
Davin, Izam dan Annisa memutuskan untuk mengantar Aulia dulu pulang, baru setelah itu mereka pulang ke kediaman Barzakh.
"Maaf ya sayang, hanya bisa mengantar sampai sini! " ucap Davin yang mengantar Aulia hanya sampai pintu pagar.
"Iya Mas, gak papa! Terimakasih ya! " sahut Aulia maklum.
"Ya udah, buruan masuk! Kami akan pulang setelah kamu masuk! " ucap Davin lagi pada calon istri nya itu.
Aulia mengangguk, ia membuka pagar dan masuk ke dalam rumah. Ia mengetuk pintu dan Bu Irah membukakan pintu. Davin melambai kan tangan pada calon mertuanya itu saat Izam menghidupkan mesin mobil.
Ibu Irah membalas melambaikan tangan tanda ia membalas sapaan calon menantu nya itu.
"Mas Davin gak sempat turun Ma! " ucap Aulia memberitahu Mamanya.
"Iya, Mama tahu! Makanya Mama ikut melambaikan tangan sebagai tanda gak masalah, yang penting ia pergi setelah memastikan kamu benar-benar masuk ke dalam rumah! Yuk kita masuk! " sahut Mama Irah santai sambil merangkul bahu anaknya.
Aulia tersenyum dan berjalan memasuki rumah nya bersama sang Mama.
Sementara itu, Annisa, Davin dan Izam langsung pulang ke rumah setelah mengantarkan Aulia. Davin akan kembali ke rumah sakit malam hari sehabis magrib untuk mengantarkan makanan pada Pakde sekalian membawa barang yang mereka belanjakan tadi.
Davin langsung pulang ke apartemen nya begitu Izam dan Annisa turun dari mobil. Amay sudah berdiri di depan pintu menyambut kepulangan suaminya.
"Assalamualaikum sayang! " ucap Izam pada sang istri.
"Assalamualaikum Kak! " ucap Annisa juga.
"Waalaikumsalam Bang, Nisa...! Mas Davin gak mau mampir dulu, Bang? " tanya Amay pada suaminya.
"Gak sayang! Soalnya abis magrib dia mau ke rumah sakit lagi ngantar makanan! Ayo kita masuk! " Jawab Izam setelah melabuhkan ciuman di kening dan bibir istrinya.
"Abang ih kebiasaan! Main cium aja di depan orang! " ucap Amay gemes dengan mencubit perut suaminya.
"Biarin, toh Annisa juga udah langsung masuk! Abang kangen sama istri Abang yang cantik ini! " sahut Izam masa bodo sembari merangkul bahu sang istri.
Annisa langsung masuk ke dalam rumah setelah Amay menjawab salam nya. Ia tidak mau mengganggu kemesraan pasangan suami istri itu.
Ia langsung membawa tas nya menuju kamar yang biasanya ia tempati saat ke rumah kakak sepupunya ini.
"Assalamualaikum semuanya! " ucap Annisa saat tiba di ruang keluarga menyapa semua penghuni rumah ini yang lagi duduk santai termasuk Pak lek dan Bulek Saroh.
"Waalaikumsalam... Langsung aja ke kamar kamu Annisa! Masih tau kan jalan ke kamar nya! Kamu pasti capek! Nanti habis Magrib kita makan malam, jangan di kamar aja! " ucap Mama Lia begitu menjawab salam Amay.
"Masih Ma, Nisa ke kamar dulu ya! " jawab Annisa dengan mengangguk sopan.
"Iya Nduk, pergilah! " sahut Bulek Saroh mempersilakan ia pergi.
Mereka sedang menimang cucu-cucu mereka di ruang santai atau ruang keluarga sambil bercengkrama dan menonton televisi.
Amay dan Izam langsung naik ke lantai atas menuju kamar mereka. Amay melayani suaminya setelah hampir tiga bulan ia sibuk dengan si kembar.
Ia membantu Izam melepaskan pakaian nya dan menaruhnya di keranjang kotor. Karena hanya di kamar saja, Amay melepaskan hijab panjang nya dan memperlihatkan rambut coklat indahnya yang ia ikat sembarangan. Ia juga membuka jaket panjang nya yang ternyata ia hanya memakai daster terusan yang tanpa lengan, yang panjang nya semata kaki.
Ia tidak sadar jika sedari tadi mata elang suami nya menatap nya dengan tatapan lapar. Sedangkan Amay sibuk lalu lalang ke kamar mandi menyiapkan air hangat untuk mandi suaminya.
Izam mengikuti Amay hingga ke kamar mandi dan berdiri di belakang istrinya itu saat Amay menghidupkan kran air panas. Setelah merasa cukup, ia membuka kran air dingin agar air tersebut menjadi hangat untuk bisa di gunakan.
"Astagfirullahalazim Abang!!! Ngapain sih berdiri di belakang Amay?? Ngagetin aja tau! " ucap Amay kaget setengah mati sembari mengelus dadanya yang berdebar kencang.
