Bidadari Surga Untuk Penjual Kebab Yang Tajir

Bidadari Surga Untuk Penjual Kebab Yang Tajir
Anugerah terindah..


__ADS_3

Perawat langsung memeriksa keadaan Amay, sedangkan Izam masih terlihat panik dan cemas akan kondisi istrinya.


"Ibu Amay tidak apa-apa Tuan! Beliau hanya pingsan karena kelelahan kehabisan tenaga! Alat vital nya normal dan tekanan darah nya juga normal! Ibu Amay hanya membutuhkan istirahat saja! Silahkan anda keluar dulu karena kami akan membersihkan Ibu Amay, Tuan! Nanti kami akan memanggil anda kembali untuk meng adzan kan anak-anak anda setelah semuanya selesai kami bersih kan. " ucap perawat tersebut dengan sopan dan ramah.


"Alhamdulillah... Kalau begitu, saya keluar dulu ! " sahut Izam dengan mengecup lembut dahi Amay.


Begitu ia keluar dari ruang bersalin, ia diberondong oleh semuanya dengan banyaknya pertanyaan.


"Maliq... Kenapa ada empat tangisan bayi? Apa mungkin Mama salah dengar?? " tanya Mama Lia dengan wajah penasaran.


"Iya Zam... ! Apa ada pasien lagi ya di dalam selain Amay?? " tanya Papa Rahman juga heran.


"Ayo jawab Maliq.. ! Jangan diam aja! Bagaimana keadaan Amay dan cucu-cucu Papa? " cerca Papa Idris lagi pada Izam.


"Alhamdulillah Amay dan anak-anak semuanya baik-baik saja! Semuanya sehat dan tidak kurang satu apapun! Anak-anak Maliq dan Amay bukan tiga Pa, Ma.. tapi empat! " jawab Izam dengan mengacungkan empat jarinya.


"Apa??? " teriak mereka semua dengan wajah terkejut.


"Iya Ma, Pa... ! Yang terakhir adalah Bonus karena ketiga kakak nya laki-laki dan yang terakhir perempuan! " jawab Izam lagi dengan menangis bahagia.


"Subhanallah... Ya Allah... Jadi cucu kita empat Pa.. ! Terima kasih ya Allah.. ! Ini benar-benar kejutan yang tidak di sangka-sangka! " ucap Mama Lia menangis haru dengan langsung memeluk Izam.


"Iya Ma... Papa juga gak nyangka jika kita mendapatkan anugerah luar biasa seperti ini! " sahut Papa Idris juga dengan wajah bahagia ikut memeluk anak dan istrinya.


Papa Rahman tidak kalah bahagia nya karena ia tidak hanya punya tiga tapi sekaligus dapat empat cucu.


Aulia dan Davin juga tersenyum bahagia mendengar kabar bahagia ini, mereka ikut bahagia karena keponakan mereka bukan tiga tapi empat.


"Apa kamu sudah melihat bagaimana rupa anak-anak mu Zam? " tanya Papa Rahman pada Izam.


"Belum Pa... ! Mereka lagi di bersihkan dan nanti Izam akan di panggil lagi untuk meng adzan kan mereka semua! Izam minta kesediaan Papa berdua untuk meng adzan kan dua anak Izam lagi nanti! " jawab Izam sambil meminta pada kedua Papa nya.


"Ya Allah, Papa mau Zam.. ! " ucap Papa Rahman cepat.


"Papa juga mau! " jawab Papa Idris tidak mau kalah.


"Kalau gitu mendingan kalian ambil wudhu aja sekarang sambil menunggu panggilan perawatnya! " ucap Mama Lia memberikan saran.


"Ide bagus Ma.. ! Ayo Pa, kita ambil wudhu bareng! " sahut Izam dengan mengajak kedua Papa nya.


Kedua Opa-Opa tersebut mengangguk dengan wajah bahagia karena akan meng adzan kan cucu mereka.

__ADS_1


Sementara itu, para perawat sudah selesai membersihkan keempat bayi-bayi tersebut dan akan membawa nya ke ruangan inkubator karena bayi-bayi Amay terlahir dengan berat badan rendah meskipun mereka semuanya sehat.


Mereka berempat akan di observasi sampai berat badan mereka sedikit naik menjadi 2500 gram, karena rata-rata semuanya lahir dengan berat badan 1900 gram.


