
Sementara itu di kantor polisi, Izam, Davin, Bulek Saroh dan Pak Lek Rohim masih memberikan keterangan di depan para penyidik. Meskipun hanya Izam tidak memberikan keterangan, tapi ia meminta pengacara yang terkenal menjadi pengacara korban yaitu Ibu Tinah.
Berita penangkapan Bude Maryam ternyata juga sampai di telinga Ahyar dan Anita. Mereka yang masih bekerja di kantor memutuskan untuk pergi ke kantor polisi menemui Bude mereka.
"Abi, Umi, apa yang terjadi? Bagaimana bisa Bude di tangkap polisi?? Bukannya Bude di kampung nya Pakde ya Abi, Umi?? " tanya Anita saat ia sudah berada di samping Abi nya.
"Hu... Hu... Hu... Anita sayang! Bude di fitnah dan di tuduh oleh mereka semua yang di sana! Padahal Bude gak ngapa-ngapain? " tangis Bude Maryam menarik simpati keponakannya.
"Ya Allah Bude, Bude yang sabar ya! InsyaAllah Abi akan bantu Bude dan Bude bisa bebas dari sini! " ucap Anita berusaha menenangkan Bude nya yang menangis di hadapan para penyidik.
Bude Maryam tersenyum devil saat Anita memeluk bahu nya dan ia pura-pura menangis kembali dengan memaksakan air mata nya agar keluar.
Izam yang sedang menelpon istrinya, tidak menyadari kedatangan Anita dan Ahyar yang juga menemui Bude mereka di kantor polisi.
Davin yang duduk tidak jauh dari mereka mengepal tangan nya mendengar kata-kata playing victim Bude Maryam yang meminta simpati keluarganya.
"Kalau kau bukan perempuan tua, aku sudah menghajar mu dari pertama bertemu! " gumam Davin dengan geram.
Bulek Saroh masih duduk di hadapan penyidik dengan menjawab semua rentetan pertanyaan pihak penyidik dengan begitu lancar. Ia duduk di dampingi oleh Pak lek Rohim yang menggenggam tangan nya memberikan dukungan dan kekuatan.
Ahyar dan Anita terkejut saat melihat Davin yang di tunjuk Abi nya sebagai pihak pelapor alias orang yang bersitegang dengan Bude nya.
"P-pak Da-davin... ! " gumam mereka lirih.
Davin menatap tajam mereka berdua seperti mata pedang yang siap menggorok leher lawan nya. Ahyar dan Anita saling berpandangan satu sama lain hingga akhirnya menundukkan pandangan mereka berdua karena merasa takut dengan tatapan intimidasi yang keluar dari seorang Davin Pratama.
Izam mendekati Davin dan masih belum menyadari jika Anita dan Ahyar datang dan duduk bersama kedua orang tuanya.
"Elo gak usah khawatir! Barusan Bang Hotman nge chat gue, kalau dia sudah di perjalanan mau ke sini! " ucap Izam memberitahu Davin dan berdiri di samping nya.
"Hhmmm... " sahut Davin tanpa mau mengeluarkan suaranya.
"Oh ya, tadi kata Amay, Aulia sekarang di rumah sakit bersama orang tuanya. Tapi hanya sebentar karena orang tuanya masih ada urusan mengurus persiapan pernikahan kalian. Jadi sekarang hanya Aulia saja yang di rumah sakit bersama Pakde dan Annisa jagain Ibu elo! Mama Papa juga udah pulang karena kasihan ninggalin Amay aja di rumah bersama si kembar. " ucap Izam lagi yang hanya di jawab deheman Davin.
Mendengar suara yang ia kenal, Anita mengangkat wajahnya dan ia terkejut melihat Izam yang berdiri di samping Davin. Jantung nya berdegup kencang dan bibir nya menyunggingkan senyuman tipis yang tidak di sadari siapapun kecuali dirinya sendiri.
