
Hai semuanya.. Akhirnya othor lega juga, part sebelumnya othor bikin tentang MP Izam dan Amay, namun dari senin malam hingga pagi ini terus di tolak oleh NT hingga lima kali. Karena kesel akhirnya othor terpaksa cepetin kisahnya hingga lewat satu minggu di part Usaha terus...
Eh, bikin yang beginian juga dari tadi pagi di tolak juga sampai dua kali, sampai othor niatin kalau sampai di tolak lagi yang ketiga nya othor bakalan ngambek tujuh hari tujuh malam.
Alhamdulillah akhirnya yang ketiga ini lulus review juga sore ini, padahal semua novel yang selama ini othor baca part hareudang nya malah lebih panjang dan lebih detail lagi dari yang othor bikin. Malah adem ayem aja tuh! Gak habis pikir othor buatnya, cuma bikin secuil aja di tolak terus, mana review nya lama lagi sampai berhari-hari. Bikin bete aja mau lanjut😤.
Tapi alhamdulilah othor ga jadi ngambeknya🤭dan tetap semangat lanjutin kisah Amay sama Babang Iz..
...****************...
Kring...... Kring...... Kring......
Jam beker berbunyi nyaring sekali yang kontan membuat Izam melonjak kaget dan langsung terduduk.
"Astaghfirullah... Lupa kalau belum setel nada nya agak kecil sedikit! Dasar jam! Bikin orang jantungan aja! " omel Izam sambil mematikan bel jamnya.
"Jam 4.30 ternyata. Ya Allah, sudah lewat adzan subuh rupanya! Sayang, bangun yuk! Mandi lalu subuhan! Udah jam setengah lima ini, nanti lewat lagi waktu subuh nya! Ayo sayang, bangun dulu! " ucap Izam sambil menggoyang bahu istrinya.
Amay tidak juga kunjung membuka matanya, malah semakin mengeratkan selimutnya hingga batas leher. Izam tidak habis akal, ia bangkit dari tempat tidur dan tanpa aba-aba langsung menggendong Amay dengan bridal style membawanya ke kamar mandi lengkap dengan selimutnya.
"Hmmmm Abang, Amay masih ngantuk ini? " ucap Amay masih dengan mata terpejam.
Izam mendudukkan Amay di atas closed dan membuka selimut yang membungkus tubuh istrinya. Ia tanpa canggung mengguyur air hangat yang keluar dari kran ke wajah Amay dan keseluruhan tubuhnya tanpa terlewati. Amay yang di perlakukan seperti itu oleh suaminya hanya menurut saja tidak protes sedikit pun. Izam dengan telaten memandikan istrinya hingga selesai dan Amay akhirnya membuka matanya karena sudah benar-benar hilang sedikit mengantuk nya karena sudah di guyur air.
Izam lanjut mandi dan Amay melaksanakan sendiri mandi junub sesuai syariat lalu memakai handuk yang sudah tersedia di gantungan. Amay lalu mengambil wudhu di kran di samping mesin cuci sedangkan Izam masih mandi junub di seberang Amay mengambil wudhu.
Amay keluar dari kamar mandi, mengeringkan rambutnya di depan kipas angin sambil memakai pakaian dalam dan gamis yang bersih untuk sholat. Ia menyiapkan pakaian untuk suami nya sholat dan tak lupa menggelar dua sajadah. Ia memakai mukena dan duduk menunggu suaminya selesai mandi.
Tidak sampai lima menit, Izam keluar dari kamar mandi dengan menggunakan handuk di pinggangnya dan memperlihatkan tubuh nya yang berotot dan beberapa roti sobek yang langsung membuat Amay memalingkan wajahnya karena otaknya tiba-tiba traveling kemana-mana melihat pemandangan indah di depan mata nya. Tak ingin sholat nya batal, Amay pun berdzikir sambil memejamkan matanya menunggu suaminya berpakaian.
"Ayo sayang kita sholat! " ucap Izam menyentuh lembut belakang kepala Amay.
Amay menganggukkan kepalanya dan mereka pun sholat subuh berjamaah di rumah. Dalam seminggu ini hanya dua kali Izam sholat subuh di masjid, selebihnya di rumah karena mereka sering tertidur setelah mencetak gol sehabis sholat tahajud sehingga selalu terbangun setelah azan subuh, itupun bangun dengan bantuan jam beker.
Setelah selesai sholat, Izam mengganti pakaian nya dengan celana training dan kaos tanpa lengan yang begitu mencetak otot-otot perut dan dadanya. Ia keluar dengan Amay ikut keluar juga karena akan menyiapkan sarapan untuk suaminya selesai suaminya berolahraga.