Amay juga sudah di bersihkan dan di pakaikan baju pasien serta pembalut, setelah jalan lahirnya di jahit dengan dua jahitan. Plasenta nya juga sudah di taruh Bidan di dalam kendi yang sudah mereka siapkan dan akan diserahkan kepada pihak keluarga.


Seorang perawat menghampiri Izam yang menunggu di depan ruang bersalin.


"Pak Idzam.. Silahkan ikut kami ke ruang bayi karena keempat bayi-bayi anda di masukkan ke ruang inkubator karena berat badannya rendah! " ucap perawat tersebut begitu di depan Izam.


"Apa cucu-cucu saya baik-baik aja Sus?? Kenapa di masukkan ke ruang inkubator?? " tanya Mama Lia heran.


"Iya Nyonya! Karena lahirnya prematur, makanya di masukkan ke inkubator. Mereka semua sehat, hanya saja berat mereka rendah dan hanya 1900gram jauh dari berat badan normal yang 2500gram. Mereka akan di observasi selama satu minggu oleh dokter anak yaitu Dokter Inayah Agustina SpA. " jawab perawat tersebut dengan ramah.


"Apa yang harus kami lakukan Sus agar berat badan anak-anak saya bisa normal?? " tanya Izam agak sedikit khawatir.


"Tidak usah khawatir Pak, karena dengan pemberian ASI yang cukup berat badan mereka akan cepat naik! Hanya saja mereka akan di ruang inkubator sampai berat badan mereka semua nya naik! Mari Pak, ikut saya! " jawab perawat itu lagi membuat mereka semua tersenyum lega.


Izam dan kedua Papa nya berjalan mengikuti perawat tersebut menuju ruangan bayi.


Begitu mereka ke ruangan bayi, Amay keluar dari ruangan bersalin di dorong oleh perawat di atas ranjang pasien menuju ruang perawatan nya.


Mama Lia, Aulia, Davin dan Om Hardi mengikuti dari belakang. Amay masih belum sadar karena ia juga di berikan obat oleh Dokter Nadia dalam infus nya sehingga membuat ia seperti ketiduran.


"Ibu Amay baik-baik aja Nyonya! Beliau pingsan karena kelelahan, dan tidak lama lagi juga akan sadar karena Dokter Nadia sudah memberikan obat di infus nya! Satu jam lagi Dokter Nadia akan datang untuk memantau keadaan Ibu Amay, Nyonya! Kami permisi dulu, Nyonya! Mari.. ! " jawab perawat dengan ramah.


"Iya Sus, silakan! " sahut Mama Lia.


Mama Lia mendekati ranjang Amay dan mencium lembut kening Amay dengan tersenyum bahagia.


"Terimakasih sayang, udah berjuang memberikan Mama dan garis keturunan keluarga Barzakh! Semoga Allah memberkahi mu, suamimu dan anak-anak mu, Nak! " ucap Mama Lia dengan lirih begitu selesai mencium kening Amay sambil mengusap punggung tangan Amay.


Aulia ikut mendekat dan menggenggam tangan Amay dengan tersenyum lebar.


"Akhirnya perjuangan kamu mengandung selesai May, sekarang tinggal perjuangan membesarkan si kembar lagi yang akan kamu hadapi! Aku senang banget punya keponakan langsung empat kayak gini! Kamu perempuan dan Ibu yang hebat! " ucap Aulia dengan tersenyum bangga.


Sementara itu di ruangan bayi..


"Mari Pak, ini kakak nya gelang warna merah, dan yang kedua yang warna hijau ini, sedangkan yang biru ini yang ketiga dan yang pink si bungsu yang paling cantik diantara semuanya! " ucap perawat memberitahu Izam dan kedua Papa nya dengan menunjuk pada keempat boks inkubator tersebut.


"MasyaAllah, anak-anak Papa! Sabar ya sayang, sebentar lagi makanan kalian akan datang. Kalian akan tumbuh semakin besar biar kita berkumpul bersama Mama di rumah! " ucap Izam dari luar inkubator.

__ADS_1


Papa Rahman dan Papa Idris menangis bahagia melihat keempat cucu mereka sedang tertidur di dalam ruang kecil tersebut dengan menggunakan popok saja. Mereka meraba kotak kecil tersebut seolah-olah mereka sedang memegang mereka langsung.