"Baik Pak, Bu! Karena pertanyaan nya sudah selesai, untuk hari ini cukup sampai di sini dulu! Kami akan meminta keterangan saksi-saksi lainnya yang ada di tempat kejadian ! " ucap Pak polisi yang bernama Briptu Teguh Prasetyo pada Pak lek Rohim dan Bulek Saroh.
"Iya Pak, terimakasih banyak! Oh ya Pak, apakah kalian juga akan meminta keterangan dari korban?? " jawab Bulek Saroh sambil bertanya lagi.
"Tentu saja Bu, dan pastinya setelah korban mampu memberikan keterangan nya! " jawab Briptu Teguh dengan suara lantang.
"Iya Pak, soalnya kakak sepupu saya masih belum sadar! " ucap Bulek Saroh dengan nada sedih.
"Ya sudah kalau gitu, kami permisi dulu Pak! " sahut Pak lek Rohim berdiri dari duduk nya.
Saat mereka bangkit, mereka melihat Bude Maryam menangis dirangkul perempuan muda dengan air mata buaya nya. Bulek Saroh menatap sinis mereka dan melengos begitu saja saat melewati tempat mereka.
Saat Izam mengangkat wajahnya hendak melihat ke arah Bulek Saroh, matanya tidak sengaja bertatapan dengan mata Anita dan ia melihat Ahyar berdiri tegak di samping Abi nya.
Izam mendengus dan memutuskan kontak mata yang membuat nya merasa kesal karena baru sadar jika mereka satu keluarga.
Anita yang melihat mata Izam tadi, jantung nya berdegup kencang dan hatinya mencelos saat Izam memutuskan pandangan mata nya.
"Ayo kita pulang! " ajak Izam seraya menepuk pelan bahu Davin.
Ia berjalan dan Davin juga bangkit dari duduk nya mengikuti Izam dari belakang. Anita yang melihat gelagat Izam yang ingin pergi tiba-tiba tergerak kakinya untuk berdiri dan mengejar langkah Izam.
__ADS_1
"Mas, tunggu Mas.. ! " panggil Anita yang membuat Izam terus melangkah tanpa berhenti.
"Mas Izam.. ! Tunggu... " Anita menarik ujung jas Izam karena Izam tidak mau berhenti.
"Maaf, anda siapa? Apa hak anda menghentikan langkah saya! " ucap Izam dingin tanpa membalikkan badannya.
Gleg
Anita menelan ludahnya dengan kasar mendengar nada dingin Izam padanya. Sejujurnya ia begitu takut dan tidak punya nyali untuk bicara ataupun menunjukkan wajahnya. Tapi tiba-tiba saja kakinya berlari mengejar Izam agar mau membebaskan Bude nya dari jeruji besi.
"Ma-maaf... Bi-bisakah kita bi-bicara sebentar?? " jawab Anita pelan dengan nada memohon.
Izam menghela napas nya dengan kasar dan ia menganggukkan kepalanya pada Pak lek dan Bulek agar menunggunya di parkiran saja.
"Di luar saja! Ayo Vin, elo ikut juga! " ucap Izam datar.
Anita mengangguk dan berjalan mengikuti langkah Izam, begitu juga Davin yang berjalan di belakang mereka.
"Jadi, apa yang kau inginkan sekarang! " tanya Davin to the point.
Bukan Izam yang bertanya tetapi Davin karena ia jengah lihat perempuan cantik di hadapan nya ini masih berusaha mengejar Izam.
"Mas, tolong bebaskan Bude ku dari sini?? Kasihanilah dia yang hanya tinggal sendiri? Bude hanya punya kami saja Mas! Tolong Mas, anggap saja ini permintaan kecil dari seseorang yang dulu pernah dekat dengan mu! Tolong maaf kan Bude ku!! " ucap Anita dengan nada di buat sesedih mungkin.
"Hehehehe.. Kau ngigau?? Sampai melantur begitu? Apa Bude mu itu ada mengucapkan kata maaf sekali saja? Bukan Izam yang membuatkan laporan nya, tetapi aku sendiri bersama paman dan bibi ku! " Davin terkekeh dengan nada sumbar.