Izam berolahraga di depan rumahnya saja, Amay berkutat di dapur sambil menyetel murottal Alquran di ponselnya. Waktu terus berjalan dan tidak terasa sudah hampir satu jam Izam berolahraga. Amay menunggunya di ruang tengah sambil menonton tausiah di televisi.
Izam langsung mendudukkan diri di samping istrinya dan mengendus-endus leher istrinya yang tidak memakai hijab.
"Apaan sih Abang?? Geli tau! Hobi banget ngendus-endus leher Amay! Apa enaknya coba! " ucap Amay yang geli-geli dengan tingkah nyeleneh suaminya.
"Ya enak lah, seneng banget Abang dengan wangi strawberry nya! Cup... Cup... Cup... " jawab Izam dengan menghujani kecupan di leher dan tengkuk istrinya.
__ADS_1
"Ish Abaaaaang.... Geli tau!! " pekik Amay dengan mendorong wajah suaminya dengan tangan agar sedikit menjauh.
Izam berkelit dan memeluk istrinya itu dengan erat dan dalam sekali angkat, Amay sudah duduk di atas pangkuan suaminya dan izamt kembali melakukan aksi nyeleneh nya yang mana membuat Amay menjerit kegelian.
Tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu yang sangat keras yang langsung menghentikan aksi Izam dan membuat sepasang suami-istri itu saling berpandangan mengira-ngira siapa yang datang.
"Bukain pintu nya, Bang! Amay mau pakai jilbab dulu! " ucap Amay mencoba melepaskan tangan suaminya yang tengah memeluknya dengan erat.
"Udah biarin aja! Lagian siapa sih pagi-pagi gini bertamu! Kayak gak tahu waktu aja! Tuh lihat, baru jam 6 lewat 20 menit. Emang nya gak tahu apa kapan waktunya bertamu ke rumah orang! " jawab Izam cuek dan kembali menenggelamkan wajahnya di leher Amay.
Ketukan pintu semakin keras dan terdengar gedoran yang cukup kencang yang membuat Izam kesal dan ia langsung memindahkan istrinya ke sebelahnya. Ia bangkit dari duduknya berjalan ke depan untuk melihat siapa tamu yang datang.
"Iyaaaa... Gak sabaran banget sih jadi tamu! Awas aja kalau pintu itu sampai roboh, aku a...... " Izam membukakan pintu dan ucapannya terputus ketika melihat siapa yang berdiri di depan pintu rumahnya dengan tatapan tajam dan berkacak pinggang.
"Akan apa??? " bentak seorang perempuan paruh baya yang memakai gamis pastel dan jilbab syar'i yang senada warnanya dengan gamis tersebut.
"Mama.... Ya Allah.... Ngapain Mama pagi-pagi udah datang ke sini! " ucap Izam dengan wajah kaget dan tiba-tiba merasa tidak enak perasaannya.
"Pletak... " Mama Lia memukul keras lengan Izam.
"Aduhh Maaa.... ! Ampun Ma... Jangan di jewer kuping Maliq, malu di lihat orang! Emangnya Maliq anak kecil! " jerit Izam ketika tangan kanan Mama nya mendarat di kupingnya.
Amay yang mendengar jeritan suaminya langsung cepat-cepat memakai hijab instannya dan dengan setengah berlari ke depan pintu.
"Loh Mama, Papa ! Kok gak masuk! Ayo Ma, Pa masuk dulu! Amay kirain siapa tadi! " ucap Amay dengan wajah sama kagetnya dengan Izam.
"Nih, kuping Abang merah kayak gini! Ulah mertua kamu itu! " jawab Izam dengan menunjuk Mama Lia dengan dagunya.
"Ish, durhaka tau Bang, sama Mama kayak gitu! " ucap Amay dengan mengusap lembut kuping suaminya yang merah itu.
"Cih, ngadu aja bisanya! " cibir Mama Lia dengan wajah sebel.
"Ya maaf... Abis nya Mama seneng banget KTA sama Abang! Heran Abang, padahal dulu gak pernah kayak gitu! " ucap Izam dengan wajah menyesal tapi masih tetap menyindir Mama nya.
"KTA??? apaan itu?? Baru dengar Amay! " sahut Amay dengan raut muka bingung.
"Kekerasan Terhadap Anak! " jawab Izam dengan menyalami kedua orang tuanya.
"Lebay, " ucap Mama Lia dengan mencubit gemes pipi Izam.
"Tuh kan! Baru aja Abang bilang, sayang! Mama kamu melakukan KTA terhadap Abang! " adu Izam kepada istrinya.
