
"Mas kok parkirnya dekat pintu masuk, apa gak papa?? " tanya Aulia begitu masuk ke dalam mobil.
"Gak papa lah, Mas kan cuma sebentar dan biar mudah juga untuk kita keluar! " jawab Davin santai.
"Oh gitu, yuk Mas kita pergi! Ntar kelamaan di tegur nanti kita! " ucap Aulia lagi sambil memakai seatbelt.
"Okeh... " jawab Davin dengan menghidupkan mesin mobil.
Mobil Davin pun keluar dari area parkiran cafe. Dan menembus kegelapan malam Ibu kota yang masih terlihat sibuk dan ramai lalu lalang kendaraan bermotor.
"Kita mau kemana Mas? " tanya Aulia karena arah yang di lewati bukan jalan pulang ke rumah nya Amay.
"Kita ke suatu tempat dulu! Ada yang ingin Mas tunjukkan sama kamu! " jawab Davin dengan santai.
Aulia hanya mengangguk paham dan tidak bertanya lagi karena ia yakin jika Davin juga tidak akan menjawabnya dengan jujur.
Mobil mereka memasuki gerbang perumahan elit karena terlihat dari nama nya dan bangunan rumah nya. Banyak sekali pertanyaan di benak nya kenapa Davin membawanya ke komplek perumahan ini.
Mobil pun berhenti di sebuah rumah dua lantai yang pembangunan nya masih 80 % karena masih belum di cat dan masih ada bahan bangunan di halaman nya seperti kerikil, batu bata, pasir dan beberapa kayu yang masih tegak di dekat dinding rumah. Bahkan pagar nya juga belum terpasang, hanya pilar-pilar nya saja.
"Ini rumah siapa Mas? Sepertinya belum selesai di bangun! " tanya Aulia dengan melihat dari dalam mobil.
"Ntar kamu juga tahu! Yuk kita keluar! " jawab Davin ambigu.
"Mas ih! Jawaban nya gantung banget! " sungut Aulia sebel.
Tak ayal, ia pun ikut turun dari dalam mobil dan melihat jika rumah tersebut lumayan besar dan mempunyai halaman yang luar, persis rumah impian nya di masa depan.
"Gimana menurut kamu? Bagus gak rumah nya? Sebenarnya sih Mas pengen ngajak kamu lihat ke dalam, cuma karena masih belum selesai dan banyak debu, kita lihat di luar aja gak papa ya?? " ucap Davin sambil bertanya meminta pendapat Aulia.
"Bagus sih Mas rumah nya dan halaman nya luas banget! Aulia suka rumah yang punya halaman luas kayak gini! Tapi kok Mas tanya pendapat Aulia? Emangnya ini rumah siapa? " jawab Aulia sambil bertanya kembali.
"Alhamdulillah kalau kamu suka! Ini rumah masa depan kita! Rumah ini akan Mas jadikan maskawin nanti saat kita menikah! Mau kah kamu menjadi istri Mas Aulia? Sudi kah kamu menghabiskan seumur hidup kamu hidup bersama laki-laki biasa seperti Mas? " ucap Davin sambil berlutut dan menyerahkan sekotak cincin yang datang nya entah dari mana.
"M-mas melamar a-aku?? " ucap Aulia menunjuk dirinya sendiri.
Davin mengangguk dengan begitu yakin, Aulia langsung menangis sambil menutup mulutnya dengan kedua telapak tangannya.
"Aulia mau Mas... ! Hu... Hu... Hu.. ! " jawab nya sambil bercucuran air mata.
Davin tersenyum senang, ia pun berdiri kembali dan menyerahkan kotak cincin tersebut ke tangan Aulia.
Aulia menerima nya dan memakaikan nya sendiri karena mereka belum sah untuk bersentuhan.
"Terimakasih ya udah mau menerima lamaran Mas! Mas sayang kamu Aulia Maharani! Mas mencintaimu karena Allah! " ucap Davin dengan tersenyum manis.
"Mas, ayo kita pergi dan pulang! Aulia takut ada setan lewat karena kita hanya berdua saja di sini! " ajak Aulia yang mulai sadar jika hanya mereka saja di sini.
