
Mobil yang di tumpangi Aulia perlahan keluar dari kediaman keluarga Barzakh. Mereka akan menempuh perjalanan selama hampir tiga jam kalau tidak mampir di jalan untuk sampai ke kampung tempat Amay di besarkan. Hanya saja tempat orang tua Aulia tinggal berada di pasar kampung tersebut. Kira-kira 30 menit perjalanan dari pondok pesantren karena pasar tersebut satu-satunya pasar yang besar untuk tiga buah kampung di daerah tersebut.
Letaknya tepat sebelum kampung tempat Pakde Soleh tinggal karena jarak dari Pondok Pesantren ke rumah Pakde Soleh di kampung sebelah sekitar 1 jam naik motor. Jika menggunakan mobil bisa lebih karena jalanan yang masih berupa tanah yang di atas nya kerikil agar jika hujan jalanan tersebut tidak becek dan licin.
Semalam sebelum tidur, ia sudah memberitahu Mama nya jika ia akan pulang dan akan memberikan kabar gembira kepada mereka semua.
Aulia Maharani adalah seorang anak tunggal dari Bapak Mardi dan Ibu Sumirah yang bekerja sebagai seorang pedagang yang lumayan di segani di kampung mereka.
Sebenarnya Aulia bukan lah anak tunggal, ia mempunyai seorang kakak laki-laki yang usianya lima tahun di atas nya. Namun saat kakaknya berusia 10 tahun, kakaknya mengalami kecelakaan tragis yang merenggut nyawanya.
Ia tertabrak mobil yang tidak bertanggung jawab karena langsung kabur begitu saja dan membiarkan kakaknya tergeletak bersimbah darah. Mungkin jika waktu itu pengemudi mobil masih punya hati nurani untuk membawa nya ke rumah sakit, pasti saat ini Aulia tidak akan menjadi anak tunggal.
Karena kematian tragis putra mereka membuat Pak Mardi dan Ibu Irah panggilannya Ibu Sumirah menjadi pribadi yang agak tertutup dalam bersosialisasi. Mereka berdua terkesan mengabaikan Aulia yang pada waktu itu masih membutuhkan kasih sayang orang tuanya.
Mereka berdua menyibukkan diri dengan bekerja dan mengembangkan toko mereka hingga mempunyai banyak cabang di beberapa kota. Aulia kecil menjadi anak yang kurang akan kasih sayang kedua orang tuanya.
Untung saja kakak Papa nya(ayahnya Zahra) yang satu kampung dengan Amay selalu membawa Aulia menginap di rumah nya dan semenjak itu lah Aulia jadi mengenal Amay dan mendapatkan kasih sayang dari Abah dan Umi nya Amay.
Aulia kecil merengek minta tinggal di Pondok Pesantren pada pamannya karena ingin selalu bersama Amay dan teman-temannya di Pondok Pesantren.
Kasihan dengan Aulia yang kekurangan kasih sayang orang tuanya membuat Pamannya meminta Pak Mardi dan Irah untuk mengizinkan Aulia tinggal di lingkungan Pondok Pesantren.
Saat Aulia berumur 12 tahun, ia terserang penyakit tipus yang membuat ia di larikan ke rumah sakit dan hal itu membuat pamannya meradang pada adik dan iparnya. Yang terkesan mengabaikan anak kandung mereka yang sedang sakit. Bagaimana tidak, saat mengetahui Aulia di rawat di rumah sakit mereka malah sibuk dengan toko mereka hingga mereka baru datang saat Aulia kritis selama tiga hari.
Paman Aulia menghajar adiknya itu hingga babak belur, jika saja tidak di lerai oleh Abah nya Amay, entah bagaimana nasib Papa nya Aulia saat itu.
"Apa kau dan istrimu itu tidak punya otak hah! Itu Aulia anak kalian! Dia sedang sekarat tau gak! Sekarat! Apa kamu mau kehilangan dia dulu seperti Arfan baru kalian menyadari jika kalian masih punya anak, hah! Apa harus Aulia mati dulu baru kalian berdua sadar! " teriak paman Aulia di depan Pak Mardi yang terjerembab karena di hajar kakaknya.
__ADS_1
Mama Aulia menangis tersedu-sedu dengan di tenangkan Umi nya Amay di kursi tunggu. Sungguh ia menyesal sudah mensia-siakan Aulia hanya karena ia kehilangan Putra mereka.
Semenjak saat itu, kedua orang tua Aulia mulai berubah sedikit meskipun masih tetap sibuk dengan pekerjaan mereka. Apalagi setelah sembuh dari sakitnya, Aulia ngotot akan tinggal di pesantren bersama anak-anak lainnya.
