Bidadari Surga Untuk Penjual Kebab Yang Tajir

Bidadari Surga Untuk Penjual Kebab Yang Tajir
Daisy dan tulip...


__ADS_3

Hardi langsung menghubungi sopir agar segera menunggu di depan pintu masuk dengan mobil yang siap untuk pergi. Tak lama kemudian, lift pun berhenti dan Rahman berlari keluar menuju lobby dan langsung masuk ke dalam mobil yang pintu nya sudah di buka sang sopir.


"Langsung ke toko bunga yang paling bagus di Jakarta! " perintah Rahman kepada sopirnya.


"Baik Tuan Besar! " jawab sopir dengan langsung menghidupkan mesin mobil dan meninggalkan halaman perusahaan.


Mobil berjalan membelah kota Jakarta yang tampak semakin ramai karena memasuki waktu pulang kantor semua kalangan para pekerja. Mobil pun berhenti di sebuah toko florist yang cukup besar dan terkenal yang selalu menjadi tempat para menyuka berbagai bunga, baik yang segar yang telah di rangkai maupun bunga yang masih tertanam di dalam pot.


Rahman keluar dari mobil dengan di ikuti oleh Hardi yang berjalan di sampingnya.


"Selamat sore Tuan! Ada yang bisa kami bantu? " sapa seorang perempuan cantik yang sedang merangkai bunga.


"Saya ingin buket bunga tulip putih dengan bunga daisy di tengah-tengah nya! " jawab Rahman sambil melihat semua bunga yang ada di sekelilingnya.


"Wah, ternyata Tuan sangat beruntung sore ini! Baru beberapa menit yang lalu karyawan kami membawa bunga daisy yang segar baru panen dari kebunnya! Mari Tuan silahkan ikut saya ke sebelah sana! " ucap perempuan cantik tersebut dengan wajah ceria.


Rahman dan Hardi pun berjalan mengikuti perempuan cantik itu ke tempat yang ada di sebelah timur yang penuh dengan berbagai bunga tulip beraneka warna.


"Silahkan duduk menunggu Tuan! Saya akan merangkai bunga pesanan Tuan! " ucapnya dengan ramah.


Ia langsung beraksi dengan sangat terampil merangkai bunga daisy dengan di kelilingi bunga tulip putih di sekelilingnya. Hanya dengan waktu 10 menit, rangkaian bunga tersebut selesai dengan sangat sempurna sekali.


"Putri Tuan sangat beruntung sekali mempunyai ayah yang begitu menyayangi nya seperti Tuan! " komentar perempuan cantik tersebut sambil menyerahkan buket bunga tersebut ke tangan Rahman.


"Bagaimana anda tahu jika bunga ini untuk Putri kesayanganku? " tanya Rahman dengan heran.


"Karena bunga daisy melambangkan kelahiran kembali, keceriaan dan ketulusan. Sedangkan tulip putih melambangkan permohonan maaf, kesetiaan cinta. Pasti Tuan lagi membujuk Putri Tuan yang sedang merajuk bukan? " jawab perempuan tersebut sambil balik bertanya.


"Kau benar! Dia marah karena aku pergi ketika ia sedang tidur! Dan sekarang ia merajuk, bahkan suaminya tidak bisa membujuknya! " ucap Rahman membenarkan perkataan perempuan cantik itu.


"Jadi Putri Tuan sudah menikah? Kalau begitu, berikan bunga ini untuk nya! Bunga ini melambangkan kekuatan dan ketangguhan! " sahut perempuan cantik itu dengan mengambil sebuah tanaman kaktus yang sangat mungil di dalam sebuah pot.


"Entah kenapa aku merasa jika kaktus ini begitu cocok dengan kepribadian Putri Tuan! " ucapnya lagi dengan meletakkan pot kaktus tersebut di hadapan Rahman.


"Ternyata anda begitu banyak tahu rupanya, persis seorang cenayang! " celutuk Hardi ikut menimbrung pembicaraan mereka.


"Ha.... Ha... Ha.... Tuan bisa saja bercanda nya! Saya hanya melihat dari sorot mata Tuan ketika melihat bunga ini! Pandangan Tuan ini tidak seperti pandangan seorang laki-laki yang jatuh cinta kepada seorang wanita. Makanya saya bisa menebak jika bunga itu bukan untuk istri nya, tetapi untuk anaknya! " jawab perempuan tersebut dengan tertawa kecil.


