Bidadari Surga Untuk Penjual Kebab Yang Tajir

Bidadari Surga Untuk Penjual Kebab Yang Tajir
Tidak bisa di biarkan..


__ADS_3

Pernikahan Ibu Tinah dan Pakde Soleh berjalan lancar meskipun hanya keluarga mereka saja yang menghadiri. Keesokan harinya mereka semua kecuali Pak lek dan Bulek akan pulang ke kampung karena Haura dan Haikal akan bersekolah.


Haura dan Haikal tampak cemberut saat memasuki mobil. Mereka berdua sebenarnya tidak mau pulang karena tidak mau berpisah dengan si kembar.


Terutama sekali Haura yang berat berpisah dengan si cantik. Selama beberapa hari di sini ia memang sangat menempel pada keponakan cantik nya itu. Ia selalu gemes karena si cantik persis kayak boneka hidup, begitu menurut nya.


"Udah, gak usah kayak gitu muka nya! Ntar cantiknya hilang lagi! Besok-besok kalau libur sekolah Aunty Haura kan bisa ke kota lagi ketemu adek bayi! " ucap Izam yang berdiri di samping pintu mobil.


"Masih lamaan kali Kak! Ntar si dedek keburu gede! " jawab nya dengan bibir manyun ke depan.


"Ya nggak lah! Masa iya langsung gede! Sekarang aja baru 3 minggu umur dedek Aunty... Nanti kalau Aunty udah libur sekolah, bakalan Kak suruh sopir untuk jemput Aunty di kampung! " bujuk Izam lagi agar gak makin cemberut Haura nya.


"Janji nya Kak... ! " ucap Haura yang mulai melunak.


"InsyaAllah janji.. ! " jawab Izam memberikan jempolnya.


"Asyik.... " sahut nya lagi dengan wajah girang.


Ibu Tinah, Pakde Soleh, Annisa, Haikal dan Haura melambaikan tangan saat mobil yang mereka tumpangi melaju keluar dari halaman kediaman keluarga Barzakh.


Bulek Saroh dan Pak lek Rohim akan tetap di sini sampai si kembar berusia 40 hari yaitu tinggal 19 hari lagi atau lebih tepatnya 2 minggu lima hari.


Davin sudah pergi ke kantor pada saat mereka semuanya pulang ke kampung. Tapi sebelum pergi, ia sudah berpamitan pada sang Ibu dan Pakde Soleh.


Izam mengatakan kepada kedua orang tua dan mertuanya akan keinginan dirinya dan Amay menjadikan Naura anak asuh mereka. Mereka berdua akan memberikan fasilitas kepada Naura agar bisa sekolah setinggi-tingginya tanpa mengadopsinya.


Mereka semua menyambut keinginan Amay dan Izam dengan sangat antusias. Papa Idris bahkan juga akan membantu mereka membiayai hidup dan sekolah Naura serta anak-anak yatim yang berprestasi lainnya. Papa Rahman juga sangat senang dan akan melakukan hal yang sama seperti Papa Idris.


Sementara itu di kantor, Davin sangat kesal karena Aulia sangat akrab dengan anak-anak training Aspri nya Izam. Aulia memutuskan untuk bekerja di luar ruangan bersama mereka semua dari pada di dalam ruangan Izam.


"Ini tidak bisa di biarkan! Mereka akan semakin dekat jika di biarkan saja! " ucap Davin dengan geram dan tangan terkepal saat dalam ruangan Izam.


"Tapi kalau aku melarang, Aulia bakalan marah karena aku hanya atasan nya saja! Akan beda kalau aku suaminya, ia pasti akan patuh dan menurut! Aarrrgghh... menyebabkan sekali! " teriak ia dengan wajah sangat frustasi.


Ia benar-benar dilema karena tidak mau Aulia ilfil padanya jika la langsung melarang Aulia dekat dengan siapapun.