"Ya ampun Abang!! Ada-ada aja deh istilahnya! Amay kira apaan itu KTA! " sahut Amay dengan geleng-geleng kepala.
__ADS_1
Papa Idris sama dengan Amay geleng-geleng kepala melihat tingkah anak dan istrinya seperti tom and Jerry yang selalu berdebat ketika bertemu semenjak Izam menikah.
"Mama Papa ngapain sih pagi-pagi udah ke sini aja? " tanya Izam dengan heran duduk di samping istrinya.
"Ya mau ketemu menantu Mama lah, masa mau ketemu kamu! " jawab Mama Lia dengan ketus.
"Ya kan gak sepagi ini juga Mama ku sayang???? " ucap Izam dengan menekankan kata sayang.
"Ini masih mendingan, orang Mama kamu aja tadi minta antar abis sholat subuh! " jawab Papa Idris ikutan ngomong.
"Apaaaaa??? Abis subuh udah mau ke sini! " sahut Izam dengan wajah kaget.
"Ho'oh... " jawab Papa Idris dengan menganggukkan kepalanya.
"Astaga Mama... Mama... Kenapa gak malam aja ke sini atau sekalian aja nginap kalau subuh-subuh udah mau ke sini ! " sindir Izam sambil menepuk jidatnya.
"Wah, boleh juga tuh idenya! Ayok Pa, kita pulang ambil pakaian! Kita nginap di sini aja, jadi Mama gak berjauhan lagi dengan menantu Mama! " sahut Mama Lia dengan wajah kegirangan dan langsung berdiri menarik tangan Papa Idris.
"What???? A-apa maksud Mama?? " ucap Izam terkejut dan langsung tegak berdiri.
"Loh, kan kamu bilang sekalian aja nginap! Ya udah, Mama mau pulang dulu ambil pakaian Mama mau nginap sini! " jawab Mama Lia dengan entengnya.
"Astaga Mama!! Bu-bukan begitu maksud Maliq! Ma.... Mama... Mama.... " ucap Izam sambil berteriak-teriak memanggil Mama nya.
Amay tertawa cekikikan melihat suaminya termakan omongannya sendiri dan sekarang berada dalam dilema.
"Kenapa hemmm tertawa seperti itu??? Hemmm... Senang ya lihat suaminya dilema kayak gini??? Iyaaa??? " ucap Izam begitu mendekati Amay dan langsung menggelitik pinggang istrinya hingga istrinya menjerit minta ampun kegelian.
"Udah Abang!! Udahh.... Geli... Nanti Amay ngompol lagi ketawa terus! " jawab Amay sambil berusaha menjauhkan tangan suaminya dari pinggangnya.
"Habisnya, Abang gemes lihat kamu ngetawain Abang kayak gitu! " ucap Izam dengan melepaskan gelitikan nya.
"Abang sih! Mama aja di lawan, ya kalah lah sama emak-emak! Asal Abang tahu ya Bang, emak-emak itu gak ada yang salah dan tidak pernah salah! Kalau gak percaya, tanya aja sama Papa! Soalnya dulu waktu Amay masih ngajar TK, Amay sering dengar cerita emak-emak yang nungguin anaknya. Katanya dalam kehidupan rumah tangga yang sudah punya anak, emak-emak itu gak pernah salah dan katanya lagi kalau suami masih ngotot juga auto sudah pasti kesejahteraan malam nya terancam libur sampai emak-emak menang! Gitu katanya! " jawab Amay dengan santainya.
"Emang apa hubungannya dengan kesejahteraan malam? " tanya Izam bingung.
"Ya mana Amay tahu Abang?? Orang Amay aja belum punya anak, gimana bisa tahu! Ngerti aja nggak! " jawab Amay mengangkat tangannya 🤷♀️.
"Abang tanya aja sama Papa, Papa pasti lebih tahu! Dah lah, Amay mau beresin dulu kamar tamu, biar nanti Mama Papa datang tinggal nempatin aja! " ucap Amay lagi sambil beranjak pergi ke kamar tamu.
"Nasib-nasib, niat hati cuma menyindir eh di sangka beneran! Di kasih izin pasti nanti Mama memonopoli Amay seenaknya, gak di kasih izin dosa berbuat begitu dengan orang tua! Duh, serba salah banget! Bagai makan buah simalakama, di makan patah tangan gak di makan patah kaki! Nasib-nasib... " cerocos Izam ngomel-ngomel sendiri di ruang tamu sambil menonton televisi.
Bersambung...
__ADS_1
Selamat membaca dan selamat beraktivitas readers semua nya...
Semoga hari kalian menyenangkan 💕😍..