
"Bang, emangnya Kak Ana serius mau ke Korea hanya untuk program bayi tabung? " tanya Amay begitu Izam keluar dari kamar mandi dan memakai pakaian nya.
MUA yang merias wajah Amay sudah keluar karena pekerjaan mereka sudah beres dan mereka langsung ke hotel tempat acara resepsi di gelar. Mereka menunggu di sana, di sebuah kamar yang sengaja di khusus kan menjadi ruang make up pengantinnya.
"Mak Lampir itu mana pernah bercanda yank... Dia itu selalu melakukan apapun yang menjadi keinginannya! Heran aku tuh, kok bisa-bisa nya Mas Farel bertekuk lutut dengan perempuan modelan mak Lampir itu! Udah orangnya galak, tukang pukul, emosian, ngomongnya asal bunyi aja! Tapi orangnya penyayang sih, paling membela jika ada yang di dzolimi di depan matanya dan gak pelit! " jawab Izam sambil menerawang melihat langit kamar mereka.
"Lah, Abang yang jelekin Abang pula yang muji-muji! Pantesan lah Mas Farel bertekuk lutut kayak gitu sama Kak Ana, wong orangnya unik gitu! Dan Abang bilang Kak Ana kalau ngomong suka asal bunyi aja, emangnya Abang gak gitu? Sama aja keles?? " sahut Amay mengoreksi perkataan suaminya tadi.
"Ya beda lah sayang... Kak Ana kan perempuan, jadi harus jaga image lah sebagai seorang perempuan jika berbicara dengan yang bukan keluarga nya. Kalau Abang kan laki-laki jadi wajar kalau kayak gitu! Lagipula Abang kayak gitu kalau sama keluarga aja! " jawab Izam membantah keras.
"Dah lah, Abang emang pintar kalau soal ngeles! " ucap Amay jengah.
Izam terkekeh kecil melihat istrinya jengah dengan segala bantahannya. Tidak lama kemudian Aini datang ke kamar mereka untuk membantu Amay turun ke bawah dengan memegang bagian bawah gaun pengantin Amay yang lebar, berat dan menjuntai di lantai agar Amay tidak tersandung jika ia berjalan. Sedangkan Izam membantu istrinya berjalan dengan memegang lengan nya agar berjalan pelan-pelan saja ke lantai bawah.
"Mau jalan aja ribet kayak gini! " keluh Amay dengan membuang kasar napasnya.
"Resiko menjadi pengantin ya gini lah! Apa lagi nanti kalian akan selalu berdiri nanti di pelaminan setiap ada tamu yang datang untuk mengucapkan selamat dan berfoto bersama mereka! " jawab Aini dengan terkekeh kecil.
Mendengar jawaban kakak iparnya itu, membuat wajah Amay semakin di tekuk dan langsung berubah menjadi agak cemas dan takut, pasalnya sekarang ini keadaan nya lagi hamil begini dan ia takut kenapa-napa jika terlalu lama berdiri.
"Jangan khawatir, berdirinya gak lama-lama kok! Nanti akan ada MC yang mengatur jalan nya dan kapan waktunya para tamu untuk memberikan ucapan selamat di pelaminan! Kamu gak perlu cemas kayak gitu, semuanya sudah di atur Papa dan Davin! Lagian dokter mu juga selalu standby kok di sana jika nanti terjadi sesuatu padamu! Jadi kamu tenang saja, dan nikmati saja acara kalian dengan hati bahagia! " ucap Aini yang mana langsung membuat Amay tersenyum dengan lega.
"Alhamdulilah.... Papa emang the best kalau mikirin Amay dan si triple! " jawab Amay dengan raut wajah bahagia.
"Tentu saja! Karena kamu dan si triple adalah prioritas utama semua keluarga kita! " ucap Aini lagi dengan ikut tersenyum bahagia.
Akhirnya mereka sampai juga di lantai bawah. Semua orang sudah berkumpul di ruang keluarga dan tersenyum bahagia melihat kedatangan Amay yang terlihat begitu cantik seperti seorang putri raja dengan gaun pengantin tersebut.
"Ya Allah.... Anaknya Mama cantik banget! " puji Mama Lia dengan menyongsong meraih Amay ke dalam pelukannya.
"Karena Amay dan Izam sudah di sini, lebih baik kita mulai saja ijab qabul nya! " ucap Pak lek Rohim begitu Amay dan Izam sudah duduk di sofa.
"Boleh Pak Kyai... Silakan saja! Monggo besan! " sahut Papa Idris dengan mengangguk dan mempersilakan Papa Rahman mengambil tempatnya.
