Bidadari Surga Untuk Penjual Kebab Yang Tajir

Bidadari Surga Untuk Penjual Kebab Yang Tajir
Kemarahan Davin


__ADS_3

Annisa langsung menghubungi Davin yang meminta nya untuk langsung datang ke Puskesmas yang ada di pasar kampung tersebut. Ia meminta agar polisi yang di bawa Davin yang datang menyambangi Pak lek Rohim yang ada di pesantren.


Tidak ingin banyak tanya, Davin mengiyakan permintaan Annisa. Ia menghubungi Pak lek nya jika polisi yang ia bawa akan datang ke Pondok Pesantren tanpa diri nya.


"Sebenarnya apa yang terjadi ? Kenapa aku di minta bawa polisi ke Ponpes? Apakah ini ada hubungannya dengan jatuh nya Ibu tadi?? " gumam Davin bertanya-tanya dalam hatinya.


Ia sengaja tidak banyak tanya pada Annisa, atau pun pada Pak lek Bulek nya. Ia ingin mendengar langsung apa yang sebenarnya terjadi dari mulut mereka.


Di Pondok Pesantren, Bude Maryam mengiba pada Pak lek Rohim agar mengizinkan ia ke kamar mandi.


"Hei Rohim, aku ini mau buang air kecil! Biarkan aku ke kamar mandi! Apa kau mau aku buang air di sini?? " pinta Bude Maryam memberikan alasan nya.


"Gak masalah jika Mbak mau buang air kecil di sini! Toh yang kebauan juga Mbak sendiri! Jadi, jangan macam-macam dengan berdalih mau buang air kecil! Aku tidak akan percaya! " jawab Pak lek Rohim santai.


"Sialan si Rohim! Kalau di sini terus, bagaimana aku bisa kabur dan keluar dari Pesantren ini? Sialan memang perempuan gila itu, gara-gara dia aku di tahan dan rencana ku gagal semuanya! Brengsek banget! " batin Bude Maryam mengutuk Ibu Tinah.


Tak lama kemudian, setelah dua jam lebih menunggu, terdengar suara sirine mobil polisi memasuki halaman Ponpes Al-Mutmainnah. Bude Maryam dan antek-antek nya mendadak pucat pasi karena kesempatan mereka untuk kabur dan lepas tidak ada lagi alias percuma.


Pak lek Rohim meminta Ustadz Farhan untuk menyambut kedatangan polisi yang di bawa Davin ke kampung mereka.


"Bersiap-siap lah Mbak untuk bertanggung jawab atas apa yang Mbak lakukan dengan Mbak Tinah! " ucap Pak lek Rohim pada Bude Maryam.


"Heh Rohim! Kamu jangan asal bicara kamu! Perempuan itu saja yang lemah! Dia duluan yang menyerang aku, jadi jangan salah kan aku kalau aku balas dia! Gak kenal main pegang-pegang tangan orang! " jawab Bude Maryam tidak mau di salahkan.


"Udah deh Mbak! Gak usah banyak omong, mendingan siap-siap saja di bawa ke kantor polisi! " sahut Pak lek Rohim jengah melihat Bude Maryam yang selalu merasa paling benar.


"Permisi Pak Kyai.. Ini Mas-mas nya dari Polres xxx sudah datang! " ucap Ustadz Farhan dengan menunjuk tiga orang polisi yang berpakaian lengkap di belakang nya.


"Selamat pagi menjelang siang Pak Kyai! Kami dari Polres xxx di minta Bapak Davin Pratama untuk menemui Pak Kyai! Ada yang bisa kami bantu Pak Kyai?? " ucap salah satu dari tiga polisi yang bernama Petrus Nababan pada tulisan di bajunya.


"Selamat pagi menjelang siang juga Pak Petrus! Saya mau melaporkan tindak kekerasan yang korbannya sedang di bawa ke Puskesmas terdekat! Perempuan itu pelakunya Pak! " jawab Pak lek Rohim dengan tegas menunjuk Bude Maryam.


