
"Eh Jeng Lia !!! " panggil seseorang dengan suara kencang.
Mama Lia dan Amay menghentikan langkah mereka sejenak dan mencari sumber suara yang memanggil dengan keras tadi. Begitu melihat siapa yang manggil membuat mood dan raut wajah Mama Lia seketika sebel dan malas.
"Ya ampun... Jadi ini beneran Jeng Lia?? Saya kira tadi salah lihat orang! " ucap nya seraya mendekat dengan raut wajah meremehkan.
"Emang mata Jeng aja yang sudah mulai rabun! " jawab Mama Lia dengan santainya.
Perempuan yang menegur tadi langsung berwajah masam mendengar jawaban Mama Lia. Ia lalu kembali berbasa-basi layak nya teman akrab yang baru saja ketemu.
Mama Lia hanya diam saja dan tidak terlalu menanggapi nya sehingga membuat perempuan itu menjadi kesal dan langsung mengeluarkan kata-kata yang membangkitkan emosi Mama Lia.
"Sombong banget sih Jeng! Masa saya ngomong dari tadi gak di tanggapin, emangnya saya ini patung! Pantas aja si Izam sampai sekarang gak laku-laku! Percuma aja ganteng kalau jadi bujang lapuk! Emaknya aja modelan gini! " ucapnya kesal dan menghina Izam.
"Emang saya yang suruh kamu nyerocos gak penting kayak kereta api gitu?? Dekat aja gak sok kenal banget kamu sama saya, sok akrab banget! Mau Izam laku kek, mau gak kek, gak ada urusannya sama kamu! Urus aja anak kamu yang gak bener itu! Gak usah ngurusin anak saya! Ngurus satu anak aja gak becus, pakai menghina anak saya pula kamu! Ayo sayang kita pergi! Bisa kurapan Mama lama-lama bertemu orang kayak gini! " jawab Mama Lia menohok sambil menggandeng lengan Amay menjauh dari perempuan tadi.
"Sialan! Kurang ajar kamu Jeng! Awas aja, saya pastikan si Izam itu bertekuk lutut dengan anak saya! " pekik perempuan itu dengan penuh amarah.
"Coba aja kalau anak kamu itu bisa! " jawab Mama Lia dengan tersenyum mengejek.
"Ayo, sayang! " ajak Mama Lia mempercepat langkah nya.
Mereka pun keluar dari gedung rumah sakit menghampiri mobil yang sudah menunggu di parkiran.
Selama perjalanan pulang mereka diam seribu bahasa, Amay tidak berani menegur Mama mertuanya dengan wajah Mama Lia yang masih terlihat bete.
"Pak! Mampir ke Amanda bakery ya ! " ucap Mama Lia kepada Pak Mat.
"Baik Nyah ! " jawab Pak Mat patuh.
Pak Mat segera menepikan kendaraanya begitu melihat ruko yang di sebutkan oleh majikan nya itu.
"Pak, pulang aja dulu! Saya agak lama di sini, ntar Pak Mat kelamaan nunggu nya! Lagi pula kan sebentar lagi waktunya jam makan suang! " ucap Mama Lia dengan ramah.
"Baik, Nyah! Kalau gitu saya pamit pulang duluan! Kalau Nyonya mau pulang kasih tau saya biar saya jemput! " jawab Pak Mat patuh.
"Oke Pak! Ayo sayang, kita masuk ke dalam! " ajak Mama Lia begitu mereka keluar dari mobil.
__ADS_1
Mama Lia dan Amay berjalan memasuki ruko tersebut, begitu pintu otomatis nya terbuka, Amay langsung dibuat kagum dengan apa yang ada didalam ruko tersebut.
"Subhanallah Ma, ternyata didalamnya luas banget! Padahal Amay kira tadi bakery ini sama seperti bakery yang lainnya yang hanya menjual cake! Tapi di sini menjual berbagai macam makanan, bahkan ada kedai ice cream nya lagi! " ucap Amay berdecak kagum.
"Kamu persis kayak Mama waktu di ajak teman Mama datang kesini! Ternyata tampilan luar tidak mencerminkan isi dan kualitas nya! Buktinya dari luar ruko ini tampak biasa saja, gak ada istimewanya. Tetapi ketika masuk ke dalam, rasanya seperti berada di tengah-tengah surga kue dan makanan ringan. " jawab Mama Lia tersenyum geli.
"Iya, Ma. Mama bener banget! Sama seperti manusia ya Ma, kita tidak boleh nilai orang itu dari tampilan luarnya saja! Bisa jadi luarnya bagus dan rapi, tetapi dalam nya bobrok dan busuk. Atau bisa jadi luarnya begitu jelek dan gak enak di lihat, tetapi di dalamnya begitu bagus dan sangat baik. " ucap Amay lagi sambil berjalan mengikuti Mama Lia.
"Yap, bener banget itu! " jawab Mama Lia memberikan jempolnya.
Mereka pun duduk di stand ice cream dan langsung memesan beberapa ice cream dan cake yang menemani mereka ngobrol. Stand ice cream terletak di bagian dalam ruko di lantai dua dengan di hiasi pemandangan lalu lalang kendaraan bermotor. Dan Mama Lia sengaja mengambil tempat duduk yang di pinggir sehingga bisa melihat pemandangan ini dengan jelas.
Tidak lama kemudian pesanan mereka datang dan mereka berdua menyantapnya dengan wajah bahagia, terlebih lagi Amay yang langsung berkomentar begitu mencoba cake yang tadi begitu membuatnya tergiur.
