
Ara melaporkan kepada Mama nya prihal Amay yang bekerja menjemur pakaian sewaktu ia main ke sana. Mendengar hal itu membuat Mama Lia mengambil tindakan cepat dengan mendesak Izam untuk pindah ke rumah utama saat itu juga.
Karena alasan Mama Lia sangat masuk akal dan juga Papa Idris sudah memberikan peringatan agar Izam segera kembali ke perusahaan keluarga karena Papa Idris sudah tidak mau lagi mentolerir menggantikan nya, Izam pun menyetujui keinginan Mama nya dengan pindah ke rumah utama.
Ditemani Amay, Izam pamit ke rumah Bunda Yasmine sekaligus memberikan undangan resepsi pernikahan mereka yang di adakan di hotel keluarga Barzakh yaitu Hotel Artasena yang sama dengan nama besar Opanya dari Mama nya yaitu Opa Barry.
"MasyaAllah... Jadi nak Izam ini anak laki-laki dari Keluarga Barzakh yang terkenal itu?? Bunda benar-benar tidak menyangka jika anak orang kaya raya menyewa rumah kecil milik Bunda! Subhanallah... Rasanya kayak mimpi rumah Bunda di datangi orang seperti Nak Izam! " ucap Bunda Yasmine dengan sangat terkejut.
"Bunda berlebihan, yang kaya itu orang tua Izam! Tidak ada sangkut pautnya dengan Izam, lagi pula orang tua Izam tidak pernah mengajarkan kami anak-anaknya jika melihat orang itu dari harta dan jabatan nya! Karena di hadapan Allah kita itu sama semuanya, hanya iman dan taqwa yang membedakan kita. " jawab Izam rendah diri.
"MasyaAllah... Bunda salut dan bangga dengan didikan orang tua nak Izam! InsyaAllah Bunda dan keluarga akan datang di pesta kalian nanti! Dan Bunda ucapkan selamat atas kehamilan nak Amay, semoga nak Amay dan calon bayinya sehat sampai lahiran. Dan semoga nanti lahiran dengan gampang, mudah, lancar serta nak Amay dan bayinya sehat walafiat. " sahut Bunda Yasmine dengan tulus.
"Aamiin ya Rabbal alamiin, terimakasih atas doa nya Bunda! Kalau begitu kami pamit dulu Bunda! Terimakasih juga sudah mengizinkan Izam mengontrak di rumah Bunda! " jawab Izam mengamini doa Bunda Yasmine sekaligus berpamitan.
"Sama-sama nak Izam, nak Amay! " sahut Bunda Yasmine dengan tersenyum.
Izam dan Amay pun langsung pergi ke rumah utama karena dari tadi Mama Lia sudah berulang kali menelpon Amay bertanya kenapa mereka belum juga sampai.
Dua hari lagi, keluarga Amay yang dari kampung juga akan datang dengan sopir yang sengaja di siapkan untuk menjemput mereka pergi ke Jakarta.
Pak lek dan Bulek serta keluarga yang lainnya tidak perlu lagi bersusah payah menggunakan kendaraan umum jika ingin pergi ke kota.
"Kenapa? Mama lagi yang nelpon? " tanya Izam ketika Amay menyimpan kembali ponselnya ke dalam tas.
"Iya, Bang! " jawab Amay membenarkan.
"Dasar Mama, takut banget mantu kesayangannya di bawa kabur! Eh, tapi kan kamu istri Abang! Suka-suka Abang lah mau di bawa kemana! " gerutu Izam dengan wajah cemberut.
"Ish Abang! Suka banget sih cari gara-gara sama Mama! " sahut Amay jengah.
"Abisnya Mama sih! Masa Abang gak boleh bawa istri Abang kemana-mana! Amay kan istri Abang sendiri, bukan istri orang lain! Masa gitu aja gak boleh! Abang berasa kayak bawa istri orang aja! " jawab Izam agak sebel.
"Oh, jadi Abang punya niat bawa istri orang gitu?? " tanya Amay dengan menatap tajam suaminya.
"Eh, bukan gitu maksud Abang, sayang! Duh, kok jadi salah ngomong sih! Maksudnya Abang itu, bawa kamu pergi seolah-olah Abang ini bawa istri orang karena selalu di wanti-wanti sama Mama sendiri! Gitu maksud Abang, sayang! " jawab Izam pelan agar istrinya tidak lagi marah.
"Awas aja kalau Abang punya niat kayak gitu! " ancam Amay dengan mata melotot.
"Duh, gemesin banget sih kalau lagi mode marah gini! Pengen Abang kurung di kamar selama seminggu! " celutuk Izam gemes dengan mencubit pelan pipi gembul istrinya.
__ADS_1
"Udah Abang! Yang benar nyetirnya! Ntar Mama ngomel-ngomel lagi kita telat lagi! " ucap Amay mengingatkan suaminya.
"Iya sayang! " jawab Izam kembali fokus menyetir mobil.
Lima belas menit kemudian, mereka sampai juga di gerbang utama yang tinggi dan megah. Tanpa di suruh, gerbang tersebut langsung terbuka karena sudah terekam kamera CCTV karena pintu gerbang tersebut di buka dengan pengendali jarak jauh oleh satpam rumah utama yang selalu standby di depan layar CCTV.
Sesampainya di depan rumah, Mama Lia sudah berdiri tegak di depan dengan berkacak pinggang.
"Duh, mampus ini! Sudah di tunggu lagi di depan pintu sama paduka Ratu ! " celutuk Izam ketika melihat Mama nya.
"Plak.... Dosa tau bilang Mama kayak gitu! " ucap Amay kesal sambil memukul pelan lengan kekar suaminya.
