Bidadari Surga Untuk Penjual Kebab Yang Tajir

Bidadari Surga Untuk Penjual Kebab Yang Tajir
Tidak akan lolos begitu saja !


__ADS_3

Izam merengkuh bahu Davin yang menangis dengan bersimpuh di tanah. Ini kedua kalinya ia menangis seperti ini, pertama saat ia tahu jika ia bukan anak Ibu nya dan kedua adalah saat ini.


Tapi yang kedua ini yang paling membuatnya begitu rapuh dan terluka. Orang yang bertanggung jawab atas penderitaan kedua orang tua kandung nya ternyata orang terdekat Abah dan Umi nya.


"Bagaimana kita bisa menghukum perempuan jahat itu Zam? Kasus ini sudah berlalu selama tiga puluh tahun lebih! Aku tidak rela perempuan jahat itu bebas dengan begitu mudahnya! Aku tidak rela! Penderitaan Abah dan Umi ku yang kehilangan anak mereka harus perempuan itu rasakan Zam! " ucap Davin sedikit putus asa setelah ia menangis.


"Mungkin benar kita agak sulit menuntutnya untuk kasus 30 tahun yang lalu, tapi untuk kasus yang sekarang sepertinya tidak! Apalagi menurut cerita Bulek kalau ia berniat mengambil paksa Ponpes yang sama sekali bukan hak nya dia! Ayo lah, Bro! Jangan pesimis gitu? Tunjukkan pada perempuan itu kalau elo kuat dan akan membuat perempuan itu membayarnya dengan menjadi penghuni tetap hotel prodeo ! " sahut Izam memberikan semangat nya.


"Elo benar Zam! Gue gak akan lepas kan perempuan jahat itu begitu saja, dia harus mempertanggungjawabkan semuanya di kantor polisi! " jawab Davin penuh tekad dengan mengepal tangan nya.


"Ayo kita masuk! Sekarang yang terpenting kondisi Ibu dulu, karena saksi kunci nya ada pada Ibu elo! Dan Ibu elo juga bisa menuntut perempuan itu sebagai tindakan penganiayaan! " ucap Izam seraya menepuk pelan bahu Davin.


Davin mengangguk paham dan ia pun bangkit dari tanah dengan mengibaskan lutut celananya yang kotor karena tanah. Mereka kembali memasuki rumah sakit dan menemui semua keluarga yang masih berada di depan ruang IGD.


"Davin.. ! Kenapa celana mu kotor begitu? " tanya Bulek Saroh heran.


"Gak papa Bulek, jatuh sedikit tadi! " jawab Davin berbohong.


"Oh ya, gimana keadaan Ibu Bulek? " tanya Davin balik.


"Tuh, Pakde mu masih di panggil ke dalam! Mudah-mudahan Ibu mu gak papa, Bulek agak khawatir! " jawab Bulek Saroh dengan nada sedih.


Belum juga ia mau berkata lagi, Pakde Soleh keluar dari ruang IGD dengan wajah lesu dan sedih.


"Ibu bagaimana Abah?" tanya Annisa.


"Iya Pakde, bagaimana Ibu? " tanya Davin juga.


"Semuanya baik-baik aja kan Kang?? " tanya Bulek Saroh juga.


"Kata dokter pendarahan nya memang sudah berhenti saat di Puskesmas tadi, tapi kondisi janin nya sangat lemah. Benturan tadi sedikit mempengaruhi nya, dan akan di observasi selama 2x24 jam. Jika dalam 2x24 Ibu kalian tidak mengalami keram pada perut nya dan tidak pendarahan lagi maka janinnya baik-baik saja! " jawab Pakde Soleh dengan mata berkaca-kaca.


"Innalillahi.. " sahut semuanya dengan wajah kasihan dan prihatin.


"Semua gara-gara perempuan jahat itu Bah! Nisa gak mau kehilangan adik Bah! Nisa tidak mau! Hu... Hu... Hu... ! Nisa benci perempuan itu! Nisa benci! " teriak Annisa tidak terima jika terjadi sesuatu pada calon adiknya.