"Silahkan anda membayarnya di meja kasir Tuan! " ucapnya lagi dengan tersenyum ramah.


Rahman membawa buket bunga pesanan nya ke meja kasir, sedangkan Hardi membawa pot berisi kaktus tadi dan meletakkannya juga di meja kasir.


"Maaf Tuan, buket bunga nya 580ribu! " ucap kasir nya dengan sopan.


"Kenapa kaktus nya tidak di hitung juga? " tanya Rahman heran.

__ADS_1


"Di toko kami, jika anda mendapatkan kaktus dari tangan Nyonya kami itu berarti kaktus nya gratis. Hanya orang tertentu yang mendapatkan kaktus itu dari tangan Nyonya kami Tuan! Nyonya kami akan memberikan kaktus kepada setiap pelanggan yang akan memberikan bunga untuk anak-anak nya dan pelanggan yang memberikan bunga untuk orang tuanya! " jawab sang kasir menjelaskan nya kepada Rahman.


"Oh, jadi begitu! Sampaikan rasa terimakasih ku kepada Bos mu itu! " ucap Rahman mangut-mangut sambil menyerah uang cash kepada sang kasir.


"Baik Tuan! Terimakasih sudah datang ke toko kami! " jawab sang kasir dengan sopan dan ramah.


Hardi meletakkan kaktus di dalam bagasi mobil, sedangkan buket bunga nya di pegang Rahman. Mereka lanjut menuju kediaman keluarga Barzakh karena hari sudah semakin sore.


Di rumah utama keluar Barzakh, Amay duduk di ruang keluarga seorang diri dengan wajah cemberut. Ia melarang Izam dan semua orang untuk mendekati nya. Ia bahkan mogok meminum susu hamil nya karena sehabis sholat ternyata Papa nya belum juga ada di rumah.


"Abang tukang bohong! Amay benci sama Abang! " ucap Amay dengan menatap suaminya yang berdiri dengan jarak 20 langkah dari nya.


"Abang gak bohong sayangku? Abang juga udah telpon Papa untuk pulang, tapi kan kamu tahu sendiri kalau Jakarta ini kota yang macet. Mungkin aja sekarang Papa lagi kejebak macet. " sahut Izam membela diri.


"Amay gak perduli! Pokoknya Amay benci sama Abang! " jawab Amay tetap ngotot dengan argumennya.


"Alhamdulillah istriku benar-benar cinta ya Allah! " sahut Izam berusaha merayu istrinya.


"Gak mempan! " jawab Amay tetap sewot.


"Dedek-dedek utun kesayangan Mama... Nanti kalau udah lahir jangan jadi pembohong kayak Papa ya, Nak! Dedek harus jadi anak yang jujur dan pembohong itu sifat yang tidak baik! " ucap Amay berbicara sambil mengelus perutnya yang sudah terlihat membuncit.


"Dedek-dedek sayang... Papa gak bohong kok, Nak! " jawab Izam ikut berbicara dengan jarak yang jauh.


Rahman akhirnya sampai di kediaman besannya. Ia langsung bertanya ketika melihat para orang tua duduk di ruang tamu dan Izam berdiri di antara pintu ruang keluarga ke ruang tamu.


"Loh, kenapa kalian semua duduk di ruang tamu? Kenapa gak duduk di ruang santai aja? Kalau ada tamu gimana? Kamu juga Zam, kenapa berdiri di situ? Kan susah kalau ada yang mau lewat? " tanya Rahman dengan wajah heran sambil menatap semuanya.


"Alhamdulillah Papa akhirnya pulang juga! Tuh, princess Papa ngambek dari tadi! Izam dan semuanya gak di bolehin mendekat dan harus jauh-jauh! " adu Izam dengan wajah lega.


Rahman melihat kearah besan nya dan mereka semuanya menganggukkan kepala nya. Rahman hanya tersenyum kecil melihat Putri nya merajuk persis seperti istrinya dulu yang tidak mau mendekat dengan siapapun sebelum ia pulang ke rumah.


"Assalamualaikum princess Papa??? " panggil Rahman dengan berjalan ke ruang keluarga.


Ia berjalan melewati tempat Izam yang berdiri dan semua orang ikut mengintip dari belakang ketika ia berdiri di hadapan sang Putri.


Amay masih tidak bergeming, ia tetap memasang wajah cemberut dan tangannya masih melipat di dada.


"Abang jangan mendekat! Tetap berdiri di sana! " teriak Amay begitu melihat Izam hendak berjalan mendekati nya.