"Ayo... ! Maaf ya Mas lupa bawa saksi biar kita gak hanya berdua saja! " ucap Davin dengan wajah tidak enakan.
"Gak papa kok Mas! Yuk kita pulang! " jawab Aulia pelan.
Mereka kembali masuk ke dalam mobil dan segera pergi dari sana. Mereka memutuskan untuk pulang saja karena Adzan isya juga sudah selesai.
"Mas, emang nya beneran rumah itu di jadikan Maskawin? Apa gak berlebihan Mas? " tanya Aulia saat mereka sedang di dalam mobil.
"Ya nggak lah! Masa untuk perempuan yang kita cintai di anggap berlebihan! Mas ingin memberikan tempat tinggal yang layak setelah kita menikah. Gak mungkin kan kita tinggal di apartemen Mas yang sempit! Nanti kalau sudah di cat dan sudah beres semua nya, kamu isi aja sendiri perabotan nya sesuai selera kamu! Rumah ini atas nama kamu Aulia! Sebagai mahar pernikahan kita! " jawab Davin dengan sungguh-sungguh.
"Terimakasih ya Mas... Aku bahagia sekali! Kira-kira kapan Mas akan melamar aku sama orang tua ku? " tanya Aulia lagi pada Davin.
__ADS_1
"InsyaAllah dua minggu lagi! Karena Bulek dan Pak lek akan pulang dua minggu lagi! Kamu mau ikut kami apa mau pulang duluan ke kampung? " jawab Davin sembari bertanya.
"Lebih baik aku duluan aja ya Mas! Biar memberitahu Mama dan Papa secara langsung saja dan agar persiapan nya gak buru-buru! " jawab Aulia seraya meminta izin.
"Ya udah, terserah kamu! Jangan terlalu terbebani menyambut kami, yang sederhana saja lah ya... ? Mas gak mau kamu repot-repot, apalagi sampai sakit hanya karena ingin menyambut kami ! " ucap Davin dengan penuh perhatian.
"Iya Mas... " jawab Aulia dengan wajah merona tersipu malu dengan perhatian Davin.
Akhirnya mereka sampai di pekarangan rumah keluarga Barzakh.
"Jadi kapan kamu mau pulang ke kampung? " tanya Davin saat Aulia hendak membuka pintu mobil.
"InsyaAllah besok Mas... Biar gak terkesan mendadak Aulia ngasih tau nya! " jawab Aulia sambil turun.
"Aku masuk duluan ya Mas! Hati-hati bawa mobil nya dan jangan ngebut-ngebut! Assalamualaikum! " ucap Aulia dengan memberikan senyuman nya pada Davin.
"Iya, waalaikumsalam! Jangan lupa tidur mimpikan Mas ya? " jawab Davin dengan mengedipkan matanya sebelum kaca mobil tertutup.
Aulia kembali tersipu malu dengan ulah Davin dan ia masuk ke dalam rumah dengan senyuman yang terus terukir di bibir nya.
Ia segera masuk ke kamar nya dan membersihkan diri sekalian sholat isya. Begitu selesai sholat, Aulia langsung berkemas mengepakkan pakaian nya ke dalam koper. Ia memutuskan untuk ke kamar Amay guna memberitahu kabar bahagia ini pada sahabatnya.
"Assalamualaikum May... Kamu di dalam ya? Boleh aku ganggu sebentar? " ucap Aulia dengan mengetuk pelan pintu kamar Amay.
"Ceklek.. " pintu pun terbuka dan Amay keluar dengan berjalan pelan.
"Waalaikumsalam... ! Ayo kita ke bawah saja! Aku lapar! Barusan selesai pumping Asi nya si kembar! " sahut Amay mengajak Aulia ke dapur di lantai bawah.
"Ayo... ! Si kembar sama siapa? Ada Mas Izam kan? " jawab Aulia sambil bertanya dan menggandeng lengan Amay.
"Gak, Abang lagi di ruang kerja sama Papa! Si kembar kan sama Bulek dan mereka sedang tidur di dalam! " jawab Amay sembari berjalan menuruni tangga.
