pergi ke masjid apa mau mandi dulu? " tanya Amay ketika sedang menata makanan di meja makan.

__ADS_1


"Mandi lah, biar segeran mau sholat! Lagi pula kita kan baru pulang dari pasar, banyak kuman yang menempel! Masa mau ketemu Allah pakai pakaian yang bau keringat sama bau pasar! " jawab Izam dengan santainya.


"Bagus!! Seratus buat Abang! " ucap Amay dengan memberikan jempolnya.


"Kayak ikutan cerdas cermat aja nilainya seratus! " sahut Izam sambil mencomot tempe mendoan.


"Kan Abang emang cerdas jawab nya! " ucap Amay lagi.


"Ya udah, Abang mau mandi dulu! Nanti telat lagi jamaah di masjid nya! " kata Izam sambil berlalu masuk ke dalam kamar mereka.


Selepas Izam pergi, Amay segera menutup makanan di meja makan dengan tudung saji agar tidak di hinggapi lalat.


Ia masuk ke dalam kamar untuk menyiapkan pakaian suaminya yang akan sholat dzuhur berjamaah di masjid pesantren.


Setengah jam kemudian Izam keluar dari kamar mandi dan melihat istrinya sudah menyiapkan sarung, baju koko, dalaman dan peci di atas tempat tidur. Izam tersenyum senang melihat semua itu, ia memakai pakaian yang telah di siapkan istrinya dengan hati yang riang.


Izam menemui istrinya yang sedang menonton acara televisi di ruang tengah.


"Sayang, Abang pergi sholat dulu ke masjid! Kalau kamu lapar, silahkan makan duluan! " pesan Izam ketika menghampiri istrinya.


Amay menganggukkan kepalanya dan meraih tangan Izam mencium punggung tangan suaminya dengan takzim. Seketika hati Izam menghangat dan jantung nya berdebar dengan kencang melihat betapa santun dan hormat istrinya itu kepadanya.


Izam tersenyum lebar begitu keluar dari rumah yang ia dan istrinya tinggali ini. Ia berjalan ke masjid dengan hati yang riang dan senang, ia bahkan sampai bersenandung lirih yang hanya ia sendiri yang mendengarnya.


Di rumah, Amay segera mandi setelah suaminya pergi ke masjid. Ia tidak percaya diri berada di dekat suaminya jika bau bawang begini, lagipula ia juga mau sholat dzuhur. Jadi ia harus membersihkan diri agar wangi jika suaminya berdekatan dengan dirinya.


Setelah selesai sholat, Amay menunggu suaminya di ruang tengah sambil menonton televisi. Tiba-tiba ia teringat perkataan Bude Maryam yang mengatakan jika suaminya laki-laki miskin yang menjalin hubungan dengan keponakannya.


"Ah, lebih baik nanti aku tanyakan aja dengan Abang, setelah makan siang! Biar gak penasaran kayak gini! " putus Amay dengan yakin.


Lima belas menit kemudian, Izam pulang dari masjid dan kaget mendapati istrinya sedang tertidur dengan posisi duduk di sofa dan televisi yang masih menyala.


"MasyaAllah sayang? Kamu kok tidur di sini? Kenapa gak tidur di kamar aja? " ucap Izam sambil mengusap lembut rambut kecoklatan Amay.


"Tadi Amay nonton TV Abang? Gak tahu kenapa mata nya berat banget jadinya ketiduran di sini! Ayok Bang kita makan dulu! " jawab Amay sambil berdiri tegak.


"Loh, kamu belum makan sayang? Ya ampun, nanti kamu kena maag loh kalau telat makan! " ucap Izam dengan wajah terkejut.


"Amay gak punya riwayat maag Abang! Amay sengaja nungguin Abang pulang, seperti almarhumah Umi yang selalu menunggu Abah pulang dulu baru mereka makan sama-sama. Amay juga pengen kayak gitu, makan sama-sama dengan suami! " jawab Amay sedikit malu-malu.


"Adu du duh... Manis nya istri Abang! Ya udah yok, kita makan sekarang! " ajak Izam dengan menarik tangan Amay berjalan ke meja makan.


Izam makan dengan lahap dan Amay senang sekali melihat suami memakan masakan nya dengan begitu nikmat. Walaupun masakan ini tampak sederhana, namun sangat pas di lidah Izam yang begitu sensitif dengan rasa.


"Alhamdulillah, nikmat sekali! Abang suka dengan rasa makanan yang istri Abang masak! Rasanya pas banget di lidah dan bikin Abang meningkat nafsu makan nya! " puji Izam benar-benar dari hatinya.


"Alhamdulillah, Amay seneng dengernya! " jawab Amay dengan tersenyum lega.


Amay dengan segera berdiri hendak membereskan piring bekas mereka makan.

__ADS_1


"Gak usah kemana-mana! Duduk aja di sini! Biar Abang yang melakukannya! " ucap Izam langsung menarik tangan Amay dan mendudukkan nya di kursi mereka makan.