Karena melamun, ia sampai tidak sadar jika Elya mengetuk pintu ruangan nya dengan begitu kencang.


"Masuk... !" ucapnya dengan ketus saat sadar dari lamunannya.


"Pak, ini berkas yang harus Bapak tandatangani! Dan ini berkas yang harus Bapak Izam tandatangani juga Pak! " Elya langsung menyodorkan dua berkas pada Davin.


"Oke.. ! Yang ini akan aku tandatangani dan yang satunya aku bawa pulang saja! " sahut Davin dengan wajah datar.


Elya hanya mengangguk dan menunggu berkas yang satunya yang sedang di tandatangani Davin. Davin menyerahkan kembali berkas yang satunya pada Elya dan Elya langsung keluar dari ruangan presdir.


Bunyi ponsel berdering membuat Davin menautkan alisnya, ia menggeser tombol ikon dan menjawab nya.


"Ya halo Assalamu'alaikum! " ucapnya dengan nada datar.


Ia hanya menjawab singkat, datar, tegas dan tanpa ekspresi saat menjawab panggilan tersebut.


Setelah ponsel nya mati, Davin tersenyum menyeringai karena ia mendapatkan ide untuk menjauhkan Aulia dari parasit-parasit yang menempeli calon istrinya.


Ia tersenyum licik dan langsung mengambil gagang telpon yang tersambung langsung di meja Aulia.


"Iya Pak ada apa?? " ucap Aulia dari luar.


"Persiapkan diri mu! Kita akan keluar menemui klien di restoran xxx ! Kita akan pergi dalam 5 menit lagi! " sahut Davin langsung tanpa tawar menawar.


"Baik Pak! " jawab Aulia patuh.

__ADS_1


"Ada apa Aulia? Kok muka kamu agak malas gitu? " tanya Ali salah satu dari kandidat Aspri nya Izam.


"Di ajak keluar nemuin klien sama Pak Davin! " jawab Aulia sembari membereskan barang-barang nya.


"Kamu gak senang? Kan lumayan berduaan sama calon imam! " ledek Ali menggoda Aulia.


"Apaan sih, ngawur kamu! Dah lah, aku pergi dulu! " bantah Aulia sambil menenteng tasnya di bahu bersamaan dengan Davin keluar dari ruang presdir.


Davin berjalan melewati mereka tanpa berkata apa-apa menuju lift dengan Aulia berjalan di belakangnya agar setengah berlari karena menyamakan langkah kaki Davin.


Davin menahan pintu lift agar Aulia yang duluan masuk. Mendapat perlakuan seperti itu dari Davin membuat wajah Aulia langsung merona tersipu malu. Tidak hanya wajahnya yang merona, jantung nya juga berdegup kencang saat ia melewati tubuh Davin tercium aroma parfum yang menggelitik hatinya.


"Ya Allah... Wanginya menenangkan banget! Rasanya pengen ngerasain masuk ke dalam pelukan nya! Astaghfirullah... Sadar Aulia, sadar! Pikiran mu jangan traveloka ke mana-mana! " batin nya berperang dengan akal sehatnya.


Ia tanpa sadar menghela napas dengan berat yang langsung membuat Davin menoleh padanya.


"Kamu kenapa?? Gak suka pergi sama aku?? " tanya Davin langsung pada Aulia.


"Ish, bukan ya Mas.. ! Tiba-tiba aja perut aku nyeri, aku was-was kalau tamu bulanan aku datang tiba-tiba hari ini! Soalnya aku gak ada persiapan bawa pembalut! " jawab Aulia yang tidak sepenuhnya bohong.


"Oh gitu! Kalau gitu nanti kita mampir dulu di apotik sebelum ke restoran! " ucap Davin mangut-mangut.


"Iya Mas.... " sahut Aulia mengangguk.