"Alhamdulilah jahitan nya baik-baik aja! Palingan masih agak nyeri sedikit kalau terlalu lama berdiri sambil menggendong si kembar! " jawab Amay.
Begitu sampai di dapur, Amay minta asisten rumah tangga membuatkan makanan yang akan ia makan sesuai anjuran Mama mertuanya yaitu makanan yang tidak mengandung cabe yang pedas.
"Hah, padahal aku kepengen makan mie rebus pakai cabe rawit yang banyak kayak kita di kosan dulu! " ucap Amay dengan wajah sendu.
"Sabar, tahan aja dulu sampai si kembar usia dua tahun! Nanti setelah dua tahun, makan lah makanan yang banyak cabe tanpa membuat si kembar diare! " sahut Aulia dengan mengusap bahu Amay.
"Hehehehe iya sih! Cuman terkadang bosan aja makan itu-itu mulu! " ucap Amay lagi sekalian curhat.
"Ya mau gimana lagi! Begitu lah kalau Ibu-ibu yang menyusui, yang harus memilah mana makanan yang tidak membahayakan bagi bayi nya! Begitu yang aku baca di internet! " sahut Aulia lagi.
"Kamu gak makan Aul? " tanya Amay saat makanan yang ia pesan datang.
"Bikinin Aulia salad buah aja ya Mbok! " pinta Aulia pada asisten rumah tangga.
"Baik Non! " jawab si Mbok patuh.
"Tadi udah makan berat saat sama Ali dan Mbak Elya! " jawab Aulia pada pertanyaan Amay.
Amay mengangguk pelan dan memakan makanan nya dengan lahap karena ia memang benar-benar lapar.
"Mbok, siapkan roti tawar dan selai srikaya nya ya ! Nanti tolong antar kan ke kamar saya! " pinta Amay saat si Mbok membawa kan pesanan Aulia.
"Baik Non! Apa langsung saya antar atau tunggu Non Amay dulu! " jawab si Mbok sambil bertanya.
"Antar aja Mbok, soalnya saya masih mau di sini dulu! " sahut Amay lagi.
__ADS_1
Si Mbok pun mengangguk paham dan segera pergi dari meja makan.
"Oh ya, tadi kamu mau ngomong apa? Kedengaran agak serius suara nya! " tanya Amay lagi dengan tujuan Aulia memanggil nya.
"Aku mau ngasih tau kalau besok pagi aku mau pulang ke kampung! " jawab Aulia yang langsung membuat Amay menghentikan makan nya.
"Maksud kamu apa Aul? Kamu gak bercanda kan? Terus alasan nya apa? Apa karena kamu gak kerja lagi di kantor Abang? " tanya Amay kayak kereta api.
"Hush ngawur! Bukan itu alasan nya! Sebenarnya tadi Mas Davin melamar aku di depan rumah yang akan ia berikan sebagai mahar! " jawab Aulia dengan muka malu-malu meong.
"Apa?? Serius Aul?? Alhamdulillah.. ! " ucap Amay dengan wajah kaget sekaligus senang.
"Iya, makanya besok aku mau pulang kampung! Mau ngasih tau Papa Mama kalau aku sudah di lamar dan dua minggu lagi Mas Davin dan keluarga nya akan datang ke rumah untuk melamar secara resmi! " sahut Aulia lagi dengan wajah terpancar bahagia.
"Akhirnya Mas Davin sold out juga! Kirain jomblo seumur hidup! "ucap Amay dengan terkekeh.
"Hehehehe iya May! Makanya aku kasih tau kamu duluan kabar bahagia ini! " jawab Aulia dengan tersenyum kecil.
"Ya Allah... Terimakasih ya Aul, udah menjadikan Amay orang yang pertama tahu! Amay doakan semoga semua nya lancar sampai hari H. Oh ya Papa Mama masih sering keluar kota? " ucap Amay sambil memeluk Aulia dengan wajah sama-sama bahagia.