"Bukan Pak polisi! Perempuan itu saja yang lemah, di dorong dikit aja langsung jatuh! Saya tidak bersalah Pak polisi! Justru mereka lah yang bersalah, mereka merampas hak suami saya! " bantah Bude Maryam keukeh paling benar dan menyalahkan Pak lek Rohim.


"Apakah ada saksi Pak Kyai?? " tanya Pak Petrus lagi.


"Mereka semua ini saksi nya karena pada saat kejadian mereka juga ada di sini! Ada istri saya juga Pak, beliau sedang menemani kakak saya yang pendarahan karena beliau korbannya. " jawab Pak lek Rohim


"Kalau begitu Ibu ikut kami ke Polres xxx untuk di selidiki lebih lanjut! Pak Kyai juga ikut untuk membuatkan laporan untuk Ibu ini dan nanti kami akan meminta keterangan istri Pak Kyai serta korban atas kejadian ini! " ucap Pak polisi dengan mendekati Bude Maryam.


"Gak! Saya gak mau! Saya tidak bersalah! Enak saja main bawa ! Saya bisa tuntut kalian semua terutama kamu Rohim! Saya tidak terima di perlakuan tidak adil begini Pak polisi! Saya juga bisa menuntut Anda, adik ipar saya punya banyak uang dan pastinya kalian akan membayar semuanya! " teriak Bude Maryam keras dengan menunjuk Pak polisi dan Pak lek Rohim secara bergantian.


"Lepaskan saya! Lepas.. ! Saya bukan penjahat! Lepaskan saya! Kalian kenapa diam saja, ayo lawan! " teriak Bude Maryam lagi saat salah satu polisi yang bersama Pak Petrus memegang lengan Bude Maryam sambil memarahi tiga orang yang tadi di belakang nya.


"Maaf Bos.. ! Kami gak ikut-ikutan! Kami tidak mau masuk penjara! Pak, kami tidak mau di tangkap! Kami hanya di suruh dan di bayar perempuan itu untuk menakuti mereka di sini! Jangan tangkap kami Pak! " jawab satu dari tiga laki-laki yang tadi berdiri di belakang Bude Maryam.


"Kalian bisa memberikan keterangan nya nanti di kantor polisi dan kalian berdua juga! Jangan kalian kira saya tidak tahu jika kalian adalah polisi gadungan! Bawa mereka semuanya ke dalam mobil dan bawa langsung ke Polres xxx untuk di selidiki lebih lanjut lagi! " ucap Pak Petrus dengan nada tegas dan garang.


Mereka semua pasrah di giring masuk ke mobil patroli, hanya Bude Maryam yang berontak berusaha melepaskan diri, namun tenaga nya tidak sebanding dengan Pak polisi yang memegangnya hingga ia hanya bisa pasrah dan masuk ke dalam mobil patroli dengan wajah penuh dendam.


Pak lek Rohim menyerahkan sementara kepengurusan Ponpes pada Ustadz dan Ustadzah yang ada di Pondok saat ia memberikan keterangan di kantor polisi.


Sementara itu, Davin yang akhirnya sampai di depan Puskesmas langsung keluar dari mobil dan berlari kecil menghampiri Bulek Saroh yang berdiri menunggunya di depan pintu Puskesmas.


"Assalamualaikum Bulek! "

__ADS_1


"Waalaikumsalam Le.. ! Ayo masuk, Ibu mu di sana! " jawab Bulek Saroh dengan berjalan memasuki ruang gawat darurat.


"Ibu, Pakde.. ! " ucap Davin pelan dengan menyalami punggung tangan Pakde Soleh.


Ibu nya masih terpejam karena tubuhnya masih lemah, ia hanya sempat sadar beberapa menit kemudian tidur lagi, mungkin karena pengaruh obat yang di berikan petugas tadi.


