Bidadari Surga Untuk Penjual Kebab Yang Tajir

Bidadari Surga Untuk Penjual Kebab Yang Tajir
Rencana ke kota..


__ADS_3

"Maaf.... Apa ada yang salah di wajah saya? Kenapa anda melihat saya seperti itu? " tanya Izam dengan membuyarkan lamunan Ahyar.


"Eh maaf Pak kalau saya lancang! Saya seperti pernah melihat Bapak, jadi saya melihat Bapak agak lama takut salah orang! " jawab Ahyar menutupi kesalahan nya melihat Izam dengan intens.


"Oh... Wajar itu Pak Ahyar! Setiap orang yang bertemu saya pasti mengatakan hal yang sama, jadi saya santai aja! " jawab Izam dengan cuek aja.


Davin hanya diam melihat perbincangan mereka dan mengamati dalam-dalam pria yang ada di hadapan nya itu tanpa yang di lihat menyadarinya.


Sementara itu, Amay memutuskan untuk beristirahat di dalam kamar nya dengan di temani sebuah album foto berisi kenangan akan Mama nya Margaretha alias Maggie yang di peluk dengan erat di dalam dekapan nya.


Sedangkan Rahman pergi ke ruang kerjanya karena Hardi datang untuk melaporkan sesuatu yang sangat rahasia dan hanya mereka berdua lah yang tahu.


"Lakukan semuanya dengan cepat karena aku tidak yakin jika ia sadar kalau akulah di balik semua yang terjadi pada dirinya itu! Jangan sampai putri ku tahu bahwa laki-laki itu yang sudah membuat kami terpisah dan Mama nya meninggal! " ucap Rahman dengan nada dingin dan tegas.


"Baik Tuan ! " jawab Hardi patuh dan segera pergi dari ruang kerja Rahman.


Dengan keluarnya Hardi, Rahman tampak terdiam dan menyandarkan tubuhnya di sandaran kursinya dengan melihat sebuah potret ia bersama kedua orang tuanya dan juga Maggie yang dengan perut buncit nya waktu itu baru berusia lima bulan. Foto tersebut di ambil dua minggu sebelum ayahnya meninggal dunia dan dua bulan sebelum ibunya juga pergi menyusul sang ayah.


"Rasanya baru kemarin saja aku bahagia dengan kalian semua, tapi sekarang hanya aku dan putri kita saja yang tinggal di dunia ini! Tapi kalian jangan khawatir, sebentar lagi keluarga kita dan penerus keturunan kita akan ramai dengan kehadiran cucu-cucu kembar kita dan cicit kembar kalian! Tolong jaga cucu-cucu kita di rahim Putri kita dari atas sana, Maggie! " ucap lirih Rahman dengan memandang potret tersebut dengan wajah sendu.


Di kediaman Barzakh...


Mama Lia sedang sibuk berkutat di dapurnya membuatkan makanan yang akan ia kirim ke rumah besannya untuk sang menantu.


"Mama kamu sibuk banget di dapur! Sampai-sampai Papa di cuekin kayak gini! " adu Papa Idris duduk di sebelah Ara yang hendak berangkat kerja.


"Dih, Papa sensi banget sekarang ini! Biasanya juga Papa bermain dengan peliharaan Papa di taman belakang! " jawab Ara sambil mengecek kembali perlengkapan nya.


"Kamu bukannya belain Papa, malah ngatain Papa lagi! " sahut Papa Idris dengan wajah cemberut.


"Lah, kapan Ara ngatain Papa! Dah ah, Ara mau kerja dulu! Hari ini ada visit pasien operasi kemarin! Papa tunggu aja anak-anak pulang sekolah, jadi gak bakalan di cuekin lagi! Dah Pa, assalamualaikum! " ucap Ara dengan tersenyum geli melihat Papa nya ngambek.


Papa Idris tambah masam muka nya di tinggal anaknya kerja duduk sendiri di ruang santai. Menantunya Salim sedang pergi menjemput anak-anak sekolah dan masih beberapa jam lagi baru sampai ke rumah.


Hampir satu jam Mama Lia berkutat di dapur bersama asisten rumah tangga nya membuat makanan untuk Amay. Ia menyusun makanan tersebut di dalam rantang dan akan di antar kan langsung oleh sopir keluarga Barzakh.