"Gimana? Enak kan? " tanya Mama Lia sambil makan juga.
"Ini sih bukan enak lagi, Ma! Tapi paling enak banget! Gak ada tandingannya di lidah! " jawab Amay dengan mata terpejam begitu menghayati nya.
"Sepertinya ini akan jadi tempat favorit Amay deh, Ma! " ucap Amay langsung dengan sangat yakin.
"Oh iya, ngomong-ngomong perempuan yang menghina Abang tadi siapa sih, Ma? Teman Mama ya? " tanya Amay dengan hati-hati.
"Oh jadi gitu.... " ucap Amay mengangguk karena paham.
"Udah ah, gak usah ngomongin perempuan sok kayak gitu! Kita healing aja di sini sambil nunggu makan siang, di sini juga ada makanan berat untuk makan siang. Bahkan ada mushola nya juga di lantai paling atas. " sahut Mama Lia malas membicarakan hal yang membuatnya jengkel.
Amay hanya menganggukkan kepalanya dan kembali menikmati ice cream dan hidangan lainnya. Mereka kembali mengobrol dengan hangat sambil melihat pemandangan dari atas.
🌾🌾🌾
Di rumah sakit Aulia langsung menuju ruang UGD untuk melihat dan menanyakan keadaan laki-laki yang mirip dengan Abah nya Amay.
"Sus, laki-laki yang pingsan tadi pagi dimana ya? " tanya Aulia kepada salah satu suster di ruangan UGD dengan kepala celingak celinguk melihat ke dalam ruangan tersebut.
"Yang nama nya siapa, Mbak? " tanya balik suster tersebut dengan membuka buku nama-nama pasien UGD.
"Wah, kalau nama nya saya gak tahu Sus! Cuma tadi saya mau tolong eh dianya keburu pingsan. Langsung aja saya teriak panggilin perawat nya untuk bantu dia. Pingsan nya gak jauh dari apotek loh, Sus! " jawab Aulia dengan begitu detail.
__ADS_1
"Oh, yang itu! Di sini namanya Pak Davin, Mbak! Beliau sudah di pindahkan ke ruang rawat 10 menit yang lalu di ruangan Raflesia no 205 di lantai 3. " jawab suster tersebut memberikan informasi nya.
"Ya ampun... Makasih banget loh Sus, udah mau bantuin saya! Saya pamit dulu ya Sus? Mau jenguk beliau dulu! " ucap Aulia dengan wajah sumringah.
Ia melambaikan tangan nya kepada suster yang memberikan informasi tadi sambil berjalan menuju lift.
Lift pun terbuka dan Aulia bergegas masuk karena sudah ada beberapa orang di dalam lift yang kemungkinan nya juga menuju lantai atas.
"Oh iya, aku ngomong apa ya kalau nanti di tanya keluarga nya? Soalnya kan gak saling kenal, bisa-bisa nanti aku di curigai lagi sebagai mata-mata kayak yang di tivi-tivi itu! " batin Aulia dengan hati yang bimbang.
Ia menggigiti kuku nya karena bingung mau bilang apa, mau balik turun gak mungkin banget, nanti malah diketawain lagi sama penghuni lift. Masa belum sampai di lantai 3 udah mau turun lagi. Aulia tetap berada di lift dan akhirnya lift berhenti dan pintunya langsung terbuka.
Aulia berjalan pelan keluar dari lift dengan tampak begitu grogi untuk bertemu dengan laki-laki tersebut.
"Permisi, bolehkah saya masuk! " ucap Aulia dengan pelan mengetuk pintu ruangan dengan nomor yang di berikan suster UGD tadi.
"Siapa?? " jawaban dari dalam dengan suara yang berat dan tajam.
"Maaf kalau ganggu, saya yang tadi pagi akan menolong anda ketika Anda pingsan! " jawab Aulia dengan sedikit gugup.
Lama tidak ada sahutan dan jawaban dari dalam ruangan itu, sehingga Aulia berniat untuk tidak jadi masuk dan langsung turun ke lantai dasar.
"Silahkan masuk!! " ucap laki-laki itu dari dalam ruangan yang langsung menghentikan laju langkah Aulia.
Aulia pun dengan agak ragu menyentuh gagang pintu dan perlahan membuka pintu tersebut dari luar. Ia melangkah masuk dengan pelan dan membiarkan pintu tersebut sedikit terbuka.
"Maaf jika saya mengganggu Anda, tuan! Saya hanya ingin melihat keadaan Anda karena tadi saya tidak sempat ikut mengantarkan anda ke ruangan UGD tadi! " ucap Aulia dengan pelan dan sedikit menundukkan wajahnya.
Tiba-tiba terdengar suara pintu kamar mandi yang berbunyi dan terbuka dengan suara laki-laki yang bergema di ruangan tersebut.
"Vin, elo mau makan siang apa? Biar gue pesanin ini! Lagian kan elo cuma darah rendah, jadi gak ada pantangan lah! " ucap laki-laki yang keluar dari kamar mandi dengan posisi membelakangi Aulia.
Aulia mengernyitkan keningnya karena merasa tidak asing dengan suara tersebut. Ketika laki-laki itu membalikan badannya, mereka sama kaget dan terkejut satu sama lainnya.
"Aulia/Kak Izam ! " ucap Mereka barengan dengan saling menunjuk.
Bersambung...
__ADS_1
Selamat membaca dan selamat beristirahat readers semuanya...
Happy nice dream...