Saat berdua saja mereka akan seperti biasa, dan jika di kantor Aulia akan memanggil Davin dengan Pak seperti karyawan lainnya, agar tidak ada perbedaan meskipun ia bukan karyawan tetap di perusahaan tersebut.


Davin menepati perkataan nya dengan mampir dulu di apotik.


"Tunggu di sini?? " ucap Davin saat mobil berhenti dan ia langsung keluar dan memasuki apotek.


Aulia yang hendak menjawab menjadi terdiam karena Davin keburu menutup pintu mobil.


"Mbak, minta pembalut yang nyaman untuk istri saya! Sama minuman pereda nyeri saat haid! " ucap Davin pada petugas apotek dengan wajah datar.


"Iya Pak, mau yang bersayap apa yang biasa Pak? " tanya petugas apotek untuk memastikannya.


"Kelebihan nya apa??? " tanya Davin balik.


"Kalau yang bersayap biar gak gampang bocor kiri kanan karena ada sayap kedua sisinya yang membuatnya melekat sempurna tanpa perlu tergeser saat beraktivitas yang memerlukan banyak gerakan! Kalau yang biasa agak kurang nyaman kalau beraktivitas banyak gerak tapi lumayan nyaman jika hanya duduk saja! " jawab petugas apotek jujur.


"Ambil yang bersayap saja satu buah! Jangan lupa minuman pereda nyerinya! " ucap Davin menyebutkan pilihannya.


"Baik Pak! " sahut petugas apotek dengan sigap mengambil kan pesanan Davin.


Setelah menunggu beberapa menit, petugas apotek membawa kan barang pesanan Davin di tangan nya.


"Pak, minuman pereda nyerinya mau satu botol saja apa lebih? " tanya petugas apotek lagi pada Davin.


"Mau tiga saja! " jawab Davin.


"Baik Pak! Total semuanya 82 ribu! " ucap petugas apotek sambil menyerahkan totebag berisi pesanan Davin.


Davin mengeluarkan dompet nya dan menyerahkan selembar uang soekarno hatta pada petugas apotek.


"Ambil saja kembaliannya! " ucap Davin saat menerima pesanan nya.


"Terimakasih banyak Pak! " sahut petugas apotek dengan tersenyum lebar.


Davin hanya mengangguk dan keluar dari apotek dengan menenteng Tote bag di tangan kiri nya. Ia langsung berjalan menuju mobil dan membuka pintu mobil lalu masuk.


"Nih buat kamu! Mudah-mudahan gak salah beli! " ucap Davin menyerahkan tote bag itu kepangkuan Aulia.

__ADS_1


Ia lalu memasang seatbelt nya dan menghidupkan mesin mobil.


Aulia menerima tote bag itu dan melihat isinya, ia melongo karena apa yang di beli Davin melebihi ekspetasi nya.


"Ya Allah Mas??? Banyak banget kamu beli Kiranti datang bulannya? Satu aja cukup kok! Terus pembalut nya gede banget, isi 18 lagi. Tau aja Mas kalau aku pakai yang bersayap kayak gini! Fix ini, cocok jadi suami idaman! " ucap Aulia dengan tersenyum bahagia tanpa sadar jika kalimat terakhir nya membuat Davin menoleh ke arahnya dengan pandangan yang sulit di artikan.


"Jadi kamu mau Mas jadi suami kamu?? " tanya Davin lagi pada Aulia yang masih asyik dengan dunia nya.


"Ya mau lah, eh apa??? " jawab nya langsung dan kaget sendiri saat menyadari ucapan nya.


Aulia memukul pelan mulut nya yang langsung menjawab iya. Ia memalingkan wajahnya ke arah luar, sedangkan Davin tersenyum penuh arti. Ia melajukan mobilnya dengan tidak terlalu kencang menuju restoran tempat ia bertemu klien nya.


Davin tersenyum dalam hati karena ia sudah mendapat kode dari sang gebetan untuk melangkah lebih jauh lagi.


