Bidadari Surga Untuk Penjual Kebab Yang Tajir

Bidadari Surga Untuk Penjual Kebab Yang Tajir
Hasil tes DNA..


__ADS_3

Mama Lia yang melihat reaksi Davin langsung mengambil kertas yang terjatuh di tangan Davin dan membacanya. Ia sama kaget nya saat melihat jika hasil tes tersebut positif yang artinya Davin adalah anak kandung Abah dan Umi nya Amay, yang tidak lain keponakan kandung Pak lek Rohim besannya.


Izam menghela napas panjang begitu melihat reaksi mereka. Walaupun ia belum melihat sendiri hasil tes tersebut, ia sangat yakin jika hasilnya positif. Terlihat jelas dari wajah bahagia Pak lek dan Bulek Saroh, serta wajah tidak percaya nya Davin sahabatnya.


"Bang.... ! Amay juga pengen lihat hasil tes nya! " pinta Amay dengan menarik-narik ujung baju Izam.


"Gak usah di lihat, sayang! Toh, hasilnya juga positif! " jawab Izam agak malas mengambil kertas tersebut dari tangan Papa nya.


"Maksudnya apa?? " tanya Amay bingung.


"Maksudnya.... Davin itu benar-benar anak kandung Abah dan Umi mu! Begitu.... ! " jawab Izam lambat-lambat agar istrinya paham.


"Subhanallah.... Jadi Mas Davin beneran anaknya Abah sama Umi ?? Iya kan Bang?? " pekik Amay kegirangan.


"Iya sayang ku... ! Tunggu sebentar... ! Kok kamu girang banget Davin jadi anak kandung Abah dan Umi mu? Kamu gak cemburu? " jawab Izam dan menatap istrinya penuh selidik.


"Dih.... Ngapain Amay cemburu! Justru Amay senang karena otomatis pemilik pesantren adalah Mas Davin. Dan Amay gak ada lagi beban menjalankan amanah Abah dan Umi untuk menjaga pesantren karena sudah ada ahli waris yang sebenarnya! Selama ini Amay selalu kepikiran tinggal di sini dan membiarkan Pak lek mengurus Pondok Pesantren seorang diri. Dengan adanya Mas Davin, Mas Davin bisa membantu Pak lek mengembangkan Pondok Pesantren tersebut menjadi lebih baik lagi! " sahut Amay memberikan alasan nya.


Izam mangut-mangut mendengar penjelasan istrinya. Pak lek Rohim bangkit untuk berdiri dan mendekati Davin yang masih terduduk shock. Pak lek Rohim langsung meraih Davin ke dalam pelukannya. Ia menangis sambil memeluk erat tubuh Davin dan menciumi nya berulang kali seperti anak kecil.


Davin tidak bereaksi apa-apa, ia masih terlihat kaget dan shock dengan kenyataan tersebut. Ia masih tidak percaya jika ia bukan anak kandung Ibu nya. Dan sekarang teka-teki siapa ayahnya dan mengapa Ibu nya selalu bungkam jika ia bertanya di mana ayahnya selama ini.


Bulek Saroh berjalan mendekati Davin dan suaminya. Ia mengusap lembut punggung Davin dengan wajah bahagia dan memeluk suaminya dari samping dengan tersenyum penuh keharuan.


Dalam hati nya, Izam terkikik geli melihat Davin di perlakuan bak seperti anak kecil berusia 5 tahun oleh Pak lek dan Bulek.


"Gak nyangka saya kalau Davin anak kandungnya Kyai Sulaeman dan istrinya! Pantas saja puluhan tahun bersahabat dengan Izam, tidak pernah sekalipun ia berbicara dan bercerita tentang ayahnya! Bertemu dengan Ibu nya pun jarang, itupun kalau ada pertemuan sekolah saja! Bahkan terkadang Ibu juga gak datang sama sekali hingga saya yang menggantikan nya jika ada pertemuan wali murid sewaktu mereka sekolah dulu! " ucap Mama Lia dengan wajah bahagia dan haru.

__ADS_1


"Takdir tidak ada yang tahu besan! Saya yang koma selama 25 tahun masih tidak percaya masih di beri kesempatan hidup oleh Tuhan hingga bisa bertemu dengan Amay! " jawab Papa Rahman ikut menanggapi perkataan Mama Lia.


"Iya Besan! Semua ini karena takdir Allah... ! Allah lah yang tahu apa hikmah di balik semau takdir ini pada Kyai Sulaeman dan keluarga nya! Apapun itu, pasti itulah yang terbaik untuk mereka! " sahut Papa Idris ikut menambahkan.


Begitu Bulek Saroh dan Pak lek Rohim meluapkan perasaan bahagia nya, Davin bangkit dari duduknya dan berjalan dengan tubuh lunglai tanpa berkata apa-apa.


Saat Bulek Saroh ingin mencegahnya, Pak lek Rohim mencekal tangan istrinya dengan menggelengkan kepalanya.


"Biarkan saja dia sendiri dulu Umi... ! Ia pasti sangat shock karena selama 31 tahun hidupnya ternyata ia bukan anak kandung orang tuanya! Biarkan ia berpikir sendiri dan menelaah apa yang terjadi pada nya tanpa kita ikut campur! Abah yakin ia akan menerima semua kenyataan ini dan kembali kepada kita! " ucap Pak lek Rohim dengan sangat yakin.


Bulek Saroh pun membiarkan Davin pergi sendiri dan ia kembali berkumpul bersama yang lain nya.