Papa Rahman mengambil tempat duduk di kursi yang sudah di sedia kan dengan Izam juga mengambil tempatnya saling berhadapan dengan Papa Rahman. Papa Rahman mengulurkan tangannya di atas meja dan Izam menyambut uluran tangan Papa mertuanya untuk melakukan ijab qabul ulang.
"Bismillahirrahmanirrahim... Saudara Idzam Maliq Barzakh, saya nikahkan dan kawinkan engkau dengan putri kandung saya dengan Mas kawin satu set perhiasan bertahta berlian dengan berat masing-masing 7 gram di bayar tunai! " ucap Papa Rahman dengan suara bergetar dan lantang.
__ADS_1
"Saya terima nikah dan kawinnya dengan Mas kawin tersebut di bayar tunai! " jawab Izam pula dengan lantang hanya dengan sekali tarikan nafas.
"Sah.... Sah... Sah... " teriak Amran dan Pakde Soleh yang bertindak sebagai saksi.
Amay tidak bisa membendung air matanya ketika Papa nya mengucapkan kata-kata tersebut dan ia langsung menangis terharu. Meskipun ini akad nikah ulang dengan Mas kawin yang berbeda namun bagi Amay terasa baru pertama kali karena yang menikahkan nya langsung adalah ayah kandung nya, bukan wali hakim seperti saat pertama waktu itu.
Tapi bagaimana pun ijab qabul nya tetap sah karena waktu itu kondisi Papa nya tidak memungkinkan untuk menikahkan nya secara langsung pada saat itu.
Pak lek Rohim kemudian membacakan doa setelah ijab qabul selesai dengan penuh hikmat mendoakan Amay dan Izam agar pernikahan mereka langgeng sampai tua dan ajal menjemput mereka.
"Sebelum kita ke hotel, ayo kita sarapan dulu! Semua nya sudah siap dan setelah itu kita akan ke hotel bersama-sama! Ayo kita sarapan! Ayo... " ajak Mama Lia kepada semua orang menuju meja prasmanan yang sudah di sediakan para pelayan di rumah itu.
Satu persatu mereka antri di meja prasmanan untuk mengambil sarapan mereka. Izam mengambil mangkok buah segar yang memang sudah di sediakan untuk Amay dan sepiring bubur ayam porsi jumbo khusus untuk Amay.
"Ayo sayang, di buka mulutnya! Aak... " ucap Izam dengan menyodorkan sendok berisi bubur ke mulut Amay.
Dengan tersenyum Amay membuka mulutnya dan memakan bubur yang di suapi suaminya dengan penuh cinta, sambil sekali-kali menyuapi buah ke dalam mulutnya sendiri.
Dengan telaten Izam menyuapi Amay bubur hingga sepiring bubur ayam tersebut isinya ludes tidak tersisa dan juga mangkok buah nya juga sudah habis tanpa meninggalkan sisa.
"Alhamdulillah, kenyang Bang! " ucap Amay dengan tersenyum lembut.
Dari jarak meter dari tempat Amay duduk, Papa Rahman tersenyum penuh haru melihat bagaimana Izam memperlakukan istrinya dan itu membuatnya begitu bahagia karena menyerahkan Putri kesayangan nya kepada orang yang tepat.
"Bagaimana Hardi? Apakah yang aku minta kemarin itu sudah kau laksanakan? " tanya Rahman kepada Hardi yang duduk di sebelahnya juga sambil makan.
"Sudah Tuan Besar! Pengawal bayangan yang Tuan minta sudah mengambil tempatnya masing-masing untuk menjaga keamanan di sekitar Nona Muda! Mereka bahkan tampak seperti tamu biasanya karena mereka sangat lihat dalam menyamar! " jawab Hardi dengan suara pelan kepada Rahman.
"Bagus! Aku tidak ingin lengah dan aku juga tidak ingin terjadi sesuatu pada Amay di pesta itu! Kau memang paling bisa di andalkan! Terimakasih banyak Hardi! " ucap Rahman dengan menarik nafas lega.
"Sama-sama Tuan! " jawab Hardi dengan mengangguk pelan.
πΏπΏπΏ
"Abi.... Ayo cepat Abi.... Buruan loh!! Nanti kita terlambat lagi datang!! " pekik seorang perempuan paruh baya dengan dandanannya yang wow untuk perempuan seusianya.
Ia dengan antusias memakai gelang emas dan cincin di jemarinya sambil tersenyum melihat kaca. Ia memakai pakaian yang agak mencolok yang hanya cocok di pakai untuk perempuan yang berusia 30tahunan dengan dandanan yang juga sangat menor untuk ukuran perempuan yang sudah berumur.