"Piis sayang! Abang hanya bercanda! " jawab Izam memberikan dua jari sambil nyengir.
"Bagus ya?? Katanya jam sekian sampai, nyatanya jam segini baru nyampai! " ucap Mama Lia kesal ketika Izam turun dan membukakan pintu untuk istrinya.
"Ya ampun Mama!! Kayak gak tahu Jakarta aja! Ya pasti macet lah! " jawab Izam membela diri.
"Kamu gak papa sayang?? Ayo kita masuk! Pasti cucu Oma kecapean ya! " ucap Mama Lia lembut sambil mengusap pelan perut Amay.
"Dih, giliran sama mantunya lembut banget suara! Pas giliran anak sendiri kayak macan mau nerkam mangsa! " cibir Izam dengan pelan.
"Apa kamu bilang?? " Mama Lia melotot tajam menatap Izam.
Amay hanya geleng-geleng kepala melihat suaminya yang selalu saja bisa menjawab ucapan Mama mertua nya. Para pelayan tanpa di suruh membantu mengeluarkan barang-barang Izam dan Amay dari dalam mobil. Serta membawanya masuk ke dalam rumah.
"Aunty Bule.... " pekik Nanaz dan Syakir yang berlari dari dalam rumah menyongsong Amay yang baru saja masuk bersama Mama Lia.
Mereka berdua bersama-sama memeluk Amay tanpa melepaskan pelukan nya berjalan bersama menuju ruang keluarga.
"Kok cuma aunty yang di sapa? Uncle gak? " protes Izam dengan pura-pura merajuk.
"Gak mau! Kan udah ada aunty Bule! " jawab Syakir dengan wajah gemes nya.
"Iya, Uncle Alik gak seru lagi! Gak kayak Aunty Bule! " Nanaz ikut menambahkan.
"Kok gitu! Jadi kalian gak sayang lagi dengan Uncle?? " tanya Izam lagi dengan mimik wajah terpukul.
"Iya lah! Sayang sih, tapi sekarang lebih sayang Aunty Bule! Soalnya Aunty Bule tuh seru banget kalau baca cerita tentang nabi! Nanaz suka! " jawab Nanaz dengan kepolosan nya.
__ADS_1
"Iya, Syakir juga sayang banget sama Aunty Bule! " Syakir juga ikut mengiyakan ucapan kakaknya.
"Duh, gemesin banget sih keponakan Aunty!! Aunty juga sayang banget sama kalian berdua! Muah... Muah... Muah... " ucap Amay sambil menciumi mereka berdua dengan gemes.
"Dasar duo curut! Giliran ada yang baru, yang lama di lupain! " Izam mendumel kesal dengan keponakan nya.
"Dah lah, mau ke belakang dulu! Di sini juga gak di peduliin! Di cuekin mulu! " ucapnya lagi sambil berlalu pergi meninggalkan mereka yang sedang bercanda di ruang keluarga.
Amay bermain bersama dengan dua keponakan nya di temani Mama Lia yang sedang membaca majalah di atas karpet tebal di ruang tamu. Mereka sengaja bermain di bawah sambil tidur tiduran dan menonton televisi.
Seorang pelayan membawakan nampan berisi jus dan buah yang sudah di potong-potong ke dalam mangkok dan meletakkannya di meja dekat Amay dan anak-anak menonton televisi.
"Terimakasih ya mbok!! " ucap Amay kepada si Mbok dengan tersenyum lembut.
"Sama-sama, Nona muda! " jawab si Mbok juga dengan tersenyum ramah.
"Mbok yem ! " panggil Mama Lia yang sedang membaca majalah.
"Iya, Nyah! " jawab si Mbok menghentikan langkahnya.
"Jangan lupa makan malam nanti masak makanan yang bergizi ya untuk menantu saya! " ucap Mama Lia dengan pelan.
"Siap, Nyah! Saya akan menyiapkan makanan yang bergizi untuk Nona muda! " jawab Mbok yem dengan mantap.
"Bagusπ" sahut Mama Lia memberikan jempolnya.
"Mbok ke belakang dulu ya, Nyah, Nona muda! " pamit Mbok yem dengan membungkuk kan badannya.
Mama Lia dan Amay menganggukkan kepala mereka dan kemudian memakan cemilan yang di antar Mbok yem tadi bersama anak-anak.
πΎπΎπΎ
Seorang gadis cantik menatap layar ponselnya dengan wajah sendu. Ia sekarang sedang duduk di bangku pesawat yang akan membawa nya ke Singapura. Aulia pergi ke Singapura menemani Zahra menjalani pengobatan pasca siuman dari koma dua hari yang lalu.
Karena rumah sakit Singapura lebih lengkap peralatan pengobatan nya, Zahra di rujuk ke rumah sakit yang lengkap dan canggih alat-alatnya atas rekomendasi dari Izam. Saat ini Zahra memang sudah sadar dari koma nya, tetapi kondisi nya masih sangat lemah dan belum stabil. Ia harus lebih ketat dan lebih cermat lagi di pantau Dokter ahli keadaannya agar benar-benar pulih 100% dan tidak meninggalkan penyakit yang lain.
"Maaf ya May, aku gak ada di saat penting dalam hidup mu nanti! Aku doakan semoga acaranya berjalan lancar dan aku ucapkan selamat atas kehamilan mu! Jaga baik-baik keponakan ku ya May! Aku akan pulang setelah Kak Zahra sudah sembuh total ! " ucap Aulia dengan lirih menatap jendela luar pesawat.
Bersambung...
__ADS_1
Selamat membaca dan selamat beraktivitas readers semuanya...
Semoga hari kalian menyenangkan ππ...