Bidadari Surga Untuk Penjual Kebab Yang Tajir

Bidadari Surga Untuk Penjual Kebab Yang Tajir
Jepang


__ADS_3

Davin bersiul dengan hati gembira pagi hari ini. Wajahnya bersinar ceria penuh kebahagiaan, berbanding terbalik dengan sang istri yang merenggut kesal dan bibir mengerucut manyun.


Bagaimana tidak, sehabis sholat subuh tadi ia kembali meminta jatah untuk sang ular piton nya pada sang istri. Aulia tidak kuasa menolak meskipun masih agak sedikit sakit dan perih tapi ia tidak bisa menolak sensasi nikmat dari kegiatan mereka itu, walaupun hasil akhir nya bagian intinya kembali sakit sehingga membuat nya menjadi susah untuk berjalan.


"Mas nyebelin! Gara-gara Mas, aku jadi susah jalan kayak gini! Masa aku jalan nya kayak pinguin gini! " omel Aulia dengan tidak sungguh-sungguh.


Davin yang mendengar omelan sang istri tercinta langsung tergelak dan meraih tubuh sang istri dalam sekali angkat dan mendudukkan nya di kursi meja rias.


"Ish... Senang banget tawa nya! " ucap Aulia dengan bibir maju lima senti.


"Habis nya istri cantikku ini lucu banget! Pantesan aja Izam selalu gak pernah betah lama-lama di kantor, rupanya memang menyenangkan jika melakukan ibadah bersama istri kayak gini! Cup.. Cup.. ! " sahut Davin terkekeh sambil memberikan beberapa kecupan di bibir manyun sang istri.


Aulia yang masih menggunakan bathrobe tersenyum kecil dengar perkataan suaminya. Perlahan ia menggeser kan bokongnya menghadap meja rias dan mulai melakukan perawatan pada wajahnya.


"Mas.. ! Tolong angkat koper ke atas kasur! Aku mau pakai baju dulu! " pinta Aulia pada suaminya.


Davin yang sedang menelpon layanan kamar langsung berjalan ke pojok mengambil sebuah koper dan menaruhnya di atas kasur sesuai permintaan sang istri.


Aulia sedikit menundukkan tubuhnya untuk meraih ujung kasur karena posisi meja rias tidak terlalu jauh dan ia langsung berpindah ke kasur dengan sekali angkat bokong tidak perlu berjalan.


Ia membuka resleting koper dan mengeluarkan pakaian yang akan ia kenakan berupa satu set pakaian dalam, sebuah leging, gamis polos berwarna maroon dan sebuah hijab silver ukuran besar.


Davin menelan ludahnya saat matanya tidak sengaja melihat istrinya membuka bathrobe memakai pakaian dalam sehingga menampilkan tubuh polos sang istri yang penuh dengan jejak pergumulan mereka semalam dan sehabis subuh tadi.


Kalau saja ia tidak ingat akan perjalanan mereka ke Jepang pagi ini, mungkin saat ini ia sudah menerkam kembali tubuh sang istri yang sudah membuat nya candu tersebut.


Aulia yang sedang memakai leging dan gamisnya tidak menyadari tatapan mata singa lapar yang berdiri di belakang nya. Ia agar kesulitan meraih resleting gamis yang ada di belakang untuk menutupi punggung nya. Davin mendekat ke arah sang istri dan membantu sang istri menaikkan resleting gamis namun sebelum itu ia mengecup lembut punggung belakang sang istri hingga membuat tubuh Aulia menegang sempurna.


"Ma-mas.. ! Ka-kamu mau apa?? " ucap Aulia terbata yang suaranya nyangkut di tenggorokan.


"Membantu mu sayang! " jawab Davin dengan suara serak sambil mengecup lembut leher belakang sang istri.


"Ma-mas.. ! Jangan macam-macam ya? Kita mau pergi loh! " sahut Aulia mengingatkan suaminya.


"Ish.. Iya, iya! Mas tau! " jawab Davin menghela napas kasar.


Tak lama pintu kamar di ketuk dari luar, Aulia segera memakai hijab nya saat Davin berjalan menuju pintu dan membuka nya agar pelayanan kamar yang mengantarkan sarapan mereka masuk.


"Ini pak sarapan nya! Selamat menikmati! " ucap pelayan hotel sambil mendorong troli makanan masuk ke dalam kamar.


"Terimakasih.. ! " jawab Davin seraya memberikan beberapa tip pada pelayan tersebut.