"Istighfar Nduk, istighfar! Kita masih punya harapan! Kita punya Allah, Allah tidak tidur! Kita berdoa sama-sama pada Allah agar memberikan kesehatan pada Ibu mu dan janin nya! Jangan ikuti nafsu setan, marah tidak akan menyelesaikan masalah! " ucap Bulek Saroh seraya menenangkan Annisa dengan memeluk nya.


Tidak hanya Annisa, tangan Davin terkepal erat mendengar jika calon adiknya tidak baik-baik saja. Tiba-tiba terdengar suara nada dering ponsel yang ternyata ponsel Bulek Saroh.


Bulek Saroh mengangkat panggilan tersebut yang ternyata dari Pak lek Rohim suaminya. Cukup lama ia berbicara di telepon sebelum akhirnya ia tutup dan mendekati Davin.


"Le, Pak lek mu meminta Bulek ke kantor polisi untuk memberikan keterangan tentang laporan kita pada perempuan itu! Sekalian juga polisi minta keterangan Bulek sebagai saksi kejadian ini! " ucap Bulek memberitahu Davin.


"Ya udah kalau gitu! Aku kita ke sana! Mama, temani Annisa di sini saja! Maliq mau ke kantor polisi menemani mereka berdua! " sahut Izam sambil meminta Mama nya menemani Annisa di rumah sakit.


"Iya, kalian pergi saja! Tuntut perempuan itu seberat-beratnya! " jawab Mama Lia dengan nada kesal.


Mereka semua mengangguk dan segera pergi ke kantor polisi tempat Pak lek Rohim menunggu mereka. Dengan berkendara selama 15 menit, mereka sampai di polres xxx.

__ADS_1


"Ingat Bro! Jangan terlalu emosi saat berhadapan perempuan itu! Jika elo terpancing sedikit saja, maka itu bisa merugikan kita karena bisa saja mereka menuntut balik kita! " pesan Izam sebelum keluar dari mobil pada Davin.


"Elo tenang aja! Gue gak akan buat keributan di dalam! " jawab Davin dengan sangat yakin.


Mereka bertiga pun keluar dari mobil dan berjalan memasuki kantor polisi dengan berbagai macam perasaan.


"Kau... ! "


"Kalian.. ! "


"Cih, ternyata perempuan jahat itu masih berkerabat dengan orang-orang seperti kalian! " cibir Davin saat melihat Haji Amir dan istrinya berada di samping perempuan yang di borgol polisi.


Ternyata begitu sampai di kantor polisi, Bude Maryam meminta polisi untuk menghubungi adik nya yaitu Hajjah Marlena istri Haji Amir yang tak lain adalah orang tua Anita, mantan gebetan Izam.


"Kau.. ! Berani-berani nya kau menuntut kakak ku! Aku tidak akan tinggal diam dan akan aku pastikan kau yang aku tuntut atas pencemaran nama baik! " teriak Hajjah Marlena menunjuk-nunjuk Davin dengan telunjuknya.


"Singkirkan tangan kotor mu itu! Jadi perempuan gila ini kakak mu! Pantas saja, adik dan kakak sama! Sama-sama gila akan harta milik orang lain! " jawab Davin santai dengan kedua tangan di masukkan di kantong celananya.


"Kau... ! " ucapan Hajjah Marlena tertahan oleh tatapan tajam suaminya Haji Amir.


"Maaf kan sikap istri saya Tuan Davin, bisakah masalah ini di selesaikan secara kekeluargaan? Saya minta tolong agar kakak ipar saya di bebas kan, kasihan dia karena sudah tua dan tidak punya siapa-siapa selain kami! " ucap Haji Amir dengan suara lembut memohon pada Davin.


"Itu tidak akan pernah terjadi Tuan! Davin Pratama adalah sahabat saya dan beliau sudah seperti keluarga bagi keluarga Barzakh! Apa lagi kakak ipar anda sudah membuat keributan di Ponpes tempat istri saya di didik dan di besarkan selama ini! Kali ini tidak akan ada toleransi atau sekedar tidak enakan karena kenal! Hukum akan tetap berjalan sebagaimana mestinya! " sahut Izam dengan nada dingin dan tatapan tajam nya pada Haji Amir.