Aulia masih bertahan melihat ke arah luar karena ia malu pada Davin. Ia malu sudah terlihat agak agresif menurut dirinya dengan menjawab pertanyaan menjebak dari Davin.


Sedangkan Davin, ia menikmati sikap salah tingkah nya Aulia dari ekor matanya. Mereka hanya diam saja dan hanya terdengar suara musik yang sengaja Davin setel agar tidak terlalu sunyi.


Akhirnya mobil yang ia kendarai berhenti di halaman parkir sebuah restoran yang cukup ternama.


Rasa kaget dan malu Aulia bertambah saat Davin melepaskan seatbelt dari tubuh nya, apalagi bau wangi yang keluar dari tubuh Davin membuatnya menahan napas sejenak hingga Davin selesai melepaskan seatbelt nya.


Perlakuan kecil Davin semakin membuat jantung Aulia salto-salto saking bahagia nya dan membuat nya benar-benar semakin salah tingkah.


"Ayo kita masuk! " ajak Davin dengan lembut.


"I-iya Mas! " jawab Aulia yang tiba-tiba gugup.


Ia berjalan mensejajarkan dirinya di samping Davin menuju tempat yang sudah Elya reservasi dua hari yang lalu.


"Mas, sebenarnya kok kamu bawa aku ketemu klien?? Kenapa gak Mbak Elya aja? Kan Mbak Elya sudah berpengalaman di banding kan aku! " tanya Aulia dengan rasa penasaran yang tinggi.


"Elya sudah punya suami, jadi gak mungkin nanti Mas kenalkan Elya jadi istri Mas! " jawab Davin santai.


"Maksud Mas apa?? Kok aku makin gak ngerti? " tanya Aulia dengan wajah benar-benar bingung.


"Udah, gak usah banyak tanya! Nanti di dalam kamu bakalan tahu sendiri kok! " ucap Davin lagi yang membuat Aulia menghela napas.


Ia menutup mulutnya dan berjalan mengikuti kemana Davin berjalan. Pelayan restoran membawa mereka berdua pada sebuah ruangan yang ternyata sudah ada dua orang wanita yang berpakaian resmi dengan khas wanita kantoran.


"Apakah saya datang terlambat?? " tanya Davin begitu mereka sudah di hadapan dua perempuan itu.


"Gak kok Pak Davin, kami sengaja datang agak cepat dari biasanya! " jawab salah satu dari perempuan itu tersenyum manis pada Davin.


"Syukur lah kalau begitu! " jawab Davin datar sembari menarik kan kursi untuk Aulia.


Setelah selesai dan Aulia sudah duduk, ia lalu menarik kursi untuk dirinya sendiri. Melihat Davin bersikap manis begitu membuat perempuan tadi mendengus kesal dan tampak tidak suka melihat Aulia yang datang bersama Davin.


"Perkenalkan, ini Nona Aulia Maharani, Bu Siska! Aulia, ini Bu Siska klien kita! " ucap Davin memperkenalkan mereka berdua.


Aulia tersenyum manis seraya mengulurkan tangan nya untuk berjabat tangan pada perempuan itu dan dengan setengah hati perempuan bernama Siska itu membalas uluran tangan Aulia dengan pandangan sinis.


"Kalau boleh tahu, Nona Aulia ini sekretaris baru nya Pak Davin ya? " tanya Siska asal menebak.


"Bukan, Aulia bukan sekretaris saya! Tapi ia calon istri saja ! Kami akan menikah sebulan lagi, nanti undangan nya akan datang menyusul! " jawab Davin dengan tersenyum lembut pada Aulia.


Senyuman perempuan yang bernama Siska itu memudar saat Davin memperpanjang kan kalimat nya. Padahal ia sudah merasa di atas angin saat Davin berkata Aulia bukan sekretaris nya.


"Oh begitu! Selamat ya Pak Davin, Nona Aulia! " ucap nya dengan wajah ketus.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2