"Apa kau pikir orang yang hampir menghilangkan nyawa seseorang itu harus di bebaskan? Harus di maafkan? Enak banget! Kalau semau penjahat di maafkan, untuk apa ada penjara! Bude mu itu sudah membuat Ibu aku terbaring di rumah sakit! Bude mu itu membuat Ibu ku bertarung nyawa mempertahankan janin yang ada dalam kandungan nya! Kau meminta aku untuk memaafkan dan membebaskannya?? Apa kau waras! " ucap Davin kencang dengan menunjuk ke dalam kantor polisi.
Beberapa polisi yang lalu lalang melihat ke arah mereka, tapi mereka tidak ikut campur dan terlihat hanya mengawasi saja, takut ada tindak penganiayaan atau yang lainnya.
"Apa??? " ucap Anita agak keras dan kaget mendengar kata-kata Davin.
"Kenapa?? Kaget jika Bude mu itu benar-benar penjahat?? Cih, perempuan bodoh yang hanya mendengar dari satu pihak saja! Aku kita titel pendidikan mu menjadikan mu orang yang bisa berpikir rasional yang mendengar kan semua pihak, tapi ternyata tidak! Kau sama saja dengan keluarga mu itu! " sahut Davin lagi dengan sinis.
"Maaf Mas... Maaf.. ! A-aku tidak tahu jika seperti itu kejadiannya! Tapi bisa kah Mas mempertimbangkan lagi dengan alasan kemanusiaan! Kasihan Bude ku Mas.. Aku mohon! " ucap Anita lagi yang membuat Davin bertambah gedek.
"K-kau... " bentak Davin yang tertahan karena isyarat tangan Izam.
"Cih, untung saja Izam tidak jadi menjadikan perempuan seperti mu istrinya! Aku benar-benar muak dan jijik melihat kau dan keluarga mu itu! " ucapnya sinis sembari menahan amarah yang bersarang di dadanya.
Ia lalu menyingkir dari mereka karena tidak ingin kelepasan dengan memukul perempuan yang benar-benar tidak punya otak untuk berpikir mana yang benar dan mana yang salah.
"Apa kau sudah gila?? Tidak waras?? Kau sudah mendengar apa yang di perbuat Bude mu itu pada Ibu Tinah, tapi masih juga dengan wajah bodoh mu itu meminta kami untuk mengasihani Bude mu?? " ucap Izam dingin dengan kata-kata yang menohok hati Anita.
Anita menatap Izam sambil menangis karena tidak menyangka jika Izam bisa mengatakan kata-kata kasar yang melukai hati Anita.
"Mas berubah menjadi orang lain! Bagaimana bisa Mas berubah kasar seperti ini! Kemana Mas Izam yang selalu bersikap lembut dalam berucap?? Kemana Mas?? " tanya Anita dengan linangan air mata.
"Siapa yang berubah?? Justru kau yang tidak tahu bagaimana sifat asliku! Apa kau tidak mencari tahu bagaimana sosok asli seorang Idzam Maliq Barzakh selama ini?? Yang kau temui dulu bukan lah Izam yang sesungguhnya, dan sekarang kau bertemu langsung dengan Idzam Maliq Barzakh yang sebenarnya! " jawab Izam dengan wajah datar dan terlihat jengah.
Ia memasukkan kedua tangan nya di saku celana dengan melihat ke arah lain. Anita masih menangis mendengar kata-kata Izam jika inilah ia yang sesungguhnya. Ia masih tidak menyangka jika Izam tidak mau peduli pada nya. Ia pikir dengan ia mengiba dan menangis Bombay, Izam akan luluh karena mereka dulu pernah ada rasa.
"Apa tidak ada rasa kasihan padaku?? Walaupun kita tidak jadi bersama, tapi lihatlah waktu kita saling bersama dan mencintai di waktu dulu Mas! Setidaknya dengan melihat semua itu, Mas mau berbaik hati menolong Bude ku! Tolong berikan rasa kasihan Mas pada Bude ku Mas.. ! Bantu kami untuk berbicara dengan Pak Davin agar mencabut tuntutan nya! Kasihan Bude ku Mas, aku mohon... ! " ucap Anita lagi dengan air mata Bombay nya sambil menutup kedua tangan nya di dada.