"Vin, karena kamu sudah datang! Lebih baik sekarang saja kita bawa Ibu kamu ke rumah sakit kota yang pelayanan dan fasilitas nya lebih lengkap dari sini! Dokter juga sudah bilang kalau mereka akan membantu dengan membawa Ibu kamu dengan ambulance! Pakde sengaja menunggu kamu datang agar tau Ibu kamu mau di bawa ke mana! Jujur saja, Pakde bingung mau di bawa ke rumah sakit mana! " ucap Pakde Soleh dengan wajah sedih.


"Kalau begitu langsung berangkat saja Pakde! Tidak usah tunggu lama-lama lagi! Yang penting Ibu cepat di tangani ! Aku akan menelpon pihak rumah sakit dulu, agar mereka bersiap saat kita datang nanti! " sahut Davin seraya keluar lagi sambil menghubungi seseorang dengan ponsel nya.


Annisa yang pulang ke rumah sudah datang lagi ke Puskesmas dengan membawa barang-barang Ibu dan Abah nya. Karena ia mengajar di Ponpes, maka barang-barang ia banyak di asrama pengajar di bandingkan di rumahnya.


"Bah, semua nya sudah beres? Kang Davin sudah datang kah?? " ucap Annisa memberitahu Abah nya sambil bertanya tentang Davin.


"Sudah, tuh lagi menelpon di sana! " jawab Abah nya dengan menunjuk ke arah Davin yang membelakangi mereka.


Seorang petugas pria menghampiri Pakde Soleh mengatakan jika ambulance untuk membawa Ibu Tinah sudah siap.


Beberapa petugas pria wanita membantu mendorong bed pembaringan Ibu Tinah hingga mendekati mobil ambulance.


Davin yang selesai menelpon langsung balik badan dan berjalan cepat ke arah Ibu nya di bawa. Pakde Soleh ikut masuk ke dalam mobil ambulance. Sedangkan Davin di mobil nya dengan Annisa dan Bulek Saroh di mobil yang satunya lagi.


Tepat jam 13.00 Ibu Tinah di bawa ke rumah sakit yang ada di kota Jakarta untuk di tangani lebih lanjut.


Davin belum sempat bertanya apa-apa tentang keadaan Ibu nya, apalagi penyebab Ibu sampai seperti ini. Ia akan menanyainya nanti saat Ibu nya sudah di tangani saja. Ia lalu menghubungi Izam sesuai permintaan Izam.


"Oh ya udah, kalau begitu kami akan tunggu di sini saja! " ucap Izam saat menerima panggilan telepon dari Davin.


"Kenapa Bang?? " tanya Amay saat sedang menyodorkan piring nasi lengkap dengan lauknya di hadapan Izam.


"Innalillahi... Terus gimana keadaan nya Bang? " tanya Amay dengan wajah prihatin.


"Davin belum sempat banyak tanya, karena begitu sampai di sana ia langsung di minta untuk membawa Ibu nya ke rumah sakit yang lebih besar untuk di tangani lebih lanjut. Davin cuma ngomong itu aja! " jawab Izam jujur.


"Oh gitu... Ya udah, Abang makan aja dulu! Nanti aja ngobrol nya! " ucap Amay mengerti.


Musibah yang di alami Ibu nya Davin juga ia sampaikan kepada kedua orang tua nya serta mertuanya. Mereka ikut ke rumah sakit karena kebetulan sekali Davin membawa Ibu nya ke rumah sakit mereka.


Bahkan Papa Idris meminta langsung direktur rumah sakit untuk memberikan fasilitas dan pelayanan yang terbaik bagi Ibu Tinah.


Amay melepaskan kepergian suami serta mertuanya ke ruang sakit untuk melihat keadaan Ibu nya Davin di depan pintu.


"Mudah-mudahan Ibu Tinah baik-baik aja! " gumam ia lirih seraya menutup pintu rumah.