Kedua orang tua Aulia rutin setiap bulan menjenguk Aulia dengan membawa berbagai macam makanan mau pun apa pun yang memang di minta Aulia. Mereka membawa nya bukan hanya untuk Aulia, tetapi untuk Amay dan Zahra keponakan mereka.
Dengan ajaran dan kasih sayang Umi Hafizah atau Umi nya Amay selama di Pondok, Aulia tumbuh menjadi anak yang ceria, pengertian dan peka pada sesama, terlebih pada Amay.
Hal itulah yang membuat kedua orang tua Aulia membelikan rumah di kota untuk Amay dan Aulia saat mereka kuliah sebelum kedua Abah dan Umi Amay meninggal dunia.
"Non, ini sudah masuk daerah xxx! Kita harus kemana lagi? Ini perjalanan pertama saya ke sini? " tanya Pak sopir kepada Aulia yang baru saja bangun tidur.
Aulia menggeliat sambil menutup mulut nya dengan tangan karena menguap.
"Lurus aja Pak! Nanti ada pertigaan ambil jalan yang kanan! Nah, lurus sedikit dan nanti kelihatan kok rumah warna hijau cat nya dengan nomor 13." jawab Aulia memberitahu.
"Oke Non! " sahut Pak sopir mengerti.
Aulia membuka pintu mobil dan menggendong tas ransel nya sembari keluar dari mobil.
Seorang wanita paruh baya yang hendak keluar langsung berteriak kaget melihat siapa yang datang.
"Aulia anakku.... ! " pekik Mama Irah sambil berlari membuka pintu pagar.
"Assalamualaikum Mama... ! " panggil Aulia menunggu pintu pagar terbuka.
Aulia menyalami punggung tangan Mama nya dan Mama nya langsung memeluk anaknya dengan begitu erat.
__ADS_1
"Waalaikumsalam...Mama kira kamu naik Bus, mau di jemput Papa kamu nanti di perbatasan! Kamu sewa mobil y pulang?? " ucap Mama nya sambil menggandeng lengan Aulia.
"Bukan Ma, itu mobil Papa Rahman! Papa Rahman yang suruh sopir nya untuk antar Aulia pulang! Pak, kopernya bawa masuk aja! Oh ya, Bapak istirahat aja dulu di dalam, kalau mau pulang habis dzuhur aja! Lumayan Pak istirahat meluruskan pinggang! " jawab Aulia sambil memanggil Pak sopir agar masuk ke dalam rumah.
"Iya Pak, benar kata anak saya! Istirahat aja dulu sambil kita makan siang! Bapak bisa ngobrol sama suami saya! Nah, itu suami saya pulang! " sahut Mama Aulia sambil menunjuk ke arah barat.
Sebuah sepeda motor memasuki pagar rumah orang tua Aulia dan tampak seorang pria paruh baya turun dari atas motor sambil melepaskan helm yang ia pakai.
"Aulia?? Kamu udah sampai? Jam berapa? Sama siapa? Kenapa gak telpon, kan bisa Papa jemput di perbatasan! " ucap Papa Aulia bertanya tanpa henti kayak kereta api tut tut tut.
"Pa, mana salam nya! Main tanya aja kayak kereta api?? " omel Mama nya Aulia.
"Hehehehe, assalamualaikum! Mama bawel banget! " sahut Papa Aulia nyengir.
"Waalaikumsalam.. Nah, gitu dong! Anak kita di antar sopir pulang ke rumah! Sopir suruhan Bapak nya Amay! Tuh, Pak sopir nya! Ajak masuk Pa, biar Pak sopir nya istirahat dulu! Masa iya mau langsung ke Jakarta! " ucap Mama nya Aulia dengan menunjuk kepada Pak sopir.
Pak sopir menundukkan sedikit kepala nya tanda menyapa sang pemilik rumah.
"Oh gitu... Mari, mari Pak kita masuk dulu! Kita ngobrol-ngobrol santai dulu sambil menunggu makan siang! " ajak Papa Aulia dengan ramah.
Aulia sudah masuk ke dalam rumah bersama Mama nya. Ia menarik kopernya ke dalam kamar nya.
"Ah.... Nyaman nya! " ucapnya dengan menghempaskan tubuh nya di atas tempat tidur.
"Kira-kira aku ngomongnya sekarang apa nanti malam ya? Rasanya aku sudah gak sabar memberikan kabar bahagia ini? Tapi kalau sekarang gak enak ngomong nya karena ada Pak sopir! Ah, nanti malam aja lah ngomong nya! " gumam Aulia pelan dengan mata melihat ke langit-langit kamar nya.
Bersambung..
__ADS_1
Selamat membaca dan selamat beraktivitas reader ku semuanya๐ค๐ค๐ค
Semoga hari kalian menyenangkan ๐๐