"Hahahaha.. Betul kata Davin tadi! Sepertinya kamu juga gak waras ya.. ? Apa memang seperti ini sifat asli kamu yang sebenarnya? " sahut Izam dengan tertawa mengejek.
"Sejak kapan kita saling bersama dan mencinta?? Oke lah bersama memang masih diterima, tapi mencintai.. kayaknya bukan deh! Apa pernah aku mengatakan kalau aku mencintaimu? Apa ada aku mengungkapkan perasaan ku? Kamu jangan baper hanya karena kita dekat karena kamu dulu pelanggan kebab aku! Selama aku belum menikah, aku sudah banyak bertemu dengan berbagai wanita macam-macam bentuk wajah dan sifat nya. Kami bersama karena cocok saat bicara dan hanya sekedar suka, dan itu juga berlaku padamu. Karena apa? Karena perempuan yang aku cintai hanya satu orang yaitu istriku, Ibu dari anak-anakku. Perempuan yang membuat aku jatuh cinta hanya dengan sekali tatap dan satu kali tarikan napas! Sudah jelas bukan?? Sudah dong!! " ucap nya lagi dengan nada dingin dan angkuh.
__ADS_1
"Dan satu lagi, aku tidak akan membiarkan Davin atau siapapun mencabut tuntutan ini ! Dan akan aku pastikan Bude kamu itu akan mendapatkan ganjaran setimpal atas semua perbuatan nya! Ingat itu! " tambah nya lagi sembari berjalan pergi meninggalkan Anita yang masih menangis.
Perkataan Izam berputar di kepala nya hingga membuat nya jatuh terduduk di lantai dengan memegang dadanya. Hatinya sakit dan terluka dengan perkataan Izam yang mengatakan jika dari dulu ia tidak pernah mencintai Anita.
Semua perkataan Izam tidak salah karena ia memang tidak pernah mengungkapkan perasaan nya pada Anita, rasa itu memang ada. Tapi hanya sebatas suka saja karena Anita mau berteman dengan nya yang hanya penjual kebab.
Bulek Saroh dan Pak lek Rohim masuk ke dalam mobil begitu melihat Izam dan Davin sudah keluar dan menuju parkiran.
"Brengsek.. ! " umpat Izam dengan memukul stir mobilnya.
"Untung aja elo gak beneran kawin ama tuh perempuan! Gak ada otak rupanya ! Udah tau Bude nya melakukan hal yang fatal, masih ngotot minta di kasihani! Gila emang! " maki Davin juga dengan wajah kesal.
"Gue gak habis pikir ama itu keluarga! Apa gak ada satupun dari keluarga mereka yang waras?? Kalau gak mikir tentang hukum tabur tuai, udah gue bikin bangkrut itu perusahaan mereka! Biar mampus mereka semua! " umpat Davin lagi dengan penuh dendam.
"Udah ah... Gak usah ngomongin mereka lagi! Bikin gue tambah gedek aja! Ayo kita pulang, ke rumah apa ke rumah sakit? " sahut Izam mengalihkan pembicaraan karena enek sambil menghidupkan mesin mobil.
"Eh bentar-bentar! Ada panggilan dari Aulia! " ucap Davin menyuruh Izam untuk diam.
"Ya sayang, assalamualaikum... ! Apa?? Alhamdulillah ya Allah... Ya udah, Mas sekarang ke sana! Assalamualaikum..! " ucap nya lagi di telepon sebelum ia tutup.
"Kenapa?? Aul bilang apa?? Girang banget gue lihat! " tanya Izam mulai menjalankan mobil keluar dari parkiran.