Di rumah sakit, Davin sampai duluan dengan di ikuti ambulance yang membawa Ibu nya serta di belakang nya mobil yang membawa Bulek Saroh dan Annisa.


Di depan pintu masuk sudah berdiri Papa Idris dan Mama Lia serta Izam dan beberapa Dokter yang akan menangani Ibu Tinah.


Ibu Tinah di keluarkan dari mobil ambulance dengan Pakde Soleh tetap setia berdiri di samping nya dan menggenggam erat jemari tangan nya.


Ia mengikuti kemana istrinya di bawa oleh petugas rumah sakit tersebut.


Ibu Tinah langsung di bawa ke ruang IGD karena Dokter akan memeriksa nya terlebih dahulu sebelum masuk ke ruang perawatan.


"Sebenarnya apa yang terjadi Kang? Bagaimana bisa Mbak Tinah bisa jatuh dan mengalami pendarahan seperti ini?? " tanya Mama Lia dengan wajah sangat prihatin dengan Ibu Tinah.

__ADS_1


"Cerita pastinya Saroh yang tahu Dik! Saya hanya mendengar cerita Saroh, karena saat kejadian saya masih di kebun santri melihat mereka berkebun. Ustadz Farhan yang datang memberitahu saya kalau Dek Tinah jatuh di rumah nya Rohim! " jawab Pakde Soleh dengan wajah sendu.


Begitu Bulek Saroh masuk ke rumah sakit, ia langsung mendekati mereka yang duduk di kursi tunggu yang ada di luar ruang IGD.


"Davin, duduk di sini! Bulek akan cerita bagaimana Ibu mu bisa seperti ini! " perintah Bulek Saroh agar Davin duduk di sebelah Mama Lia.


Bulek Saroh pun menceritakan tentang kejadian Bude Maryam datang ke rumah nya hingga mereka bertengkar karena Bulek Saroh tidak mau menandatangani surat pengalihan yang ia bawa. Sampai saat Ibu Tinah datang dan meraih tangan Bude Maryam dan menarik lengan bajunya hingga ke atas. Tidak terima dengan apa yang dilakukan Ibu Tinah, Bude Maryam mendorong Ibu Tinah hingga terbentur perut nya pada lengan kursi hingga ia terjatuh di lantai. Kejadian yang sangat cepat dan tanpa di duga membuat Bulek Saroh tidak sempat menahan tubuh Ibu Tinah hingga ia jatuh terduduk di lantai. Annisa datang saat mendengar jeritan Bulek Saroh dan kaget melihat Ibu nya meringis kesakitan dengan memegang perut nya.


"Innalillahi... " ucap semua orang dengan wajah tegang dan mengelus dada.


Pakde Soleh yang mendengar kembali cerita itu kembali menampilkan raut emosinya dengan mengepal tangannya.


"Ada satu lagi Vin yang dikatakan Ibu mu dengan menahan sakitnya! " ucap Bulek Saroh yang membuat Davin menatap ke arah Bulek nya.


"Ibu kamu menunjuk Mbak Maryam dan berkata jika Mbak Maryam adalah perempuan malam itu! Ibumu mengatakan itu sebanyak dua kali! " tambah ia lagi yang membuat Davin menjadi bingung.


"Malam itu?? Maksud nya Bulek?? " tanya Davin tidak mengerti.


"Maksudnya Bulek, jika Bude Maryam itu adalah perempuan yang di lihat Ibu elo waktu elo di buang di tempat sampah saat elo baru lahir! Gitu kan Bulek?? " jawab Izam yang langsung mengerti berdasarkan cerita hidup Davin selama ini.


"Apa??? Astaghfirullah hal adzim... !" ucap Davin dan semua orang kaget termasuk Pakde Soleh.


"Beneran itu Saroh??? " tanya Pakde Soleh lagi.


"Feeling Saroh benar Kang! Tidak ada seorangpun dari dulu yang memusuhi dan membenci Kang Sulaeman dan Mbak Izah selain perempuan itu! Hanya saja saksi kuncinya cuma Mbak Tinah seorang! " jawab Bulek Saroh dengan begitu yakin.