Pak lek Rohim dan Bulek Saroh terkejut melihat sosok Izam yang mereka kenal selama ini berubah menjadi dingin dan terlihat menyeramkan. Haji Amir juga tak kalah kaget melihat sikap Izam yang berubah terbalik saat dulu bersama anaknya. Izam di mata Haji Amir dulu laki-laki biasa saja, tidak ada ekspresi marah atau pun tidak peduli seperti sekarang ini. Bahkan saat di hina oleh istrinya, Izam tidak penunjukan perasaan terluka ataupun sakit hati sama sekali, raut wajahnya biasa saja.


Tapi sekarang ia melihat sosok yang berbeda dari seorang Idzam Maliq Barzakh yang persis dengan yang di bicara kan orang selama ini. Putra bungsu keluarga Barzakh yang terkenal sebagai pebisnis yang tidak mau menerima kesalahan sedikitpun, selalu mengutamakan kejujuran dan disiplin yang tinggi serta dingin terhadap lawan.


Bude Maryam yang tadinya hanya menundukkan kepala menjadi mendongak kan kepalanya karena heran tidak mendengar lagi suara adiknya yang membelanya.


Ia terkejut melihat wajah Izam yang berdiri di samping Davin dan di depan Bulek Saroh dan Pak lek Rohim.


"K-kau.... ! " ucap nya lirih dengan mulut menganga


"Ya... Ini aku! Laki-laki miskin yang berprofesi hanya sebagai penjual kebab! Laki-laki yang dulu nya anda hina di depan orang banyak! Laki-laki yang di katakan tidak sepadan untuk seorang perempuan yang berkelas dan terpelajar seperti keponakan anda itu?? ini lah aku, Idzam Maliq Barzakh.. ! Kalau masih tidak tau siapa aku, ketik lah nama ku di google! Pasti akan anda temukan siapa sesungguhnya Idzam Maliq Barzakh itu! " jawab Izam dengan begitu sinis.


"Vin, kenapa Izam berubah jadi seperti itu?? Bulek berasa melihat orang lain? " bisik Bulek Saroh bertanya pada Davin.


"Izam sesungguhnya memang seperti itu Bulek kalau berhadapan dengan orang lain! Dia akan jahil dan konyol saat bersama keluarga saja! " jawab Davin juga sambil berbisik.


"Oh gitu... " ucap Bulek Saroh mangut-mangut tanda mengerti.


"Udah Umi, biarkan saja! Sudah waktunya orang seperti Mbak Maryam itu di beri pelajaran agar kapok dan gak ganggu hidup kita lagi! " sahut Pak lek Rohim agak pelan pada istrinya.


Merasa jika suaminya tidak tau apa-apa, Bulek Saroh inisiatif menarik tangan suaminya agar menjauh dari Izam dan Davin.


"Kenapa sih Umi?? Kok tangan Abah di tarik-tarik kayak gini? Emangnya kita mau kemana?? " tanya Pak lek Rohim dengan heran.


Meskipun heran dan bingung, ia menurut saja langkah kaki istrinya yang membawa ia ke bangku luar di luar kantor polisi.

__ADS_1


"Bah, asal Abah tau saja ya! Kalau waktu terjatuh Mbak Tinah menunjuk Mbak Maryam dua kali kalau dia lah perempuan pada malam itu! " ucap Bulek Saroh saat mereka sudah duduk di bangku yang ada di halaman kantor polisi.


"Maksudnya Umi apa?? Abah gak ngerti? " tanya Pak lek Rohim tambah bingung.


"Ish Abah ini! Lama banget loading nya! Itu loh Bah, perempuan malam itu yang di lihat Mbak Tinah membayar suster untuk membuang Davin di tempat sampah! " jawab nya lagi dengan kencang.


"Apaaaa??? " teriak Pak lek Rohim tidak kalah kencang.


"Ssssttt... Jangan kencang-kencang Bah! " ucap Bulek Saroh menempelkan telunjuknya di bibir.


"Umi yang bikin Abah kaget! " sahut Pak lek Rohim pelan dengan melihat kanan kiri takut ada yang menegur mereka.


"Umi gak bohong kan?? Abah gak mau Umi memfitnah orang meskipun itu orang yang membuat kita kesal! " ucapnya lagi pada sang istri.