"Sayang nya Papa! Kenapa wajah cantiknya jadi seperti ini, hem? Udah dong ngambek nya? Kan Papa udah pulang, sayang? " bujuk Rahman dengan mengusap pelan pipi tembem anaknya.


"Papa jahat! Papa gak sayang sama Amay! Buktinya Papa ninggalin Amay lagi waktu Amay tidur! " rajuk Amay tapi dengan nada masih marah.


"Papa minta maaf ya sayang! Princess Papa senyum dong? Nih Papa bawain bunga untuk princess cantik Papa! " jawab Rahman dengan menyerahkan buket bunga yang ia sembunyikan di belakang punggung nya.

__ADS_1


Amay langsung berbinar matanya ketika melihat buket bunga kesukaannya sekarang ada di dalam pangkuannya. Ia menciumi bunga tersebut berkali-kali dengan wajah bahagia.


"Awas ya kalau Papa pergi lagi! Amay bakalan marah sama Papa! Papa kok bisa tahu dengan bunga kesukaan Amay! Kan Amay belum bilang? Abang aja gak tau bunga kesukaan Amay! " ucap Amay yang langsung membuat wajah Izam seketika masam dan cemberut.


"Oh ya? Jadi suami kamu itu gak tahu bunga kesukaan istrinya? " tanya Rahman sengaja memojokkan menantunya.


Izam langsung mencebik ketika mendengar ucapan mertuanya yang membuat situasi makin bertambah panas.


"Iya Papa! Abang juga gak pernah ngasih Amay bunga kayak gini! " adu Amay kepada Papa nya.


"Benarkah? Wah, keterlaluan sekali suami kamu itu! Princess Papa tenang saja, kalau princess Papa mau apa pun bisa minta sama Papa! Papa akan belikan apapun yang princess minta sama Papa! " ucap Rahman dengan pura-pura kaget mendengar aduan Putri nya.


Izam makin mendelik matanya mendengar ucapan Papa mertuanya yang sengaja menyudutkan dirinya di hadapan sang istri.


"Amay sayang ku cinta ku? Gimana Abang bisa tahu apa bunga kesukaan Amay kalau Amay gak ngomong sama Abang? Abang kan bukan dukun sayangku? " ucap Izam sedikit membela diri.


"Kenapa Abang gak nanya sama Amay? " tanya Amay dengan entengnya yang langsung membuat Izam tertohok.


"Ha... Ha... Ha.... " semua orang yang mengintip tertawa terbahak-bahak melihat Izam mati kutu dengan ucapan istrinya sendiri.


"Eung.... Iya juga ya? " sahut Izam cengengesan dengan menggaruk kepala nya yang tidak gatal.


"Oh ya, Papa belum jawab pertanyaan Amay! Dari mana Papa tahu bunga kesukaan Amay? " tanya Amay lagi kepada Papa nya.


"Itu karena pada saat Mama kamu mengandung mu, Mama mu sangat suka sekali dengan bunga Daisy. Ia sangat ingin jika anak perempuan nya mempunyai hati yang tulus, selalu ceria seperti filosofi bunga Daisy. Sedangkan bunga tulip adalah bunga kesukaan Mama mu, sayang! " jawab Rahman dengan mata menerawang ke atas.


"Maafkan Amay ya Pa... Papa pasti sedih lagi teringat sama Mama! " ucap Amay dengan mata berkaca-kaca.


"Gak Papa sayang! Papa hanya mengingat kenangan masa lalu yang begitu indah bersama Mama mu saat kau masih dalam perut Mama mu sayang! " jawab Rahman dengan tersenyum hangat.


"Amay sayang ku?? Boleh gak Abang dekat Amay lagi? Pegel nih kaki Abang kelamaan berdiri! " teriak Izam mengganggu nostalgia ayah dan anak tersebut.


"Gimana Pa, boleh gak?? " tanya Amay kepada Papa nya.


"Terserah kamu saja, Nak! Lagian kasihan juga suami kamu di suruh berdiri di sana dari tadi! " jawab Papa nya dengan menganggukkan kepala.


"Boleh Abang! Tapi bikinin Amay susu dulu ya? " ucap Amay dengan begitu lantang.


"Siap komandan! " jawab Izam dengan hormat kepada bendera.


Bersambung...


Selamat membaca dan selamat beraktivitas readers semuanya...


Semoga hari kalian menyenangkan 💕😍...

__ADS_1


__ADS_2