
"Eeugghhh.... "
Suara lenguhan Amay membuat semua orang yang ada di dalam ruang perawatan nya berhenti bicara.
Papa Rahman berdiri dan mendekat di sisi Amay yang masih terbaring. Ia menyentuh pipi ranum Amay dengan penuh kasih sayang.
"Kamu sudah sadar Nak! Apa ada yang sakit? " tanya Papa Rahman dengan lembut.
"Papa.... ! Mana anak-anak Amay, Pa! " tanya Amay dengan suara yang pelan sembari menggeleng kan kepala.
"Mereka di ruang inkubator sayang, kata dokter mereka harus di sana dulu untuk observasi takut ada hal yang tidak di ingin kan terjadi, makanya mereka akan mengamati dan merawat si kembar sampai semuanya benar-benar baik-baik saja, dan sampai berat badan mereka juga bertambah! " jawab Mama Lia yang ikutan mendekati ranjang Amay.
"Amay mau duduk Pa, Ma... ! " ucap Amay berusaha untuk bangkit.
"Jangan langsung bergerak Nak! Pelan-pelan jika mau bergerak, Dokter Nadia bilang agar belajar bergerak pelan-pelan supaya anggota tubuh mu tidak kaku! " tegur Mama Lia pelan.
"Iya Ma.. ! " jawab Amay patuh.
Papa Rahman menggerakkan ranjang Amay hingga bagian kepala nya agak sedikit naik sehingga membuat Amay seperti duduk sendiri.
Amay celingak celinguk memperhatikan sekelilingnya seolah-olah sedang mencari sesuatu.
"Maliq ada di ruangan si kembar! Sampai kamu bisa gerak dan berjalan, ia di sana sedang melakukan kontak fisik secara langsung dengan si kembar satu persatu. " ucap Papa Idris langsung memberitahu Amay.
Ia tahu jika yang Amay cari itu adalah suaminya. Terbukti setelah perkataan Papa Idris tadi ia kembali memejamkan mata nya. Ia masih agak kaku untuk bergerak apalagi menggerakkan kakinya yang langsung terhubung dengan bagian sensitif nya yang baru saja habis bongkar mesin.
Ia ingin bertanya sesuatu yang mengganjal di hatinya, namun karena malu ia mengurungkan niat nya itu.
"Lebih baik tanya perawatnya aja lah nanti! " batin Amay.
Baru mau memejamkan mata nya, Dokter Nadia masuk bersama perawat ke ruangan Amay.
__ADS_1
"Selamat sore menjelang malam Mbak Amay? Bagaimana keadaan nya sekarang ini? Apakah perut nya sakit atau terasa begitu deras darah yang keluar dari jalan lahir Mbak Amay? " tanya Dokter Nadia dengan berdiri di samping Amay.
"Baik Dok, perut saya gak sakit. Darah nya juga biasa aja keluar nya seperti saat lagi datang bulan. Hanya saja bagian sensitif saya yang terasa ngilu jika bergerak kaki saya. " jawab Amay jujur.
"Alhamdulillah kalau begitu. Jalan lahir Mbak Amay kan di jahit dua jahitan, luar dalam karena tadi sedikit sobek saat mengejan. Ngilu nya akan hilang dengan sendirinya, hanya saja jika mau buang air jangan langsung jongkok. Pelan-pelan saja jongkok nya, tapi jika terasa sakit atau takut jahitannya lepas lebih baik pakai toilet duduk aja, jangan yang jongkok. " ucap Dokter Nadia dengan tersenyum kecil.
"Tapi Dok, saya agak susah BAB kalau pakai toilet duduk! Bukan nya saya kampungan, tapi saya benar-benar gak bisa kalau pakai toilet duduk! Terus jahitan nya nanti itu kalau kering di lepas lagi ya Dok benangnya? " sahut Amay sembari kembali bertanya.
"Pelan-pelan aja dulu kalau mau pakai toilet jongkok, tapi jika Mbak Amay takut jahitan nya kenapa-napa ya jangan di paksakan. Pakai toilet duduk nya pas benar-benar kebelet aja, biar BAB nya keluar. Nanti lama-lama akan terbiasa kok Mbak! " jawab Dokter Nadia lagi.
"Nah, kalau soal jahitan nya Mbak Amay jangan takut, karena benangnya yang langsung menjadi daging kok Mbak! Biar BAB Mbak Amay lancar, usahakan makan buah yang kaya akan serat! Apa ada yang di tanya kan lagi Mbak? " tambah nya lagi tanpa merasa risih karena Amay terus bertanya.
"Itu Dok, Asi saya kapan keluarnya ya? Kok sampai sekarang pakaian dalam saya gak basah tanda ASI nya keluar! Maaf kalau saya banyak bertanya! " tanya Amay agak sungkan.
"Kenapa Mbak minta maaf, memang seharusnya sebagai Ibu baru itu harus banyak bertanya! Nanti Asi nya keluar sendiri kok Mbak, gak semuanya perempuan bisa keluar Asi nya setiap habis melahirkan. Ada yang sampai dua hari baru keluar, nanti kita rangsang aja dengan pijatan agar Asi Mbak cepat keluar. Bawahan saya akan ke sini nanti mengajari Mbak bagaimana merangsang produksi Asi agar keluar ! Ada lagi Mbak?? " jawab Dokter Nadia tidak mempermasalahkan Amay bertanya.