__ADS_1
Izam tidak bicara karena ia dari tadi hanya melihat bibir ranum istri nya yang menggoda iman. Tanpa berkata apapun, Izam meraih tengkuk Amay dan melu mat bibir nya dengan penuh nafsu dan gairah.
Amay yang kaget mendapat perlakuan seperti itu dari suaminya membuatnya reflek memegang tubuh Izam yang sudah naked yang hanya memakai bokser saja.
Ia membalas luma tan suaminya, membuka mulutnya agar Izam leluasa memainkan semua yang ada di dalam mulutnya. Kepala yang miring membuat ciuman mereka semakin dalam dan menuntut. Bahkan tangan Izam sudah bermain di sumber makanan si kembar yang sangat besar ukuran nya dari sebelum Amay hamil.
Ciuman Izam turun ke leher dan meninggalkan jejak kemerahan yang banyak dan Izam sengaja melakukan nya karena Amay selalu memakai pakaian tertutup hingga jejak yang ia tinggalkan tidak ada yang lihat selain dirinya.
"Akkhhh... Baaang... ! " desah Amay lolos dari mulut nya.
Izam semakin gencar men jilat, meng hisap dan men cium leher sang istri saat mendengar desa han tersebut. Ia bahkan melepaskan daster Amay dan Amay mengangkat kedua tangan nya agar daster nya lolos juga.
Mata mereka saling menatap penuh gairah satu sama lain. Amay yang juga sudah di penuhi gairah, melu mat habis bibir suaminya dengan tangan meremas lembut rambut sang suami.
Tangan Izam melepaskan pengait penutup sumber makanan si kembar dan membuang nya begitu saja di lantai.
Ia menyentuh gunung tersebut dan memijatnya dengan lembut hingga membuat Amay kembali men desah.
"Aabbhang... Jangan kencang-kencang! Nanti Asi nya keluar! " ucap Amay di sela-sela desa han nya.
Izam hanya berdehem karena mulutnya sedang asyik men jilat dan meng hisap leher jenjang istrinya. Dengan kedua tangan masih bermain lembut di gunung kembar istrinya, ia mendorong pelan tubuh Amay hingga mentok ke dinding.
Tangan nya bahkan bergerilya di bagian bawah milik istrinya yang mulai basah karena ulah nya. Ia bermain-main di bawah sana sehingga membuat istri semakin men desah dan men desis. Dengan sekali tarik, penutup bagian bawah yang memang tipis langsung sobek di tarik Izam hingga lepas. Ia melemparnya sembarangan di dalam kamar mandi.
Izam melebarkan paha istrinya dengan posisi berdiri agar ia leluasa bermain di bawah sana.
"Sudah becek sayang! Men desah lah dengan indah! " bisik Izam sembari melu mat habis bibir seksi istrinya.
Desa han Amay memenuhi kamar mandi dan era ngan nya juga membuat Izam semakin cepat memainkan jari nya di bawah sana hingga akhirnya gelombang hebat datang dari ujung kaki hingga ujung kepala nya Amay yang membuat ia reflek memeluk kencang tubuh suami nya dengan tubuh bergetar hebat.
Izam hanya terkekeh, ia kembali merangsang gairah istrinya dengan memberikan ciuman panas yang menuntut lebih sambil tangan nya bermain di gunung kembar Amay hingga membuat Amay kembali bangkit dan men desah kencang.
Ia meloloskan bokser nya dan mengangkat kaki Amay sebelah kanan dengan tangan kiri memeluk pinggang Amay.
Ia menuntun piton miliknya mendekati bibir goa, menggesek nya dengan pelan hingga Amay men desis dan merintih geli dan nikmat secara bersamaan.
"Abaaaang.... " rengek Amay.
"Iya sayang... " jawab Izam parau.
"Masukkan... Aku udah gak tahan.. " rengek ia lagi dengan wajah sayu.
"Dengan senang hati sayang ku.. " jawab Izam sambil melu mat bibir istrinya.
Dengan sekali hentakan dan dorongan keras, piton Izam jebol goa hingga Amay men jerit kencang.
"Oh sayang... Sempit sekali.. Oh... " desah Izam saat piton nya di jepit kuat goa nya Amay.
"Bergerak abang! " ucap Amay dengan memberikan luma tan pada bibir suaminya.
Izam bergerak maju mundur sambil memegang sebelah kaki Amay yang di angkat. Mereka bercinta dengan posisi berdiri bersandar di dinding kamar mandi.
Desa han, rintihan, era ngan kedua nya menghiasi kamar mandi. Mereka saling memberikan kepuasan pada pasangan nya masing-masing dan Amay men jilat leher dan telinga bagian belakang suaminya sehingga Izam men desah dan men desis kencang.
Ia mempercepat tempo gerakan nya dengan kedua tangan meremas bokong Amay dengan gerakan maju mundur.