"Udah gak lagi! Seminggu yang lalu Mama ngasih tau kalau Papa udah capek dan udah menjual toko cabang yang di kota lain. Jadi mereka hanya mengurus yang di pasar dekat rumah aja karena yang ngurus nya juga udah berhenti karena bikin usaha juga! " jawab Aulia lagi.
"Alhamdulillah kalau gitu! Duh, seneng banget aku karena kita akan menjadi saudara beneran! Meskipun hanya saudara angkat tapi bagi aku kamu sudah seperti saudara kandung aku Aul! " ucap Amay lagi yang membuat Aulia menangis.
"Hu... Hu... Hu... Bagi aku kamu juga lebih dari saudara kandung aku May! Kamu bukan hanya sahabat aku, tapi juga saudara aku! Kita bersama udah dari kita kecil dan aku juga ingin kita selalu bersama hingga kita jadi nenek-nenek! " sahut Aulia dengan menangis haru.
"Iya Aul... ! Gak cuma kita aja, tapi anak-anak kita juga akan bersahabat seperti kita berdua dan seperti suami-suami kita! " jawab Amay dengan menghapus air mata di pipi Aulia.
Ia menghapus juga air mata di sudut matanya dan kembali duduk di kursi.
"Ayo kita makan lagi makanan kita! Sayang banget belum pada habis! " ucap Amay sembari menyendok kan makanan nya ke dalam mulut.
Aulia mengangguk dan memakan kembali salad buah nya. Mereka kembali mengobrol tentang masa kecil mereka dulu hingga sampai saat sekarang ini.
...****************...
Keesokan harinya, Aulia sudah siap berangkat ke kampung nya dengan di antar sopir Papa Rahman.
Awalnya ia menolak tapi Papa Rahman tidak menerima penolakan dan ini lah dia sekarang yang sedang berpamitan pada semua orang.
"Nduk, bilang sama orang tua mu untuk tidak terlalu repot-repot saat menyambut kami nanti! Biar semua nya menjadi urusan kami di sini! Lagi pula di kampung udah ada Ibu nya Davin yang akan mengurus di sama bersama Annisa! Kamu cukup mempersiapkan diri kamu saja! " pesan Bulek Saroh sebelum Aulia masuk ke dalam mobil.
"Iya Bulek! Kalau begitu Aulia berangkat dulu ya semuanya! Assalamualaikum! " jawab Aulia sambil melambaikan tangan pada semua orang.
"Hati-hati, kalau sudah sampai jangan lupa kabari ya?? " teriak Amay agak keras.
Aulia hanya memberikan jempol nya tanda iya karena mobil sudah semakin jauh dan sudah keluar dari pekarangan rumah keluarga Barzakh.
"Pokok nya pestanya harus meriah kayak pesta nya Amay dan Izam! Jeng, nanti kita lihat-lihat dekorasi gedung nya yah! Duh, jadi gak sabar pengen sibuk-sibuk lagi! " ucap Mama Lia penuh semangat pada Bulek Saroh.
"Ma, kenapa Mama yang antusias? Waktu acara resepsi Maliq kemarin Mama juga yang paling semangat sampai gak melibatkan yang punya acara! Masa iya Davin juga kayak gitu? Davin dan Aulia pasti punya pernikahan impian nya juga kali Ma! " protes Izam pada Mama nya.
"Ih, kamu protes aja! Davin aja gak protes! Mama juga yakin Aulia juga sama kayak Davin! Mama kan pengen sibuk-sibuk lagi mengurus semuanya! " jawab Mama Lia kesal.
"Dih, bilang aja ketagihan nyuruh-nyuruh orang! Waktu itu kan Mama cuma tunjuk-tunjuk doang! Mana ada Mama sibuk beneran! " cibir Izam sembari melangkah masuk kedalam mobil.
"Pa... ! Tukar tambah anak bisa gak! Kesel banget Mama sama anak Papa satu ini! Kumat lagi nyinyir nya sama Mama! " teriak Mama Lia pada suaminya.
"Dah yuk ke kantor! Elu senang banget berdebat sama Mama! Herman gue! Assalamualaikum semuanya! " lerai Davin sambil mendorong Izam agar masuk ke dalam mobil.
__ADS_1
Bersambung...