Izam dengan cekatan membereskan semuanya dan menaruh nya di tempat pencucian piring. Amay agak kaget melihat reaksi suaminya yang membantu nya mencuci piring.


"Biar Amay aja, Bang! Kan udah tugas Amay sebagai istri Abang! " ucap Amay ikut menyusul Izam ke dapur.


"Siapa bilang ini tugas Amay! Itulah yang orang sering salah persepsi. Tugas seorang istri itu sebenarnya mematuhi perintah suami, tanya aja sama Pak ustadz kalau gak percaya. Mengerjakan pekerjaan rumah itu tugas seorang suami, tapi karena suami sibuk mencari nafkah, maka semuanya di bantu oleh seorang istri. Tugas istri yang kedua yaitu mendidik anak-anak nya menjadi anak-anak yang soleh dan solehah, karena seorang ibu itu adalah madrasah pertama anak-anak nya! Dan masih banyak lagi tugas seorang istri yang bisa nanti Amay tanya kan dengan Bulek Saroh! " jawab Izam sambil mencuci piring.


Amay semakin kagum dengan pemikiran suaminya, walaupun bukan seseorang yang berkecimpung di dunia pesantren, tapi pengetahuan suami cukup membuatnya terkesima.


"Kok bengong? " tanya Izam begitu ia menoleh ke arah istrinya.


"Abisnya Abang keren banget! Amay gak nyangka jika pengetahuan Abang tentang rumah tangga luas banget! Jadi terhura! " jawab Amay dengan senyuman lebar.


"Siapa bilang pengetahuan Abang luas, pengetahuan Abang itu masih sedikit, masih harus belajar. Lagian semua yang Abang katakan tadi juga baru Abang tahu ketika di kasih tausiah sama Pak lek Rohim sebelum kita menikah! " ucap Izam membuka rahasianya.


"Jadi Abang baru tahu waktu sebelum kita nikah? " tanya Amay tidak percaya.


"Ehemmm.. " jawab Izam menganggukkan kepalanya.


"Iisshhh Abang! Kirain emang udah tahu ilmu nya dari dulu! " Amay mencebik sebel.


"Ha... Ha.... Ha.... Gimana mau tahu, wong Abang baru pertama kali nikah. Ya baru tahu lah! Kecuali Abang seorang duda, gak mungkin Abang gak tahu ilmu pernikahan. Tapi, ada juga orang yang tidak mau tahu tentang ilmu dalam berumahtangga. Seperti seorang suami yang dzalim terhadap istrinya, dan ada juga istri yang durhaka kepada suaminya dengan membantah semua nasihat dan teguran suaminya. Jadi ilmu berumahtangga itu tidak hanya harus di pelajari oleh suami saja, tapi juga harus di mengerti dan di pahami oleh istri. Sehingga akan menciptakan rumah tangga yang bahagia dunia akhirat, sakinah mawaddah dan warahmah. " ucap Izam panjang lebar dengan di iringi kekehan nya.


"Amay paham Bang! Amay juga akan belajar lagi bagaimana menjadi istri yang baik dan ibu yang baik untuk anak-anak kita nanti! " sahut Amay penuh semangat.


"Kita belajar sama-sama ya sayang! Mudah-mudahan rumah tangga kita selalu aman dan jauh dari segala macam bala, diberkahi dan di Ridhoi Allah SWT. " ucap Izam lagi dengan penuh harapan.


"Aamiin ya Rabbal alamiin... " Amay mengamini doa suaminya.


Setelah selesai mencuci piring, Amay dan Izam pergi ke ruang tengah untuk duduk menonton televisi sambil menghabiskan waktu menjelang Asar tiba.


"Bang, Amay boleh tanya gak? " ucap Amay dengan hati-hati.


Izam yang sedang merangkul istrinya itu hanya berdehem tanpa melepaskan pandangannya dari televisi yang ada di hadapannya.


"Mau tanya apa sih, sayang! " jawab Izam santai.


"Abang jangan marah ya? " ucap Amay lagi yang membuat Izam mau tidak mau melihat ke arah istrinya.


Amay menggigit pelan bibirnya karena ia agak takut untuk bertanya masalah yang agak sensitif ini, tapi ia tidak bisa memendam rasa penasarannya akan masa lalu suaminya sebelum mereka menikah.


"Bo-boleh gak aku tahu tentang masa lalu Abang sebelum kita menikah?? " ucap Amay terbata-bata dengan wajah menunduk.


Bersambung...


Maaf karena kehidupan nyata othor begitu padat dan sempat membuat othor kewalahan, sehingga othor belum bisa maksimal Update setiap hari. Tidak gampang rupanya menjadi seorang single parent yang merawat anak yang masih kecil sambil menjadi seorang tulang punggung untuk keluarga kecil othor.


Mohon dukungan dan doa nya agar othor selalu di beri kesehatan dan kekuatan dalam menjalani takdir ini.

__ADS_1


Selamat membaca readers ku tercinta...


__ADS_2