"Papa.... ! Ngapain sih duduk di sana dengan muka di tekuk begitu? Lagi sariawan ya diam aja dari tadi? Atau gak enak badan ya Pa? " tanya Mama Lia tanpa melihat yang di tanya.


Papa Idris kembali kesal karena istrinya bertanya tanpa melihat dirinya dan sibuk bolak-balik menaruh makanan di dalam rantang.

__ADS_1


"Dah siap.... ! Alhamdulillah kelar juga! Mudah-mudahan Amay suka dengan makanan nya dan cucu-cucuku gak akan kekurangan gizi makan makanan sehat dan bergizi! " ucap Mama Lia tersenyum bahagia sambil tepuk tangan sendiri.


"Ma... Belum lahir aja sudah segitu nya Mama! Apa lagi nanti kalau udah lahir? Bisa-bisa Papa di anggurin setiap hari setiap waktu! " ucap Papa Idris merajuk.


"Lah... Si Aki malah cemburu ama cucunya sendiri! Kita lihat aja nanti begitu si triple lahir, siapa yang nanti paling heboh dan paling semaunya sendiri! " sahut Mama Lia geleng-geleng kepala melihat kelakuan suaminya.


"Papa gak cemburu Ma... ! Papa kesal aja di cuekin Mama dari tadi pagi hingga siang ini juga masih di cuekin! " ucap Papa Idris mengelak.


"Biasanya juga Mama yang Papa cuekin! Papa selalu sibuk di taman belakang ngurusin burung-burung Papa itu! Kenapa sekarang malah kesal karena Mama masak untuk menantu dan calon cucu-cucu Mama! Papa aneh deh... ! " sahut Mama Lia dengan heran.


"Papa lagi malas Ma mandiin burung-burung! Papa lagi kepengen santai aja sama Mama! Eh, Mama malah sibuk sendiri di dapur! " ucap Papa Idris merenggut wajahnya.


"Tumben manja nya kumat? Biasanya cuek bebek aja! " sahut Mama Lia mencibir suaminya.


"Mama tuh ya, suami cuek salah, manja juga salah! Au ah Mama gak sehati lagi sama Papa! " ucap Papa Idris bete dan langsung pergi naik ke atas.


"Jiahhh..... Malah merajuk itu Aki-aki! Udah mau punya cucu enam malah manja nya keluar kayak anak muda! " teriak Mama Lia dengan tertawa geli.


Ia lalu pergi ke depan memanggil supirnya untuk mengantarkan makanan yang ia buat ke rumah besannya. Setelah itu, Mama Lia langsung menyusul suaminya ke lantai atas menuju kamar mereka.


"Minum obat encok dulu ah biar nanti gak kumat! Bisa keok nanti karena sudah waktunya perang di ranjang! Hi... Hi... Hi... ! " ucap Mama Lia dengan cekikikan sebelum memasuki kamarnya.


Di Restoran...


Meeting Izam dengan pihak Ahyar berjalan lancar karena Izam menyetujui pengajuan kerjasama perusahaan Ahyar dengan perusahaan nya.


Dan untuk pelaksanaan nya seperti biasa Davin lah yang akan menanganinya langsung dengan pihak Ahyar. Sedangkan Izam tetap sebagai pengawas dan bekerja di balik layar. Ia tidak bisa fokus jika ia terjun langsung mengawasi jalannya kerjasama mereka karena ia tidak bisa meninggalkan istrinya lama-lama di rumah. Apalagi saat ini peran ia sangat di butuhkan istrinya yang sedang mengandung anak-anak nya.


"Terimakasih Pak... ! Perusahaan kami insyaallah tidak akan mengecewakan anda sebagai investor! Kalau begitu kami permisi dulu! " ucap Ahyar dengan mengulurkan tangan nya saat perjanjian kerjasama sudah di tandatangani kedua belah pihak.


Izam dan Davin menyambut uluran tangan Ahyar secara bergantian dengan sekretaris Ahyar juga. Setelah itu merekapun pamit undur diri pada Izam dan Davin yang masih tetap di Restoran tersebut.


"Elo kenal sama itu orang Bro? " tanya Davin pada Izam yang kembali melanjutkan makan nya.