"Lebih cepat abaaang... Aku mau keluar! " teriak Amay kencang.
__ADS_1
"Tunggu sebentar sayang! Abang sebentar lagi sampai! " jawab Izam dengan semakin mempercepat goyangan nya, hentakan nya, hujaman piton nya hingga Amay mencengkram erat punggung suaminya saat gelombang nikmat nya datang.
"Abaaaang... Akkhh.... " jerit Amay dengan tubuh lemas tak bertulang.
"Sayang... Akkhhh.... " teriak Izam juga saat ia juga melepaskan lahar putih muntahan piton nya di rahim Amay.
Izam menahan tubuh lemas Amay dengan tangan nya dan mencabut piton yang udah loyo dari sarang goa nya. Ia mengangkat Amay memasukkan nya ke dalam bath up yang sudah terisi air.
Tidak hanya Amay yang masuk ke dalam bath up, Izam juga masuk dengan duduk di belakang istrinya.
"Ayo sayang Abang mandikan! " ucap Izam sembari menggosok punggung Amay dengan spon penggosok tubuh.
Amay tidak menjawab, tubuh nya benar-benar tidak bertenaga dan terasa lemah tak bertulang. Izam memandikan Amay dengan telaten dan mereka berdua benar-benar mandi.
Izam membalut tubuh polos Amay dengan bathrobe dan ia melilitkan handuk di pinggang nya.
Izam menggendong Amay dari kamar mandi hingga mendudukkan nya di atas kursi di depan meja rias nya.
"Abang! Apa abang puas hanya sekali ronde?? Ini kah sudah tiga bulan Abang puasa! " tanya Amay dengan tidak enak hati pada suaminya.
"Untuk sekarang sudah sayang! Kalau saja bukan mendekati azan Magrib, pasti Abang meminta ronde kedua! Tapi gak tau juga nanti malam... " jawab Izam dengan mengedipkan mata nya.
"Ish, dasar mesum! " ucap Amay dengan wajah merona malu.
Dengan tanpa sungkan, Izam membantu Amay mengeringkan rambut nya dengan berdiri di belakang Amay.
"Abang pakai ada dulu pakaian nya! Biar Amay yang kerjakan sendiri! " pinta Amay pada suaminya.
"Iya sayang! " jawab Izam patuh.
Ia beranjak dari belakang istrinya menuju lemari dengan bertelanjang dada mengambil pakaian serta onderdil nya di dalam lemari.
Amay juga memakai pakaian dalam nya dan tak ketinggalan daster gamis lengan panjang. Ia tadi sengaja memakai daster tanpa lengan saat menyambut kepulangan suaminya. Ia ingin membuat suaminya senang dengan pelayanan nya.
"Bang, gimana tadi di kantor polisi?? " tanya Amay dengan masih memegang hair dryer.
"Ya gak gimana-mana sayang! Bude Maryam tetap di lapor kan dan di tuntut oleh Davin dan Bulek Saroh dengan laporan yang berbeda! " jawab Izam sembari memakai baju kaos nya.
"Terus Abang tadi ketemu lagi dengan keluarga nya?? " tanya Amay lagi.
"Ketemu sayang! Bahkan mereka berbicara pada Abang meminta Abang untuk membebaskan Bude Maryam dengan alasan sudah tua! Ya Abang tolak lah! Sudah tau udah tua, masih juga membuat ulah hingga hampir membuat nyawa seseorang melayang! " jawab Izam dengan ketus.
"Amay sebenarnya kasihan Abang, udah tua harus mendekam di dalam penjara lagi. Tapi mengingat ia dulu selalu menghina Amay, memojokkan Amay hanya karena Amay anak angkat dan bahkan terang-terangan menjodohkan Amay dengan laki-laki pilihan nya, memang lebih baik dia di penjara. Siapa tahu dengan ia masuk penjara membuatnya merenung dan menyesal akan tindakan nya selama ini! " ucap Amay panjang lebar.
"Iya sayang! Bude Maryam memang harus di beri terapi kejutan agar ia sadar jika yang ia lakukan selama ini adalah salah! Davin akan tetap menuntut keadilan atas insiden itu terjadi dan membuat Ibu nya hampir keguguran. " sahut Izam pada Amay.
"Mas Davin dendam banget ya Bang sama Bude Maryam?? " tanya Amay lagi dengan menatap wajah suaminya.
"Gak sayang, Davin gak dendam! Ini murni untuk keadilan dan membuat efek jera untuk Bude Maryam! " jawab Izam santai.
"Tuh, azan magrib nya sudah berkumandang! Ayo kita ambil wudhu dulu! " ajak Izam sembari berjalan ke kamar mandi untuk mengambil wudhu.
Bersambung...
Selamat membaca dan selamat weekend bersama keluarga tercinta🥰🥰🥰🥰
Semoga hari kalian menyenangkan 💕😍
__ADS_1