"Kurang ajar! Brengsek! " teriak Davin dengan bangkit dan memukuli dinding guna melampiaskan kekesalan nya.


"Ya Allah, tega sekali perempuan itu! Jahat sekali dia! Dimana perempuan itu sekarang Jeng? Pengen saya lihat bagaimana tampang nya dia! " ucap Mama Lia dengan begitu geram.


"Saya gak tau Jeng! Yang pasti tadi saya meminta Abah nya anak-anak untuk tetap menjaga perempuan itu di Ponpes agar tidak kabur kemana-mana sampai polisi yang saya minta pada Davin datang! " jawab Bulek Saroh jujur.


"Jadi, itu maksud Bulek meminta aku untuk bawa polisi ke Ponpes?? " tanya Davin lagi.


"Iya Nak... ! Bulek ingin perempuan itu di tangkap karena apa yang di lakukan perempuan itu sangat membahayakan nyawa Ibu mu dan janin yang ia kandung! " jawab Bulek Saroh lagi yang membuat semua orang kembali kaget.


"Ibu hamil... ! " ucapnya kaget.


"Jadi Jeng Tinah hamil?? Terus gimana keadaan nya? " tanya Mama Lia dengan benar-benar kaget sekaligus khawatir.


"Waktu di Puskesmas tadi katanya tidak apa-apa, tapi belum sepenuhnya benar karena di sana tidak ada Dokter ahli! " jawab Pakde Soleh dengan wajah sedih.


"Perempuan itu tidak bisa di biarkan! Ia harus di beri pelajaran! Aku tidak akan terima jika Ibu kenapa-napa, terlebih lagi jika sampai janin nya Ibu tidak selamat maka aku akan menuntut balas pada perempuan itu! Gigi dibayar dengan gigi, mata dibayar dengan mata! " ucap Davin berdiri dengan mata berapi-api.


Davin sudah tidak bisa menahan amarahnya, ia berjalan hendak ke kantor polisi kenalan nya tadi. Izam mengejar Davin berupaya untuk mencegahnya melakukan hal yang bisa membuatnya menyesal seumur hidup.


"Davin.. ! Elo gak perlu gegabah! Kalau elo berbuat kekerasan masalah akan semakin runyam! " teriak Izam saat di parkiran.


"Gue gak peduli! Perempuan jahat itu harus merasakan semuanya! Perempuan jahat itu harus gue balas Zam! Gue akan membuat nya merasakan sakit melebihi sakit nya Ibu dan sakit yang di terima Abah dan Umi gue! " teriak Davin dengan wajah merah padam.


"Iya.. Gue ngerti! Tapi jika elo melakukan kekerasan, itu bisa bikin dia menuntut elo balik! Emangnya elo mau masuk penjara?? Elo mau Aulia sedih calon suaminya masuk penjara di saat kalian akan menikah sebulan lagi?? Elo mau kayak gitu?? " ucap Izam lagi dengan nada selembut mungkin.


Davin terdiam mendengar perkataan Izam yang semuanya benar. Ia langsung terduduk di tanah sembari menutup mukanya dengan tangan. Bahunya terguncang naik turun karena ia menangis, ia merasa lemah karena tidak bisa membalas orang yang sudah menyakiti keluarga nya.


"Hu.. Hu... Hu.. Apa salah gue Zam?? Apa salah orang tua gue? Bagaimana bisa perempuan jahat itu memisahkan gue saat gue baru lahir? Dan sekarang perempuan jahat itu berusaha mencelakakan adik di dalam perut Ibu gue?? Gue benar-benar merasa sedih Zam! Gue merasa hidup benar-benar tidak adil! Hu... Hu... Hu... ! " isak Davin menangis tersedu-sedu.

__ADS_1


Bersambung..


__ADS_2