"Kita ke rumah sakit elu aja! Aulia ngasih kabar kalau Ibu sudah sadar! Ibu manggil gue Zam! Ya Allah gue seneng banget! Mudah-mudahan calon adik gue juga gak papa! " jawab Davin dengan wajah berbinar bahagia.
"Alhamdulillah... Aamiin. Seneng gue dengernya! Ya udah kita ke sana! " ucap Izam ikut bahagia.
Davin mengangguk dengan wajah masih tersenyum lebar. Ia sudah tidak sabar untuk bertemu dengan Ibu nya.
πΎπΎπΎ
Sementara itu, Ahyar yang menyusul Anita langsung berlari saat melihat anita terduduk di lantai menangis sambil memegang dadanya.
Hatinya sakit dan terluka dengan semua perkataan Izam. Bayangan saat Izam menolaknya menari-nari di kepalanya saat ia meminta Izam untuk lari bersama nya.
"Anita, apa yang terjadi?? Kenapa kamu menangis seperti ini?? Apa yang di katakan Izam pada mu?? Apa ia menyakitimu?? " tanya Ahyar dengan wajah menahan amarah.
"Aku kira dengan hubungan kami di masa lalu bisa membuat ia luluh dan membebaskan Bude Kak! Tapi semuanya tidak mungkin, karena ia sama sekali tidak peduli. Ia bahkan berkata akan tetap membuat Bude di penjara sesuai apa yang Bude lakukan pada Ibu nya Pak Davin. " jawab Anita masih menangis.
"Emang nya apa yang dilakukan Bude pada Ibu nya Pak Davin! Bukannya kata Umi ini hanya kesalahan pahaman ? " tanya Ahyar bingung karena ia memang tidak di ceritakan Marlena dan Amir kronologis permasalahan nya.
"Kata Pak Davin, Bude mendorong Ibu nya hingga membuat nya terbaring di rumah sakit dan janin di dalam kandungan nya terancam bahaya! " jawab Anita lagi dengan jujur.
"Apa??? Astaghfirullah hal adzim.. ! Pantas saja Pak Davin dan Pak Izam tidak mau mencabut tuntutan mereka. Dan apakah kamu tadi meminta mereka berbelas kasihan untuk Bude, Anita?? " tanya Ahyar lagi dengan meraup kasar wajah nya.
Anita mengangguk pelan dan membuat Ahyar mengerang geram dan marah.
"Bodoh kau Anita! Bodoh! Dimana otak mu?? Kau pikir mereka mau melakukan permintaan bodoh mu itu untuk orang yang hampir membunuh janin seseorang, Hah?? Pikir Anita, pikir?? Ya Allah... Kok bisa-bisa nya aku masuk dalam keluarga seperti ini! " teriak Ahyar dengan frustasi sambil membentak adiknya.
Anita semakin menangis dengan kata-kata yang keluar dari mulut kakak nya, persis dengan yang di katakan Davin. Ia hanya ingin meminta belas kasihan Izam karena menurutnya dengan hubungan mereka di masa lalu menjadi pertimbangan Izam untuk mencabut atau meringankan hukuman Bude nya.
"Asal kau tahu! Jika kakak ada di posisi Pak Davin, kakak gak akan melepaskan orang yang jahat dan pembunuh seperti Bude bebas dengan mudah nya! Kakak akan sekuat tenaga membuat penjahat itu merasakan dingin nya lantai penjara! " ucap Ahyar lagi dengan nada dingin.
"Ahyar, Anita.. ! Ada apa ini?? Kenapa adik kamu duduk di lantai gini?? Ya Allah, kamu nangis nak?? Apa yang terjadi?? Bukannya kamu tadi bicara dengan Nak Izam?? " tanya Abi nya dengan beruntun tanpa jeda.
"Abi tanya kan saja pada anak perempuan Abi yang bodoh ini! Ahyar mau ke kantor lagi! " jawab Ahyar dengan ketus dan terkesan tidak peduli.
Bersambung
__ADS_1
Selamat membaca dan selamat beraktivitas reader ku semuanya π€π€π€
Semoga hari kalian menyenangkan ππ