Pelayan hotel tersebut mengangguk ramah dan langsung pergi keluar dari kamar setelah menerima tip dari Davin. Setelah pintu tertutup, Davin mendorong troli makanan kearah sang istri duduk.

__ADS_1


"Ayo kita sarapan dulu sebelum kita cek out dari hotel ini sayang! " ajak Davin sambil menyuapi Aulia sarapan nya.


"Aku bisa sendiri Mas.. ! " ucap Aulia agak sungkan.


"Gak usah! Biar Mas suapin aja makan nya! Buka mulut nya sayang! " tolak Davin yang keukeh menyuapkan istrinya makan.


Aulia mau tidak mau membuka mulutnya karena suaminya menolak ia makan sendiri. Alhasil mereka sarapan berdua dengan Davin menyuapi sang istri hingga makanan nya habis.


"Kamu duduk anteng di sini saja sayang! Biar Mas yang beresin barang-barang kita! " ucap Davin setelah makan sambil mengelap mulutnya dengan tisu.


Aulia mengangguk pelan, Davin pun bergerak mengemasi barang-barang mereka dan memasukkan nya ke dalam koper dan memasukkan barang pribadi sang istri ke dalam ransel kecil lengkap dengan skincare sang istri, visa, pasport, dompet serta ponsel.


"Coba kamu cek sayang, apa ada yang lupa di masukkan atau sudah pas semuanya? " pinta Davin seraya menyerahkan ransel kecil tersebut di atas pangkuan sang istri.


Aulia langsung membuka resleting tas dan mengecek isinya. Ia tersenyum senang karena semua lengkap bahkan freshcare yang selalu ia bawa juga ada di sana.


"Lengkap semuanya Mas! " ucap Aulia sambil menutup kembali resleting tas dan menggendongnya ke punggung.


"Kalau gitu, ayo kita keluar dan cek out dari hotel ini! Kita harus bergegas ke bandara soetta dan jangan sampai kita terjebak macet! " sahut Davin sambil menarik koper mereka menuju pintu kamar.


Ia membuka pintu kamar dan Aulia berjalan dengan pelan di belakang suaminya karena bagian intinya masih sedikit tidak nyaman saat ia bawa berjalan.


"Apakah masih sakit sayang? " tanya Davin saat melihat jalan lambat sang istri.


"Apa perlu Mas gendong kita ke bawah? " tanya Davin menawarkan diri karena ia kasihan melihat istrinya agak susah berjalan.


Sejenak ia merasa bersalah karena sudah membuat istrinya kesusahan berjalan seperti itu, tapi di sisi lain ia ingin sekali mengulang hal semalam dan membuat sang istri lemas di tempat tidur sehingga mereka hanya berdiam diri di kamar tidak kemana-mana.


"Gak papa kok Mas! Jalan pelan-pelan aja aku nya! Lagian malu atuh di gendong kayak orang sakit aja! Yuk ah buruan! " jawab Aulia dengan tersenyum kecil sembari berjalan pelan menuju lift.


Mereka berdua akhirnya cek out dari hotel dan langsung menaiki taksi yang akan membawa mereka ke bandara soetta.


Setelah melalui hampir 30menit perjalanan ke bandara, mereka akhirnya sampai juga di depan pintu masuk bandara. Davin keluar duluan kemudian meraih tangan Aulia untuk membawa nya keluar dari taksi. Sementara sopir taksi mengeluarkan koper mereka dari bagasi. Davin membayar biaya taksi dan dengan mesra merangkul pinggang sang istri dengan tangan kanan nya sedangkan tangan kirinya menarik koper mereka untuk cek in.


"Tunggu disini dulu sayang! Mas mau cek in dulu di sana! " ucap Davin setelah menaruh koper mereka di depan Aulia yang duduk di bangku tunggu bandara.


Aulia mengangguk pelan dan ia menunggu suaminya sambil bermain ponsel menghubungi Amay melalui WA. Ia senyum-senyum sendiri saat melihat kiriman video Maggie yang kesusahan saat mau berbalik ketika tengkurap.


Davin yang selesai cek in menjadi heran melihat istrinya senyum-senyum sendiri bahkan tertawa kecil sembari melihat handphone.


"Ada apa sayang? Apa ada yang lucu sampai kau tertawa riang seperti itu? " tanya Davin dengan menaikkan sebelah alis nya.


"Nih Mas lihat aja! " jawab Aulia dengan menyodorkan ponsel nya di wajah sang suami.

__ADS_1


Sama hal nya dengan sang istri, Davin terkekeh geli melihat Maggie yang menangis keras karena tidak bisa balik ke posisi semula setelah tengkurap.