"Gak tau dan gak mau tahu! Gue masih lapar jangan di ajak ngobrol! " tukas Izam acuh tak acuh.


"Dasar kebo! Makan mulu! " cibir Davin sebel di acuhkan Izam.


Izam tidak perduli dengan cibiran sahabatnya itu, ia tetap melanjutkan makan nya yang sudah dingin tersebut.

__ADS_1


Dari dulu ia memang tidak terlalu memperhatikan siapapun yang ia temui jika orang itu tidak penting baginya.


Di Kampung Amay...


Pak lek Rohim pulang ke rumahnya setelah melakukan perjalanan tausiah ke berbagai kota kecamatan selama tiga hari berturut-turut.


"Ya Allah.... Capek nya... ! Kalau seperti ini terus kapan aku bisa ke kota untuk melihat hasil tes yang di lakukan Izam? " keluh Pak lek Rohim seraya merebahkan bokong nya di sofa.


"Loh Abah sudah pulang toh? Kok gak panggil Umi, Bah? Capek banget kelihatan nya! " tegur Bulek Saroh kaget mendapati suaminya duduk bersandar dengan wajah lelah.


"Abah capek banget Umi... Jadi, gak sempat manggil Umi! Ucapin salam aja gak kuat-kuat yang penting masuk rumah ngucapin salam! " jawab Pak lek Rohim dengan mata terpejam.


"Ya udah... Umi bikinin teh anget dulu ya Bah biar tubuh Abah gak lesu lagi! " sahut Bulek Saroh kembali masuk menuju dapur.


Ia pun segera membuatkan suaminya segelas teh anget dan juga menyiapkan pakaian yang bersih agar setelah suaminya mandi bisa langsung berpakaian.


"Ini Bah teh anget nya... ! Di minum dulu beberapa tegukan! Abis itu Abah mandi gih biar badannya seger dan pakaian Abah udah Umi siapin di kamar! " ucap Bulek Saroh dengan meletakkan gelas berisi teh anget di atas meja.


"Ia Mi... terimakasih ya sudah menyiapkan segalanya untuk Abah! " sahut Pak lek Rohim tersebut lembut.


"Sama-sama Bah... ! Ayo di minum teh nya! " jawab Bulek Saroh ikut tersenyum.


Ia pun meminum teh tersebut beberapa tegukan sebelum ia memutuskan untuk mandi agar tubuhnya segar kembali. Bulek Saroh pun pergi ke dapur untuk menyiapkan makan siang untuk keluarganya tanpa bantuan para Khadamah karena hari ini mereka sengaja ia liburkan.


"Bah... " panggil Bulek Saroh pada suaminya saat ia masuk ke dalam kamar.


"Iya Mi... Ada apa? " jawab Pak lek Rohim yang baru saja berpakaian.


"Apa Abah gak suruh Nak Izam aja buat buka hasil tes tersebut? Kelamaan kalau nunggu kita ke sana Bah? Mana sekarang Abah lagi sibuk banget lagi tour tausiah kemana-mana! " ucap Bulek Saroh dengan menatap wajah suaminya.


"Udah Abah suruh Umi... Tapi Izam nya gak mau! Dia maunya Abah langsung yang buka dan membaca isinya! Surat itu di simpan nya langsung di tempat rahasia agar gak di ambil orang yang tidak berkepentingan akan hal itu! " jawab Pak lek Rohim menghela napas panjang.


"Oh.... Begitu toh! Yo wes lah kalau gitu! Kita ke kota waktu Amay tujuh bulanan aja lah! Tinggal tiga bulan lagi juga! Umi rasa bulan tersebut Abah gak ada lagi tour tausiah nya karena bertepatan dengan bulan Sa'ban menjelang ramadhan! " sahut Bulek Saroh lagi.


"Iya ya... Umi benar juga! Yo wes lah, Abah mau kabarin Izam aja kalau gitu! Kita ke kota pas Amay tujuh bulanan aja! " ucap Pak lek Rohim dengan tersenyum sumringah.


Bersambung...


Selamat membaca dan selamat beristirahat readers ku semuanya...

__ADS_1


Semoga hari kalian menyenangkan 💕😍..


__ADS_2