Tiga orang perawat mengambil sang kakak satu persatu untuk di Adzan kan oleh Izam, Papa Rahman dan Papa Idris. Mereka bertiga kompak meng Adzan kan tiga bayi itu di telinga kiri dengan penuh penghayatan. Setelah ketiganya selesai, giliran si cantik lagi yang di Adzan kan Izam. Begitu semuanya selesai di Adzan kan dan saat di masukkan lagi ke dalam kotak inkubator, mereka semuanya menangis secara bersamaan sehingga membuat Papa dan Opa-Opa nya kaget.


"Sus, kenapa mereka semuanya menangis?? Apa mereka lapar? " tanya Izam agak cemas.


"Tidak apa-apa Pak.. ! Itu tandanya mereka sehat dan bernapas dengan bagus, paru-paru mereka sehat meskipun mereka terlahir dengan berat badan di bawah normal. Jika Ibu Amay sudah sadar, kami akan membawa nya ke sini untuk dilakukan metode kangguru atau skin to skin, atau Bapak juga bisa melakukan skin to skin pada bayi Bapak sampai Ibu Amay sadar nanti! " jawab perawat tersebut memberikan saran.


"Boleh Sus... Biar saya saja yang melakukan skin to skin pada mereka satu persatu sampai Mama mereka sadar! " sahut Izam penuh semangat.


"Baik Pak... ! Saya ambilkan dulu pakaian nya! " jawab perawat tersebut dengan membuka lemari di ruang tersebut dan membawa sebuah piyama rumah sakit umum Izam.


"Ini Pak, silahkan pakai agar gampang nanti meletakkan si kecil di dada Bapak! " ucap perawat tersebut dengan menyerahkan piyama yang bertali seperti bathrobe ke tangan Izam.


"Pa, Izam mau skin to skin anak-anak dulu menjelang Amay sadar! " ucap Izam pada kedua Papa nya.


"Ya sudah, kalau begitu kami ke kamar Amay dulu mau lihat keadaan Amay! " sahut Papa Rahman dengan di angguki Papa Idris.


Mereka sama-sama keluar dari ruangan bayi dengan tujuan berbeda. Izam keluar karena ke toilet untuk berganti pakaian karena toilet yang ia pakai adalah toilet yang ada di dekat ruangan tersebut hanya saja letaknya dekat pintu ruang bersalin.


Setelah selesai berganti pakaian, Izam kembali memasuki ruangan bayi namun terlebih dahulu mencuci tangan nya terlebih dahulu di wastafel yang ada di ruangan bayi.


"Mari Pak, silahkan duduk di sini! Akan saya ambilkan bayinya dulu! " ucap salah satu perawat di situ pada Izam.


Izam menuruti perkataan perawat tersebut dengan duduk di kursi yang mempunyai sandaran miring hingga ia tampak seperti berbaring tapi hanya seperti sudut tumpul.


"Buka sedikit piyamanya Pak.. ! " ucap perawat itu saat akan meletakkan bayi yang pertama di dalam dadanya Izam.


Hati Izam terenyuh penuh haru saat kulit nya bersentuhan dengan kulit halus dan lembut bayinya. Si kakak menggeliat di dalam dekapan hangat Izam dan berhenti menangis.


"Sayang nya Papa.. Senang ya Nak tidur di pelukan Papa! Kakak adalah kebanggaan Papa untuk menjaga adik-adik dan Mama saat Papa tidak ada! Kakak dan adik-adik adalah anugerah terindah yang di berikan Allah untuk Papa dan Mama serta untuk keluarga besar kita, sayang! " ucap Izam lirih dengan mengusap kepala belakang dan punggung si kakak.


Ia menyanyikan sholawat di telinga bayinya dengan suara yang kecil agar tidak menganggu adik-adik nya dan bayi yang lain yang ada di ruangan tersebut.


Lima belas menit berlalu, dan giliran yang kedua lagi skin to skin di dadanya Izam. Sama seperti yang pertama, Izam menyanyikan sholawat dan membaca surah-surah pendek di telinga si kecil. Begitulah seterusnya hingga skin to skin dengan princess kecil kesayangan nya.


Izam tersenyum geli saat princess nya di letakkan di atas dadanya mulutnya terbuka seperti mencari sumber makanannya.


"Ini Papa sayang... ! Princess nya Papa lapar ya? Tunggu Mama ya, Nak! Nanti princess nya Papa bisa makan semuanya sama Mama! Yang sabar ya, Nak! " ucap Izam tersenyum sembari memainkan tangan si kecil dengan telunjuknya.


Bersambung....

__ADS_1


Selamat membaca dan selamat beraktivitas reader ku semuanya...


Semoga hari kalian menyenangkan 💕😍...


__ADS_2