"Astaga ini anak.. ! Rasanya pengen Mas culik dan bawa pergi dari emak bapak nya! Gemes banget! " ucap Davin dengan geram.


"Hush sembarangan! Bisa ngamuk bapak nya sama Opa-Opa nya kalau si princess Mas bawa pergi! Mas Izam kan posesif banget sama anak gadis nya! " sahut Aulia dengan terkekeh pelan.


"Hahahaha... ! Iya juga sayang! Rasanya Mas udah gak sabar pengen punya satu princess kayak si Izam! Pasti seneng banget hidup kita punya anak perempuan yang lucu dan gemoy kayak Maggie! " jawab Davin juga dengan tertawa kecil.


Mendengar ucapan suaminya Aulia tersenyum bahagia dan berharap ia juga cepat di beri kepercayaan menjadi seorang Ibu seperti sahabatnya Amay.


Setelah menunggu selama hampir satu jam, akhirnya pemberitahuan keberangkatan mereka terdengar begitu kencang melalui pengeras suara.


Mereka berdua bersama penumpang yang lainnya segera memasuki ruang keberangkatan. Davin merangkul pinggang istri nya saat berjalan menuju pintu penghubung yang langsung berhubungan dengan pintu pesawat dan menyerahkan boarding pass pada petugas yang menunggu di depan pintu masuk pesawat.


Kopernya sudah dari tadi di bawa petugas bandara bersama koper milik penumpang lainnya dan akan di masukkan di bagasi pesawat.


Seorang pramugari menuntun Davin dan Aulia menuju kursi mereka di first class yang terbilang kelas paling mewah.


"Mas.. ! Gak salah kita duduk di tempat yang kayak gini?? Ini kan mahal banget! " bisik Aulia di dekat telinga sang suami.


"Gak salah sayang! Ini juga tiket pemberian Izam! Orang kaya mah bebas yank! Anggap aja sekarang kita jadi orang kaya meskipun hanya sesaat! Ayo duduk! " bisik Davin lagi dengan santai di telinga istrinya.


Pramugari mempersilahkan mereka berdua duduk di bangku mereka dan memberitahu ada bantal dan selimut di bagian bawah kursi mereka. Ia juga memberitahu cara menyalakan televisi yang ada di depan mereka dan beberapa tombol yang langsung berhubungan dengan pramugari jika mereka membutuhkan layanan makan dan minum.


Aulia berdecak kagum dengan fasilitas kelas yang mereka duduki saat ini dan mengusap lembut pegangan kursi yang begitu nyaman dan juga sandaran nya yang lembut dan empuk.


Karena sudah mendekati waktu akan take off, pramugari memberitahu pengumuman tata cara penggunaan pemakaian sabuk pengaman dan mematikan ponsel saat di pesawat.


"Kalau kamu ngantuk, tidur aja yank! " ucap Davin sambil mengambil bantal di bagian bawah kursi mereka dan menaruhnya di bawah kepala sang istri.


"Nanti aja Mas.. ! Aku juga belum terlalu ngantuk! " jawab Aulia sembari melihat keluar jendela.


Mereka mendapatkan bangku yang dekat jendela sehingga bisa melihat pemandangan di luar, terlebih lagi Aulia yang duduk di sisi jendela langsung hingga ia bisa melihat luasnya bandara dengan pesawat yang masih parkir atau pun yang baru landing.


Pesawat akhirnya take off menuju Jepang dari bandara soetta menggunakan pesawat garuda Indonesia. Perjalanan yang memakan waktu 7 jam 35 menit terasa lumayan lama oleh pasangan suami istri tersebut terutama Aulia yang udah gak betah duduk lama-lama di dalam pesawat dan di atas angkasa.


Ia sudah beberapa kali tidur dan akhirnya ia mendengarkan musik dengan headphone yang tersedia sambil menunggu sisa waktu dua jam untuk landing di bandara Narita yang terletak di Prefektur Chiba.


Dua jam sudah berlalu, pesawat akhirnya landing di bandara Narita. Setelah menunggu 15 menit, Davin dan Aulia keluar dari badan pesawat dan langsung menuju lorong yang terhubung langsung dengan pintu kedatangan bandara tanpa menuruni tangga.


"Alhamdulillah ya Allah.. ! Akhirnya kita sampai juga di Jepang! Ayo kita duduk di sana sayang sambil menunggu koper kita dari bagasi! " ucap Davin tersenyum lebar dengan membawa istrinya menuju bangku tunggu untuk para penumpang yang menunggu koper mereka dari bagasi.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2