__ADS_1
Ia juga dengan pedenya berfoto selfie dengan kamera ponselnya dengan berbagai macam gaya. Entah berapa banyak foto yang ia ambil dengan berbagai macam pose dan gaya sehingga ia menyudahi kegiatannya karena mendengar teriakan suaminya.
"Ada apa sih Abi?? " tanya perempuan tersebut sembari berjalan menuju kamar mereka.
"Umi, Umi serius kita memakai pakaian yang warna ini? " tanya laki-laki paruh baya itu dengan memperlihatkan stelan baju tersebut kepada istrinya.
"Lah, emangnya kenapa? Ya serius lah... Emang Abi gak lihat kalau Umi udah pakai! Bagus kan... Ini harganya mahal loh Bi! Lagi pula warna ini cocok dan pantas untuk orang kaya seperti kita! " jawab istrinya dengan berlenggak lenggok di hadapan suaminya.
"Ya Allah Umi.... Abi gak pede makai pakaian yang warnanya ngejreng kayak gini! Kita ini sudah tua Umi.... Masa iya memakai pakaian yang kayak gini ke pesta pernikahan... Apalagi ini bukan pesta pernikahan orang biasa, bisa malu Abi makai baju kayak gini! Gak ah, Abi gak mau! Abi mau pakai yang warna lain aja! Kalau Umi mau pakai warna itu terserah Umi saja! Abi gak mau! " ucap Suaminya dengan nada tegas menolak pakaian tersebut dan menaruhnya lagi ke dalam lemari.
Ia lalu memilih baju yang menurutnya cocok di pakai ke pesta pernikahan dan yang membuatnya pede di depan semua orang nanti.
"Ish Abi mah gak tau ngetren deh! Ya udah kalau Abi gak mau pakai! Umi tetap pakai yang ini! Inikan baju mahal dan pasti nya cocok di pakai oleh wanita kaya berkelas seperti Umi! " sahutnya dengan sangat percaya diri.
"Ayo kita berangkat.... Mudah-mudahan gak terkena macet sampai ke hotel! " ucap Suaminya dengan berjalan menuju garasi mobil.
Perempuan paruh baya tersebut segera mengunci pintu rumah gedong mereka karena saat ini tidak ada siapa-siapa di rumah besar itu karena mereka hanya memperkerjakan asisten rumah tangga hanya seminggu lima kali, dan setiap akhir pekan yaitu sabtu-minggu asisten mereka libur, seperti hari minggu ini.
Ia lalu memasuki mobil dengan wajah tersenyum sumringah dan tidak ketinggalan kipas di tangan kanannya khas ibu-ibu pejabat membawa kipas. Padahal hotel tempat berlangsungnya acara pesta tersebut adalah hotel mewah yang pasti punya pendinginan ruangan yang sangat bagus, dan pastinya orang-orang di sana tidak akan kepanasan.
Begitu sampai di lokasi hotel, mereka memarkirkan mobil di tempat parkir yang sudah di sediakan oleh pihak hotel untuk para tamu undangan.
"Wah.... Gede banget ya Bi hotelnya! Coba aja yang punya hotel ini punya anak laki-laki, pasti Umi jodohin dengan anak kita Anita! Pasti enak punya menantu kaya kayak gini, yang hartanya gak bakalan habis selama tujuh turunan! " ucap istrinya dengan mata berbinar kagum begitu turun dari mobil.
"Udah Mi, gak udah berkhayal yang ketinggian kayak gitu, nanti kalau jatuh sakit banget! " sahut suaminya mematahkan khayalan istrinya.
"Abi itu ya.... Bukannya mendukung keinginan istri malah mematahkan nya langsung! Emangnya Abi gak mau punya mantu yang kaya kayak gini?? Gak mau kalau hidup anak-anak kita terjamin masa depannya! Mau apapun gak bakalan kesusahan karena suaminya punya harta yang banyak! " jawab istrinya dengan sewot bin kesal.
"Terserah Umi lah, selalu semuanya di ukur dengan harta! Harta itu tidak menjamin hidup bahagia Mi kalau yang punya harta tidak bersyukur dan tidak mau berbagi dengan sesama! Toh harta juga gak di bawa mati ke dalam kubur! " ucap suaminya dengan pasrah tidak mau ambil pusing lagi dengan tingkah istrinya.
"Iya Bi, harta memang tidak di bawa mati tapi tidak punya harta seperti mau mati.... ! " jawab istrinya lagi tidak mau kalah.
"Dah lah, ngomong sama Umi emang gak ada benarnya sama sekali! Ayo kita masuk! " ucap suaminya dengan nada malas.
Bersambung....
Selamat membaca dan selamat beraktivitas readers semuanya...
__ADS_1
Semoga hari kalian menyenangkan ππ...