"Setelah semuanya terungkap, apa yang ingin kalian lakukan Dik? " tanya Papa Rahman pada Pak lek Rohim.


"Entah lah Mas... Yang pasti kami akan kembali ke kampung dan memberikan Davin waktu untuk memikirkan semuanya! Pondok Pesantren tidak bisa di tinggal lama-lama! Davin berhak memilih apa yang akan ia lakukan dan kami akan terima keputusan nya apa pun itu! Yang pasti Pondok Pesantren akan selalu terbuka untuk dirinya kapanpun itu! " jawab Pak lek Rohim pasrah.


"Kenapa Amay mesti marah Bulek! Amay justru kasihan pada Mas Davin yang tidak pernah mendapatkan kasih sayang dari Abah dan Umi! Saat ia tahu kenyataan nya, Abah dan Umi udah gak ada lagi di dunia ini! Amay bersyukur karena Amay masih di beri kesempatan ketemu Papa kandung Amay, walaupun tidak dengan Mama. Amay bahagia dan lebih beruntung nasib nya dari Mas Davin! " jawab Amay dengan tersenyum sedih.


"Iya Nduk... Kamu lebih beruntung dari Davin ! Mudah-mudahan Abah dan Umi mu bahagia di sana karena anak kandung mereka masih hidup dan bisa mendoakan mereka berdua dari dunia ini! " sahut Bulek Saroh juga dengan wajah sendu.


"Iya Bulek! Walaupun Abah dan Umi tidak ada hubungan darah dengan Amay, sampai kiamat pun kasih sayang mereka tidak akan pernah tergantikan. Di setiap doa Amay selalu nama mereka berdua selain nama Mama dan Papa yang Amay sebutkan. Tidak akan pernah Amay lupakan jika Amay punya dua ayah dan dua Ibu yang begitu berarti bagi hidup Amay! " ucap Amay dengan tersenyum bahagia.


"Abah dan Umi mu pasti bangga di atas sana mempunyai anak perempuan yang sholehah seperti mu, Nduk! " sahut Bulek Saroh dengan mencium kening Amay.


Semua orang terharu melihat kasih sayang keluarga Kyai Sulaeman kepada Amay meskipun mereka yang bersangkutan sudah di panggil sang Pencipta.


Papa Rahman tidak bisa menyembunyikan rasa bersyukur nya hingga ia mengeluarkan air mata di sudut mata nya. Rasanya ia tidak bisa membalas jasa mereka semua karena sudah memberikan cinta dan kasih sayang yang tulus yang tidak bisa ia berikan dulu kepada Amay Putri nya.

__ADS_1


"Oh ya... Gimana dengan keinginan Amay sama Abang untuk mengadopsi Naura?? " tanya Amay mengalihkan pembicaraan dengan menatap semua orang satu persatu.


"Sayang, Bukannya Papa gak setuju kamu dan Izam mengadopsi seorang anak! Hanya saja, apakah kamu benar-benar yakin mau mengadopsi nya? Papa hanya takut kamu nanti terlena dengan anak kandung kamu sendiri dan tanpa sengaja melupakan dan mengabaikan anak angkat kamu! Apalagi nanti kamu bakalan fokus sama anak kamu yang tidak hanya satu, tapi tiga, Nak! Papa ingin kamu dan Izam berpikir lagi untuk mengadopsi anak itu! Jangan sampai ada hati yang tersakiti setelah kalian mengadopsi nya menjadi anak kalian! " nasihat Papa Rahman dengan bijak.


"Papa setuju dengan apa yang dikatakan Papa mu, Nak! " ucap Papa Idris.


"Mama juga setuju! " sahut Mama ikut mengangguk.


"Kalau saran Pak lek, lebih baik kamu sholat istikharah selama semingguan ini, Nduk! Kamu minta petunjuk sama Allah dengan niat mulia mu ini! Apa yang dikatakan Papa mu sangat benar sekali, apalagi nanti anak yang akan kamu urus tidak hanya satu tapi tiga, nduk! " ujar Pak lek Rohim ikut bicara.


"Iya, Nduk! Kamu pikirkan lagi ya matang-matang agar semuanya tidak ada penyesalan di kemudian hari. Jika kamu benar-benar yakin setelah sholat istikharah silahkan kalian mengadopsi nya. " tambah Bulek Saroh ikut menasehati Amay.


"Gimana Bang?? " tanya Amay meminta pendapat suaminya.


"Kalau Abang sih ikut saran Pak lek aja! Sholat istikharah meminta petunjuk Allah agar hati kita yakin dan sungguh-sungguh untuk mengadopsi Naura serta meminta kemudahan proses nya jika memang itu rezeki kita! " jawab Izam dengan serius.


"Kalau pendapat semua nya begitu, Amay ikut aja deh mana yang terbaik! Karena semua perkataan orang tua itu pasti yang terbaik untuk anak-anak nya! " ucap Amay dengan tersenyum lebar.


"Alhamdulillah.... Papa senang kamu mau memikirkannya lagi sayang! Apa pun keputusan kamu, Papa akan mendukungnya sepenuh hati! " sahut Papa Rahman tersenyum lega.


Papa Idris dan Mam Lia ikut mengangguk setuju dengan perkataan besan nya.


Bersambung...


Selamat membaca dan selamat beristirahat readers ku semua nya...


Semoga hari kalian menyenangkan 💕😍...

__ADS_1


__ADS_2