"Ada satu lagi Dok! Berapa lama anak-anak saya di dalam inkubator? " sahut Amay bertanya lagi.
"Dokter, menantu saya boleh gak mengkonsumsi vitamin menambah Asi atau pelancar Asi seperti Booster Asi yang biasa di jual di supermarket? " tanya Mama Lia ingin tahu.
"Boleh-boleh saja Nyonya! Pastikan yang masa kadaluwarsa nya masih lama atau masih baru produksinya! Atau bisa juga mengkonsumsi sayur-sayuran penambah produksi Asi seperti Daun katuk, Daun kelor, Bayam, pepaya muda, asparagus, wortel dan makanan yang bergizi lainnya! " jawab Dokter Nadia dengan ramah.
"Terima kasih Dokter atas semua jawabannya! Maafkan kami terlalu banyak bertanya! " ucap Amay dengan sedikit tidak enak.
"Sama-sama Mbak Amay! Jangan sungkan seperti itu! Saya senang jika pasien saya banyak bertanya, itu artinya mereka bersemangat belajar menjadi Ibu yang hebat untuk anak-anak nya! Jika Mbak Amay ataupun Nyonya ada masalah dalam perawatan si kecil nanti, bisa langsung menghubungi saya atau pada Dokter Inayah langsung yang bertanggung jawab sebagai Dokter anak si kembar. Dokter Inayah Dokter yang hebat dan juga ramah pada anak-anak! " sahut Dokter Nadia dengan melihat pada Amay dan Mama Lia bergantian.
"Iya Dokter, Terimakasih atas bantuannya untuk menantu saya selama ini! " ucap Mama Lia juga dengan tersenyum tulus.
"Iya Nyonya, sama-sama! Mari Mbak Amay, Tuan dan Nyonya! Saya mau visit pasien lain! " jawab Dokter Nadia dengan sedikit menundukkan kepalanya kepada semua orang yang ada di dalam ruangan Amay.
"Iya Dokter, silahkan... ! "sahut Papa Rahman dengan ramah.
__ADS_1
Dokter Nadia pun keluar dari ruangan Amay di ikuti perawatnya.
"Kalau gitu, Mama dan Papa pulang dulu ya sayang! Bentar lagi juga mau Magrib, kami mau bersih-bersih dulu sekalian mau sholat maghrib! Nanti Mama dan Papa datang lagi bawa makanan untuk kamu sama Maliq. " ucap Mama Lia juga pamit mau pulang dulu ke rumah.
"Papa juga sayang, mau bersih-bersih juga ! Kamu mau di bawakan apa nanti? " sahut Papa Rahman ikutan pamit.
"Kalau gitu, Aulia ikut Papa pulang juga ya?? Soalnya kan dari kantor tadi langsung ke sini! Mau bersih-bersih juga! " tambah Aulia juga ikutan mau pulang.
"Elo pulang juga Vin... ! Pagi dari kampung langsung ke kantor, terus ke sini lagi! Elo istirahat aja sana! Ntar kalau ada apa-apa gue panggil elo ke sini! " ucap Izam dari balik pintu.
"Abang.... ! " panggil Amay dengan tersenyum bahagia menyambut Izam yang baru datang dari ruangan si kembar.
"Iya sayang, Abang di sini! " jawab Izam dengan tersenyum kecil.
"Ya udah, karena Izam udah di sini, kita pulang aja semuanya! Nanti sehabis magrib kita datang lagi ke sini! " ucap Papa Rahman dengan melihat semuanya satu persatu.
"Benar yang di katakan Papa, mendingan Mama Papa, dan semuanya pulang aja istirahat di rumah! Biar Izam aja yang nungguin Amay di sini! Kalian semua datang besok pagi aja! Papa juga istirahat aja di rumah dan kesini nya juga besok aja! " tambah Izam lagi sambil berkata pada Papa Rahman juga.
"Oke lah kalau mau kamu begitu! Ayo Pa kita pulang! Mama pulang dulu ya sayang! " sahut Mama Lia dengan mencium kening Amay dengan penuh kasih sayang.
"Papa pulang dulu ya sayang! " ucap Papa Rahman juga dengan mencium kening putri nya itu.
"Aku juga ya May... Selamat udah jadi Ibu! " ucap Aulia juga dengan cipika-cipiki dengan Amay.
"Om pulang juga ya Nona muda... Selamat atas kelahiran si kembar! " ucap Om Hardi yang akhirnya bicara juga.
"Iya Ma, Pa, Om, dan Aul... Terimakasih atas ucapan nya! Hati-hati ya di jalan! " jawab Amay dengan tersenyum bahagia.
Mereka semua pun keluar dari ruangan Amay satu per satu hingga hanya meninggalkan Izam dan Amay saja di ruangan itu.
Bersambung...
__ADS_1