"Abah kita Umi ini orang yang suka memfitnah orang gitu?? Dua kali Bah, dua kali! Mbak Tinah menunjuk Mbak Maryam sambil meringis kesakitan! Dan Umi lebih percaya pada omongan Mbak Tinah dari pada omongan yang keluar dari penjahat seperti Mbak Maryam! Tunggu aja sampai Mbak Tinah sehat dan dia akan mengatakan semua nya kalau dugaan dan firasat Umi ini benar! " jawab Bulek Saroh dengan ketus dan meninggalkan suaminya sendiri di bangku luar.


"Yah, marah dia... ! " sahut Pak lek Rohim menghela napas kasar.


Ia memutuskan untuk merenung sejenak memikirkan kata-kata istrinya jika Mbak Maryam adalah perempuan yang malam itu membayar suster untuk membuang keponakan nya.


Jika itu benar, ia benar-benar kecewa atas perbuatan jahat Mbak Maryam. Ia kecewa dan sedih karena orang yang membuat kakak dan kakak ipar nya ternyata ada di dekat mereka selama ini. Benar-benar jahat dan tidak berperasaan sama sekali. Ia sudah membuat kakak dan kakak ipar nya sedih dan terluka saat petugas rumah sakit mengatakan jika putra mereka meninggal dunia.


Kakak dan kakak ipar nya terpuruk beberapa tahun hingga akhirnya muncul Amay, bayi merah yang di taruh depan gerbang Ponpes. Kehadiran Amay membuat mereka bangkit dan mengikhlaskan semuanya jika anak adalah titipan yang bisa di ambil kapan pun itu.


Amay membuat mereka tersenyum kembali dan membuat mereka menjadi orang tua dengan merawat dan membesarkan nya seperti anak kandung mereka sendiri.


Amay membuat hidup mereka kembali berwarna dan bahagia hingga ajal menjemput mereka berdua.


Pak lek Rohim menghapus air mata yang keluar dari sudut mata nya mengingat semua penderitaan yang dialami kakak dan kakak ipar nya sebelum Amay datang di hidup mereka.


"Yah, jika memang benar Mbak Maryam lah dalang dari penderitaan Mbak Izah dan Kang Sulaeman, maka aku tidak akan membiarkan Mbak Maryam untuk lolos kali ini! Karena kasus Davin sudah berlalu 30 tahun lalu, maka untuk kasus yang sekarang aku tidak akan tinggal diam! Mbak Maryam harus di hukum seberat-beratnya kalau perlu seumur hidupnya! Kali ini kau tidak akan lolos begitu saja Mbak! Hukum harus di tegakkan! " ucap Pak lek Rohim dengan begitu yakin akan keputusan nya.


Ia lalu bangkit menyusul istrinya yang sudah masuk duluan ke dalam kantor polisi bergabung kembali dengan Izam dan Davin.


🌿🌿🌿


Sementara itu, Aulia yang di beritahu Amay langsung pergi ke rumah sakit milik keluarga Barzakh bersama kedua orang tuanya.


"Pakde, Nisa... ! " seru Aulia saat ia melihat mereka berdua duduk di depan ruang IGD.


"Mbak Aulia... ! " jawab Annisa dengan air mata yang mengalir di pipi nya.


Mereka berdua saling berpelukan sambil menangis. Kedua orang tuanya langsung berbincang dengan Pakde Soleh dan juga kedua orang tua Izam.


"Kang, Maaf kami baru tahu musibah ini! Amay yang ngasih tau Aulia, makanya kami langsung ke sini begitu Aulia menyampaikan nya kepada kami! " ucap Pak Mardi dengan tidak enak hati.


"Gak perlu minta maaf Pak Besan! Kami juga tidak sempat memberitahu siapapun! Pikiran kalut seperti ini tidak bisa berpikiran fokus! " sahut Pakde Soleh memaklumi nya.


Bersambung..

__ADS_1


Selamat membaca dan selamat beraktivitas reader ku semuanya πŸ€—πŸ€—πŸ€—


Semoga hari kalian menyenangkan πŸ’•πŸ˜


__ADS_2